<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sederet Saham yang Bakal Cuan Berkat Pembangunan Infrastruktur   </title><description>Sehingga beberapa perusahaan konstruksi akan mendapat modal baru untuk membiayai proyek lainnya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/01/29/278/1851528/sederet-saham-yang-bakal-cuan-berkat-pembangunan-infrastruktur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/01/29/278/1851528/sederet-saham-yang-bakal-cuan-berkat-pembangunan-infrastruktur"/><item><title>Sederet Saham yang Bakal Cuan Berkat Pembangunan Infrastruktur   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/01/29/278/1851528/sederet-saham-yang-bakal-cuan-berkat-pembangunan-infrastruktur</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/01/29/278/1851528/sederet-saham-yang-bakal-cuan-berkat-pembangunan-infrastruktur</guid><pubDate>Senin 29 Januari 2018 09:47 WIB</pubDate><dc:creator>Ulfa Arieza</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/01/29/278/1851528/sederet-saham-yang-bakal-cuan-berkat-pembangunan-infrastruktur-yCVz30J1eu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/01/29/278/1851528/sederet-saham-yang-bakal-cuan-berkat-pembangunan-infrastruktur-yCVz30J1eu.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Komitmen pemerintah untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan konektivitas di seluruh Indonesia mulai memberi dampak positif bagi saham-saham konstruksi. Pasalnya, beberapa proyek jalan akan selesai pada tahun ini, sehingga beberapa perusahaan konstruksi akan mendapat modal baru untuk membiayai proyek lainnya.

Analis Bahana Sekuritas Ricky Ho mengatakan, sejak 2015 hingga 2019, pemerintah mengalokasikan total belanja infrastruktur sebesar Rp1.375 triliun, naik cukup signifikan bila dibandingkan alokasi belanja sejak 2005 - 2014, sebesar Rp921 triliun.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, pemerintah menganggarkan belanja infrastruktur sebesar Rp410,7 triliun yang akan dipakai untuk pembangunan berbagai infrastruktur di seluruh Indonesia, di antaranya 865 km jalan baru, 25 km jalan tol, 8.695 km jembatan, pembangunan bandar udara di 8 lokasi dan juga untuk pembangunan jalur kereta api.

''Perusahaan konstruksi milik negara akan mendapat keuntungan dari upaya pemerintah yang semakin menggenjot pembangunan infrastruktur menjelang pemilihan presiden tahun depan,'' kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (29/1/2018).
Baca juga:&amp;nbsp;Rp2.000 Triliun Kapitalisasi Pasar Modal Masih dalam Bentuk Warkat

''Sehingga perusahaan konstruksi mampu mencatatkan rekor tertinggi atas perolehan kontrak dan kinerja keuangan pada akhir tahun lalu,&quot; imbuh dia.

Ricky melanjutkan, melihat keberlanjutan pembangunan infrastruktur di bawah kepemimpinan Joko Widodo yang ingin mengejar ketertinggalan dibanding infrastruktur di Negara Asia Tenggara lainnya.

Bahana Sekuritas pun merekomendasikan beli untuk semua saham BUMN konstruksi dengan pilihan utama adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Pembangunan Perumahan (PP Persero) Tbk (PTPP), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI).

Bahana menilai, kinerja Waskita akan semakin melaju dalam tahun ini, karena perusahaan berkode saham WSKT ini akan mendapat modal baru dari pembayaran proyek LRT yang ada di Sumatera Selatan sebesar Rp10 triliun dan pembayaran sebesar Rp6,1 triliun dari proyek Jaringan Transmisi Sumatera yang telah selesai dikerjakan. Sehingga, perseroan memiliki ruang lebih besar untuk mengerjakan proyek-proyek baru.

Selain itu, WSKT melalui anak usahanya Waskita Toll Road (WTR) juga berencana melakukan divestasi atas seksi Trans Java yang diperkirakan akan selesai dikerjakan pada tahun ini.
Baca juga:&amp;nbsp;Biayai Pembangunan Infrastruktur, OJK Dorong Diversifikasi Produk di Pasar Modal

Ada beberapa cara yang akan ditempuh oleh Waskita yakni menjual seluruh atau satu persatu jalan tol yang dikerjakan secara langsung kepada investor, atau menyatukan jalan tol milik WTR dengan milik Jasa Marga baru kemudian melakukan penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO).

Namun bisa juga WTR langsung menjajaki IPO atau melakukan right issue. ''Kemungkinan terbesar jalan yang akan diambil adalah pilihan pertama dan kedua, dengan perkiraan perolehan dana sekitar Rp4 triliun-Rp4,9 triliun,'' papar Ricky.

Dia menambahkan, kebutuhan bagi Waskita untuk melakukan divestasi pada paruh pertama tahun ini, karena kebanyakan jalan tol yang dikerjakan akan selesai pada tahun ini. Bahana pun merekomendasikan beli dengan target harga Rp 3.500 per lembar.Ricky mengatakan, Bahana juga merekomendasikan beli saham Wijaya  Karya dengan target harga Rp 2.200 per lembar, karena perseroan banyak  terlibat dalam proyek pembangunan jalur kereta api, yang akan  menjadikannya sebagai BUMN konstruksi untuk mengerjakan berbagai proyek  kereta ke depannya.

Berdasarkan data proyek nasional, Bahana memperkirakan perusahaan  berkode saham WIKA ini akan mengantongi USD36,3 miliar proyek jalur  kereta kedepannya, untuk seluruh Indonesia.  &quot;Perseroan juga sudah  memiliki tata kelola perusahaan yang kuat dengan neraca keuangan yang  sehat,&quot; kata dia.

Sementera itu, untuk saham PTPP juga direkomendasikan beli dengan  target harga Rp3.500 per lembar karena perseroan memiliki posisi yang  kuat untuk mengerjakan proyek pelabuhan dan pembangkit listrik dengan  neraca keuangan yang sehat sehingga diperkirakan margin akan membaik  kedepannya.

Berdasarkan perkiraan Bahana, perusahaan berkode saham PTPP ini bakal  mengantongi kontrak sekitar USD27 miliar untuk proyek pelabuhan dan  pembangkit listrik, meski ada risiko lambatnya eksekusi proyek karena  ada permasalahan PLN.

Untuk saham, ADHI, Bahana merekomendasikan beli dengan target harga  Rp2.400 per lembar karena masalah perseroan terkait pendanaan  pembangunan LRT telah mencapai kata sepakat dengan PT Kereta Api  Indonesia.

Setelah pembayaran tahap pertama dilakukan pada pertengahan Januari  2018, PT KAI kedepannya akan melakukan pembayaran setiap kuartal, sesuai  dengan perkembangan proyek.

&quot;ADHI juga akan membangun daerah komersial di sekitar stasiun  perhentian LRT atau disebut juga Transit-Oriented Development (TOD) di  19 lokasi, sehingga akan berdampak positif bagi kinerja perseroan,&quot;  tukas dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Komitmen pemerintah untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan konektivitas di seluruh Indonesia mulai memberi dampak positif bagi saham-saham konstruksi. Pasalnya, beberapa proyek jalan akan selesai pada tahun ini, sehingga beberapa perusahaan konstruksi akan mendapat modal baru untuk membiayai proyek lainnya.

Analis Bahana Sekuritas Ricky Ho mengatakan, sejak 2015 hingga 2019, pemerintah mengalokasikan total belanja infrastruktur sebesar Rp1.375 triliun, naik cukup signifikan bila dibandingkan alokasi belanja sejak 2005 - 2014, sebesar Rp921 triliun.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, pemerintah menganggarkan belanja infrastruktur sebesar Rp410,7 triliun yang akan dipakai untuk pembangunan berbagai infrastruktur di seluruh Indonesia, di antaranya 865 km jalan baru, 25 km jalan tol, 8.695 km jembatan, pembangunan bandar udara di 8 lokasi dan juga untuk pembangunan jalur kereta api.

''Perusahaan konstruksi milik negara akan mendapat keuntungan dari upaya pemerintah yang semakin menggenjot pembangunan infrastruktur menjelang pemilihan presiden tahun depan,'' kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (29/1/2018).
Baca juga:&amp;nbsp;Rp2.000 Triliun Kapitalisasi Pasar Modal Masih dalam Bentuk Warkat

''Sehingga perusahaan konstruksi mampu mencatatkan rekor tertinggi atas perolehan kontrak dan kinerja keuangan pada akhir tahun lalu,&quot; imbuh dia.

Ricky melanjutkan, melihat keberlanjutan pembangunan infrastruktur di bawah kepemimpinan Joko Widodo yang ingin mengejar ketertinggalan dibanding infrastruktur di Negara Asia Tenggara lainnya.

Bahana Sekuritas pun merekomendasikan beli untuk semua saham BUMN konstruksi dengan pilihan utama adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Pembangunan Perumahan (PP Persero) Tbk (PTPP), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI).

Bahana menilai, kinerja Waskita akan semakin melaju dalam tahun ini, karena perusahaan berkode saham WSKT ini akan mendapat modal baru dari pembayaran proyek LRT yang ada di Sumatera Selatan sebesar Rp10 triliun dan pembayaran sebesar Rp6,1 triliun dari proyek Jaringan Transmisi Sumatera yang telah selesai dikerjakan. Sehingga, perseroan memiliki ruang lebih besar untuk mengerjakan proyek-proyek baru.

Selain itu, WSKT melalui anak usahanya Waskita Toll Road (WTR) juga berencana melakukan divestasi atas seksi Trans Java yang diperkirakan akan selesai dikerjakan pada tahun ini.
Baca juga:&amp;nbsp;Biayai Pembangunan Infrastruktur, OJK Dorong Diversifikasi Produk di Pasar Modal

Ada beberapa cara yang akan ditempuh oleh Waskita yakni menjual seluruh atau satu persatu jalan tol yang dikerjakan secara langsung kepada investor, atau menyatukan jalan tol milik WTR dengan milik Jasa Marga baru kemudian melakukan penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO).

Namun bisa juga WTR langsung menjajaki IPO atau melakukan right issue. ''Kemungkinan terbesar jalan yang akan diambil adalah pilihan pertama dan kedua, dengan perkiraan perolehan dana sekitar Rp4 triliun-Rp4,9 triliun,'' papar Ricky.

Dia menambahkan, kebutuhan bagi Waskita untuk melakukan divestasi pada paruh pertama tahun ini, karena kebanyakan jalan tol yang dikerjakan akan selesai pada tahun ini. Bahana pun merekomendasikan beli dengan target harga Rp 3.500 per lembar.Ricky mengatakan, Bahana juga merekomendasikan beli saham Wijaya  Karya dengan target harga Rp 2.200 per lembar, karena perseroan banyak  terlibat dalam proyek pembangunan jalur kereta api, yang akan  menjadikannya sebagai BUMN konstruksi untuk mengerjakan berbagai proyek  kereta ke depannya.

Berdasarkan data proyek nasional, Bahana memperkirakan perusahaan  berkode saham WIKA ini akan mengantongi USD36,3 miliar proyek jalur  kereta kedepannya, untuk seluruh Indonesia.  &quot;Perseroan juga sudah  memiliki tata kelola perusahaan yang kuat dengan neraca keuangan yang  sehat,&quot; kata dia.

Sementera itu, untuk saham PTPP juga direkomendasikan beli dengan  target harga Rp3.500 per lembar karena perseroan memiliki posisi yang  kuat untuk mengerjakan proyek pelabuhan dan pembangkit listrik dengan  neraca keuangan yang sehat sehingga diperkirakan margin akan membaik  kedepannya.

Berdasarkan perkiraan Bahana, perusahaan berkode saham PTPP ini bakal  mengantongi kontrak sekitar USD27 miliar untuk proyek pelabuhan dan  pembangkit listrik, meski ada risiko lambatnya eksekusi proyek karena  ada permasalahan PLN.

Untuk saham, ADHI, Bahana merekomendasikan beli dengan target harga  Rp2.400 per lembar karena masalah perseroan terkait pendanaan  pembangunan LRT telah mencapai kata sepakat dengan PT Kereta Api  Indonesia.

Setelah pembayaran tahap pertama dilakukan pada pertengahan Januari  2018, PT KAI kedepannya akan melakukan pembayaran setiap kuartal, sesuai  dengan perkembangan proyek.

&quot;ADHI juga akan membangun daerah komersial di sekitar stasiun  perhentian LRT atau disebut juga Transit-Oriented Development (TOD) di  19 lokasi, sehingga akan berdampak positif bagi kinerja perseroan,&quot;  tukas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
