<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Keran Tenaga TI Asing Dibuka Lebar</title><description>Indonesia segera akan menjadi sasaran para profesional teknologi informasi (TI) dunia untuk mengembangkan karier.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/02/320/1853630/keran-tenaga-ti-asing-dibuka-lebar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/02/02/320/1853630/keran-tenaga-ti-asing-dibuka-lebar"/><item><title>Keran Tenaga TI Asing Dibuka Lebar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/02/320/1853630/keran-tenaga-ti-asing-dibuka-lebar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/02/02/320/1853630/keran-tenaga-ti-asing-dibuka-lebar</guid><pubDate>Jum'at 02 Februari 2018 10:12 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/02/320/1853630/keran-tenaga-ti-asing-dibuka-lebar-1a2SbLY8fa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Koran SINDO</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/02/320/1853630/keran-tenaga-ti-asing-dibuka-lebar-1a2SbLY8fa.jpg</image><title>Foto: Koran SINDO</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia segera akan menjadi sasaran para profesional teknologi informasi (TI) dunia untuk mengembangkan karier. Hal ini karena pemerintah membuka peluang mereka untuk masuk pasar kerja di Tanah Air.
Langkah ini diambil sebagai solusi kurangnya tenaga kerja profesional yang dibutuhkan untuk mendukung ekonomi digital yang saat ini tengah berkembang pesat. Di sisi lain, pemerintah juga tengah berupaya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berbakat di sektor tersebut. Namun langkah instan yang diambil pemerintah itu menuai kritik dari kalangan profesional TI.
Baca Juga: Honor Tenaga Kontrak Terancam Tak Dibayar  Mereka menyebut talenta bidang TI jebolan dari universitas terkemuka di negeri ini sangat banyak. Mereka mengingatkan bahwa masalah muncul karena kebanyakan vendor di bidang TI merupakan perusahaan asing sehingga mereka lebih senang mendatangkan tenaga kerja dari negara masing-masing. Kebijakan membuka keran bagi profesional TI disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.   Dia mengungkapkan, talenta sektor ekonomi digital seperti e-commerce di Tanah Air agak sulit didapat. Menurut dia, jumlah tenaga kerja di sektor tersebut juga masih sangat rendah. Di sisi lain jika harus mengandalkan tenaga kerja dalam negeri, perlu waktu untuk mendidiknya menjadi tenaga profesional.
Baca Juga: Sandiaga: 60.000 Lapangan Kerja Baru Tersedia di Sektor Properti
&amp;ldquo;Kita akan mempermudah masuknya tenaga kerja asing yang memang menguasai bidang-bidang keahlian tertentu, terutama e-commerce, secara spesifik,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta kemarin. Darmin menuturkan, selama ini banyak tenaga kerja asi ng yang mengeluhkan sulitnya mendapat izin tinggal. Untuk itu pemerintah akan memberikan kemudahan agar tenaga kerja asing bisa tertarik.   &amp;ldquo;Ini mendesak. Pemerintah juga akan memberikan insentif kepada tenaga Indonesia yang diaspora. Selain itu juga mengembangkan pendidikannya. Jadi komplet,&amp;rdquo; tuturnya. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto membenarkan ekonomi digital membutuhkan tenaga kerja yang ahli di bidang khusus seperti statistik dan coding .   Karena itu dia mendorong generasi muda untuk menguasai statistik dan coding . &amp;rdquo;Jadi kalau digital ekonomi itu tidak hanya didominasi mereka yang sekolah teknologi informasi. Tapi karena dianggap ekonomi digital, maka harus memberi solusi, solusi kesehatan, ekonomi, segala macam se hingga pendidikan coding dan analisis itu diajarkan di semua sektor,&amp;rdquo; tuturnya.   Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf menilai positif langkah pemerintah mendatangkan tenaga profesional TI asing. Namun dia berharap langkah tersebut tetap memperhatikan aturan penggunaan tenaga kerja asing (TKA). Politikus Demokrat ini juga meminta pemerintah tetap melakukan pengawasan.&amp;rdquo;Sebab banyak pekerja asing yang sudah bekerja di Indonesia malah  membawa masalah. Oleh karena itu dia meminta tim pengawasan dari  Imigrasi dan Kemenaker memperkuat jajarannya,&amp;rdquo; ujar dia. Di sisi lain  Dede mengingatkan, ada janji pemerintah kepada rakyat yang berpotensi  dilanggar, yakni janji pemerintah untuk menyediakan 10 juta lapangan  pekerjaan yang sudah tertuang di dalam Rencana Jangka Panjang dan  Menengah Nasional (RPJMN).   Un tuk itu jangan sampai dibukanya  keran TKA ini menggerus kesempatan tenaga kerja dalam negeri. &amp;ldquo;Tentu  jika ada lowongan kerja menjadi kewajiban pemerintah untuk mengisinya  dengan tenaga lokal,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga: Pekerjaan yang Disukai Kaum Milenial, Ini 5 Kriterianya  Sementara itu sejumlah kalangan  profesional TI mempersoalkan kebijakan pemerintah tersebut. Asosiasi  e-Commerce Indonesia (idEA), misalnya, mengingatkan pemerintah  seharusnya lebih mendorong tenaga TI lokal daripada mempermudah masuknya  tenaga kerja asing di sektor tersebut. &amp;ldquo;Tenaga TI kita ini cukup  banyak, tapi tidak terdata.   Mereka banyak yang autodidak, jago  TI karena hobi dan belajar sendiri. Mereka ini perlu mendapatkan  pendataan dan bagaimana caranya mereka bisa lebih maju,&amp;rdquo; ujar Ketua Umum  idEA Aulia Marinto di Jakarta. Dia menandaskan, seharusnya pemerintah  mencetak tenaga ahli TI dari akademisi formal.
Dengan demikian  tenaga ahli TI dari negeri sendiri bisa terus berkembang. Aulia  menyatakan industri teknologi komunikasi dan informasi saat ini  membutuhkan lulusan tenaga ahli TI yang profesional. &amp;ldquo;Jadi bukan berati  kita tidak butuh tenaga kerja asing, kita butuh mereka untuk transfer  knowledge, tapi harus tetap mendorong tenaga TI lokal,&amp;rdquo; jelasnya.   Senada, pengamat media sosial dari Indonesia Information and  Communication Technology Institute (IICTI) Heru Sutadi menyatakan, saat  ini Indonesia punya banyak lulusan tenaga TI dari sejumlah universitas  terkemuka seperti UI, ITB, ITS. &amp;ldquo;Yang ada justru terbalik, kita  kelebihan tenaga ahli ICT.   Masalahnya kebanyakan vendor  berasal dari asing sehingga mereka mempekerjakan karyawan dari negara  mereka berasal,&amp;rdquo; tambahnya. Menurut Heru, setiap tahunnya Indonesia  mencetak ribuan ahli ICT yang berkualitas. Namun penyerapannya hanya  sekitar 30%. Pasalnya perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang siap  pakai.   Di sisi lain persaingan untuk mendapatkan pekerjaan di  industri ICT juga cukup ketat. &amp;ldquo;Sehingga mereka yang lulusan ICT be  kerja bukan berdasarkan bidangnya, padahal tenaga kita cukup  berkualitas, apalagi kalau pemerintah mempermudah para pekerja TI  asing,&amp;rdquo; tegasnya.Heru menyatakan, pemerintah seharusnya  membatasi tenaga kerja  asing di bidang TI. Jika harus menerima para  pekerja asing, seharusnya  mereka lebih disaring dari segi kualitasnya.  Saat ini sejumlah negara  mengincar pangsa pasar teknologi komunikasi dan  informasi di Indonesia  karena perekonomian yang terus tumbuh.   Tren SDM Bidang TI 2018 Meningkat   Survei gaji tahunan yang dirilis perusahaan spesialis rekrutmen   profesional Robert Walters menunjukkan kawasan Asia Tenggara akan tetap   menarik untuk pendatang baru pasar. Pasar lapangan pekerjaan di Asia   Tenggara akan tetap aktif dari 2017 hingga 2018 terlepas dari kondisi   ekonomi beragam yang dihadapi. Tren ini didukung ekspektasi kebutuhan   untuk mendukung perluasan bisnis yang telah ada.   Survei ini   merupakan edisi ke-19 yang menunjukkan prediksi optimistis di tahun 2018   dengan menunjukkan prospek ekonomi yang kuat di kawasan ini. Tren   digitalisasi yang berkelanjutan dan perluasan pasar yang stabil akan   mendorong pertumbuhan gaji pada tahun depan. Kandidat lokal dengan   keterampilan teknis yang kuat, khususnya di bidang TI dan pengalaman   internasional, akan sangat di minati.   Managing Director untuk   Asia Tenggara dari Robert Walters, Toby Fowlston, mengatakan, tren   digitalisasi yang menyapu kawasan ini telah memacu banyak bisnis untuk   menciptakan platform online atau mobile karena perusahaan berusaha   meningkatkan daya saing mereka dan meningkatkan pangsa pasar dengan   konsumen.   Sebagai hasil dari transformasi ini, banyak   perusahaan yang ingin mempekerjakan para profesional dengan keahlian   digital, baik di bidang pemasaran maupun TI. Terutama mereka yang mahir   dalam menjalankan infrastruktur digital back office atau dengan  keahlian  teknologi khusus.   &amp;ldquo;Selain itu juga akan dibutuhkan   profesional TI di bidang komputasi cloud, keamanan siber, dan big data   juga diminati karena subsektor TI ini menjadi area pertumbuhan utama dan   tren ini diperkirakan akan berlanjut pada 2018,&amp;rdquo; ujar Fowlston di   Jakarta beberapa waktu lalu.   (Heru febriatno/Oktiani endarwati/Neneng zubaedah) </description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia segera akan menjadi sasaran para profesional teknologi informasi (TI) dunia untuk mengembangkan karier. Hal ini karena pemerintah membuka peluang mereka untuk masuk pasar kerja di Tanah Air.
Langkah ini diambil sebagai solusi kurangnya tenaga kerja profesional yang dibutuhkan untuk mendukung ekonomi digital yang saat ini tengah berkembang pesat. Di sisi lain, pemerintah juga tengah berupaya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berbakat di sektor tersebut. Namun langkah instan yang diambil pemerintah itu menuai kritik dari kalangan profesional TI.
Baca Juga: Honor Tenaga Kontrak Terancam Tak Dibayar  Mereka menyebut talenta bidang TI jebolan dari universitas terkemuka di negeri ini sangat banyak. Mereka mengingatkan bahwa masalah muncul karena kebanyakan vendor di bidang TI merupakan perusahaan asing sehingga mereka lebih senang mendatangkan tenaga kerja dari negara masing-masing. Kebijakan membuka keran bagi profesional TI disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.   Dia mengungkapkan, talenta sektor ekonomi digital seperti e-commerce di Tanah Air agak sulit didapat. Menurut dia, jumlah tenaga kerja di sektor tersebut juga masih sangat rendah. Di sisi lain jika harus mengandalkan tenaga kerja dalam negeri, perlu waktu untuk mendidiknya menjadi tenaga profesional.
Baca Juga: Sandiaga: 60.000 Lapangan Kerja Baru Tersedia di Sektor Properti
&amp;ldquo;Kita akan mempermudah masuknya tenaga kerja asing yang memang menguasai bidang-bidang keahlian tertentu, terutama e-commerce, secara spesifik,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta kemarin. Darmin menuturkan, selama ini banyak tenaga kerja asi ng yang mengeluhkan sulitnya mendapat izin tinggal. Untuk itu pemerintah akan memberikan kemudahan agar tenaga kerja asing bisa tertarik.   &amp;ldquo;Ini mendesak. Pemerintah juga akan memberikan insentif kepada tenaga Indonesia yang diaspora. Selain itu juga mengembangkan pendidikannya. Jadi komplet,&amp;rdquo; tuturnya. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto membenarkan ekonomi digital membutuhkan tenaga kerja yang ahli di bidang khusus seperti statistik dan coding .   Karena itu dia mendorong generasi muda untuk menguasai statistik dan coding . &amp;rdquo;Jadi kalau digital ekonomi itu tidak hanya didominasi mereka yang sekolah teknologi informasi. Tapi karena dianggap ekonomi digital, maka harus memberi solusi, solusi kesehatan, ekonomi, segala macam se hingga pendidikan coding dan analisis itu diajarkan di semua sektor,&amp;rdquo; tuturnya.   Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf menilai positif langkah pemerintah mendatangkan tenaga profesional TI asing. Namun dia berharap langkah tersebut tetap memperhatikan aturan penggunaan tenaga kerja asing (TKA). Politikus Demokrat ini juga meminta pemerintah tetap melakukan pengawasan.&amp;rdquo;Sebab banyak pekerja asing yang sudah bekerja di Indonesia malah  membawa masalah. Oleh karena itu dia meminta tim pengawasan dari  Imigrasi dan Kemenaker memperkuat jajarannya,&amp;rdquo; ujar dia. Di sisi lain  Dede mengingatkan, ada janji pemerintah kepada rakyat yang berpotensi  dilanggar, yakni janji pemerintah untuk menyediakan 10 juta lapangan  pekerjaan yang sudah tertuang di dalam Rencana Jangka Panjang dan  Menengah Nasional (RPJMN).   Un tuk itu jangan sampai dibukanya  keran TKA ini menggerus kesempatan tenaga kerja dalam negeri. &amp;ldquo;Tentu  jika ada lowongan kerja menjadi kewajiban pemerintah untuk mengisinya  dengan tenaga lokal,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga: Pekerjaan yang Disukai Kaum Milenial, Ini 5 Kriterianya  Sementara itu sejumlah kalangan  profesional TI mempersoalkan kebijakan pemerintah tersebut. Asosiasi  e-Commerce Indonesia (idEA), misalnya, mengingatkan pemerintah  seharusnya lebih mendorong tenaga TI lokal daripada mempermudah masuknya  tenaga kerja asing di sektor tersebut. &amp;ldquo;Tenaga TI kita ini cukup  banyak, tapi tidak terdata.   Mereka banyak yang autodidak, jago  TI karena hobi dan belajar sendiri. Mereka ini perlu mendapatkan  pendataan dan bagaimana caranya mereka bisa lebih maju,&amp;rdquo; ujar Ketua Umum  idEA Aulia Marinto di Jakarta. Dia menandaskan, seharusnya pemerintah  mencetak tenaga ahli TI dari akademisi formal.
Dengan demikian  tenaga ahli TI dari negeri sendiri bisa terus berkembang. Aulia  menyatakan industri teknologi komunikasi dan informasi saat ini  membutuhkan lulusan tenaga ahli TI yang profesional. &amp;ldquo;Jadi bukan berati  kita tidak butuh tenaga kerja asing, kita butuh mereka untuk transfer  knowledge, tapi harus tetap mendorong tenaga TI lokal,&amp;rdquo; jelasnya.   Senada, pengamat media sosial dari Indonesia Information and  Communication Technology Institute (IICTI) Heru Sutadi menyatakan, saat  ini Indonesia punya banyak lulusan tenaga TI dari sejumlah universitas  terkemuka seperti UI, ITB, ITS. &amp;ldquo;Yang ada justru terbalik, kita  kelebihan tenaga ahli ICT.   Masalahnya kebanyakan vendor  berasal dari asing sehingga mereka mempekerjakan karyawan dari negara  mereka berasal,&amp;rdquo; tambahnya. Menurut Heru, setiap tahunnya Indonesia  mencetak ribuan ahli ICT yang berkualitas. Namun penyerapannya hanya  sekitar 30%. Pasalnya perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang siap  pakai.   Di sisi lain persaingan untuk mendapatkan pekerjaan di  industri ICT juga cukup ketat. &amp;ldquo;Sehingga mereka yang lulusan ICT be  kerja bukan berdasarkan bidangnya, padahal tenaga kita cukup  berkualitas, apalagi kalau pemerintah mempermudah para pekerja TI  asing,&amp;rdquo; tegasnya.Heru menyatakan, pemerintah seharusnya  membatasi tenaga kerja  asing di bidang TI. Jika harus menerima para  pekerja asing, seharusnya  mereka lebih disaring dari segi kualitasnya.  Saat ini sejumlah negara  mengincar pangsa pasar teknologi komunikasi dan  informasi di Indonesia  karena perekonomian yang terus tumbuh.   Tren SDM Bidang TI 2018 Meningkat   Survei gaji tahunan yang dirilis perusahaan spesialis rekrutmen   profesional Robert Walters menunjukkan kawasan Asia Tenggara akan tetap   menarik untuk pendatang baru pasar. Pasar lapangan pekerjaan di Asia   Tenggara akan tetap aktif dari 2017 hingga 2018 terlepas dari kondisi   ekonomi beragam yang dihadapi. Tren ini didukung ekspektasi kebutuhan   untuk mendukung perluasan bisnis yang telah ada.   Survei ini   merupakan edisi ke-19 yang menunjukkan prediksi optimistis di tahun 2018   dengan menunjukkan prospek ekonomi yang kuat di kawasan ini. Tren   digitalisasi yang berkelanjutan dan perluasan pasar yang stabil akan   mendorong pertumbuhan gaji pada tahun depan. Kandidat lokal dengan   keterampilan teknis yang kuat, khususnya di bidang TI dan pengalaman   internasional, akan sangat di minati.   Managing Director untuk   Asia Tenggara dari Robert Walters, Toby Fowlston, mengatakan, tren   digitalisasi yang menyapu kawasan ini telah memacu banyak bisnis untuk   menciptakan platform online atau mobile karena perusahaan berusaha   meningkatkan daya saing mereka dan meningkatkan pangsa pasar dengan   konsumen.   Sebagai hasil dari transformasi ini, banyak   perusahaan yang ingin mempekerjakan para profesional dengan keahlian   digital, baik di bidang pemasaran maupun TI. Terutama mereka yang mahir   dalam menjalankan infrastruktur digital back office atau dengan  keahlian  teknologi khusus.   &amp;ldquo;Selain itu juga akan dibutuhkan   profesional TI di bidang komputasi cloud, keamanan siber, dan big data   juga diminati karena subsektor TI ini menjadi area pertumbuhan utama dan   tren ini diperkirakan akan berlanjut pada 2018,&amp;rdquo; ujar Fowlston di   Jakarta beberapa waktu lalu.   (Heru febriatno/Oktiani endarwati/Neneng zubaedah) </content:encoded></item></channel></rss>
