<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Media Televisi Serap 80% Belanja Iklan di 2017</title><description>Pertumbuhan belanja iklan tahun 2017 menunjukkan pergerakan positif yaitu meningkat 8% dari tahun sebelumnya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/05/320/1854877/media-televisi-serap-80-belanja-iklan-di-2017</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/02/05/320/1854877/media-televisi-serap-80-belanja-iklan-di-2017"/><item><title>Media Televisi Serap 80% Belanja Iklan di 2017</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/05/320/1854877/media-televisi-serap-80-belanja-iklan-di-2017</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/02/05/320/1854877/media-televisi-serap-80-belanja-iklan-di-2017</guid><pubDate>Senin 05 Februari 2018 14:16 WIB</pubDate><dc:creator>Keduari Rahmatana Kholiqa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/05/320/1854877/media-televisi-serap-80-belanja-iklan-di-2017-8zDAswaN6Y.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/05/320/1854877/media-televisi-serap-80-belanja-iklan-di-2017-8zDAswaN6Y.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pertumbuhan belanja iklan tahun 2017 menunjukkan pergerakan positif yaitu meningkat 8% dari tahun sebelumnya dengan nilai yang mencapai Rp145 triliun. pertumbuhan ini lebih didorong oleh kenaikan harga gross rate iklan di masing-masing media.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Mengutip hasil temuan Nielsen Ad Intel, Senin (5/2/2018),&amp;nbsp; porsi belanja iklan sepanjang 2017 masih didominasi oleh media TV sebesar 80% dari total belanja iklan, iklan di TV tumbuh 12% dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan porsi belanja iklan mengalami penurunan seiring berkurangnya media cetak yang beroperasi.&amp;nbsp;
Baca Juga: Belanja Iklan Sentuh Rp145 Triliun, Ini Daftar Pengiklan Terbesar
Untuk sektor-sektor di produk cepat habis (FMCG) semua sektor mengalami pertumbuhan iklan yang positif. Capaian belanja iklan di kategori Perawatan Pribadi dengan total Rp24,9 triliun dan naik 21% dibanding periode sebelumnya. Disusul kategori Minuman dengan total belanja iklan Rp21,6 triliun, dan kategori Makanan dengan total belanja iklan Rp19,1 triliun yang meningkat sebesar 12% dibanding tahun 2016.&amp;nbsp;
Selain itu, sektor di luar Produk Cepat Habis (non-FMCG) menunjukkan tren positif di sepanjang tahun 2017. Hal itu dapat dilihat dari sektor Properti sebesar 62%, dan kategori Telekomunikasi dan Digital sebesar 30% dengan total belanja sepanjang tahun 2017 masing-masing mencapai Rp4,1 triliun. Di sisi lain, sektor Rokok mengalami penurunan sebesar 17% sehingga nilai belanja iklannya mencapai Rp5,4 triliun.&amp;nbsp;
Baca Juga: Sudah Era Digital, Mendag: Kalau Tak Ikuti Bisa Tergilas
Berbagai macam merek produk bersaing dikarenakan gaya hidup konsumen yang semakin mendekati arah digital.&amp;nbsp;
Jajaran merek-merek produk dengan belanja iklan tertinggi seperti Meikarta yang menjadi merek belanja iklan tertinggi sepanjang 2017 dengan total lebih dari Rp1,5 triliun. Disusul Traveloka dengan total belanja iklan mencapai Rp1,2 triliun yang meningkat 65%. Berikutnya adalah Indomie dengan total belanja iklan sebesar Rp981,5 miliar dengan pertumbuhan 25%. Dan diurutan keempat Vivo Smartphone yang aktif beriklan dibandingkan tahun 2016 dengan 577% peningkatan menjadi Rp 823, 5 Miliar.&amp;ldquo;Untuk sektor Properti, belanja iklan dari Meikarta ini memang belum  pernah kita lihat sebelumnya. Selain itu, maraknya pelaku bisnis digital  khususnya e-commerce masih terus terjadi terlihat dari terus meningkatnya aktifitas beriklan dari pemain industri e-commerce di media konvensional seperti TV,&amp;rdquo; kata Hellen Katherina, Executive Director, Head of Media Business, Nielsen Indonesia.
Baca Juga: Waduh! Iklan Produk Obat Tradisional dan Suplemen Salahi Ketentuan
Tak mau kalah, institusi pemerintahan, Kementerian Kesehatan juga  masuk dalam daftar pengiklan terbesar di tahun 2017 di urutan ke tujuh  dengan total belanja iklan Rp 702 Milyar. Bersaing dengan Vivo, Samsung  Smartphone juga masuk dalam jajaran pengiklan tertinggi dengan  menghabiskan belanja iklan sebesar Rp 640 Miliar dan tumbuh 28%.</description><content:encoded>JAKARTA - Pertumbuhan belanja iklan tahun 2017 menunjukkan pergerakan positif yaitu meningkat 8% dari tahun sebelumnya dengan nilai yang mencapai Rp145 triliun. pertumbuhan ini lebih didorong oleh kenaikan harga gross rate iklan di masing-masing media.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Mengutip hasil temuan Nielsen Ad Intel, Senin (5/2/2018),&amp;nbsp; porsi belanja iklan sepanjang 2017 masih didominasi oleh media TV sebesar 80% dari total belanja iklan, iklan di TV tumbuh 12% dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan porsi belanja iklan mengalami penurunan seiring berkurangnya media cetak yang beroperasi.&amp;nbsp;
Baca Juga: Belanja Iklan Sentuh Rp145 Triliun, Ini Daftar Pengiklan Terbesar
Untuk sektor-sektor di produk cepat habis (FMCG) semua sektor mengalami pertumbuhan iklan yang positif. Capaian belanja iklan di kategori Perawatan Pribadi dengan total Rp24,9 triliun dan naik 21% dibanding periode sebelumnya. Disusul kategori Minuman dengan total belanja iklan Rp21,6 triliun, dan kategori Makanan dengan total belanja iklan Rp19,1 triliun yang meningkat sebesar 12% dibanding tahun 2016.&amp;nbsp;
Selain itu, sektor di luar Produk Cepat Habis (non-FMCG) menunjukkan tren positif di sepanjang tahun 2017. Hal itu dapat dilihat dari sektor Properti sebesar 62%, dan kategori Telekomunikasi dan Digital sebesar 30% dengan total belanja sepanjang tahun 2017 masing-masing mencapai Rp4,1 triliun. Di sisi lain, sektor Rokok mengalami penurunan sebesar 17% sehingga nilai belanja iklannya mencapai Rp5,4 triliun.&amp;nbsp;
Baca Juga: Sudah Era Digital, Mendag: Kalau Tak Ikuti Bisa Tergilas
Berbagai macam merek produk bersaing dikarenakan gaya hidup konsumen yang semakin mendekati arah digital.&amp;nbsp;
Jajaran merek-merek produk dengan belanja iklan tertinggi seperti Meikarta yang menjadi merek belanja iklan tertinggi sepanjang 2017 dengan total lebih dari Rp1,5 triliun. Disusul Traveloka dengan total belanja iklan mencapai Rp1,2 triliun yang meningkat 65%. Berikutnya adalah Indomie dengan total belanja iklan sebesar Rp981,5 miliar dengan pertumbuhan 25%. Dan diurutan keempat Vivo Smartphone yang aktif beriklan dibandingkan tahun 2016 dengan 577% peningkatan menjadi Rp 823, 5 Miliar.&amp;ldquo;Untuk sektor Properti, belanja iklan dari Meikarta ini memang belum  pernah kita lihat sebelumnya. Selain itu, maraknya pelaku bisnis digital  khususnya e-commerce masih terus terjadi terlihat dari terus meningkatnya aktifitas beriklan dari pemain industri e-commerce di media konvensional seperti TV,&amp;rdquo; kata Hellen Katherina, Executive Director, Head of Media Business, Nielsen Indonesia.
Baca Juga: Waduh! Iklan Produk Obat Tradisional dan Suplemen Salahi Ketentuan
Tak mau kalah, institusi pemerintahan, Kementerian Kesehatan juga  masuk dalam daftar pengiklan terbesar di tahun 2017 di urutan ke tujuh  dengan total belanja iklan Rp 702 Milyar. Bersaing dengan Vivo, Samsung  Smartphone juga masuk dalam jajaran pengiklan tertinggi dengan  menghabiskan belanja iklan sebesar Rp 640 Miliar dan tumbuh 28%.</content:encoded></item></channel></rss>
