<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Asian Games dan Pilkada Diharapkan Topang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia</title><description>Harga komoditas yang terus menanjak diyakini akan mengundang aliran investasi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/06/20/1855432/asian-games-dan-pilkada-diharapkan-topang-pertumbuhan-ekonomi-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/02/06/20/1855432/asian-games-dan-pilkada-diharapkan-topang-pertumbuhan-ekonomi-indonesia"/><item><title>Asian Games dan Pilkada Diharapkan Topang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/06/20/1855432/asian-games-dan-pilkada-diharapkan-topang-pertumbuhan-ekonomi-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/02/06/20/1855432/asian-games-dan-pilkada-diharapkan-topang-pertumbuhan-ekonomi-indonesia</guid><pubDate>Selasa 06 Februari 2018 14:22 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/06/20/1855432/asian-games-dan-pilkada-diharapkan-topang-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-CvK8dE4Yz8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Koran SINDO)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/06/20/1855432/asian-games-dan-pilkada-diharapkan-topang-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-CvK8dE4Yz8.jpg</image><title>(Foto: Koran SINDO)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Harga komoditas yang terus menanjak diyakini akan mengundang aliran investasi. Kondisi tersebut akhirnya mendongkrak konsumsi rumah tangga sehingga kedua kontributor tersebut akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi 2018 ke 5,3%.

&amp;rdquo;Jika komoditas tetap pada level saat ini, kami memperkirakan pertumbuhan investasi akan lebih luas mendasari (pertumbuhan) tahun ini, dan akan berdampak positif pada konsumsi rumah tangga,&amp;rdquo; kata ekonom DBS Bank Gundy Cahyadi di Jakarta kemarin.

Selain itu, menurut Gundy, realisasi pembangunan infrastruktur sejak 2016 akan mulai berdampak pada perekonomian pada 2018. Pada 2017, pembangunan infrastruktur juga telah menarik investasi yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal IV-2017 yang sebesar 5,19% (yoy). &amp;rdquo;Kami perkirakan pertumbuhan PDB sebesar 5,3% di 2018,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;Baca juga: Menko Darmin Tetap Yakin Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5,4% di 2018
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2018 mencapai 5,4% (yoy), sementara Bank Indonesia mematok rentang pertumbuhan ekonomi di 5,1%-5,5%.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan IV/2017 sebesar 5,19% secara tahunan (year on- year/yoy). Apabila dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q) mengalami kontraksi sebesar 1,7%, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang merupakan efek musiman.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tahun 2017 secara kumulatif tumbuh 5,07%, atau lebih baik dibanding tahun lalu yang sebesar 5,03%.
&amp;nbsp;Baca juga: Menko Darmin Tetap Yakin Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5,4% di 2018
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, mes kipun masih di bawah target, pertumbuhan ekonomi 2017 merupakan tertinggi sejak 2014.

&amp;rdquo;Memang masih ada yang perlu diperbaiki tapi ada juga beberapa hal yang sudah bagus. Mudahmudahan ke depan semakin bagus lagi dan hasil pembangunan infra struktur bisa bergulir,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta kemarin.

Suhariyanto memaparkan, harga komoditas migas dan non migas di pasar internasional pada triwulan IV/2017 secara umum mengalami peningkatan baik secara (q-to-q) maupun secara (y-on-y). Momentum pertumbuhan ekonomi global juga terus menunjukkan adanya peningkatan di triwulan IV/2017.

&amp;rdquo;Harga minyak mengalami kenaikan signifikan, sedangkan untuk komoditas nonmigas yang mengalami kenaikan adalah gula, kepala sawit, dan kedelai. Sementara untuk komoditas tambang yang mengalami kenaikan adalah   seng, aluminium, dan nikel. Dan, terjadi pula peningkatan daging sapi,   teh, beras, dan jagung,&amp;rdquo;paparnya.
Baca juga: Morgan Stanley Nilai Ekonomi RI Tumbuh di Atas Rata-Rata pada Kuartal IV-2017

Sementara itu, ekonomi beberapa mitra   dagang Indonesia masih tumbuh cukup kuat. China stagnan pada po sisi 6,8% (Q3/17) dan (Q4/17). Amerika Serikat   menguat dari 2,3% (Q3/17) menjadi 2,5% (Q4/17). Jepang diprediksi (IMF)   menguat dari 1,5% (Q3/17) men jadi 2% (Q4/17). Singapura me lam bat  dari  5,4% (Q3/17) menjadi 3,1% (Q4/17).

&amp;rdquo;Intinya, mitra dagang Indo nesia yang utama pertumbuhan ekonominya   membaik dan tentu akan menggerakkan ekspor,&amp;rdquo; lanjut Suhariyanto.

Suhariyanto melanjutkan, pertumbuhan ekonomi 2017 dari sisi produksi,   pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha informasi dan   komunikasi sebesar 9,81%, diikut oleh jasa lainnya 8,66%, dan   transportasi dan pergudangan 8,49%.
Suhariyanto menuturkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017 yang    5,07% didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga   (PK-RT)  yang sebesar 56,13%, diikuti oleh pembentukan modal tetap bruto   (PMTB)  sebesar 32,16%, dan komponen ekspor barang dan jasa 20,37%.

&amp;rdquo;Peranan konsumsi rumah tangga masih dominan. Kita harapkan konsumsi    rumah tangga semakin bagus. Syaratnya daya beli harus terjaga dan    inflasi terkendali. Itu merupa kan tantangan tahun 2018,&amp;rdquo; tuturnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution me ngatakan,    pertumbuhan ekonomi Indonesia p triwulan IV-2017 yang sebesar 5,19%    cukup bagus.

&amp;rdquo;Kalau tahunan 5,07%, ya masih di bawah 5,1% sedikit. Kalau dilihat    dari sisi pengeluaran, itu terutama didukung oleh pertumbuhan investasi    yang besar, ekspor, dan yang juga membaik sebenarnya pengeluaran    pemerintah walaupun belum tinggi sekali tetapi tahun lalu negatif,&amp;rdquo;    ujarnya.

Darmin melanjutkan, pengeluaran konsumsi rumah tangga juga mulai    membaik walaupun masih di bawah 5%. Konsumsi rumah tangga sepanjang 2017    mencapai 4,95%. Menurut Darmin, konsumsi rumah tangga masih terbuka    untuk bisa mencapai 5%.

&amp;rdquo;Kuncinya minat masyarakat. Kalau minat masyarakat untuk konsumsi tergantung ada barang yang diminati atau enggak,&amp;rdquo; tuturnya.

Meski pertumbuhan ekonomi 2017 di bawah target pemerintah, Darmin tetap optimistis pada 2018 bisa mencapai 5,4%. &amp;rdquo;Ada pilkada, Asian Games, mestinya pengeluaran konsumsi lebih bagus    lagi sepanjang kita bisa mempertahankan pertumbuhan investasi seperti    tahun 2017 jadi lebih baik. Kemudian ekspor dan inflasi dijaga,&amp;rdquo;    ungkapnya.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad    Faisal mengatakan, kondisi global sepanjang 2017 sebenarnya cukup kon    dusif mendorong pertu mbuh an ekonomi lebih tinggi lagi. Namun,    sayangnya tidak di ikuti kondisi ekonomi domestik.

&amp;rdquo;Artinya, kondisi global yang kondusif tidak dimanfaatkan dengan    perbaikan dari sisi domestik dalam negeri. Konsumsi rumah tangga masih    di bawah 5% dan juga dari belanja pemerintah juga paling rendah,&amp;rdquo;    ujarnya.

Faisal menuturkan, target pertumbuhan ekonomi 2018 yang sebesar 5,4%    diperkirakan sulit tercapai. Diperkirakan akan ada peningkatan dari  kon   sumsi rumah tangga, namun tidak terlalu signifikan.

&amp;rdquo;Terutama didorong oleh konsumsi di golongan menengah-bawah yang kami    perkirakan akan terbantu dengan program-program pemerintah. Tapi  untuk   kelas menengah-atas belum ada tanda-tanda pulih,&amp;rdquo; ungkapnya.

Sementara investasi dan ekspor yang menjadi pendorong utama pada    2017, diperkirakan akan meningkat namun tidak terlalu signifikan pada    2018. (Oktiani Endarwati/Ant) 
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Harga komoditas yang terus menanjak diyakini akan mengundang aliran investasi. Kondisi tersebut akhirnya mendongkrak konsumsi rumah tangga sehingga kedua kontributor tersebut akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi 2018 ke 5,3%.

&amp;rdquo;Jika komoditas tetap pada level saat ini, kami memperkirakan pertumbuhan investasi akan lebih luas mendasari (pertumbuhan) tahun ini, dan akan berdampak positif pada konsumsi rumah tangga,&amp;rdquo; kata ekonom DBS Bank Gundy Cahyadi di Jakarta kemarin.

Selain itu, menurut Gundy, realisasi pembangunan infrastruktur sejak 2016 akan mulai berdampak pada perekonomian pada 2018. Pada 2017, pembangunan infrastruktur juga telah menarik investasi yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal IV-2017 yang sebesar 5,19% (yoy). &amp;rdquo;Kami perkirakan pertumbuhan PDB sebesar 5,3% di 2018,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;Baca juga: Menko Darmin Tetap Yakin Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5,4% di 2018
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2018 mencapai 5,4% (yoy), sementara Bank Indonesia mematok rentang pertumbuhan ekonomi di 5,1%-5,5%.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan IV/2017 sebesar 5,19% secara tahunan (year on- year/yoy). Apabila dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q) mengalami kontraksi sebesar 1,7%, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang merupakan efek musiman.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tahun 2017 secara kumulatif tumbuh 5,07%, atau lebih baik dibanding tahun lalu yang sebesar 5,03%.
&amp;nbsp;Baca juga: Menko Darmin Tetap Yakin Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5,4% di 2018
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, mes kipun masih di bawah target, pertumbuhan ekonomi 2017 merupakan tertinggi sejak 2014.

&amp;rdquo;Memang masih ada yang perlu diperbaiki tapi ada juga beberapa hal yang sudah bagus. Mudahmudahan ke depan semakin bagus lagi dan hasil pembangunan infra struktur bisa bergulir,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta kemarin.

Suhariyanto memaparkan, harga komoditas migas dan non migas di pasar internasional pada triwulan IV/2017 secara umum mengalami peningkatan baik secara (q-to-q) maupun secara (y-on-y). Momentum pertumbuhan ekonomi global juga terus menunjukkan adanya peningkatan di triwulan IV/2017.

&amp;rdquo;Harga minyak mengalami kenaikan signifikan, sedangkan untuk komoditas nonmigas yang mengalami kenaikan adalah gula, kepala sawit, dan kedelai. Sementara untuk komoditas tambang yang mengalami kenaikan adalah   seng, aluminium, dan nikel. Dan, terjadi pula peningkatan daging sapi,   teh, beras, dan jagung,&amp;rdquo;paparnya.
Baca juga: Morgan Stanley Nilai Ekonomi RI Tumbuh di Atas Rata-Rata pada Kuartal IV-2017

Sementara itu, ekonomi beberapa mitra   dagang Indonesia masih tumbuh cukup kuat. China stagnan pada po sisi 6,8% (Q3/17) dan (Q4/17). Amerika Serikat   menguat dari 2,3% (Q3/17) menjadi 2,5% (Q4/17). Jepang diprediksi (IMF)   menguat dari 1,5% (Q3/17) men jadi 2% (Q4/17). Singapura me lam bat  dari  5,4% (Q3/17) menjadi 3,1% (Q4/17).

&amp;rdquo;Intinya, mitra dagang Indo nesia yang utama pertumbuhan ekonominya   membaik dan tentu akan menggerakkan ekspor,&amp;rdquo; lanjut Suhariyanto.

Suhariyanto melanjutkan, pertumbuhan ekonomi 2017 dari sisi produksi,   pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha informasi dan   komunikasi sebesar 9,81%, diikut oleh jasa lainnya 8,66%, dan   transportasi dan pergudangan 8,49%.
Suhariyanto menuturkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017 yang    5,07% didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga   (PK-RT)  yang sebesar 56,13%, diikuti oleh pembentukan modal tetap bruto   (PMTB)  sebesar 32,16%, dan komponen ekspor barang dan jasa 20,37%.

&amp;rdquo;Peranan konsumsi rumah tangga masih dominan. Kita harapkan konsumsi    rumah tangga semakin bagus. Syaratnya daya beli harus terjaga dan    inflasi terkendali. Itu merupa kan tantangan tahun 2018,&amp;rdquo; tuturnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution me ngatakan,    pertumbuhan ekonomi Indonesia p triwulan IV-2017 yang sebesar 5,19%    cukup bagus.

&amp;rdquo;Kalau tahunan 5,07%, ya masih di bawah 5,1% sedikit. Kalau dilihat    dari sisi pengeluaran, itu terutama didukung oleh pertumbuhan investasi    yang besar, ekspor, dan yang juga membaik sebenarnya pengeluaran    pemerintah walaupun belum tinggi sekali tetapi tahun lalu negatif,&amp;rdquo;    ujarnya.

Darmin melanjutkan, pengeluaran konsumsi rumah tangga juga mulai    membaik walaupun masih di bawah 5%. Konsumsi rumah tangga sepanjang 2017    mencapai 4,95%. Menurut Darmin, konsumsi rumah tangga masih terbuka    untuk bisa mencapai 5%.

&amp;rdquo;Kuncinya minat masyarakat. Kalau minat masyarakat untuk konsumsi tergantung ada barang yang diminati atau enggak,&amp;rdquo; tuturnya.

Meski pertumbuhan ekonomi 2017 di bawah target pemerintah, Darmin tetap optimistis pada 2018 bisa mencapai 5,4%. &amp;rdquo;Ada pilkada, Asian Games, mestinya pengeluaran konsumsi lebih bagus    lagi sepanjang kita bisa mempertahankan pertumbuhan investasi seperti    tahun 2017 jadi lebih baik. Kemudian ekspor dan inflasi dijaga,&amp;rdquo;    ungkapnya.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad    Faisal mengatakan, kondisi global sepanjang 2017 sebenarnya cukup kon    dusif mendorong pertu mbuh an ekonomi lebih tinggi lagi. Namun,    sayangnya tidak di ikuti kondisi ekonomi domestik.

&amp;rdquo;Artinya, kondisi global yang kondusif tidak dimanfaatkan dengan    perbaikan dari sisi domestik dalam negeri. Konsumsi rumah tangga masih    di bawah 5% dan juga dari belanja pemerintah juga paling rendah,&amp;rdquo;    ujarnya.

Faisal menuturkan, target pertumbuhan ekonomi 2018 yang sebesar 5,4%    diperkirakan sulit tercapai. Diperkirakan akan ada peningkatan dari  kon   sumsi rumah tangga, namun tidak terlalu signifikan.

&amp;rdquo;Terutama didorong oleh konsumsi di golongan menengah-bawah yang kami    perkirakan akan terbantu dengan program-program pemerintah. Tapi  untuk   kelas menengah-atas belum ada tanda-tanda pulih,&amp;rdquo; ungkapnya.

Sementara investasi dan ekspor yang menjadi pendorong utama pada    2017, diperkirakan akan meningkat namun tidak terlalu signifikan pada    2018. (Oktiani Endarwati/Ant) 
</content:encoded></item></channel></rss>
