<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Percepat Pembangunan Papua, RI Gandeng Diaspora Indonesia di Amerika</title><description>Bappenas bekerjasama  dengan IASA, diaspora  Indonesia di Amerika, untuk mempercepat pembangunan Papua</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/07/320/1855929/percepat-pembangunan-papua-ri-gandeng-diaspora-indonesia-di-amerika</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/02/07/320/1855929/percepat-pembangunan-papua-ri-gandeng-diaspora-indonesia-di-amerika"/><item><title>Percepat Pembangunan Papua, RI Gandeng Diaspora Indonesia di Amerika</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/07/320/1855929/percepat-pembangunan-papua-ri-gandeng-diaspora-indonesia-di-amerika</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/02/07/320/1855929/percepat-pembangunan-papua-ri-gandeng-diaspora-indonesia-di-amerika</guid><pubDate>Rabu 07 Februari 2018 11:48 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/07/320/1855929/percepat-pembangunan-papua-ri-gandeng-diaspora-indonesia-di-amerika-UU6zc8vgbS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: (Yohana/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/07/320/1855929/percepat-pembangunan-papua-ri-gandeng-diaspora-indonesia-di-amerika-UU6zc8vgbS.jpg</image><title>Foto: (Yohana/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bekerjasama dengan Indonesian American Society of Academics (IASA), diaspora Indonesia di Amerika, untuk mempercepat pembangunan Papua.

Kerjasama ini merupakan langkah tindak lanjut dari Nota Kescpahaman yang ditandatangani oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas dan IASA pada tanggal 21 Juli 2017 di Washington DC.

Fokus kerjasama ini adalah Pengembangan Pelayanan Dasar Sekolah berpola Asrama dan Pelayanan Kesehatan Jarak Jauh (Telemedicine) di Papua dan Papua Barat. Adapun dalam tahap awal pembangunan dilakukan di Kabupaten Jayapura, Kabupaten Merauke, dan Kabupaten Nabire.
&amp;nbsp;Baca juga: Jokowi: Pembangunan Infrastruktur dan Pertanian Atasi Masalah Papua
Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, melalui konsep sekolah asrama maka akan memudahkan meningkatnya pendidikan di Papua. Seperti diketahui, kondisi geografis Papua yang tidak mudah untuk diakses, membuat siswa di Papua sulit mengenyam pendidikan karena harus berjalan jarak jauh untuk pulang dan pergi sekolah.

&quot;Ini bukan hanya buang waktu tapi energi juga. Akhirnya output yang dihasilkan tidak optimal, itu tidak kita inginkan, karena 20% yang dianggarkan pemerintah dari APBN itu untuk bisa kasih output optimal,&quot; ujar Bambang dalam sambutannya di acara Penandatanganan Perjanjian Kerjasama dengan IASA, Jakarta, Rabu (7/2/2018).

Program sekolah asrama ini, kata Bambang, akan dilaksanakan segera mungkin, pasalnya ini merupakan tindak lanjut dari program Kemendikbud, dimana bangunan secara fisik sudah tersedia, namun yang dioptimalkan adalah jumlah guru yang mengajar.

Nantinya, kata dia, dalam sekolah ini,  diluar jam normal sekolah, akan ada pendidikan karakter sesuai kearifan lokal. Baik itu berupa kegiatan ekstrakurikuler, maupun pembelajaran khusus tentang teknologi digital.

&quot;Kita ingin siswa mengerti pertanian, beternak yang benar, ini sesuai kearifan lokal. Mereka juga akan diajarkan tentang perkembangan teknologi, digital. Jadi bukan sekedar selesai sekolah, siangnya para murid istirahat di asrama dan ga ngapa-ngapain,&quot; jelasnya
&amp;nbsp;Baca juga: Sumber Daya Alam Jadi Andalan Ekonomi Papua, Perlu Sinergi Regulasi untuk Jaga Investasi
Selain itu, untuk konsep Telemedicine, lanjut dia, merupakan sebuah terobosan baru dalam dunia kesehatan. Nantinya, lewat konsep ini dokter di Papua bisa melakukan telesurgery atau pembedahan jarak jauh, dimana akan ada dokter di luar Papua yang memberi instruksi.

Lanjutnya, Telemedicine ini akan memudahkan data-data medis yang juga dapat diakses oleh dokter di luar Papua, sehingga melalui data tersebut, saat melakukan pelayanan kesehatan, dokter setempat dapat diberi arahan yang tepat oleh dokter di luar Papua.

&quot;Dokter setempat bisa lakukan pembedahan sesuai perintah dari dokternya (di luar Papua) langsung dan itu live, bisa langsung diarahkan langkah-langkahnya yang tepat,&quot; jelas Bambang.

Untuk mendukung hal ini, tentunya dibutuhkan jaringan internet yang  kuat di Papua. Oleh sebab itu, penyediaan infrastruktur ini bekerjasama  dengan Kemkominfo yang sedang dalam penyelesaian proyek Palapa Ring yang  ditargetkan selesai 2019. Lewat proyek ini, jaringan komunikasi  Indonesia akan semakin kuat antar tiap daerah.

&quot;Kalau program-program ini bisa berjalan baik, ini jadi replika untuk  wilayah lain di Papua, juga didaerah yang geografisnya seperti Papua.  Ini baik bisa mengurangi kesenjangan antar daerah dan juga kesenjangan  antar kelompok pendapatan,&quot; tukasnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Ketua IASA Edward Wanandi  menyatakan 82 profesor Indonesia yang berada di Amerika Serikat telah   menyatakan kesediaannya untuk terjun dalam kerjasama ini. Dari jumlah  tersebut terdapat 20 profesor yang aktif akan melakukan pendampingan  langsung ke Papua dalam selama 12 bulan mendatang.

&quot;Untuk program terobosan telemedicine akan menjadikan dua rumah sakit  di Papua sebagai pusat kegiatan telemedicine dan terhubung ke lima  puskesmas kabupaten sebagai working-model yang diarahkan ke 100  puskesmas garis depan,&quot; jelasnya.

Dalam program ini, IASA menggunakan dana mandiri sebesar USD350 ribu  atau Rp4,7 miliar per tahun untuk kedua program tersebut. Dana ini pun  tak menutup kemungkinan akan bertambah seiring kebutuhan pendanaan  program.

&quot;Uang ini merupakan sumbangan murni dari diaspora yang berasal dari  para donatur dan sponsor. Kegiatan para profesor diaspora tersebut  bersifat pengabdian semata dan mereka tidak akan diberikan gaji atau  honor,&quot; ungkapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bekerjasama dengan Indonesian American Society of Academics (IASA), diaspora Indonesia di Amerika, untuk mempercepat pembangunan Papua.

Kerjasama ini merupakan langkah tindak lanjut dari Nota Kescpahaman yang ditandatangani oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas dan IASA pada tanggal 21 Juli 2017 di Washington DC.

Fokus kerjasama ini adalah Pengembangan Pelayanan Dasar Sekolah berpola Asrama dan Pelayanan Kesehatan Jarak Jauh (Telemedicine) di Papua dan Papua Barat. Adapun dalam tahap awal pembangunan dilakukan di Kabupaten Jayapura, Kabupaten Merauke, dan Kabupaten Nabire.
&amp;nbsp;Baca juga: Jokowi: Pembangunan Infrastruktur dan Pertanian Atasi Masalah Papua
Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, melalui konsep sekolah asrama maka akan memudahkan meningkatnya pendidikan di Papua. Seperti diketahui, kondisi geografis Papua yang tidak mudah untuk diakses, membuat siswa di Papua sulit mengenyam pendidikan karena harus berjalan jarak jauh untuk pulang dan pergi sekolah.

&quot;Ini bukan hanya buang waktu tapi energi juga. Akhirnya output yang dihasilkan tidak optimal, itu tidak kita inginkan, karena 20% yang dianggarkan pemerintah dari APBN itu untuk bisa kasih output optimal,&quot; ujar Bambang dalam sambutannya di acara Penandatanganan Perjanjian Kerjasama dengan IASA, Jakarta, Rabu (7/2/2018).

Program sekolah asrama ini, kata Bambang, akan dilaksanakan segera mungkin, pasalnya ini merupakan tindak lanjut dari program Kemendikbud, dimana bangunan secara fisik sudah tersedia, namun yang dioptimalkan adalah jumlah guru yang mengajar.

Nantinya, kata dia, dalam sekolah ini,  diluar jam normal sekolah, akan ada pendidikan karakter sesuai kearifan lokal. Baik itu berupa kegiatan ekstrakurikuler, maupun pembelajaran khusus tentang teknologi digital.

&quot;Kita ingin siswa mengerti pertanian, beternak yang benar, ini sesuai kearifan lokal. Mereka juga akan diajarkan tentang perkembangan teknologi, digital. Jadi bukan sekedar selesai sekolah, siangnya para murid istirahat di asrama dan ga ngapa-ngapain,&quot; jelasnya
&amp;nbsp;Baca juga: Sumber Daya Alam Jadi Andalan Ekonomi Papua, Perlu Sinergi Regulasi untuk Jaga Investasi
Selain itu, untuk konsep Telemedicine, lanjut dia, merupakan sebuah terobosan baru dalam dunia kesehatan. Nantinya, lewat konsep ini dokter di Papua bisa melakukan telesurgery atau pembedahan jarak jauh, dimana akan ada dokter di luar Papua yang memberi instruksi.

Lanjutnya, Telemedicine ini akan memudahkan data-data medis yang juga dapat diakses oleh dokter di luar Papua, sehingga melalui data tersebut, saat melakukan pelayanan kesehatan, dokter setempat dapat diberi arahan yang tepat oleh dokter di luar Papua.

&quot;Dokter setempat bisa lakukan pembedahan sesuai perintah dari dokternya (di luar Papua) langsung dan itu live, bisa langsung diarahkan langkah-langkahnya yang tepat,&quot; jelas Bambang.

Untuk mendukung hal ini, tentunya dibutuhkan jaringan internet yang  kuat di Papua. Oleh sebab itu, penyediaan infrastruktur ini bekerjasama  dengan Kemkominfo yang sedang dalam penyelesaian proyek Palapa Ring yang  ditargetkan selesai 2019. Lewat proyek ini, jaringan komunikasi  Indonesia akan semakin kuat antar tiap daerah.

&quot;Kalau program-program ini bisa berjalan baik, ini jadi replika untuk  wilayah lain di Papua, juga didaerah yang geografisnya seperti Papua.  Ini baik bisa mengurangi kesenjangan antar daerah dan juga kesenjangan  antar kelompok pendapatan,&quot; tukasnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Ketua IASA Edward Wanandi  menyatakan 82 profesor Indonesia yang berada di Amerika Serikat telah   menyatakan kesediaannya untuk terjun dalam kerjasama ini. Dari jumlah  tersebut terdapat 20 profesor yang aktif akan melakukan pendampingan  langsung ke Papua dalam selama 12 bulan mendatang.

&quot;Untuk program terobosan telemedicine akan menjadikan dua rumah sakit  di Papua sebagai pusat kegiatan telemedicine dan terhubung ke lima  puskesmas kabupaten sebagai working-model yang diarahkan ke 100  puskesmas garis depan,&quot; jelasnya.

Dalam program ini, IASA menggunakan dana mandiri sebesar USD350 ribu  atau Rp4,7 miliar per tahun untuk kedua program tersebut. Dana ini pun  tak menutup kemungkinan akan bertambah seiring kebutuhan pendanaan  program.

&quot;Uang ini merupakan sumbangan murni dari diaspora yang berasal dari  para donatur dan sponsor. Kegiatan para profesor diaspora tersebut  bersifat pengabdian semata dan mereka tidak akan diberikan gaji atau  honor,&quot; ungkapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
