<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>LPS Sebut Penyaluran Kredit Sulit Agresif di Awal Tahun   </title><description>Stimulus dari belanja pemerintah yang dapat menaikkan penyaluran kredit perbankan juga masih minim di awal tahun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/08/320/1856789/lps-sebut-penyaluran-kredit-sulit-agresif-di-awal-tahun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/02/08/320/1856789/lps-sebut-penyaluran-kredit-sulit-agresif-di-awal-tahun"/><item><title>LPS Sebut Penyaluran Kredit Sulit Agresif di Awal Tahun   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/08/320/1856789/lps-sebut-penyaluran-kredit-sulit-agresif-di-awal-tahun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/02/08/320/1856789/lps-sebut-penyaluran-kredit-sulit-agresif-di-awal-tahun</guid><pubDate>Kamis 08 Februari 2018 19:09 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/08/320/1856789/lps-sebut-penyaluran-kredit-sulit-agresif-di-awal-tahun-3LNcqU3fy8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Kredit. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/08/320/1856789/lps-sebut-penyaluran-kredit-sulit-agresif-di-awal-tahun-3LNcqU3fy8.jpg</image><title>Ilustrasi Kredit. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Perbankan diperkirakan tidak akan mampu agresif dalam menyalurkan kredit pada semester I 2018 karena masih terbebani kualitas aset dan risiko kredit yang tinggi, kata Lembaga Penjamin Simpanan.

&quot;Beberapa sektor rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) masih tinggi jadi perbankan saya rasa sampai pertengahan tahun kegiatan ekspansi kredit belum akan cepat,&quot; kata Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah di Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Halim mengatakan, stimulus dari belanja pemerintah yang dapat menaikkan penyaluran kredit perbankan juga masih minim di awal tahun. Hal itu ditambah sikap perbankan yang masih hati-hati untuk menyalurkan intermediasi karena masih konsolidasi perbaikan aset. &quot;Apabila pertumbuhan ekonomi di 5,3% atau 5,4% pun agak sulit saya rasa perbankan untuk kuat dalam menyalurkan kredit,&quot; ujarnya.

Indikator risiko kredit perbankan juga belum sehat. Halim menyebutkan &quot;credit at risk&quot; perbankan di Januari masih tinggi di sekitar 10%.

&quot;Kalau melihat tahun 2014-2015 'credit at risk' ini ada di sekitar 6-7%. Untuk beberapa bank sudah berhasil menurunkan. Secara nasional angkanya harus di bawah yang sekarang,&quot; ujar dia.

Risiko kredit atau &quot;credit at risk&quot; merupakan indikator yang mencerminkan risiko dari kredit kolektabilitas II sampai V ditambah dengan kredit yang direstrukturisasi.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan pertumbuhan kredit memang masih lemah di kuartal I 2018. Namun, hal itu karena pola tahunan di mana permintaan kredit masih lemah.

Bank Sentral memproyeksikan pertumbuhan kredit 2018 dapat sebesar 10-12% (tahun ke tahun/yoy). &quot;Nanti di kuartal II baru mulai, kuartal III lebih kencang dari kuartal II, kuartal IV lebih kencang lagi,&quot; ujar dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Perbankan diperkirakan tidak akan mampu agresif dalam menyalurkan kredit pada semester I 2018 karena masih terbebani kualitas aset dan risiko kredit yang tinggi, kata Lembaga Penjamin Simpanan.

&quot;Beberapa sektor rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) masih tinggi jadi perbankan saya rasa sampai pertengahan tahun kegiatan ekspansi kredit belum akan cepat,&quot; kata Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah di Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Halim mengatakan, stimulus dari belanja pemerintah yang dapat menaikkan penyaluran kredit perbankan juga masih minim di awal tahun. Hal itu ditambah sikap perbankan yang masih hati-hati untuk menyalurkan intermediasi karena masih konsolidasi perbaikan aset. &quot;Apabila pertumbuhan ekonomi di 5,3% atau 5,4% pun agak sulit saya rasa perbankan untuk kuat dalam menyalurkan kredit,&quot; ujarnya.

Indikator risiko kredit perbankan juga belum sehat. Halim menyebutkan &quot;credit at risk&quot; perbankan di Januari masih tinggi di sekitar 10%.

&quot;Kalau melihat tahun 2014-2015 'credit at risk' ini ada di sekitar 6-7%. Untuk beberapa bank sudah berhasil menurunkan. Secara nasional angkanya harus di bawah yang sekarang,&quot; ujar dia.

Risiko kredit atau &quot;credit at risk&quot; merupakan indikator yang mencerminkan risiko dari kredit kolektabilitas II sampai V ditambah dengan kredit yang direstrukturisasi.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan pertumbuhan kredit memang masih lemah di kuartal I 2018. Namun, hal itu karena pola tahunan di mana permintaan kredit masih lemah.

Bank Sentral memproyeksikan pertumbuhan kredit 2018 dapat sebesar 10-12% (tahun ke tahun/yoy). &quot;Nanti di kuartal II baru mulai, kuartal III lebih kencang dari kuartal II, kuartal IV lebih kencang lagi,&quot; ujar dia.</content:encoded></item></channel></rss>
