<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Disuntik Rp2 Triliun, Go-Jek Siap Kembangkan UMKM</title><description>Grup Astra dan kelompok usaha Djarum kemarin dalam waktu hampir bersamaan mengumumkan investasi triliunan rupiah di Go-Jek.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/13/320/1858774/disuntik-rp2-triliun-go-jek-siap-kembangkan-umkm</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/02/13/320/1858774/disuntik-rp2-triliun-go-jek-siap-kembangkan-umkm"/><item><title>Disuntik Rp2 Triliun, Go-Jek Siap Kembangkan UMKM</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/13/320/1858774/disuntik-rp2-triliun-go-jek-siap-kembangkan-umkm</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/02/13/320/1858774/disuntik-rp2-triliun-go-jek-siap-kembangkan-umkm</guid><pubDate>Selasa 13 Februari 2018 11:27 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/13/320/1858774/disuntik-rp2-triliun-go-jek-siap-kembangkan-umkm-chzuGbDKOl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Koran SINDO</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/13/320/1858774/disuntik-rp2-triliun-go-jek-siap-kembangkan-umkm-chzuGbDKOl.jpg</image><title>Foto: Koran SINDO</title></images><description>JAKARTA - Grup Astra dan kelompok usaha Djarum kemarin dalam waktu hampir bersamaan mengumumkan investasi triliunan rupiah di Go-Jek. Perusahaan yang berawal dari layanan ojek online itu bertekad memanfaatkan sebagian dana untuk mendukung usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi mitranya.
Kesepakatan ini sekaligus menjawab tantangan yang sebelumnya menyebut investor lokal cenderung enggan menyuntikkan modal di perusahaan start up dalam negeri. Namun, Astra dan Djarum membuktikan bahwa dua perusahaan konglomerasi itu sanggup menggelontorkan investasi ke Go-Jek. Astra menanamkan modal sebesar USD150 juta atau sekitar Rp2 triliun dalam kesepakatan tersebut. Sedangkan Djarum yang berinvestasi melalui anak usahanya, PT Global Digital Niaga (GDN), kendati tidak menyebutkan angkanya, meyakini kerja sama tersebut akan dapat membantu dua pihak dalam mengembangkan ekonomi digital.
Baca Juga: Go-Jek Targetkan Izin Penggunaan QR Code Pada Go-Pay Keluar Akhir Bulan Ini  Dalam beberapa tahun terakhir, Go-Jek menjadi incaran investor besar untuk membenamkan investasinya. Tak tanggung-tanggung, daya tarik perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim itu berhasil mendatangkan Tencent, JD.com, KKR, Warburg Pincus, Sequoia Capital, Northstar Group, DST Global, dan NSI Ventures. Raksasa internet global Alphabet, induk usaha Google, bahkan belum lama ini mengumumkan komitmennya untuk mendanai Go-Jek senilai hampir Rp16 triliun.   Dengan begitu, total nilai perusahaan Go-Jek diperkirakan telah mencapai USD4 miliar atau lebih dari Rp54 triliun. Setelah Astra dan Djarum berinvestasi, nilai perusahaan Go-Jek yang kini merambah bisnis pembayaran diperkirakan terus bertambah. Apalagi, pihak Astra terang-terangan menyatakan bahwa Go-Jek merupakan pemain utama dalam bidang ekonomi digital di Indonesia. &amp;rdquo;Semua ini (kerja sama dengan Go-Jek) dilakukan guna mendorong pertumbuhan ekonomi lndonesia,&amp;rdquo; kata Presi den Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto di Jakarta.
Baca Juga: Djarum Siap Tambah Investasi untuk Go-Jek
Astra pun berharap kolaborasi dengan Go-Jek dapat memberikan nilai tambah bagi bisnis perseroan serta mengakselerasi inisiatif di bidang digital. Hal ini sejalan dengan komitmen Astra untuk mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia. Sekadar diketahui, Astra merupakan pemain utama di pasar mobil nasional dengan menguasai 56% penjualan. Demikian juga di sektor kendaraan roda dua, Grup Astra merajai penjualan sepeda motor dengan pangsa pasar mencapai 75%. Sementara itu, kelompok usaha Djarum yang menyuntikkan dana ke Go-Jek melalui Global Digital Niaga (GDN), anak usaha Global Digital Prima (GDP), menilai Go-Jek memiliki kemampuan menghadirkan layanan online solution yang inovatif dan aplikatif sehingga menjangkau konsumen secara luas.   &amp;rdquo;Ada banyak kesamaan antara GDN dan Go-Jek yang bisa di kolaborasikan dalam hal membuka akses yang semakin luas bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berpartisipasi dalam pengembangan ekonomi digital, pengembangan jasa logistik, merchandising,&amp;rdquo; ungkap CEO PT Global Digital Niaga Kusumo Martanto. Dia menambahkan, GDN berharap kolaborasi dan sinergi yang terjadi dapat membawa dua perusahaan menjadi local champions yang maju dalam membangun ekosistem digital jadi semakin besar. GDN bukanlah nama asing di industri digital. Perusahaan tersebut mengelola toko online Blibli.com sejak 2011.Belum lama ini GDN juga melakukan ekspansi dengan membeli saham perusahaan aplikasi tiket online yakni Tiket.com. Sementara itu, Chief Executive Officer dan Founder Go-  Jek Nadiem Makarim menyebutkan, kerja sama dengan Astra merupakan awal  untuk membangun ekosistem digital bersama perusahaan terbesar baik dari  perusahaan digital mau pun tradisional. Dengan kolaborasi itu, dia  berharap dapat membangun ekosistem digital di Indonesia yang nanti bisa  berkembang menjadi superpower di sektor digital.  Terkait kerja  sama dengan GDN, ujar Nadiem, sebagai sesama pemain lokal di sektor  konsumer, keduanya memiliki visi yang sama untuk mendorong produktivitas  dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. GDN dan Go-Jek meyakini  teknologi dapat menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.  Saat ini jumlah pengemudi Go-Jek yang terdaftar mencapai lebih dari 1  juta pengemudi dengan lebih dari 125.000 mitra usaha, dan 30.000  penyedia jasa di platform Go-Jek, yang menyediakan berbagai jenis jasa  seperti transportasi, pengantaran makanan, kurir barang, jasa  kebersihan, hingga keperluan pembayaran.   &amp;rdquo;Kami memfasilitasi  lebih dari 100 juta transaksi setiap bulannya,&amp;rdquo; ujar Nadiem. Kolaborasi  antara Astra dan Go-Jek mendapat dukungan penuh dari Menteri Komunikasi  dan Informatika Rudiantara. Menurutnya, kerja sama antar perusahaan atau  organisasi yang berbasis teknologi digital dapat memberikan keuntungan  untuk meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. &amp;rdquo;Dengan terus  meningkatkan kerja sama, kita akan mendorong penguatan ekonomi di ASEAN  dan dunia. Kita adalah leadernya,&amp;rdquo; kata Rudiantara saat menyaksikan  penandatanganan kerja sama Astra Go-Jek di Jakarta.   Dia  menganggap, saat ini pola pikir bisnis sudah perlu beralih ke arah  pemanfaatan teknologi digital. Hal tersebut di sebabkan perkembangan  teknologi yang semakin cepat sehingga perlu menyesuaikan. Pengamat media  industri digital dari Indonesia In formation and Communication  Technology Institute (IICTI) Heru Sutadi mengatakan, kerja sama antara  PT Astra Internasional Tbk dan Go-Jek Indonesia sangat tepat dan akan  menguntungkan dua belah pihak. Astra sebagai perusahaan produsen  kendaraan bisa menawarkan kemudahan bagi para mitra Go-Jek untuk  memiliki sepeda motor maupun mobil. &amp;rdquo;Banyak yang memperkirakan,  investasi Astra ke Go-Jek tidak secara langsung, lebih ke penempatan  kendaraan, karena Go-Jek bertindak sebagai penyedia platform aplikasi  yang membutuhkan unit kendaraan,&amp;rdquo; urainya. Heru mengungkapkan,  strategi bisnis ini sebenarnya sudah dijalankan  oleh start up lain  yakni Grab Indonesia. Para mitra Grab bisa  memperoleh dan memiliki unit  kendaraan dengan cara mengangsur setiap  bulan. Dia menjelaskan, ke depan  Go-Jek akan tetap fokus pada bisnis  layanan antar jemput orang mau pun  barang. Di sisi lain, perlahan-lahan  Go-Jek juga mu lai mengembangkan  bisnis financial technology  (fintech). Saat ini pengelolaan layanan  keuangan Go-Jek secara digital  cukup besar, di dukung mitra pengemudi  yang tembus di angka 1 juta.   &amp;rdquo;Misalnya saja satu orang mitra  meraih pendapatan melalui Go-Pay  Rp100.000. Jika dikali 1 juta driver,  itu per hari mencapai Rp100  miliar, sebulan sudah mencapai Rp3 triliun,  belum lagi untuk layanan  lain, jumlahnya pasti lebih banyak,&amp;rdquo; paparnya.  Untuk itu, katanya, Go-  Jek harus bisa mengatur secara tepat pengelolaan  dana yang telah  diraihnya. Di sisi lain, kepercayaan masyarakat  terhadap layanan  pembayaran Go-Jek secara digital juga harus di jaga.  Dengan  pengembangan bisnis fintech yang tepat, ke depan Go-Jek bisa  menjadi  perusahaan start up yang lebih besar lagi. Di sisi lain, ujar  Heru,  saat ini belum banyak perusahaan dari Tanah Air yang berani   menyuntikkan modal ke perusahaan rintisan atau startup. Hal ini karena   para investor masih mencari bentuk kerja sama model bisnis yang pas   dengan pelaku usaha.   &amp;rdquo;Pemikiran investor di Indonesia, jika   menanamkan investasi triliunan harus cepat untungnya, pada hal start up   tidak seperti itu,&amp;rdquo; kata Heru di Jakarta kemarin.   (Heru Febrianto/Kunthi Fahmar Sandy)</description><content:encoded>JAKARTA - Grup Astra dan kelompok usaha Djarum kemarin dalam waktu hampir bersamaan mengumumkan investasi triliunan rupiah di Go-Jek. Perusahaan yang berawal dari layanan ojek online itu bertekad memanfaatkan sebagian dana untuk mendukung usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi mitranya.
Kesepakatan ini sekaligus menjawab tantangan yang sebelumnya menyebut investor lokal cenderung enggan menyuntikkan modal di perusahaan start up dalam negeri. Namun, Astra dan Djarum membuktikan bahwa dua perusahaan konglomerasi itu sanggup menggelontorkan investasi ke Go-Jek. Astra menanamkan modal sebesar USD150 juta atau sekitar Rp2 triliun dalam kesepakatan tersebut. Sedangkan Djarum yang berinvestasi melalui anak usahanya, PT Global Digital Niaga (GDN), kendati tidak menyebutkan angkanya, meyakini kerja sama tersebut akan dapat membantu dua pihak dalam mengembangkan ekonomi digital.
Baca Juga: Go-Jek Targetkan Izin Penggunaan QR Code Pada Go-Pay Keluar Akhir Bulan Ini  Dalam beberapa tahun terakhir, Go-Jek menjadi incaran investor besar untuk membenamkan investasinya. Tak tanggung-tanggung, daya tarik perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim itu berhasil mendatangkan Tencent, JD.com, KKR, Warburg Pincus, Sequoia Capital, Northstar Group, DST Global, dan NSI Ventures. Raksasa internet global Alphabet, induk usaha Google, bahkan belum lama ini mengumumkan komitmennya untuk mendanai Go-Jek senilai hampir Rp16 triliun.   Dengan begitu, total nilai perusahaan Go-Jek diperkirakan telah mencapai USD4 miliar atau lebih dari Rp54 triliun. Setelah Astra dan Djarum berinvestasi, nilai perusahaan Go-Jek yang kini merambah bisnis pembayaran diperkirakan terus bertambah. Apalagi, pihak Astra terang-terangan menyatakan bahwa Go-Jek merupakan pemain utama dalam bidang ekonomi digital di Indonesia. &amp;rdquo;Semua ini (kerja sama dengan Go-Jek) dilakukan guna mendorong pertumbuhan ekonomi lndonesia,&amp;rdquo; kata Presi den Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto di Jakarta.
Baca Juga: Djarum Siap Tambah Investasi untuk Go-Jek
Astra pun berharap kolaborasi dengan Go-Jek dapat memberikan nilai tambah bagi bisnis perseroan serta mengakselerasi inisiatif di bidang digital. Hal ini sejalan dengan komitmen Astra untuk mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia. Sekadar diketahui, Astra merupakan pemain utama di pasar mobil nasional dengan menguasai 56% penjualan. Demikian juga di sektor kendaraan roda dua, Grup Astra merajai penjualan sepeda motor dengan pangsa pasar mencapai 75%. Sementara itu, kelompok usaha Djarum yang menyuntikkan dana ke Go-Jek melalui Global Digital Niaga (GDN), anak usaha Global Digital Prima (GDP), menilai Go-Jek memiliki kemampuan menghadirkan layanan online solution yang inovatif dan aplikatif sehingga menjangkau konsumen secara luas.   &amp;rdquo;Ada banyak kesamaan antara GDN dan Go-Jek yang bisa di kolaborasikan dalam hal membuka akses yang semakin luas bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berpartisipasi dalam pengembangan ekonomi digital, pengembangan jasa logistik, merchandising,&amp;rdquo; ungkap CEO PT Global Digital Niaga Kusumo Martanto. Dia menambahkan, GDN berharap kolaborasi dan sinergi yang terjadi dapat membawa dua perusahaan menjadi local champions yang maju dalam membangun ekosistem digital jadi semakin besar. GDN bukanlah nama asing di industri digital. Perusahaan tersebut mengelola toko online Blibli.com sejak 2011.Belum lama ini GDN juga melakukan ekspansi dengan membeli saham perusahaan aplikasi tiket online yakni Tiket.com. Sementara itu, Chief Executive Officer dan Founder Go-  Jek Nadiem Makarim menyebutkan, kerja sama dengan Astra merupakan awal  untuk membangun ekosistem digital bersama perusahaan terbesar baik dari  perusahaan digital mau pun tradisional. Dengan kolaborasi itu, dia  berharap dapat membangun ekosistem digital di Indonesia yang nanti bisa  berkembang menjadi superpower di sektor digital.  Terkait kerja  sama dengan GDN, ujar Nadiem, sebagai sesama pemain lokal di sektor  konsumer, keduanya memiliki visi yang sama untuk mendorong produktivitas  dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. GDN dan Go-Jek meyakini  teknologi dapat menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.  Saat ini jumlah pengemudi Go-Jek yang terdaftar mencapai lebih dari 1  juta pengemudi dengan lebih dari 125.000 mitra usaha, dan 30.000  penyedia jasa di platform Go-Jek, yang menyediakan berbagai jenis jasa  seperti transportasi, pengantaran makanan, kurir barang, jasa  kebersihan, hingga keperluan pembayaran.   &amp;rdquo;Kami memfasilitasi  lebih dari 100 juta transaksi setiap bulannya,&amp;rdquo; ujar Nadiem. Kolaborasi  antara Astra dan Go-Jek mendapat dukungan penuh dari Menteri Komunikasi  dan Informatika Rudiantara. Menurutnya, kerja sama antar perusahaan atau  organisasi yang berbasis teknologi digital dapat memberikan keuntungan  untuk meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. &amp;rdquo;Dengan terus  meningkatkan kerja sama, kita akan mendorong penguatan ekonomi di ASEAN  dan dunia. Kita adalah leadernya,&amp;rdquo; kata Rudiantara saat menyaksikan  penandatanganan kerja sama Astra Go-Jek di Jakarta.   Dia  menganggap, saat ini pola pikir bisnis sudah perlu beralih ke arah  pemanfaatan teknologi digital. Hal tersebut di sebabkan perkembangan  teknologi yang semakin cepat sehingga perlu menyesuaikan. Pengamat media  industri digital dari Indonesia In formation and Communication  Technology Institute (IICTI) Heru Sutadi mengatakan, kerja sama antara  PT Astra Internasional Tbk dan Go-Jek Indonesia sangat tepat dan akan  menguntungkan dua belah pihak. Astra sebagai perusahaan produsen  kendaraan bisa menawarkan kemudahan bagi para mitra Go-Jek untuk  memiliki sepeda motor maupun mobil. &amp;rdquo;Banyak yang memperkirakan,  investasi Astra ke Go-Jek tidak secara langsung, lebih ke penempatan  kendaraan, karena Go-Jek bertindak sebagai penyedia platform aplikasi  yang membutuhkan unit kendaraan,&amp;rdquo; urainya. Heru mengungkapkan,  strategi bisnis ini sebenarnya sudah dijalankan  oleh start up lain  yakni Grab Indonesia. Para mitra Grab bisa  memperoleh dan memiliki unit  kendaraan dengan cara mengangsur setiap  bulan. Dia menjelaskan, ke depan  Go-Jek akan tetap fokus pada bisnis  layanan antar jemput orang mau pun  barang. Di sisi lain, perlahan-lahan  Go-Jek juga mu lai mengembangkan  bisnis financial technology  (fintech). Saat ini pengelolaan layanan  keuangan Go-Jek secara digital  cukup besar, di dukung mitra pengemudi  yang tembus di angka 1 juta.   &amp;rdquo;Misalnya saja satu orang mitra  meraih pendapatan melalui Go-Pay  Rp100.000. Jika dikali 1 juta driver,  itu per hari mencapai Rp100  miliar, sebulan sudah mencapai Rp3 triliun,  belum lagi untuk layanan  lain, jumlahnya pasti lebih banyak,&amp;rdquo; paparnya.  Untuk itu, katanya, Go-  Jek harus bisa mengatur secara tepat pengelolaan  dana yang telah  diraihnya. Di sisi lain, kepercayaan masyarakat  terhadap layanan  pembayaran Go-Jek secara digital juga harus di jaga.  Dengan  pengembangan bisnis fintech yang tepat, ke depan Go-Jek bisa  menjadi  perusahaan start up yang lebih besar lagi. Di sisi lain, ujar  Heru,  saat ini belum banyak perusahaan dari Tanah Air yang berani   menyuntikkan modal ke perusahaan rintisan atau startup. Hal ini karena   para investor masih mencari bentuk kerja sama model bisnis yang pas   dengan pelaku usaha.   &amp;rdquo;Pemikiran investor di Indonesia, jika   menanamkan investasi triliunan harus cepat untungnya, pada hal start up   tidak seperti itu,&amp;rdquo; kata Heru di Jakarta kemarin.   (Heru Febrianto/Kunthi Fahmar Sandy)</content:encoded></item></channel></rss>
