<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Komunikasi Industri Sawit Zaman Now and Next</title><description>Sektor kelapa sawit yang agraris dan rural masih baru memulai membangun cetak biru komunikasi industri.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/14/320/1859343/komunikasi-industri-sawit-zaman-now-and-next</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/02/14/320/1859343/komunikasi-industri-sawit-zaman-now-and-next"/><item><title>Komunikasi Industri Sawit Zaman Now and Next</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/14/320/1859343/komunikasi-industri-sawit-zaman-now-and-next</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/02/14/320/1859343/komunikasi-industri-sawit-zaman-now-and-next</guid><pubDate>Rabu 14 Februari 2018 11:12 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/14/320/1859343/komunikasi-industri-sawit-zaman-now-and-next-0RTZgFZxx9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Koran SINDO</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/14/320/1859343/komunikasi-industri-sawit-zaman-now-and-next-0RTZgFZxx9.jpg</image><title>Foto: Koran SINDO</title></images><description>DALAM setiap kesempatan bertemu dengan teman-teman media, baik cetak maupun elektronik, satu topik paling hangat dibahas adalah tantangan bisnis di era digital.
Bahasa kerennya, menghadapi era disruptif zaman now. Terutama media cetak, tidak saja penjualan koran yang terus turun, pendapatan iklan juga pelan tapi pasti tumbuh negatif. &amp;ldquo;Kalau masih ada penjualan koran, itu mungkin karena masih ada generasi old yang belum sepenuhnya tune in dengan transformasi komunikasi di gital saat ini,&amp;rdquo; ujar seorang teman wartawan.
Baca Juga: Italia Dukung Sawit Indonesia di Uni Eropa  Saya tidak sepenuhnya percaya dengan itu. Karena bagi saya pribadi, membaca sebuah informasi bukan sekadar tentang kecepatan, tetapi juga kedalaman, akurasi, dan kredibilitas, baik media maupun penulisnya. Jadi, saya yakin, media konvensional akan tetap bertahan karena dalam tiga aspek yang saya sebutkan tadi, jauh lebih baik dibandingkan dengan media berplatform digital apalagi dibandingkan dengan media sosial.   Namun, apakah generasi zaman now peduli dengan akurasi sebuah informasi? Bahkan generasi old yang hidup di zaman now pun seperti ikut menikmati inflasi informasi yang serba cepat dan instan. Soal benar atau salah, itu urusan belakang.   Komunikasi Industri Sawit   Berbeda dengan sektor lain yang lebih urban, sektor kelapa sawit yang agraris dan rural masih baru memulai membangun cetak biru komunikasi industri. Meskipun secara bisnis pasar produk minyak sawit besar dan captive, tetapi tantangan keberlanjutan menuntut industri sawit membuka diri. Bukan hal mudah, tentu saja karena puluhan tahun industri ini menjadi besar tanpa perlu membangun komunikasi dan beriklan.
Baca Juga: PTPN V Tolak Eksekusi Lahan Kelapa Sawit
Permintaan pasar yang tinggi sempat membuat pelaku usaha terlena untuk hanya berfokus pada urusan pasar dan operasional. Urusan lain seperti komunikasi adalah opsional. Tetapi itu adalah wajah sektor perkebunan kelapa sawit zaman old, itu masa sekitar lebih dari 10 tahun ke belakang.   Pada zaman now, pakar ekonomi menyebutnya sebagai era disruptif, tantangan industri sudah berubah. Para pesaing minyak sawit, yaitu negara produsen minyak nabati nonsawit, tidak tinggal diam melihat pertumbuhan minyak yang sangat pesat. Apalagi dalam pasar minyak nabati dunia, sawit memegang pangsa pasar terbesar, yaitu sekitar 31%.   Sejak menjadi nomor satu di dunia itulah berbagai kampanye negatif dan hoax terus bertebaran, yang muara akhirnya adalah ingin menyudahi kejayaan sawit dalam pasar minyak nabati dunia. Isu kesehatan, emisi gas rumah kaca, isu-isu keberlanjutan, ketenagakerjaan, isu lahan, konflik sosial, hingga isu hak asasi manusia adalah sedikit dari ribuan isu negatif lain yang dialamatkan ke sektor perkebunan kelapa sawit.Jika berbagai kampanye negatif dan hoax ini tidak diatasi, bukan tidak  mungkin industri penyumbang devisa ekspor terbesar nasional, yaitu USD  23 miliar ini, lambat laun akan mati suri.   Komunikasi Sawit   Dari sejumlah survei independen yang dilakukan beberapa media, persepsi  publik di Indonesia tentang kelapa sawit, dalam kurun 10 tahun  terakhir, sudah jauh lebih baik. Dari data Bidang Komunikasi GAPKI  (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) pada 2016, sekitar 55%  pemberitaan media nasional (media cetak dan online) positif, 25% netral,  dan 20% sisanya masih negatif.   Angka ini jauh lebih baik  dibandingkan dengan data tahun 2009 karena sekitar 81% berita media  nasional tentang sektor kelapa sawit adalah negatif. Jika ditelaah lebih  dalam hasil survei tahun 2016 tersebut, sebagian besar informasi  positif tentang sawit adalah terkait dengan aspek makro ekonomi  (sumbangan devisa, penyerapan tenaga kerja, dan pengembangan wilayah).   Berita tentang CSR perusahaan sawit belum signi fikan. Sedangkan berita  negatif terkait dengan isu-isu sosial dan keberlanjutan. Melihat data  ini, ke depan, strategi komunikasi industri sawit (termasuk oleh  masing-masing perusahaan perkebunan sawit), idealnya berfokus pada  isu-isu tanggung jawab sosial perusahaan dan keberlanjutan. Informasi  tentang kontribusi ekonomi sawit akan menggelinding dengan sendirinya.   Tantangan Era Digital   Lantas bagaimana persepsi netizen tentang sektor kelapa sawit? Dari  hasil survei yang sama pada 2016, warganet sepertinya belum tersentuh  dengan program komunikasi sawit, meskipun kita tidak bisa meraba secara  jelas siapakah real community warganet itu. Namun yang pasti 90%,  persepsi netizen tentang sawit masih sangat negatif. Tidak perlu riset  terlalu dalam.   Kalau kita pernah mengikuti akun Twitter  pesohor Leonardo de Caprio saat datang ke Aceh dan berciut tentang  perlunya menghentikan konsumsi minyak sawit untuk melindungi habitat  gajah, jutaan netizen mendukung cuitan itu. Sementara jika ada status  atau cuitan positif tentang sawit di media sosial, bisa dipastikan se  kitar 90% warganet yang merespons akan bernada negatif.   Itulah  fakta bahwa sektor perkebunan kelapa sawit yang menghidupi 25 juta  penduduk Indonesia ini juga sedang menghadapi era disruptif. Era  komunikasi digital yang sepenuhnya tidak bisa kita kendalikan. Benar  kata Dilan. Rindu kepada Milea itu berat. Tapi Dilan juga perlu tahu,  mengelola bidang komunikasi di sektor perkebunan kelapa sawit itu jauh  lebih berat. Kalian pasti tidak kuat, biar aku saja. Salam!   TOFAN MAHDI   Mantan Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos (2007), VP Communications PT  Astra Agro Lestari Tbk, dan Kepala Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa  Sawit Indonesia (Gapki)</description><content:encoded>DALAM setiap kesempatan bertemu dengan teman-teman media, baik cetak maupun elektronik, satu topik paling hangat dibahas adalah tantangan bisnis di era digital.
Bahasa kerennya, menghadapi era disruptif zaman now. Terutama media cetak, tidak saja penjualan koran yang terus turun, pendapatan iklan juga pelan tapi pasti tumbuh negatif. &amp;ldquo;Kalau masih ada penjualan koran, itu mungkin karena masih ada generasi old yang belum sepenuhnya tune in dengan transformasi komunikasi di gital saat ini,&amp;rdquo; ujar seorang teman wartawan.
Baca Juga: Italia Dukung Sawit Indonesia di Uni Eropa  Saya tidak sepenuhnya percaya dengan itu. Karena bagi saya pribadi, membaca sebuah informasi bukan sekadar tentang kecepatan, tetapi juga kedalaman, akurasi, dan kredibilitas, baik media maupun penulisnya. Jadi, saya yakin, media konvensional akan tetap bertahan karena dalam tiga aspek yang saya sebutkan tadi, jauh lebih baik dibandingkan dengan media berplatform digital apalagi dibandingkan dengan media sosial.   Namun, apakah generasi zaman now peduli dengan akurasi sebuah informasi? Bahkan generasi old yang hidup di zaman now pun seperti ikut menikmati inflasi informasi yang serba cepat dan instan. Soal benar atau salah, itu urusan belakang.   Komunikasi Industri Sawit   Berbeda dengan sektor lain yang lebih urban, sektor kelapa sawit yang agraris dan rural masih baru memulai membangun cetak biru komunikasi industri. Meskipun secara bisnis pasar produk minyak sawit besar dan captive, tetapi tantangan keberlanjutan menuntut industri sawit membuka diri. Bukan hal mudah, tentu saja karena puluhan tahun industri ini menjadi besar tanpa perlu membangun komunikasi dan beriklan.
Baca Juga: PTPN V Tolak Eksekusi Lahan Kelapa Sawit
Permintaan pasar yang tinggi sempat membuat pelaku usaha terlena untuk hanya berfokus pada urusan pasar dan operasional. Urusan lain seperti komunikasi adalah opsional. Tetapi itu adalah wajah sektor perkebunan kelapa sawit zaman old, itu masa sekitar lebih dari 10 tahun ke belakang.   Pada zaman now, pakar ekonomi menyebutnya sebagai era disruptif, tantangan industri sudah berubah. Para pesaing minyak sawit, yaitu negara produsen minyak nabati nonsawit, tidak tinggal diam melihat pertumbuhan minyak yang sangat pesat. Apalagi dalam pasar minyak nabati dunia, sawit memegang pangsa pasar terbesar, yaitu sekitar 31%.   Sejak menjadi nomor satu di dunia itulah berbagai kampanye negatif dan hoax terus bertebaran, yang muara akhirnya adalah ingin menyudahi kejayaan sawit dalam pasar minyak nabati dunia. Isu kesehatan, emisi gas rumah kaca, isu-isu keberlanjutan, ketenagakerjaan, isu lahan, konflik sosial, hingga isu hak asasi manusia adalah sedikit dari ribuan isu negatif lain yang dialamatkan ke sektor perkebunan kelapa sawit.Jika berbagai kampanye negatif dan hoax ini tidak diatasi, bukan tidak  mungkin industri penyumbang devisa ekspor terbesar nasional, yaitu USD  23 miliar ini, lambat laun akan mati suri.   Komunikasi Sawit   Dari sejumlah survei independen yang dilakukan beberapa media, persepsi  publik di Indonesia tentang kelapa sawit, dalam kurun 10 tahun  terakhir, sudah jauh lebih baik. Dari data Bidang Komunikasi GAPKI  (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) pada 2016, sekitar 55%  pemberitaan media nasional (media cetak dan online) positif, 25% netral,  dan 20% sisanya masih negatif.   Angka ini jauh lebih baik  dibandingkan dengan data tahun 2009 karena sekitar 81% berita media  nasional tentang sektor kelapa sawit adalah negatif. Jika ditelaah lebih  dalam hasil survei tahun 2016 tersebut, sebagian besar informasi  positif tentang sawit adalah terkait dengan aspek makro ekonomi  (sumbangan devisa, penyerapan tenaga kerja, dan pengembangan wilayah).   Berita tentang CSR perusahaan sawit belum signi fikan. Sedangkan berita  negatif terkait dengan isu-isu sosial dan keberlanjutan. Melihat data  ini, ke depan, strategi komunikasi industri sawit (termasuk oleh  masing-masing perusahaan perkebunan sawit), idealnya berfokus pada  isu-isu tanggung jawab sosial perusahaan dan keberlanjutan. Informasi  tentang kontribusi ekonomi sawit akan menggelinding dengan sendirinya.   Tantangan Era Digital   Lantas bagaimana persepsi netizen tentang sektor kelapa sawit? Dari  hasil survei yang sama pada 2016, warganet sepertinya belum tersentuh  dengan program komunikasi sawit, meskipun kita tidak bisa meraba secara  jelas siapakah real community warganet itu. Namun yang pasti 90%,  persepsi netizen tentang sawit masih sangat negatif. Tidak perlu riset  terlalu dalam.   Kalau kita pernah mengikuti akun Twitter  pesohor Leonardo de Caprio saat datang ke Aceh dan berciut tentang  perlunya menghentikan konsumsi minyak sawit untuk melindungi habitat  gajah, jutaan netizen mendukung cuitan itu. Sementara jika ada status  atau cuitan positif tentang sawit di media sosial, bisa dipastikan se  kitar 90% warganet yang merespons akan bernada negatif.   Itulah  fakta bahwa sektor perkebunan kelapa sawit yang menghidupi 25 juta  penduduk Indonesia ini juga sedang menghadapi era disruptif. Era  komunikasi digital yang sepenuhnya tidak bisa kita kendalikan. Benar  kata Dilan. Rindu kepada Milea itu berat. Tapi Dilan juga perlu tahu,  mengelola bidang komunikasi di sektor perkebunan kelapa sawit itu jauh  lebih berat. Kalian pasti tidak kuat, biar aku saja. Salam!   TOFAN MAHDI   Mantan Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos (2007), VP Communications PT  Astra Agro Lestari Tbk, dan Kepala Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa  Sawit Indonesia (Gapki)</content:encoded></item></channel></rss>
