<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jangan Samakan Perlakuan Konsumen Offline dan Online, Apa Bedanya?</title><description>Tidak dipungkiri, belanja online telah menjadi bagian kehidupan masyarakat dalam berbelanja.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/18/320/1861085/jangan-samakan-perlakuan-konsumen-offline-dan-online-apa-bedanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/02/18/320/1861085/jangan-samakan-perlakuan-konsumen-offline-dan-online-apa-bedanya"/><item><title>Jangan Samakan Perlakuan Konsumen Offline dan Online, Apa Bedanya?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/02/18/320/1861085/jangan-samakan-perlakuan-konsumen-offline-dan-online-apa-bedanya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/02/18/320/1861085/jangan-samakan-perlakuan-konsumen-offline-dan-online-apa-bedanya</guid><pubDate>Minggu 18 Februari 2018 14:56 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/18/320/1861085/jangan-samakan-perlakuan-konsumen-offline-dan-online-apa-bedanya-svLFNuoqp1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/18/320/1861085/jangan-samakan-perlakuan-konsumen-offline-dan-online-apa-bedanya-svLFNuoqp1.jpg</image><title>Ilustrasi: Shutterstock</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pola konsumsi masyarakat memang berubah seiring perkembangan teknologi informasi. Tidak dipungkiri, belanja online telah menjadi bagian kehidupan masyarakat dalam berbelanja.

Namun, masih ada masyarakat yang menginginkan belanja offline. Masyarakat yang menggunakan emosi dan mementingkan brand akan memilih belanja offline. Sedangkan masyarakat yang rasional memang lebih memilih belanja online. Ketua Indonesia Marketing Association (IMA) De Yong Adrian mengungkapkan, konsumen offline cenderung masih mementingkan brand karena mereka melakukan tatap langsung dengan barang yang diinginkan dan ada prestise di dalamnya.

Konsumen yang tergiur diskon di mal cenderung lebih memiliki uang tunai yang memudahkan pembayaran. Sementara pembeli online lebih rasional dan lebih memiliki kesadaran akan ke butuhan yang benar-benar dibutuhkannya. Dalam dunia marketing komunikasi untuk memikat para kelompok pembeli online dibutuhkan pengalaman dari pengguna produk tersebut.

&amp;ldquo;Kelompok rasional membutuhkan bukti nyata, maka jika dalam perdagangan online, tidak cukup hanya brand ambassador. Sedangkan di online menginginkan benchmark, apa ada orang yang sudah menggunakan sudah dalam tahap puas atau tidak,&amp;rdquo; jelasnya.

Adrian mengungkapkan, masyarakat yang berbelanja offline untuk mengisi waktu bahkan untuk menyenangkan hati sehingga masyarakat kelompok offline sering melihat diskon di pusat perbelanjaan dan berujung membeli hal yang sebetul nya tidak dibutuhkan. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengungkapkan, mal saat ini harus bisa menyenangkan pengunjungnya.

Pusat perbelanjaan jangan ada lagi yang melarang pengunjungnya untuk berfoto-foto. Justru seharusnya mal bisa mempercantik diri agar menjadi background yang bagus untuk pengunjung berfoto. Menurutnya, fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang ini ialah mereka ingin menunjukkan dirinya apakah sudah naik kelas atau belum, melalui tempat-tempat yang dikunjunginya.

Yang di tunjukkan bukan hanya tempat wisata, namun pusat perbelanjaan pun dapat menunjukkan diri mereka melalui pengalaman yang dilaluinya.

&amp;ldquo;Ke mal juga kita melihat sekarang ini kalau membeli makanan atau minuman sebelum dimakan pasti difoto dulu, mengantre sesuatu juga foto untuk diceritakan di media sosialnya. Nah, kita bisa melihat dari situ, pengunjung secara tidak langsung juga mempromosikan mal tersebut. Karena itu, mal harus memberikan pengalaman dan kesan yang berbeda kepada pengunjungnya,&amp;rdquo; jelasnya.

Menyoal kegemaran masyarakat yang berbelanja online, Stefanus  menganggap lumrah dan masih banyak juga yang berbelanja mementingkan  brand ternama.

&amp;ldquo;Jangan lupa berfoto di outlet sebuah brand terkenal juga membawa kebanggaan,&amp;rdquo; tambahnya.

Hal lain yang patut dicermati tentang pola konsumsi masyarakat adalah  tren konsumsi produk lokal. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri  Tjahya Widayanti mengatakan, pemerintah saat ini terus mengampanyekan  produk-produk lokal. Produk lokal bukan sekadar difokuskan untuk  perdagangan offline, melainkan juga yang dipasarkan secara online.

&amp;ldquo;Kemendag akan mengatur penyelenggara perdagangan elek tronik menjual  80% produk lokal pada marketplace. Hal ini dilakukan untuk mencegah  tersainginya produk impor pada e-commerce yang beroperasi di Indonesia,&amp;rdquo;  tandasnya.

Menyoroti segala tren konsumsi masyarakat saat ini, Tjahya menyebut  produk yang masih memiliki permintaan tinggi di pasaran selain barang  kon sumen yang bergerak cepat adalah kebutuhan beragam barang  elektronik.

Sesuai kemajuan teknologi tentu generasi masa kini pun berlomba untuk  terus mengikuti tren. Dengan demikian, jangan heran setiap bulan selalu  ada ponsel keluaran terbaru dan tak sedikit masyarakat yang ingin terus  mengikuti perubahan gaya hidup. Menyambut baik aturan yang akan dibuat  Kemendag terkait produk lokal, pakar komunikasi dan periklanan Indira  Abidun menyebut memang brand lokal tengah menarik perhatian masyarakat.

Menurutnya, produsen Indonesia makin pintar memanjakan konsumen dengan gaya yangtidakbisaditandingi brand luar.

&amp;ldquo;Brand lokal bisa tahu duluan apa yang orang lokal inginkan. Jadi  brand lokal lebih kena atau menjual dan akhirnya jadi lebih disukai  orang Indonesia,&amp;rdquo; jelasnya.

Menurut Indira, bukan hanya produk lokal yang saat ini semakin  berinovasi, melainkan tempat wisata pun memiliki perkembangan yang  sangat signifikan. Dia mencontohkan Kota Malang yang kini memiliki kebun  binatang berkelas dunia serta beragam pusat hiburan seperti Museum  Angkut dan Jatim Park 1-3 yang berkelas.

&amp;ldquo;Semua pesan yang di sampaikan dalam dunia hiburan di Malang  menggunakan bahasa lokal yang orang Indonesia paham dan akhirnya menjadi  sangat menarik. Oleh-olehnya pun sudah mirip dengan pineapple cake ala  Taiwan, Jepang, dan soal rasa tidak kalah lezatnya ter ma suk kemasannya  yang isti mewa,&amp;rdquo; ungkapnya.

Secara keseluruhan, menurut Indira, semua tren konsumsi masyarakat  men dorong perekonomian Indonesia sehingga tahan banting terhadap  krisis. Tetapi, hal itu tetap harus selaras dengan peningkatan  produktivitas agar margin terbesar tetap masuk ke Indonesia dan bukan  kenegara lain.

Indira mengungkapkan, membangun brand merupa kan hal yang sangat  penting agar produsen Indonesia juga semakin sejahtera, termasuk dalam  meningkatkan investasi. Dengan pembangunan brand yang baik, konsumen  tentu mau bayar mahal dan mencegah persaingan potong leher melalui  harga.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pola konsumsi masyarakat memang berubah seiring perkembangan teknologi informasi. Tidak dipungkiri, belanja online telah menjadi bagian kehidupan masyarakat dalam berbelanja.

Namun, masih ada masyarakat yang menginginkan belanja offline. Masyarakat yang menggunakan emosi dan mementingkan brand akan memilih belanja offline. Sedangkan masyarakat yang rasional memang lebih memilih belanja online. Ketua Indonesia Marketing Association (IMA) De Yong Adrian mengungkapkan, konsumen offline cenderung masih mementingkan brand karena mereka melakukan tatap langsung dengan barang yang diinginkan dan ada prestise di dalamnya.

Konsumen yang tergiur diskon di mal cenderung lebih memiliki uang tunai yang memudahkan pembayaran. Sementara pembeli online lebih rasional dan lebih memiliki kesadaran akan ke butuhan yang benar-benar dibutuhkannya. Dalam dunia marketing komunikasi untuk memikat para kelompok pembeli online dibutuhkan pengalaman dari pengguna produk tersebut.

&amp;ldquo;Kelompok rasional membutuhkan bukti nyata, maka jika dalam perdagangan online, tidak cukup hanya brand ambassador. Sedangkan di online menginginkan benchmark, apa ada orang yang sudah menggunakan sudah dalam tahap puas atau tidak,&amp;rdquo; jelasnya.

Adrian mengungkapkan, masyarakat yang berbelanja offline untuk mengisi waktu bahkan untuk menyenangkan hati sehingga masyarakat kelompok offline sering melihat diskon di pusat perbelanjaan dan berujung membeli hal yang sebetul nya tidak dibutuhkan. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengungkapkan, mal saat ini harus bisa menyenangkan pengunjungnya.

Pusat perbelanjaan jangan ada lagi yang melarang pengunjungnya untuk berfoto-foto. Justru seharusnya mal bisa mempercantik diri agar menjadi background yang bagus untuk pengunjung berfoto. Menurutnya, fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang ini ialah mereka ingin menunjukkan dirinya apakah sudah naik kelas atau belum, melalui tempat-tempat yang dikunjunginya.

Yang di tunjukkan bukan hanya tempat wisata, namun pusat perbelanjaan pun dapat menunjukkan diri mereka melalui pengalaman yang dilaluinya.

&amp;ldquo;Ke mal juga kita melihat sekarang ini kalau membeli makanan atau minuman sebelum dimakan pasti difoto dulu, mengantre sesuatu juga foto untuk diceritakan di media sosialnya. Nah, kita bisa melihat dari situ, pengunjung secara tidak langsung juga mempromosikan mal tersebut. Karena itu, mal harus memberikan pengalaman dan kesan yang berbeda kepada pengunjungnya,&amp;rdquo; jelasnya.

Menyoal kegemaran masyarakat yang berbelanja online, Stefanus  menganggap lumrah dan masih banyak juga yang berbelanja mementingkan  brand ternama.

&amp;ldquo;Jangan lupa berfoto di outlet sebuah brand terkenal juga membawa kebanggaan,&amp;rdquo; tambahnya.

Hal lain yang patut dicermati tentang pola konsumsi masyarakat adalah  tren konsumsi produk lokal. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri  Tjahya Widayanti mengatakan, pemerintah saat ini terus mengampanyekan  produk-produk lokal. Produk lokal bukan sekadar difokuskan untuk  perdagangan offline, melainkan juga yang dipasarkan secara online.

&amp;ldquo;Kemendag akan mengatur penyelenggara perdagangan elek tronik menjual  80% produk lokal pada marketplace. Hal ini dilakukan untuk mencegah  tersainginya produk impor pada e-commerce yang beroperasi di Indonesia,&amp;rdquo;  tandasnya.

Menyoroti segala tren konsumsi masyarakat saat ini, Tjahya menyebut  produk yang masih memiliki permintaan tinggi di pasaran selain barang  kon sumen yang bergerak cepat adalah kebutuhan beragam barang  elektronik.

Sesuai kemajuan teknologi tentu generasi masa kini pun berlomba untuk  terus mengikuti tren. Dengan demikian, jangan heran setiap bulan selalu  ada ponsel keluaran terbaru dan tak sedikit masyarakat yang ingin terus  mengikuti perubahan gaya hidup. Menyambut baik aturan yang akan dibuat  Kemendag terkait produk lokal, pakar komunikasi dan periklanan Indira  Abidun menyebut memang brand lokal tengah menarik perhatian masyarakat.

Menurutnya, produsen Indonesia makin pintar memanjakan konsumen dengan gaya yangtidakbisaditandingi brand luar.

&amp;ldquo;Brand lokal bisa tahu duluan apa yang orang lokal inginkan. Jadi  brand lokal lebih kena atau menjual dan akhirnya jadi lebih disukai  orang Indonesia,&amp;rdquo; jelasnya.

Menurut Indira, bukan hanya produk lokal yang saat ini semakin  berinovasi, melainkan tempat wisata pun memiliki perkembangan yang  sangat signifikan. Dia mencontohkan Kota Malang yang kini memiliki kebun  binatang berkelas dunia serta beragam pusat hiburan seperti Museum  Angkut dan Jatim Park 1-3 yang berkelas.

&amp;ldquo;Semua pesan yang di sampaikan dalam dunia hiburan di Malang  menggunakan bahasa lokal yang orang Indonesia paham dan akhirnya menjadi  sangat menarik. Oleh-olehnya pun sudah mirip dengan pineapple cake ala  Taiwan, Jepang, dan soal rasa tidak kalah lezatnya ter ma suk kemasannya  yang isti mewa,&amp;rdquo; ungkapnya.

Secara keseluruhan, menurut Indira, semua tren konsumsi masyarakat  men dorong perekonomian Indonesia sehingga tahan banting terhadap  krisis. Tetapi, hal itu tetap harus selaras dengan peningkatan  produktivitas agar margin terbesar tetap masuk ke Indonesia dan bukan  kenegara lain.

Indira mengungkapkan, membangun brand merupa kan hal yang sangat  penting agar produsen Indonesia juga semakin sejahtera, termasuk dalam  meningkatkan investasi. Dengan pembangunan brand yang baik, konsumen  tentu mau bayar mahal dan mencegah persaingan potong leher melalui  harga.</content:encoded></item></channel></rss>
