<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Disindir Wapres JK Soal Produktivitas Pertanian, Ini Jawaban Mentan Amran</title><description>Hal ini berkaitan dengan kebijakan Mentan dalam proyek pencetakan sawah Kementerian Pertanian</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/08/320/1869680/disindir-wapres-jk-soal-produktivitas-pertanian-ini-jawaban-mentan-amran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/03/08/320/1869680/disindir-wapres-jk-soal-produktivitas-pertanian-ini-jawaban-mentan-amran"/><item><title>Disindir Wapres JK Soal Produktivitas Pertanian, Ini Jawaban Mentan Amran</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/08/320/1869680/disindir-wapres-jk-soal-produktivitas-pertanian-ini-jawaban-mentan-amran</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/03/08/320/1869680/disindir-wapres-jk-soal-produktivitas-pertanian-ini-jawaban-mentan-amran</guid><pubDate>Kamis 08 Maret 2018 14:30 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/03/08/320/1869680/disindir-wapres-jk-soal-produktivitas-pertanian-ini-jawaban-mentan-amran-ghNXqjpzTS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Foto: Okezone </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/03/08/320/1869680/disindir-wapres-jk-soal-produktivitas-pertanian-ini-jawaban-mentan-amran-ghNXqjpzTS.jpg</image><title>Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Foto: Okezone </title></images><description>JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat menyindir Menteri Pertanian Amran Sulaiman soal peningkatan produktivitas pertanian.&amp;nbsp;

Hal ini berkaitan dengan kebijakan Mentan dalam proyek pencetakan sawah Kementerian Pertanian yang melibatkan TNI Angkatan Darat (AD). Menurutnya, ketahanan pangan tidak selamanya bisa bertahan dengan program ini.&amp;nbsp;

&quot;Meski Mentan kerahkan TNI AD enggak mempan. Jangan terus-terusan itu Pak Menteri andalkan proyek ini, karena yang jadi permasalahan juga pendapatan petani berkurang,&quot; ujarnya dalam sambutan di acara Jakarta Food Security Summit ke-4 di JCC Senayan, Kamis (8/3/2018).

Baca Juga: Wapres JK: Tugas Menteri Pertanian Jauh Lebih Keras dari Sekarang

Amran pun menanggapi seruan dari Jusuf Kalla, dengan menegaskan&amp;nbsp; program cetak sawah dengan TNI AD merupakan bagian kecil dari rencananya untuk meningkatkan produktivitas. Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah peningkatan dari program tersebut, terlebih kata dia cetak sawah bukanlah hal yang mudah.

&quot;Itu bagian kecil, jangan lihat tentaranya. Kita lihat peningkatannya, cetak sawah itu tidak mudah. Itu hanya sawah, yang lainnya kita juga kerjasama dengan Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia), jadi kita lihat hasilnya,&quot; ujarnya.

Baca Juga: Wapres JK: Kita Boleh Kekurangan Baju, tapi Jangan Pangan

Dia pun menyatakan keberhasilan dari programnya ini. Menurutnya lewat program ini jumlah lahan pertanian di Indonesia meningkat hingga 500%.

&quot;Jadi kita lihat hasilnya, cetak sawah itu naik 500% jangan persoalkan 2 hektare yang dibawa-bawa disampaikan ke publik. Padahal naiknya 500%. Dulu itu tiap tahun 24 ribu hektare. Setelah kerjasama dengan semua pihak itu naik 138 ribu hektare per tahun dan itu naik 500%,&quot; tegasnya.

Dia pun menyatakan, keberhasilan produktivitas pertanian sudah terlihat dari beberapa komoditas yang tidak eskpor. Diantaranya seperti bawang yang dulu impor sebanyak 72 ribu ton, kini sudah ekspor ke 6 negara. Selain itu jagung yang dulu impor 3,6 juta ton sekarang pun sudah eskpor.

&quot;Jangan lupa pertambahan penduduk mulai 2014 sampai hari ini, tahun keempat sudah 10 juta dan itu butuh 1,5 juta ton beras. Andaikan ini tidak ada pertumbuhan produksi, itu bisa jadi impor kita besar-besaran. Tapi ada sekarang peningkatan produksi yang signifikan,&quot; pungkasnya.
(ulf)</description><content:encoded>JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat menyindir Menteri Pertanian Amran Sulaiman soal peningkatan produktivitas pertanian.&amp;nbsp;

Hal ini berkaitan dengan kebijakan Mentan dalam proyek pencetakan sawah Kementerian Pertanian yang melibatkan TNI Angkatan Darat (AD). Menurutnya, ketahanan pangan tidak selamanya bisa bertahan dengan program ini.&amp;nbsp;

&quot;Meski Mentan kerahkan TNI AD enggak mempan. Jangan terus-terusan itu Pak Menteri andalkan proyek ini, karena yang jadi permasalahan juga pendapatan petani berkurang,&quot; ujarnya dalam sambutan di acara Jakarta Food Security Summit ke-4 di JCC Senayan, Kamis (8/3/2018).

Baca Juga: Wapres JK: Tugas Menteri Pertanian Jauh Lebih Keras dari Sekarang

Amran pun menanggapi seruan dari Jusuf Kalla, dengan menegaskan&amp;nbsp; program cetak sawah dengan TNI AD merupakan bagian kecil dari rencananya untuk meningkatkan produktivitas. Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah peningkatan dari program tersebut, terlebih kata dia cetak sawah bukanlah hal yang mudah.

&quot;Itu bagian kecil, jangan lihat tentaranya. Kita lihat peningkatannya, cetak sawah itu tidak mudah. Itu hanya sawah, yang lainnya kita juga kerjasama dengan Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia), jadi kita lihat hasilnya,&quot; ujarnya.

Baca Juga: Wapres JK: Kita Boleh Kekurangan Baju, tapi Jangan Pangan

Dia pun menyatakan keberhasilan dari programnya ini. Menurutnya lewat program ini jumlah lahan pertanian di Indonesia meningkat hingga 500%.

&quot;Jadi kita lihat hasilnya, cetak sawah itu naik 500% jangan persoalkan 2 hektare yang dibawa-bawa disampaikan ke publik. Padahal naiknya 500%. Dulu itu tiap tahun 24 ribu hektare. Setelah kerjasama dengan semua pihak itu naik 138 ribu hektare per tahun dan itu naik 500%,&quot; tegasnya.

Dia pun menyatakan, keberhasilan produktivitas pertanian sudah terlihat dari beberapa komoditas yang tidak eskpor. Diantaranya seperti bawang yang dulu impor sebanyak 72 ribu ton, kini sudah ekspor ke 6 negara. Selain itu jagung yang dulu impor 3,6 juta ton sekarang pun sudah eskpor.

&quot;Jangan lupa pertambahan penduduk mulai 2014 sampai hari ini, tahun keempat sudah 10 juta dan itu butuh 1,5 juta ton beras. Andaikan ini tidak ada pertumbuhan produksi, itu bisa jadi impor kita besar-besaran. Tapi ada sekarang peningkatan produksi yang signifikan,&quot; pungkasnya.
(ulf)</content:encoded></item></channel></rss>
