<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Marak Uang Palsu, BI: Masyarakat Tidak Tahu Keaslian Rupiah</title><description>Bank Indonesia menemukan sebanyak 866 lembar uang palsu berbagai pecahan yang berasal dari masyarakat di Sumatra Utara.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/13/278/1872307/marak-uang-palsu-bi-masyarakat-tidak-tahu-keaslian-rupiah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/03/13/278/1872307/marak-uang-palsu-bi-masyarakat-tidak-tahu-keaslian-rupiah"/><item><title>Marak Uang Palsu, BI: Masyarakat Tidak Tahu Keaslian Rupiah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/13/278/1872307/marak-uang-palsu-bi-masyarakat-tidak-tahu-keaslian-rupiah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/03/13/278/1872307/marak-uang-palsu-bi-masyarakat-tidak-tahu-keaslian-rupiah</guid><pubDate>Selasa 13 Maret 2018 21:28 WIB</pubDate><dc:creator>Wahyudi Aulia Siregar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/03/13/278/1872307/marak-uang-palsu-bi-masyarakat-tidak-tahu-keaslian-rupiah-PrLulzbnoy.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/03/13/278/1872307/marak-uang-palsu-bi-masyarakat-tidak-tahu-keaslian-rupiah-PrLulzbnoy.jpg</image><title>Foto: Okezone</title></images><description>MEDAN &amp;ndash; Bank Indonesia menemukan sebanyak 866 lembar uang palsu berbagai pecahan yang berasal dari masyarakat di Sumatra Utara. Uang palsu itu berhasil dijaring melalui sistem yang ada di perbankan selama Januari-Februari 2018.

Hal itu dikatakan Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumut, Arief Budi Santoso, Selasa (13/3/2018).

&quot;Totalnya ada 866 lembar. Terdiri dari pecahan Rp100 ribu sebanyak 424 lembar dan pecahan Rp50 ribu sebanyak 431 lembar,&amp;rdquo; ujar Arief.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jelang Natal, BI: Waspadai Uang Palsu
Arief menegaskan, meski saat ini sangat dekat dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada), namun belum ada indikasi bahwa peredaran uang palsu ini dilakukan untuk kepentingan Pilkada.

&amp;ldquo;Saya tidak setuju jika banyaknya peredaran uang palsu itu dikaitkan dengan Pilkada. Tidak ada hubungannya,&quot;tegas Arief.

Arief menyebutkan, faktor utama maraknya peredaran uang palsu, adalah karena ketidaktahuan masyarakat tentang keaslian uang Rupiah.

&quot;Peredaran upal (uang palsu) di masyarakat itu selalu ada kapanpun juga. Memang upal ini memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang keaslian Rupiah,&quot; ucap Arief.
&amp;nbsp;Baca Juga: Tangani Uang Palsu, BI dan Polri Jalin Pertukaran Informasi 
Selain itu, kata Arief adanya kebiasaan dan pola pikir masyarakat yang gampang diiming-imingi sesuatu, ikut membuat maraknya peredaran uang palsu. Sebagai contoh, masyarakat harus waspada jika ada yang menawar satu barang yang harganya murah, dengan harga lebih mahal.

&amp;ldquo;Itu harus diwaspadai. Kita sudah mengedukasi masyarakat untuk mengenali tanda-tanda keaslian Rupiah. Biasanya kita memanfaatkan kas keliling yang ada di pajak ataupun tempat lain untuk penukaran uang,&quot; tandasnya.

</description><content:encoded>MEDAN &amp;ndash; Bank Indonesia menemukan sebanyak 866 lembar uang palsu berbagai pecahan yang berasal dari masyarakat di Sumatra Utara. Uang palsu itu berhasil dijaring melalui sistem yang ada di perbankan selama Januari-Februari 2018.

Hal itu dikatakan Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumut, Arief Budi Santoso, Selasa (13/3/2018).

&quot;Totalnya ada 866 lembar. Terdiri dari pecahan Rp100 ribu sebanyak 424 lembar dan pecahan Rp50 ribu sebanyak 431 lembar,&amp;rdquo; ujar Arief.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jelang Natal, BI: Waspadai Uang Palsu
Arief menegaskan, meski saat ini sangat dekat dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada), namun belum ada indikasi bahwa peredaran uang palsu ini dilakukan untuk kepentingan Pilkada.

&amp;ldquo;Saya tidak setuju jika banyaknya peredaran uang palsu itu dikaitkan dengan Pilkada. Tidak ada hubungannya,&quot;tegas Arief.

Arief menyebutkan, faktor utama maraknya peredaran uang palsu, adalah karena ketidaktahuan masyarakat tentang keaslian uang Rupiah.

&quot;Peredaran upal (uang palsu) di masyarakat itu selalu ada kapanpun juga. Memang upal ini memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang keaslian Rupiah,&quot; ucap Arief.
&amp;nbsp;Baca Juga: Tangani Uang Palsu, BI dan Polri Jalin Pertukaran Informasi 
Selain itu, kata Arief adanya kebiasaan dan pola pikir masyarakat yang gampang diiming-imingi sesuatu, ikut membuat maraknya peredaran uang palsu. Sebagai contoh, masyarakat harus waspada jika ada yang menawar satu barang yang harganya murah, dengan harga lebih mahal.

&amp;ldquo;Itu harus diwaspadai. Kita sudah mengedukasi masyarakat untuk mengenali tanda-tanda keaslian Rupiah. Biasanya kita memanfaatkan kas keliling yang ada di pajak ataupun tempat lain untuk penukaran uang,&quot; tandasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
