<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Rhenald Kasali Diperiksa Pajak: Kena Denda Sangat Besar, Itu Pahit</title><description>Pajak merupakan kewajiban yang harus dipenuhi setiap orang yang memiliki penghasilan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/15/20/1873235/cerita-rhenald-kasali-diperiksa-pajak-kena-denda-sangat-besar-itu-pahit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/03/15/20/1873235/cerita-rhenald-kasali-diperiksa-pajak-kena-denda-sangat-besar-itu-pahit"/><item><title>Cerita Rhenald Kasali Diperiksa Pajak: Kena Denda Sangat Besar, Itu Pahit</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/15/20/1873235/cerita-rhenald-kasali-diperiksa-pajak-kena-denda-sangat-besar-itu-pahit</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/03/15/20/1873235/cerita-rhenald-kasali-diperiksa-pajak-kena-denda-sangat-besar-itu-pahit</guid><pubDate>Kamis 15 Maret 2018 16:04 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/03/15/20/1873235/cerita-rhenald-kasali-diperiksa-pajak-kena-denda-sangat-besar-itu-pahit-m8VMFsjTbD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Rhenald Kasali (Yohana/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/03/15/20/1873235/cerita-rhenald-kasali-diperiksa-pajak-kena-denda-sangat-besar-itu-pahit-m8VMFsjTbD.jpg</image><title>Foto: Rhenald Kasali (Yohana/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pajak merupakan kewajiban yang harus dipenuhi setiap orang yang memiliki penghasilan. Setiap orang tentu memiliki cerita yang berbeda-beda soal pembayaran pajak.

Seperti yang dikisahkan Pengamat Ekonomi yang juga Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia Rhenald Kasali, serta komedian ternama Roni Immanuel atau yang dikenal dengan nama panggung Mongol, tentang kepatuhan membayar pajak mereka.

Rhenald menceritakan, dirinya pernah menjadi wajib pajak yang tidak taat memenuhi kewajibannya. Ini pun berimbas buruk pada dirinya karena harus membayar denda yang sangat besar. Kata dia, ini merupakan pengalaman pahit.

&amp;ldquo;Saya punya pengalaman sama pajak karena saya pernah diperiksa pajak dua kali. Nah saya akhirnya didenda sangat besar. Denda itu pahit, saya kapok,&amp;rdquo; kata Rhenald dalam acara Tax Gathering KPP Senen di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (15/3/2018).
&amp;nbsp;Baca Juga:&amp;nbsp;Kepatuhan Pajak RI Masih Rendah, Pembangunan Harap Maklum
Dia mengatakan, pengalaman tersebut menjadikan dia wajib pajak yang taat. Bahkan, sekarang dirinya mengaku lebih merasa tenang. Ini pun yang mendorong Rhenald untuk mengajak setiap orang taat membayar pajak.

&amp;ldquo;Jadi saya sangat mendukung membayar pajak. Pengalaman pahit lalu saya malu. Pajak bukan lembaga bukan menakutkan kecuali kita yang bermasalah, kita yang sembunyikan pajak,&quot; ucapnya.

Begitu juga yang dialami Mongol, komedian yang terkenal akibat Stand Up Comedy, dia mengatakan, mulai menjadi taat pajak sejak tahun 2013. Bahkan dalam setiap aksi panggungnya, Mongol selalu menyampaikan untuk setiap oranh taat membayar pajak.

&quot;Saya dimanapun manggung, saya ingatkan warga Indonesia untuk  kewajibannya (pajak). Dulu saya berpikir hanya manajemen yang ngurus pajak, ternyata masih ada pajak penghasilan juga yang harus dibayar,&quot; kisah dia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Reformasi Perpajakan Bakal Ada Warna Hijau hingga Merah, Apa Itu?
Dia juga mengajak untuk setiap seniman  membayar pajak, hal ini juga mendorong tercapainya target pajak. Sebab, kata dia, banyak seniman yang menyatakan sebagai karyawan saat membayar pajak.

&quot;Seniman bayar pajaknya bagaimana karena artis suka pakai karyawan bukan seniman,  kalau karyawan kan cukup bayar Rp4 juta,&quot; katanya.

Dia mengatakan, pemotongan pajak pada penghasilannya pun langsung dilakukan ketika mendapatkan bayaran. Itu menjadi bentuk ketaatannya sebagai wajib pajak, sehingga tak pernah terlewatkan memenuhi kewajibannya.

&amp;ldquo;Jadi gue setiap habis terima penghasilan langsung dipotong saja,&amp;rdquo; ucapnya.

Dia pun menyampaikan, untuk bisa menjadi taat membayar pajak, yakni memiliki kejujuran, maka itu akan mendorong wajib pajak taat memenuhi kewajibannya.

</description><content:encoded>JAKARTA - Pajak merupakan kewajiban yang harus dipenuhi setiap orang yang memiliki penghasilan. Setiap orang tentu memiliki cerita yang berbeda-beda soal pembayaran pajak.

Seperti yang dikisahkan Pengamat Ekonomi yang juga Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia Rhenald Kasali, serta komedian ternama Roni Immanuel atau yang dikenal dengan nama panggung Mongol, tentang kepatuhan membayar pajak mereka.

Rhenald menceritakan, dirinya pernah menjadi wajib pajak yang tidak taat memenuhi kewajibannya. Ini pun berimbas buruk pada dirinya karena harus membayar denda yang sangat besar. Kata dia, ini merupakan pengalaman pahit.

&amp;ldquo;Saya punya pengalaman sama pajak karena saya pernah diperiksa pajak dua kali. Nah saya akhirnya didenda sangat besar. Denda itu pahit, saya kapok,&amp;rdquo; kata Rhenald dalam acara Tax Gathering KPP Senen di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (15/3/2018).
&amp;nbsp;Baca Juga:&amp;nbsp;Kepatuhan Pajak RI Masih Rendah, Pembangunan Harap Maklum
Dia mengatakan, pengalaman tersebut menjadikan dia wajib pajak yang taat. Bahkan, sekarang dirinya mengaku lebih merasa tenang. Ini pun yang mendorong Rhenald untuk mengajak setiap orang taat membayar pajak.

&amp;ldquo;Jadi saya sangat mendukung membayar pajak. Pengalaman pahit lalu saya malu. Pajak bukan lembaga bukan menakutkan kecuali kita yang bermasalah, kita yang sembunyikan pajak,&quot; ucapnya.

Begitu juga yang dialami Mongol, komedian yang terkenal akibat Stand Up Comedy, dia mengatakan, mulai menjadi taat pajak sejak tahun 2013. Bahkan dalam setiap aksi panggungnya, Mongol selalu menyampaikan untuk setiap oranh taat membayar pajak.

&quot;Saya dimanapun manggung, saya ingatkan warga Indonesia untuk  kewajibannya (pajak). Dulu saya berpikir hanya manajemen yang ngurus pajak, ternyata masih ada pajak penghasilan juga yang harus dibayar,&quot; kisah dia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Reformasi Perpajakan Bakal Ada Warna Hijau hingga Merah, Apa Itu?
Dia juga mengajak untuk setiap seniman  membayar pajak, hal ini juga mendorong tercapainya target pajak. Sebab, kata dia, banyak seniman yang menyatakan sebagai karyawan saat membayar pajak.

&quot;Seniman bayar pajaknya bagaimana karena artis suka pakai karyawan bukan seniman,  kalau karyawan kan cukup bayar Rp4 juta,&quot; katanya.

Dia mengatakan, pemotongan pajak pada penghasilannya pun langsung dilakukan ketika mendapatkan bayaran. Itu menjadi bentuk ketaatannya sebagai wajib pajak, sehingga tak pernah terlewatkan memenuhi kewajibannya.

&amp;ldquo;Jadi gue setiap habis terima penghasilan langsung dipotong saja,&amp;rdquo; ucapnya.

Dia pun menyampaikan, untuk bisa menjadi taat membayar pajak, yakni memiliki kejujuran, maka itu akan mendorong wajib pajak taat memenuhi kewajibannya.

</content:encoded></item></channel></rss>
