<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BUMDes Bakal Gandeng Bank Wakaf Mikro</title><description>Kementerian Desa berencana melakukan sinergi antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan Bank Wakaf.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/15/320/1873250/bumdes-bakal-gandeng-bank-wakaf-mikro</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/03/15/320/1873250/bumdes-bakal-gandeng-bank-wakaf-mikro"/><item><title>BUMDes Bakal Gandeng Bank Wakaf Mikro</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/15/320/1873250/bumdes-bakal-gandeng-bank-wakaf-mikro</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/03/15/320/1873250/bumdes-bakal-gandeng-bank-wakaf-mikro</guid><pubDate>Kamis 15 Maret 2018 16:14 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/03/15/320/1873250/bumdes-bakal-gandeng-bank-wakaf-mikro-LPTW3fFUwg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Menteri Desa Eko (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/03/15/320/1873250/bumdes-bakal-gandeng-bank-wakaf-mikro-LPTW3fFUwg.jpg</image><title>Foto: Menteri Desa Eko (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi berencana melakukan sinergi antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan Bank Wakaf Mikro (BWM). Sebab, BUMDes sudah tersebar di seluruh pelosok desa di Indonesia.

Langkah yang tengah dalam kajian ini dilakukan karena memiliki kemiripan dan sama-sama menyasar masyarakat desa. &amp;ldquo;Seperti kita ketahui pembiayaan BUMDes menggunakan Dana Desa untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi warga desa. Sedangkan mayoritas pesantren yang menjadi tempat Bank Wakaf Mikro juga berada di pedesaan,&amp;rdquo; ujar Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (15/3/2018).
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi: Bank Wakaf Mikro Tak Ada Bunga Hanya Biaya Administrasi 3%
Menteri Eko sendiri turut hadir saat Presiden Jokowi meluncurkan BWM di Pondok Pesantren An Nawawi Tanara, Serang, Banten, kemarin. Eko menjelaskan, Bank Wakaf Mikro atau biasa disebut Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) lebih mirip dengan Grameen Bank yang dipelopori oleh peraih Nobel Muhammad Yunus dari Bangladesh. Grameen Bank adalah organisasi kredit mikro yang memberikan pinjaman kecil kepada orang yang kurang mampu tanpa membutuhkan kolateral. Sistem ini berdasarkan ide bahwa orang miskin memiliki kemampuan yang kurang digunakan.

&quot;Bank Wakaf ini memberikan pinjaman kecil kepada orang tidak mampu tanpa ada agunan. Jadi untuk membantu usaha-usaha yang sangat mikro dan ini kita akan coba terapkan di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes),&quot; kata Eko.

Meski rencana ini masih dalam tahap kajian oleh tim Kemendes, namun Eko yakin sinergi antara BUMDes dengan BWM sangat mungkin diwujudkan. Apalagi saat ini BUMDes sudah banyak menjalin kerjasama dengan pesantren yang tersebar di berbagai desa.

&amp;ldquo;Kita sudah membentuk banyak kluster ekonomi dengan sejumlah pesantren, seperti program Produk Unggulan Kawasan Pedesaan (Prukades). Dalam model seperti ini dunia usaha dapat kesempatan karena ada nilai ekonominya. Masyarakatnya pun juga diuntungkan karena ada jaminan pascapanennya dan bank juga akan lebih berani memberikan kredit karena risikonya lebih kecil dalam ekosistem yang terintegrasi di model prukades ini,&quot; katanya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Soal Bank Wakaf, OJK Tunggu Kajian ICMI
Terkait dengan Prukades, pekan lalu, tepatnya 8 Maret 2018, Kemendes melakukan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan 102 kabupaten, dan 68 perusahaan. Kegiatan ini bahkan berhasil memecahkan dua rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).

Kerjasama ini akan menghasilkan investasi di daerah pedesaan sekitar Rp 47 triliun. Selain itu, program ini juga diperkirakan bakal menyerap tenaga kerja hingga10 juta jiwa.

Menteri Eko melanjutkan, dalam mewujudkan sinergi dengan BWM tersebut dirinya sudah bertemu dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dari hasil pembicaraan dengan OJK, kata Eko, memang ada sedikit ganjalan yang perlu dicarikan solusi, yakni persyaratan modal yang cukup besar bagi ukuran BUMDes.

&quot;Persyaratan modal sekitar Rp5 miliar mungkin kecil bagi sebuah bank, tetapi hal ini sangat berat bagi BUMDes yang pendanaannya dari Dana Desa,&amp;rdquo; ujar Eko.
Tahun ini rata-rata per desa mendapat jatah Dana Desa sebesar Rp800  juta sampai Rp900 juta dari total Rp60 triliun Dana Desa se-Indonesia.   Jumlah ini sama dengan tahun sebelumnya. Sedangkan tahun 2016 sebesar  Rp47 triliun, meningkat dari tahun 2015 sebesar Rp20,76 triliun.

Karena itu, Eko berupaya mencarikan solusi atau format sinergi yang  tepat antara BUMDes dengan BWM. Selain itu, lanjut Eko, kewenangan  penggunaan Dana Desa berada di desa, bukan di Kemendes. &amp;ldquo;Sehingga kami  hanya bisa memberikan saran dan imbauan saja, keputusan berada di desa.

Yang penting, lanjut Eko, BUMDes yang merupakan salah satu dari empat  program prioritas Kemendes tersebut berjalan baik dan memberikan  manfaat yang besar bagi warga.

&amp;ldquo;Sekarang sudah ada 10 ribu BUMDes di seluruh Indonesia yang telah  bekerja sama dengan sejumlah Bank seperti bank BNI dan BRI. Kerja sama  tersebut adalah dalam hal membantu masyarakat untuk melakukan transaksi  keuangan secara online di desa, karena sulitnya masyarakat untuk  menjangkau kantor cabang setiap bank yang ada di daerah,&amp;rdquo; terangnya.

BUMDes diberikan semacam Electronic Data Capture (EDC) yang merupakan  alat untuk menerima pembayaran yang dapat menghubungkan antarrekening  bank. Jadi, jelas Eko, BUMDes bisa menjadi seperti semacam kantor  cabangnya Bank agar masyarakat tidak perlu lagi ke kantor cabang Bank.  &amp;ldquo;Cukup ke BUMDes sudah bisa nabung, transfer dan ambil uang dan  sebagainya dan itu hingga saat ini sudah berjalan,&quot; katanya.

Perlu diketahui, OJK merupakan inisiator berdirinya Bank Wakaf Mikro  di sejumlah pondok pesantren. Saat ini sudah ada 20 BWM di wilayah Jawa.  Dalam waktu dekat akan didirikan 20 BWM lainnya di seluruh Indonesia.

Keberadaan Bank Wakaf Mikro diharapkan bisa menyediakan akses  permodalan atau pembiayaan bagi masyarakat yang belum terhubung dengan  lembaga keuangan formal, khususnya di lingkungan pondok pesantren yang  saat ini jumlahnya mencapai lebih dari 28 ribu di seluruh Indonesia.

Skema pembiayaan kepada nasabah sendiri adalah pembiayaan tanpa  agunan dengan nilai maksimal Rp3 juta dan margin bagi hasil setara 3%  per tahunnya. Dalam pelaksanaannya, OJK juga menyediakan pelatihan dan  pendampingan sesuai dengan mengikuti basis usaha masyarakat sekitar.

&quot;Kalau di daerah itu banyaknya petani, kita bombing mulai dari  nanemnya kapan, mupuknya kapan, sampai kalau panen kita siapin siapa  yang beli,&quot; kata Ketua OJK Wimboh Santoso.

Dengan skema seperti ini, Wimboh juga optimis akan terciptanya  sinergi antara BWM dengan BUMDes.  Karena BUMDes yang sudah berjalan  saat ini juga memiliki skema kerja yang nyaris sama, mulai dari  pembiayaan, pembinaan hingga pemasaran produknya.

</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi berencana melakukan sinergi antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan Bank Wakaf Mikro (BWM). Sebab, BUMDes sudah tersebar di seluruh pelosok desa di Indonesia.

Langkah yang tengah dalam kajian ini dilakukan karena memiliki kemiripan dan sama-sama menyasar masyarakat desa. &amp;ldquo;Seperti kita ketahui pembiayaan BUMDes menggunakan Dana Desa untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi warga desa. Sedangkan mayoritas pesantren yang menjadi tempat Bank Wakaf Mikro juga berada di pedesaan,&amp;rdquo; ujar Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (15/3/2018).
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi: Bank Wakaf Mikro Tak Ada Bunga Hanya Biaya Administrasi 3%
Menteri Eko sendiri turut hadir saat Presiden Jokowi meluncurkan BWM di Pondok Pesantren An Nawawi Tanara, Serang, Banten, kemarin. Eko menjelaskan, Bank Wakaf Mikro atau biasa disebut Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) lebih mirip dengan Grameen Bank yang dipelopori oleh peraih Nobel Muhammad Yunus dari Bangladesh. Grameen Bank adalah organisasi kredit mikro yang memberikan pinjaman kecil kepada orang yang kurang mampu tanpa membutuhkan kolateral. Sistem ini berdasarkan ide bahwa orang miskin memiliki kemampuan yang kurang digunakan.

&quot;Bank Wakaf ini memberikan pinjaman kecil kepada orang tidak mampu tanpa ada agunan. Jadi untuk membantu usaha-usaha yang sangat mikro dan ini kita akan coba terapkan di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes),&quot; kata Eko.

Meski rencana ini masih dalam tahap kajian oleh tim Kemendes, namun Eko yakin sinergi antara BUMDes dengan BWM sangat mungkin diwujudkan. Apalagi saat ini BUMDes sudah banyak menjalin kerjasama dengan pesantren yang tersebar di berbagai desa.

&amp;ldquo;Kita sudah membentuk banyak kluster ekonomi dengan sejumlah pesantren, seperti program Produk Unggulan Kawasan Pedesaan (Prukades). Dalam model seperti ini dunia usaha dapat kesempatan karena ada nilai ekonominya. Masyarakatnya pun juga diuntungkan karena ada jaminan pascapanennya dan bank juga akan lebih berani memberikan kredit karena risikonya lebih kecil dalam ekosistem yang terintegrasi di model prukades ini,&quot; katanya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Soal Bank Wakaf, OJK Tunggu Kajian ICMI
Terkait dengan Prukades, pekan lalu, tepatnya 8 Maret 2018, Kemendes melakukan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan 102 kabupaten, dan 68 perusahaan. Kegiatan ini bahkan berhasil memecahkan dua rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).

Kerjasama ini akan menghasilkan investasi di daerah pedesaan sekitar Rp 47 triliun. Selain itu, program ini juga diperkirakan bakal menyerap tenaga kerja hingga10 juta jiwa.

Menteri Eko melanjutkan, dalam mewujudkan sinergi dengan BWM tersebut dirinya sudah bertemu dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dari hasil pembicaraan dengan OJK, kata Eko, memang ada sedikit ganjalan yang perlu dicarikan solusi, yakni persyaratan modal yang cukup besar bagi ukuran BUMDes.

&quot;Persyaratan modal sekitar Rp5 miliar mungkin kecil bagi sebuah bank, tetapi hal ini sangat berat bagi BUMDes yang pendanaannya dari Dana Desa,&amp;rdquo; ujar Eko.
Tahun ini rata-rata per desa mendapat jatah Dana Desa sebesar Rp800  juta sampai Rp900 juta dari total Rp60 triliun Dana Desa se-Indonesia.   Jumlah ini sama dengan tahun sebelumnya. Sedangkan tahun 2016 sebesar  Rp47 triliun, meningkat dari tahun 2015 sebesar Rp20,76 triliun.

Karena itu, Eko berupaya mencarikan solusi atau format sinergi yang  tepat antara BUMDes dengan BWM. Selain itu, lanjut Eko, kewenangan  penggunaan Dana Desa berada di desa, bukan di Kemendes. &amp;ldquo;Sehingga kami  hanya bisa memberikan saran dan imbauan saja, keputusan berada di desa.

Yang penting, lanjut Eko, BUMDes yang merupakan salah satu dari empat  program prioritas Kemendes tersebut berjalan baik dan memberikan  manfaat yang besar bagi warga.

&amp;ldquo;Sekarang sudah ada 10 ribu BUMDes di seluruh Indonesia yang telah  bekerja sama dengan sejumlah Bank seperti bank BNI dan BRI. Kerja sama  tersebut adalah dalam hal membantu masyarakat untuk melakukan transaksi  keuangan secara online di desa, karena sulitnya masyarakat untuk  menjangkau kantor cabang setiap bank yang ada di daerah,&amp;rdquo; terangnya.

BUMDes diberikan semacam Electronic Data Capture (EDC) yang merupakan  alat untuk menerima pembayaran yang dapat menghubungkan antarrekening  bank. Jadi, jelas Eko, BUMDes bisa menjadi seperti semacam kantor  cabangnya Bank agar masyarakat tidak perlu lagi ke kantor cabang Bank.  &amp;ldquo;Cukup ke BUMDes sudah bisa nabung, transfer dan ambil uang dan  sebagainya dan itu hingga saat ini sudah berjalan,&quot; katanya.

Perlu diketahui, OJK merupakan inisiator berdirinya Bank Wakaf Mikro  di sejumlah pondok pesantren. Saat ini sudah ada 20 BWM di wilayah Jawa.  Dalam waktu dekat akan didirikan 20 BWM lainnya di seluruh Indonesia.

Keberadaan Bank Wakaf Mikro diharapkan bisa menyediakan akses  permodalan atau pembiayaan bagi masyarakat yang belum terhubung dengan  lembaga keuangan formal, khususnya di lingkungan pondok pesantren yang  saat ini jumlahnya mencapai lebih dari 28 ribu di seluruh Indonesia.

Skema pembiayaan kepada nasabah sendiri adalah pembiayaan tanpa  agunan dengan nilai maksimal Rp3 juta dan margin bagi hasil setara 3%  per tahunnya. Dalam pelaksanaannya, OJK juga menyediakan pelatihan dan  pendampingan sesuai dengan mengikuti basis usaha masyarakat sekitar.

&quot;Kalau di daerah itu banyaknya petani, kita bombing mulai dari  nanemnya kapan, mupuknya kapan, sampai kalau panen kita siapin siapa  yang beli,&quot; kata Ketua OJK Wimboh Santoso.

Dengan skema seperti ini, Wimboh juga optimis akan terciptanya  sinergi antara BWM dengan BUMDes.  Karena BUMDes yang sudah berjalan  saat ini juga memiliki skema kerja yang nyaris sama, mulai dari  pembiayaan, pembinaan hingga pemasaran produknya.

</content:encoded></item></channel></rss>
