<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Teknologi Bisa Tingkatkan Produktivitas Petani saat Panen</title><description>Kebutuhan akan pangan terus meningkat seiring bertambahnya penduduk.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/15/320/1873441/teknologi-bisa-tingkatkan-produktivitas-petani-saat-panen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/03/15/320/1873441/teknologi-bisa-tingkatkan-produktivitas-petani-saat-panen"/><item><title>Teknologi Bisa Tingkatkan Produktivitas Petani saat Panen</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/15/320/1873441/teknologi-bisa-tingkatkan-produktivitas-petani-saat-panen</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/03/15/320/1873441/teknologi-bisa-tingkatkan-produktivitas-petani-saat-panen</guid><pubDate>Kamis 15 Maret 2018 20:20 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/03/15/320/1873441/teknologi-bisa-tingkatkan-produktivitas-petani-saat-panen-Jk6lZVH0Yu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/03/15/320/1873441/teknologi-bisa-tingkatkan-produktivitas-petani-saat-panen-Jk6lZVH0Yu.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Okezone</title></images><description>JAKARTA - Kebutuhan akan pangan terus meningkat seiring bertambahnya penduduk. Untuk itu, penggunaan teknologi di sektor pangan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan hasil produksi pangan.

Hal ini juga pernah diutarakan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat membuka Jakarta Food Security Summit 4 (JFSS4) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta belum lama ini.

Apalagi tantangan bagi dunia pertanian Indonesia adalah tingginya permintaan akan pangan berkualitas. &quot;Untuk mendapatkan pangan berkualitas, pengelolaan tanaman mulai dari bibit harus berkualitas pula,&quot; kata Country Head Syngenta Indonesia Parveen Kathuria dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (15/3/2018).
&amp;nbsp;Baca Juga: Swasembada Pangan Bisa Dikebut dengan Pengembangan Kawasan Pertanian Modern
Dalam kesempatan itu, Parveen yang mendampingi ASEAN Territory Head Syngenta Alex Berskovskly meluncurkan herbisida pengendali gulma tanaman pangan, Apiro. Apiro teknologi herbisida terkini yang mampu mengendalikan gulma pada tanaman padi untuk membantu petani meningkatkan produktivitas panen.

&quot;Selama ini gulma pada tanaman padi membuat petani kehilangan potensi hasil panen 30% sampai 40%, dengan teknologi ini panen petani menjadi lebih optimal,&quot; katanya.

Parveen mengatakan, menjadi komitmen perusahaan untuk terus mengembangkan teknologi perlindungan tanamanan, meskipun untuk meluncurkan teknologi membutuhkan investasi yang besar terutama dibidang riset dan pengembangan.

&quot;Untuk satu teknologi membutuhkan biaya USD200 juta sampai USD300 juta serta membutuhkan waktu lama mulai dari fase pengembangan sampai peluncuran ke pasar Seperti Apiro telah dikembangkan sejak tahun 2011,&quot; ujar dia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Mentan Ingin Ubah Paradigma Pertanian dari Tradisional Jadi Modern, Bagaimana Caranya?
Di sisi lain,  Syngenta juga harus memperbarui  fasilitas riset dan pengembangan, seperti dilakukan di stasiun Karawang yang telah diremajakan  mulai dari peningkatan standar K3, penguatan fasilitas laboratorium, dan investasi alat aplikasi semprot terbaru dengan teknologi yang lebih presisi, jelas Parveen.

Parveen menjelaskan gulma merupakan tanaman yang kehadirannya tidak diinginkan, tumbuh liar dan bersifat merugikan tanaman utama, Pada tanaman padi, padi akan berebut nutrisi dan mineral yang terkandung di dalam tanah yang pada akhirnya mengurangi hasil produksi.

&quot;Penanggulangan gulma pada tanaman padi yang selama ini dilakukan masih belum optimal dalam menekan kehilangan hasil produksi padi,&quot; ujar dia.

Apiro memiliki dua cara kerja dari kombinasi dua bahan aktif  Pyriftalid dan Bensulfuron yang efektif mengendalikan berbagai jenis  gulma bandel seperti rumput-rumputan, tekitekian. dan gulma daun lebar.

Teknologi ini memiliki metode aplikasi yang cukup fleksibel yaitu  dipercik atau disemprot yang diserap oleh tanaman melalui akar dan daun  serta aman terhadap tanaman utama. Teknologi ini telah melewati fase  pengembangan memiliki efek residu yang rendah pada tanah, jelas dia..

CropLife Asia menyatakan bahwa gulma menjadi sumber kerugian ekonomis  pertanian sebesar 75.6 juta dolar AS setiap tahunnya. Terlebih lagi,  pengendalian gulma yang belum optimal menambah potensi kehilangan hasil  produksi lebih besar, ujarnya.

Mengacu pada survei yang dilakukan Syngenta di indonesia, 30% petani  di indonesia mengendalikan gulma dengan cara manual (mencabut dengan  tangan) walaupun mereka telah menggunakan produk kimia pertanian.

Pengendalian gulma secara manual tentunya sangat melelahkan dan  memakan banyak biaya oleh karena tenaga kerja pertanian yang semakin  sulit dan mahal, ujar Parveen.</description><content:encoded>JAKARTA - Kebutuhan akan pangan terus meningkat seiring bertambahnya penduduk. Untuk itu, penggunaan teknologi di sektor pangan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan hasil produksi pangan.

Hal ini juga pernah diutarakan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat membuka Jakarta Food Security Summit 4 (JFSS4) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta belum lama ini.

Apalagi tantangan bagi dunia pertanian Indonesia adalah tingginya permintaan akan pangan berkualitas. &quot;Untuk mendapatkan pangan berkualitas, pengelolaan tanaman mulai dari bibit harus berkualitas pula,&quot; kata Country Head Syngenta Indonesia Parveen Kathuria dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (15/3/2018).
&amp;nbsp;Baca Juga: Swasembada Pangan Bisa Dikebut dengan Pengembangan Kawasan Pertanian Modern
Dalam kesempatan itu, Parveen yang mendampingi ASEAN Territory Head Syngenta Alex Berskovskly meluncurkan herbisida pengendali gulma tanaman pangan, Apiro. Apiro teknologi herbisida terkini yang mampu mengendalikan gulma pada tanaman padi untuk membantu petani meningkatkan produktivitas panen.

&quot;Selama ini gulma pada tanaman padi membuat petani kehilangan potensi hasil panen 30% sampai 40%, dengan teknologi ini panen petani menjadi lebih optimal,&quot; katanya.

Parveen mengatakan, menjadi komitmen perusahaan untuk terus mengembangkan teknologi perlindungan tanamanan, meskipun untuk meluncurkan teknologi membutuhkan investasi yang besar terutama dibidang riset dan pengembangan.

&quot;Untuk satu teknologi membutuhkan biaya USD200 juta sampai USD300 juta serta membutuhkan waktu lama mulai dari fase pengembangan sampai peluncuran ke pasar Seperti Apiro telah dikembangkan sejak tahun 2011,&quot; ujar dia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Mentan Ingin Ubah Paradigma Pertanian dari Tradisional Jadi Modern, Bagaimana Caranya?
Di sisi lain,  Syngenta juga harus memperbarui  fasilitas riset dan pengembangan, seperti dilakukan di stasiun Karawang yang telah diremajakan  mulai dari peningkatan standar K3, penguatan fasilitas laboratorium, dan investasi alat aplikasi semprot terbaru dengan teknologi yang lebih presisi, jelas Parveen.

Parveen menjelaskan gulma merupakan tanaman yang kehadirannya tidak diinginkan, tumbuh liar dan bersifat merugikan tanaman utama, Pada tanaman padi, padi akan berebut nutrisi dan mineral yang terkandung di dalam tanah yang pada akhirnya mengurangi hasil produksi.

&quot;Penanggulangan gulma pada tanaman padi yang selama ini dilakukan masih belum optimal dalam menekan kehilangan hasil produksi padi,&quot; ujar dia.

Apiro memiliki dua cara kerja dari kombinasi dua bahan aktif  Pyriftalid dan Bensulfuron yang efektif mengendalikan berbagai jenis  gulma bandel seperti rumput-rumputan, tekitekian. dan gulma daun lebar.

Teknologi ini memiliki metode aplikasi yang cukup fleksibel yaitu  dipercik atau disemprot yang diserap oleh tanaman melalui akar dan daun  serta aman terhadap tanaman utama. Teknologi ini telah melewati fase  pengembangan memiliki efek residu yang rendah pada tanah, jelas dia..

CropLife Asia menyatakan bahwa gulma menjadi sumber kerugian ekonomis  pertanian sebesar 75.6 juta dolar AS setiap tahunnya. Terlebih lagi,  pengendalian gulma yang belum optimal menambah potensi kehilangan hasil  produksi lebih besar, ujarnya.

Mengacu pada survei yang dilakukan Syngenta di indonesia, 30% petani  di indonesia mengendalikan gulma dengan cara manual (mencabut dengan  tangan) walaupun mereka telah menggunakan produk kimia pertanian.

Pengendalian gulma secara manual tentunya sangat melelahkan dan  memakan banyak biaya oleh karena tenaga kerja pertanian yang semakin  sulit dan mahal, ujar Parveen.</content:encoded></item></channel></rss>
