<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Calon Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo Dicecar soal Rupiah dan Utang Luar Negeri</title><description>Dody Budi Waluyo pun mendapat banyak pertanyaan dari Komisi XI DPR RI soal rupiah dan utang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/27/20/1878606/calon-deputi-gubernur-bi-dody-budi-waluyo-dicecar-soal-rupiah-dan-utang-luar-negeri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/03/27/20/1878606/calon-deputi-gubernur-bi-dody-budi-waluyo-dicecar-soal-rupiah-dan-utang-luar-negeri"/><item><title>Calon Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo Dicecar soal Rupiah dan Utang Luar Negeri</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/27/20/1878606/calon-deputi-gubernur-bi-dody-budi-waluyo-dicecar-soal-rupiah-dan-utang-luar-negeri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/03/27/20/1878606/calon-deputi-gubernur-bi-dody-budi-waluyo-dicecar-soal-rupiah-dan-utang-luar-negeri</guid><pubDate>Selasa 27 Maret 2018 16:25 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/03/27/20/1878606/calon-deputi-gubernur-bi-dody-budi-waluyo-dicecar-soal-rupiah-dan-utang-luar-negeri-GTsjLaFUyl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Dody Budi Waluyo (Yohana/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/03/27/20/1878606/calon-deputi-gubernur-bi-dody-budi-waluyo-dicecar-soal-rupiah-dan-utang-luar-negeri-GTsjLaFUyl.jpg</image><title>Foto: Dody Budi Waluyo (Yohana/Okezone)</title></images><description>JAKARTA -  Usai memaparkan visi, misi dan strategi bila terpilih menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo pun mendapat banyak pertanyaan dari Komisi XI DPR RI.  Adapun Dody merupakan kandidat pertama yang diuji dari tiga calon yang ada.

Setidaknya ada 13 anggota DPR Komisi XI yang bertanya dengan total lebih dari 25 pertanyaan kepada Dody. Fokus pertanyaan terkait kebijakan Dody untuk bisa menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, terlebih kini Rupiah dalam tren terdepresiasi terhadap Dolar Amerika Serikat.

&quot;Gonjang-ganjing nilai tukar Rupiah, ada prediksi akan capai angka Rp14.000. Selaku yang sudah paham moneter, apakah ini hanya pengaruh eksternal atau ada ada pengaruh internal? Apa strategi dan langkah-langkah untuk meredam?,&quot; tanya Anggota Komisi XI Fraksi PDIP, Agung Ray, di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (27/3/2018).
&amp;nbsp;Baca Juga: Ujian Gubernur BI Baru: Tahun Politik hingga Inflasi
Hal ini pun dikatakan, anggota Komisi XI lainnya, Herry Gunawan dari Fraksi Gerindra, yang menyatakan nilai tukar Rupiah bisa jadi beban fiskal. &quot;Hari ini jelas Rupiah bertengger diatas yang kita sepakati bersama, ini kan jadi beban fiskal,&quot; ujar dia.

&quot;Tentang nilai tukar Rupiah, kekhawatiran bisa di angka Rp15.000 apa saran kongkret Bapak kepada Gubernur BI atau kepada Menteri Keuangan untuk stabilkan nilai Ruppiah ini?,&quot; Anggota Komisi XI Fraksi PPP Nurhayati.

Menganggapi hal ini, Dody menyatakan, nikai tukar Rupiah yang kini berada di level Rp13.800 per USD sudah terlalu tinggi atau mahal bagi fundamental Indonesia.

&quot;Sudah pasti Rp13.800 itu terlampau tinggi atau mahal untuk kita. Kita tidak di level itu,&quot; jawab Dody.
&amp;nbsp;Baca Juga: DPR Putuskan Deputi dan Gubernur BI Baru Rabu Malam
Dia pun memaparkan, pelemahan Rupiah karena faktor eksternal, khususnya kondisi ekonomi AS yang berdampak pada ekonomi regional. Likuiditas valuta asing (valas) yang ada di Indonesia pun, kata dia, menjadi tantangan dari pelemahan Rupiah.

&quot;PR-nya mengenai likuiditas valas melihat kondisi suplay demand valas, gambaran paling mudah lihat ekspor dan impor valas, neraca berjalan selalu diposisi minus, defisit. Defisit berlangsung terus. Demand valas lebih tinggi dari pada suplay dan nilai tukar kita cenderung lemah,&quot; jelas dia.

Kendati demikian, Indonesia masih diuntungkan dengan pasar keuangan yang membaik. &quot;Kita diuntungkan pasar keuangan baik dan aliran valas bentuknya portofolio investment dan  fundamental ekspor impor naik,&quot; ujarnya.

Selain Rupiah, beberapa anggota juga menanyakan terkait Utang Luar  Negeri (ULN) Indonesia yang kini tembut Rp4.000 triliun.  Terkait hal  ini, Dody mengatakan, Indonesia masih akan terus membutuhkan ULN  sehingga utang dipastikan akan terus bertambah.

&quot;Kalau melihat 5 tahun kedepan secara level ULN akan terus naik, saya  yakinkan itu, karena, dari sisi saving, dibandingkan investasi kita  masih kalah. Kita akan masih mengalami kebutuhan ULN, komposisi utang  relatif tidak lihat secara level untuk utang terhadap PDB. Rasio posisi  utang luar negeri kita 34% terhadap PDB, ini sudah turun dari sebelumnya  kita pernah 36% terhadap PDB,&quot; paparnya.

Dia pun menyatakan, saat ini ULN jangka panjang mencapai 85%  sedangkan 15% merupakan jangka pendek. Menurutnya, ULN Indonesia akan  tetap terjaga kedepannya, hal ini dengan berkoodinasi pada pemerintah  dan lembagai terkait lainnya.

&quot;85% utang kita itu jangka panjang. Sehingga yang dikhawatirkan jangka pendek yang 15%,&quot; ujarnya.
</description><content:encoded>JAKARTA -  Usai memaparkan visi, misi dan strategi bila terpilih menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo pun mendapat banyak pertanyaan dari Komisi XI DPR RI.  Adapun Dody merupakan kandidat pertama yang diuji dari tiga calon yang ada.

Setidaknya ada 13 anggota DPR Komisi XI yang bertanya dengan total lebih dari 25 pertanyaan kepada Dody. Fokus pertanyaan terkait kebijakan Dody untuk bisa menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, terlebih kini Rupiah dalam tren terdepresiasi terhadap Dolar Amerika Serikat.

&quot;Gonjang-ganjing nilai tukar Rupiah, ada prediksi akan capai angka Rp14.000. Selaku yang sudah paham moneter, apakah ini hanya pengaruh eksternal atau ada ada pengaruh internal? Apa strategi dan langkah-langkah untuk meredam?,&quot; tanya Anggota Komisi XI Fraksi PDIP, Agung Ray, di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (27/3/2018).
&amp;nbsp;Baca Juga: Ujian Gubernur BI Baru: Tahun Politik hingga Inflasi
Hal ini pun dikatakan, anggota Komisi XI lainnya, Herry Gunawan dari Fraksi Gerindra, yang menyatakan nilai tukar Rupiah bisa jadi beban fiskal. &quot;Hari ini jelas Rupiah bertengger diatas yang kita sepakati bersama, ini kan jadi beban fiskal,&quot; ujar dia.

&quot;Tentang nilai tukar Rupiah, kekhawatiran bisa di angka Rp15.000 apa saran kongkret Bapak kepada Gubernur BI atau kepada Menteri Keuangan untuk stabilkan nilai Ruppiah ini?,&quot; Anggota Komisi XI Fraksi PPP Nurhayati.

Menganggapi hal ini, Dody menyatakan, nikai tukar Rupiah yang kini berada di level Rp13.800 per USD sudah terlalu tinggi atau mahal bagi fundamental Indonesia.

&quot;Sudah pasti Rp13.800 itu terlampau tinggi atau mahal untuk kita. Kita tidak di level itu,&quot; jawab Dody.
&amp;nbsp;Baca Juga: DPR Putuskan Deputi dan Gubernur BI Baru Rabu Malam
Dia pun memaparkan, pelemahan Rupiah karena faktor eksternal, khususnya kondisi ekonomi AS yang berdampak pada ekonomi regional. Likuiditas valuta asing (valas) yang ada di Indonesia pun, kata dia, menjadi tantangan dari pelemahan Rupiah.

&quot;PR-nya mengenai likuiditas valas melihat kondisi suplay demand valas, gambaran paling mudah lihat ekspor dan impor valas, neraca berjalan selalu diposisi minus, defisit. Defisit berlangsung terus. Demand valas lebih tinggi dari pada suplay dan nilai tukar kita cenderung lemah,&quot; jelas dia.

Kendati demikian, Indonesia masih diuntungkan dengan pasar keuangan yang membaik. &quot;Kita diuntungkan pasar keuangan baik dan aliran valas bentuknya portofolio investment dan  fundamental ekspor impor naik,&quot; ujarnya.

Selain Rupiah, beberapa anggota juga menanyakan terkait Utang Luar  Negeri (ULN) Indonesia yang kini tembut Rp4.000 triliun.  Terkait hal  ini, Dody mengatakan, Indonesia masih akan terus membutuhkan ULN  sehingga utang dipastikan akan terus bertambah.

&quot;Kalau melihat 5 tahun kedepan secara level ULN akan terus naik, saya  yakinkan itu, karena, dari sisi saving, dibandingkan investasi kita  masih kalah. Kita akan masih mengalami kebutuhan ULN, komposisi utang  relatif tidak lihat secara level untuk utang terhadap PDB. Rasio posisi  utang luar negeri kita 34% terhadap PDB, ini sudah turun dari sebelumnya  kita pernah 36% terhadap PDB,&quot; paparnya.

Dia pun menyatakan, saat ini ULN jangka panjang mencapai 85%  sedangkan 15% merupakan jangka pendek. Menurutnya, ULN Indonesia akan  tetap terjaga kedepannya, hal ini dengan berkoodinasi pada pemerintah  dan lembagai terkait lainnya.

&quot;85% utang kita itu jangka panjang. Sehingga yang dikhawatirkan jangka pendek yang 15%,&quot; ujarnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
