<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bank Dunia Proyeksi Perekonomian Indonesia Tetap Positif</title><description>Bank Dunia memproyeksikan perekonomian Indonesia tetap  positif dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto mencapai  rata-rata sebesar 5,3%</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/28/20/1878940/bank-dunia-proyeksi-perekonomian-indonesia-tetap-positif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/03/28/20/1878940/bank-dunia-proyeksi-perekonomian-indonesia-tetap-positif"/><item><title>Bank Dunia Proyeksi Perekonomian Indonesia Tetap Positif</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/28/20/1878940/bank-dunia-proyeksi-perekonomian-indonesia-tetap-positif</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/03/28/20/1878940/bank-dunia-proyeksi-perekonomian-indonesia-tetap-positif</guid><pubDate>Rabu 28 Maret 2018 11:06 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/03/28/20/1878940/bank-dunia-proyeksi-perekonomian-indonesia-tetap-positif-UtD2QpLVRA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kondisi ekonomi Indonesia membaik (Foto: Ilustrasi Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/03/28/20/1878940/bank-dunia-proyeksi-perekonomian-indonesia-tetap-positif-UtD2QpLVRA.jpg</image><title>Kondisi ekonomi Indonesia membaik (Foto: Ilustrasi Koran Sindo)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan perekonomian Indonesia tetap positif dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai rata-rata sebesar 5,3% pada periode 2018&amp;ndash; 2020.&amp;nbsp;
Meski begitu, ada beberapa risiko terutama berkaitan dengan perlambatan perdagangan global dan konsumsi sektor swasta. Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Rodrigo A Chaves mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap positif dengan diproyeksikan sebesar 5,3% pada 2018. Namun, kontribusi dari ekspor diperkirakan akan teredam seiring menurunnya nilai tukar perdagangan dan pertumbuhan impor. &amp;rdquo;Kondisi global masih berisiko terutama proteksionisme dari beberapa negara dan ini sulit diproyeksikan. Langkah-langkah tertentu yang akan diambil masih berisiko,&amp;rdquo; ujarnya pada laporan triwulan perekonomian Bank Dunia di Jakarta.
Baca Juga: Menko Darmin Berharap Sinkronisasi Satu Peta Selesai 2019
Menurut Chaves, pertumbuhan ekonomi di atas 5% ini sudah termasuk tiga besar di antara negara-negara G20. Meski begitu, masih ada peluang untuk lebih tinggi lagi. &amp;rdquo;Salah satunya dengan mendorong investasi dari luar negeri dan memberikan pesan yang jelas bahwa modal masuk seperti FDI tidak hanya diundang namun juga disambut dengan baik. Sementara investor-investor asing yang sudah ada harus dipertahankan,&amp;rdquo; ujarnya. Selain itu, kebijakan fiskal juga bisa memainkan peran lebih besar untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif.   &amp;rdquo;Kebijakan ekonomi makro yang baik telah berkontribusi pada pertumbuhan investasi yang mencapai tingkat tertinggi dalam lima tahun terakhir. Tetapi untuk mempercepat investasi secara berarti di luar sektor pertambangan, Indonesia harus mempertimbangkan menggabungkan kombinasi kebijakan yang berani akan berdampak pada perekonomian,&amp;rdquo; kata Chaves. Bank Dunia juga melaporkan inflasi yang rendah, pengeluaran menjelang pemilu mendatang, dan harga komoditas lebih baik diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan konsumsi.
Baca Juga: Rendahnya Upah dan Tingkat Pendidikan Jadi Pemicu Ketimpangan Pendapatan  Selain itu, defisit fiskal diperkirakan akan menyempit sementara defisit neraca transaksi berjalan diproyeksikan akan melebar. Lead Economist untuk Bank Dunia di Indonesia Frederico Gil Sander mengatakan, defisit anggaran diperkirakan tetap terjaga dalam kisaran 2,3% terhadap PDB pada 2018 yang didukung oleh harga minyak tinggi dan reformasi peningkatan penerimaan sehingga meningkatkan total penerimaan. &amp;rdquo;Sementara defisit neraca transaksi berjalan diperkirakan melebar pada kisaran 1,9% terhadap PDB pada 2018, lebih tinggi dari 2017 sebesar 1,7% seiring dengan permintaan dalam negeri lebih kuat dan nilai tukar perdagangan yang lebih lemah,&amp;rdquo; ujarnya.Dia mengatakan, keputusan mengenai belanja pemerintah dan pemungutan  penerimaan memainkan peran utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.  &amp;rdquo;Selama 15 tahun terakhir, kebijakan fiskal telah berkontribusi terhadap  pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan menjaga stabilitas makroekonomi.  Namun, kebijakan fiskal bisa memainkan peran lebih besar untuk  memastikan pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif,&amp;rdquo; tuturnya.  Menurutnya, Indonesia bisa mengurangi ketimpangan dengan meningkatkan  jumlah dan efisiensi pengeluaran yang bermanfaat bagi 60% bagian  terbawah keluarga Indonesia.
Sebagian besar pengeluaran ini digunakan untuk sektor kesehatan dan  pendidikan, juga mengatasi ketimpangan kesempatan dan membangun fondasi  untuk pertumbuhan yang kuat di masa depan. &amp;rdquo;Untuk mendukung pertumbuhan  yang inklusif, Indonesia perlu melakukan belanja lebih efektif untuk  pendidikan, membelanjakan lebih banyak di bidang prioritas, seperti  infrastruktur, kesehatan, bantuan sosial, serta mengumpulkan lebih  banyak pendapatan dengan cara efisien serta mendukung pertumbuhan agar  belanja juga meningkat,&amp;rdquo; ujar Sander. Menteri Keuangan Sri Mulyani  Indrawati mengatakan, laporan dan masukkan dari Bank Dunia sejalan  dengan dilakukan pemerintah saat ini.&amp;nbsp;  Pemerintah akan terus  melihat sumber pertumbuhan ekonomi dan mengidentifikasi masalah yang  harus diperbaiki dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.  &amp;rdquo;Untuk konsumsi, fokus kita adalah bagaimana daya beli masyarakat  terjaga termasuk dalam hal ini strategi menciptakan kesempatan kerja  yang lebih baik,&amp;rdquo; ujarnya. Sri Mulyani mengatakan, pemerintah juga terus  menjaga sektor swasta dalam mendorong investasi. Menurut dia, peluang  meningkatkan investasi masih terbuka. Oleh karena itu, pemerintah  konsisten melakukan perbaikan kemudahan berusaha termasuk memberikan  pajak insentif.&amp;nbsp;  &amp;rdquo;Pajak insentif ini yang akan segera  disampaikan termasuk untuk usaha kecil dan menengah menurunkan rate  final mereka menjadi setengahnya. Itu semua dilakukan agar sektor swasta  merasa confidence sehingga ini bisa menjadi penggerak ekonomi di  Indonesia,&amp;rdquo; ujarnya. Selain itu, pemerintah juga akan mendorong ekspor  sebagai mesin penggerak ekonomi. &amp;rdquo;Kebijakan fiskal juga harus dijaga  agar bisa mempertahankan ekonomi ini,&amp;rdquo; katanya.&amp;nbsp;  (Oktiani Endarwati) </description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan perekonomian Indonesia tetap positif dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai rata-rata sebesar 5,3% pada periode 2018&amp;ndash; 2020.&amp;nbsp;
Meski begitu, ada beberapa risiko terutama berkaitan dengan perlambatan perdagangan global dan konsumsi sektor swasta. Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Rodrigo A Chaves mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap positif dengan diproyeksikan sebesar 5,3% pada 2018. Namun, kontribusi dari ekspor diperkirakan akan teredam seiring menurunnya nilai tukar perdagangan dan pertumbuhan impor. &amp;rdquo;Kondisi global masih berisiko terutama proteksionisme dari beberapa negara dan ini sulit diproyeksikan. Langkah-langkah tertentu yang akan diambil masih berisiko,&amp;rdquo; ujarnya pada laporan triwulan perekonomian Bank Dunia di Jakarta.
Baca Juga: Menko Darmin Berharap Sinkronisasi Satu Peta Selesai 2019
Menurut Chaves, pertumbuhan ekonomi di atas 5% ini sudah termasuk tiga besar di antara negara-negara G20. Meski begitu, masih ada peluang untuk lebih tinggi lagi. &amp;rdquo;Salah satunya dengan mendorong investasi dari luar negeri dan memberikan pesan yang jelas bahwa modal masuk seperti FDI tidak hanya diundang namun juga disambut dengan baik. Sementara investor-investor asing yang sudah ada harus dipertahankan,&amp;rdquo; ujarnya. Selain itu, kebijakan fiskal juga bisa memainkan peran lebih besar untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif.   &amp;rdquo;Kebijakan ekonomi makro yang baik telah berkontribusi pada pertumbuhan investasi yang mencapai tingkat tertinggi dalam lima tahun terakhir. Tetapi untuk mempercepat investasi secara berarti di luar sektor pertambangan, Indonesia harus mempertimbangkan menggabungkan kombinasi kebijakan yang berani akan berdampak pada perekonomian,&amp;rdquo; kata Chaves. Bank Dunia juga melaporkan inflasi yang rendah, pengeluaran menjelang pemilu mendatang, dan harga komoditas lebih baik diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan konsumsi.
Baca Juga: Rendahnya Upah dan Tingkat Pendidikan Jadi Pemicu Ketimpangan Pendapatan  Selain itu, defisit fiskal diperkirakan akan menyempit sementara defisit neraca transaksi berjalan diproyeksikan akan melebar. Lead Economist untuk Bank Dunia di Indonesia Frederico Gil Sander mengatakan, defisit anggaran diperkirakan tetap terjaga dalam kisaran 2,3% terhadap PDB pada 2018 yang didukung oleh harga minyak tinggi dan reformasi peningkatan penerimaan sehingga meningkatkan total penerimaan. &amp;rdquo;Sementara defisit neraca transaksi berjalan diperkirakan melebar pada kisaran 1,9% terhadap PDB pada 2018, lebih tinggi dari 2017 sebesar 1,7% seiring dengan permintaan dalam negeri lebih kuat dan nilai tukar perdagangan yang lebih lemah,&amp;rdquo; ujarnya.Dia mengatakan, keputusan mengenai belanja pemerintah dan pemungutan  penerimaan memainkan peran utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.  &amp;rdquo;Selama 15 tahun terakhir, kebijakan fiskal telah berkontribusi terhadap  pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan menjaga stabilitas makroekonomi.  Namun, kebijakan fiskal bisa memainkan peran lebih besar untuk  memastikan pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif,&amp;rdquo; tuturnya.  Menurutnya, Indonesia bisa mengurangi ketimpangan dengan meningkatkan  jumlah dan efisiensi pengeluaran yang bermanfaat bagi 60% bagian  terbawah keluarga Indonesia.
Sebagian besar pengeluaran ini digunakan untuk sektor kesehatan dan  pendidikan, juga mengatasi ketimpangan kesempatan dan membangun fondasi  untuk pertumbuhan yang kuat di masa depan. &amp;rdquo;Untuk mendukung pertumbuhan  yang inklusif, Indonesia perlu melakukan belanja lebih efektif untuk  pendidikan, membelanjakan lebih banyak di bidang prioritas, seperti  infrastruktur, kesehatan, bantuan sosial, serta mengumpulkan lebih  banyak pendapatan dengan cara efisien serta mendukung pertumbuhan agar  belanja juga meningkat,&amp;rdquo; ujar Sander. Menteri Keuangan Sri Mulyani  Indrawati mengatakan, laporan dan masukkan dari Bank Dunia sejalan  dengan dilakukan pemerintah saat ini.&amp;nbsp;  Pemerintah akan terus  melihat sumber pertumbuhan ekonomi dan mengidentifikasi masalah yang  harus diperbaiki dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.  &amp;rdquo;Untuk konsumsi, fokus kita adalah bagaimana daya beli masyarakat  terjaga termasuk dalam hal ini strategi menciptakan kesempatan kerja  yang lebih baik,&amp;rdquo; ujarnya. Sri Mulyani mengatakan, pemerintah juga terus  menjaga sektor swasta dalam mendorong investasi. Menurut dia, peluang  meningkatkan investasi masih terbuka. Oleh karena itu, pemerintah  konsisten melakukan perbaikan kemudahan berusaha termasuk memberikan  pajak insentif.&amp;nbsp;  &amp;rdquo;Pajak insentif ini yang akan segera  disampaikan termasuk untuk usaha kecil dan menengah menurunkan rate  final mereka menjadi setengahnya. Itu semua dilakukan agar sektor swasta  merasa confidence sehingga ini bisa menjadi penggerak ekonomi di  Indonesia,&amp;rdquo; ujarnya. Selain itu, pemerintah juga akan mendorong ekspor  sebagai mesin penggerak ekonomi. &amp;rdquo;Kebijakan fiskal juga harus dijaga  agar bisa mempertahankan ekonomi ini,&amp;rdquo; katanya.&amp;nbsp;  (Oktiani Endarwati) </content:encoded></item></channel></rss>
