<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Anak Muda RI Makin Bersinar, Diakui di Pentas Global</title><description>Anak muda Indonesia semakin inovatif dan kreatif dalam mengembangkan bisnis. Mereka juga tidak melulu berorientasi mengeruk keuntungan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/31/320/1880329/anak-muda-ri-makin-bersinar-diakui-di-pentas-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/03/31/320/1880329/anak-muda-ri-makin-bersinar-diakui-di-pentas-global"/><item><title>Anak Muda RI Makin Bersinar, Diakui di Pentas Global</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/03/31/320/1880329/anak-muda-ri-makin-bersinar-diakui-di-pentas-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/03/31/320/1880329/anak-muda-ri-makin-bersinar-diakui-di-pentas-global</guid><pubDate>Sabtu 31 Maret 2018 10:45 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>SINGAPURA &amp;ndash; Anak muda Indonesia semakin inovatif dan kreatif dalam mengembangkan bisnis. Bukan hanya itu, mereka juga tidak melulu berorientasi mengeruk keuntungan, tetapi juga memperhatikan tanggung jawab sosial.
Fakta demikian tecermin dari banyaknya anak muda Indonesia yang masuk dalam jajaran Forbes 30 Under 30 Asia 2018 yang mencapai 15 orang. Jumlah ini meningkat bila dibandingkan ta hun sebelumnya yang hanya berjumlah 10 orang. Ke-15 pemuda Indonesia itu ter sebar dalam tujuh kategori Forbes 30 Under 30 Asia .
Mereka akan bersaing dengan 300 anak muda dari 24 negara dari Asia dan Pasifik setelah disaring dari 2.000 orang. India menjadi negara yang menyumbangkan perwakilan terbanyak dengan 65 nomine, disusul China dengan 59 orang dan Australia dengan 35 orang.
Untuk pertama kalinya pemuda dari Korea Utara, Fiji, Azerbaijan, dan Tajikistan masuk dalam daftar. Nantinya 300 pemuda itu akan dipilih menjadi 30 orang dalam 10 kategori seperti seni, hiburan dan olahraga, keuangan, media, ritel, teknologi, energi, kesehatan, social entrepreneur, dan teknologi konsumsi.
Baca Juga : Pengusaha Max Riedel Cerita tentang Kegagalan di Masa Lampau
Para pemuda Indonesia tersebut mendapat apresiasi karena memenuhi kriteria dalam kepemimpinan dan disrupsi di bidang mereka, pola pikir entrepreneur dan hasil bisnis serta dianggap bisa membawa perubahan dalam setengah abad mendatang. Dengan demikian ke-15 pemuda tersebut diprediksi akan menjadi pengusaha dan orang berpengaruh di masa depan di Indonesia.
Adapun ke-15 nama pemuda Indonesia dimaksud adalah Dian Pelangi, Rich Brian, Fransiska Hadiwidjana, Muhamad Risyad Ganis dan Yohanes Sugihtononugroho, Iwan Kurniawan dan Reynold Wijaya, Talita Setyadi, Adrian Agus dan Eugenie Agus, Stanislaus Ma hesworo Christandito Tandelilin, juga Krishnan Menon dan Marshall Utoyo.
Baca Juga : Kompetisi di Era Digital, Mumpung Masih Muda Jangan Leha-Leha
Forbes Asia memandang mereka yang masuk 30 Under 30 wilayah Asia merupakan disruptor muda, inovator, dan entrepreneur. Mereka adalah pemuda yang menantang kebijakan konvensional dan menulis ulang peraturan untuk generasi mendatang. Dengan mengusung tema &amp;ldquo;Disrupsi dan Inovasi&amp;rdquo;, tahun ini 300 pemuda yang dipilih itu memiliki visi dan disruptor sejati.
Nantinya 30 pemuda yang lolos seleksi ini akan dipilih oleh panel dewan juri yang terdiri atas berbagai CEO dan peng usaha ternama seperti Hiroshi Mikitani, CEO Rakuten; Kai-fu Lee, Chairman dan CEO Sinovation Ventures; Allan Zeman, pendiri Lan Kwai Fong Group; Vivienne Tam, desainer, dan masih banyak lainnya.&amp;ldquo;Forbes 30 Under 30 Asia 2018 merayakan para pengubah permainan yang  memberikan inspirasi. Mereka mampu mendisrupsi berbagai sektor di bidang  mereka dan tidak mengambil opsi &amp;lsquo;tidak&amp;rsquo; untuk sebuah jawaban,&amp;rdquo; ujar  Editor Forbes 30 Under 30 Asia Rana Wehbe.
Dia mencontohkan seorang pengusaha muda yang mendaur ulang sepatu lama  untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan sepatu dan hal itu  ternyata berdampak miliaran dolar. Banyak juga pengusaha muda yang  berani berinovasi sehingga memberikan dampak bagi komunitas di  sekitarnya.
Baca Juga : Pengusaha Max Riedel Cerita tentang Kegagalan di Masa Lampau
&amp;ldquo;Tidak ada keterbatasan inovasi dari para anak muda yang mendapatkan  penghargaan tahun ini,&amp;rdquo; ungkap Wehbe. Pengamat pemasaran Yuswohady  menilai, masuknya deretan anak-anak muda Indonesia dalam daftar Forbes  30 Under 30 menunjukkan bahwa kreativitas mereka diakui di level global.
Hal ini didukung berkembangnya teknologi serta adanya pasar yang  besar di dalam negeri. &amp;ldquo;Mereka (pemilik usa ha) adalah suplainya,  demand-nya adalah masyarakat kita yang besar se bagai pasarnya,&amp;rdquo; ujar  dia ke pa - da KORAN SINDO tadi malam. Yuswohady menambahkan, dilihat  dari produknya, apa yang dibuat para pelaku usaha startup di Indonesia  sebenarnya tidak ada unsur kebaruan.
Baca Juga : Kompetisi di Era Digital, Mumpung Masih Muda Jangan Leha-Leha
Hanya saja mereka pandai men ciptakan aplikasi dengan model bisnis  yang sudah ada di luar negeri untuk diaplikasikan di dalam negeri. &amp;ldquo;Yang  juga membuat pasar mereka besar adalah keberadaan media sosial. Ada  revolusi informasi yang membuka mata para wirausaha muda ini lebih  mudah dikenal,&amp;rdquo; ujarnya.
Sementara itu pengamat ekonomi Indonesia Institute for Development of  Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, revolusi  digital yang terjadi saat ini telah memberikan ruang bagi anak muda  kreatif untuk mengapitalisasi kemampuannya.
&amp;ldquo;Generasi milenial cenderung lebih cepat meraih kesuksesan di bidang  bisnis daripada generasi sebelumnya. Ini juga menunjukkan bahwa kualitas  sumber daya manusia Indonesia di bidang ini tidak kalah dengan negara  lain,&amp;rdquo; katanya.
 
Memanfaatkan Medsos
 
 
Berdasarkan fakta mereka yang masuk Forbes 30 Under 30 Asia,media  sosial telah menjadi penting yang menggerakkan perubahan. Para  entrepreneur digital tersebut mampu mengapitalkan platform untuk memba  ngun brand mereka dengan bantuan media sosial. Hal itu bisa dilihat dari  Alexandra Spencer, 27, pendiri brand pakaian Realisation Par.
Model dan narablog asal Australia itu mendirikan Realisation Par  bersama kawannya seorang desainer, Teale Talbot, pada 2015. &amp;ldquo;Kita tidak  merasa adalah e-commerce atau toko ritel yang merefleksikan waktu,&amp;rdquo; kata  Spencer. Awalnya dia mengaku menjual pakaian dan selama enam bulan  tidak laku.
Dan dengan menggunakan strategi online, semuanya berubah. Spencer  mampu menjual banyak produk pakaiannya. Mereka juga mempromosikannya  melalui media sosial. Banyak pembeli yang suka membeli baju di  Instagram daripada datang langsung ke toko. Tapi tak semua brand bisa  mudah diterima di media sosial seperti Realisation Par.
&amp;ldquo;Saya pikir kita menang karena otentik,&amp;rdquo; ungkapnya. Dari Indonesia,  Dian Pelangi merupakan desainer yang membuka jalur media sosial untuk  mempromosikan baju yang didesainnya. Dia mampu memanfaatkan Instagram un  tuk membangun bisnis dan memengaruhi tren desain di Indonesia.
Kemampuan Dian Pelangi itu menunjukkan bahwa anak muda yang  menguasai media sosial akan menguasai pasar. Di China, Liang Tao mem  bangun pasar dengan tiga juta pengikutnya di Sina Weibo dan We Chat, dua  platform media sosial ternama di Negeri Tirai Bambu itu.
Liang mampu menjual banyak tasnya melalui me dia sosial. Dia juga  memosisikan dirinya sebagai mesin penjualan. Dia bisa menjual 80  produk dalam hanya beberapa menit saja. Selain Dian Pelangi, anak muda  Indonesia yang muncul adalah Rich Brian. Dia lahir dari dunia internet  yang memunculkan banyak kesempatan bagi banyak orang untuk menjadi  selebritas.
Remaja berusia 18 tahun itu dikenal sebagai social media darling,  baik di Twitter maupun YouTube. Dia juga memiliki banyak penggemar. Rich  Brian mengawali karier di dunia komedian. Tapi dia justru beralih  menjadi seorang rapper.
Dia merilis single Dat $tick pada Februari 2016. Videonya telah  ditonton lebih dari 87 juta klik di YouTube. Prestasinya dilirik musisi  Amerika dan dia pun berkolaborasi dengan Diplo dan Pharrell dalam  beberapa tur internasional. Pada awal 2018, dia merilis album berjudul  &amp;ldquo;Amen&amp;rdquo;.
Selanjutnya ada nama Fransiska Hadiwidjana. Dalam bidang bisnis,  namanya memang masih baru. Dia merupakan entrepreneur pendiri dan CEO  Prelo. Prelo merupakan aplikasi marketplace e-commerce yang fokus untuk  pemberdayaan komunitas dan menggunakan teknologi.
Ada juga nama Muhamad Risyad Ganis dan Yohanes Sugihtononugroho yang  mendirikan Crowde. Itu merupakan sebuah platform penggalangan dana  investasi bagi para petani di daerah. Dengan platform ini para petani  mendapatkan akses pendanaan alternatif di luar perbankan dan rentenir.
Kemudian Iwan Kurniawan dan Reynold Wijaya. Mereka mendirikan  Modalku. Modalku adalah platform peer-to-peer (P2P) lending yang  beroperasi di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Platform ini menghubung kan pelaku UMKM yang layak kredit dengan pemberi pin jaman yang  mencari alternatif investasi melalui pasar digital. (Andika Hendra/ Yanto Kusdiantono) 
</description><content:encoded>SINGAPURA &amp;ndash; Anak muda Indonesia semakin inovatif dan kreatif dalam mengembangkan bisnis. Bukan hanya itu, mereka juga tidak melulu berorientasi mengeruk keuntungan, tetapi juga memperhatikan tanggung jawab sosial.
Fakta demikian tecermin dari banyaknya anak muda Indonesia yang masuk dalam jajaran Forbes 30 Under 30 Asia 2018 yang mencapai 15 orang. Jumlah ini meningkat bila dibandingkan ta hun sebelumnya yang hanya berjumlah 10 orang. Ke-15 pemuda Indonesia itu ter sebar dalam tujuh kategori Forbes 30 Under 30 Asia .
Mereka akan bersaing dengan 300 anak muda dari 24 negara dari Asia dan Pasifik setelah disaring dari 2.000 orang. India menjadi negara yang menyumbangkan perwakilan terbanyak dengan 65 nomine, disusul China dengan 59 orang dan Australia dengan 35 orang.
Untuk pertama kalinya pemuda dari Korea Utara, Fiji, Azerbaijan, dan Tajikistan masuk dalam daftar. Nantinya 300 pemuda itu akan dipilih menjadi 30 orang dalam 10 kategori seperti seni, hiburan dan olahraga, keuangan, media, ritel, teknologi, energi, kesehatan, social entrepreneur, dan teknologi konsumsi.
Baca Juga : Pengusaha Max Riedel Cerita tentang Kegagalan di Masa Lampau
Para pemuda Indonesia tersebut mendapat apresiasi karena memenuhi kriteria dalam kepemimpinan dan disrupsi di bidang mereka, pola pikir entrepreneur dan hasil bisnis serta dianggap bisa membawa perubahan dalam setengah abad mendatang. Dengan demikian ke-15 pemuda tersebut diprediksi akan menjadi pengusaha dan orang berpengaruh di masa depan di Indonesia.
Adapun ke-15 nama pemuda Indonesia dimaksud adalah Dian Pelangi, Rich Brian, Fransiska Hadiwidjana, Muhamad Risyad Ganis dan Yohanes Sugihtononugroho, Iwan Kurniawan dan Reynold Wijaya, Talita Setyadi, Adrian Agus dan Eugenie Agus, Stanislaus Ma hesworo Christandito Tandelilin, juga Krishnan Menon dan Marshall Utoyo.
Baca Juga : Kompetisi di Era Digital, Mumpung Masih Muda Jangan Leha-Leha
Forbes Asia memandang mereka yang masuk 30 Under 30 wilayah Asia merupakan disruptor muda, inovator, dan entrepreneur. Mereka adalah pemuda yang menantang kebijakan konvensional dan menulis ulang peraturan untuk generasi mendatang. Dengan mengusung tema &amp;ldquo;Disrupsi dan Inovasi&amp;rdquo;, tahun ini 300 pemuda yang dipilih itu memiliki visi dan disruptor sejati.
Nantinya 30 pemuda yang lolos seleksi ini akan dipilih oleh panel dewan juri yang terdiri atas berbagai CEO dan peng usaha ternama seperti Hiroshi Mikitani, CEO Rakuten; Kai-fu Lee, Chairman dan CEO Sinovation Ventures; Allan Zeman, pendiri Lan Kwai Fong Group; Vivienne Tam, desainer, dan masih banyak lainnya.&amp;ldquo;Forbes 30 Under 30 Asia 2018 merayakan para pengubah permainan yang  memberikan inspirasi. Mereka mampu mendisrupsi berbagai sektor di bidang  mereka dan tidak mengambil opsi &amp;lsquo;tidak&amp;rsquo; untuk sebuah jawaban,&amp;rdquo; ujar  Editor Forbes 30 Under 30 Asia Rana Wehbe.
Dia mencontohkan seorang pengusaha muda yang mendaur ulang sepatu lama  untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan sepatu dan hal itu  ternyata berdampak miliaran dolar. Banyak juga pengusaha muda yang  berani berinovasi sehingga memberikan dampak bagi komunitas di  sekitarnya.
Baca Juga : Pengusaha Max Riedel Cerita tentang Kegagalan di Masa Lampau
&amp;ldquo;Tidak ada keterbatasan inovasi dari para anak muda yang mendapatkan  penghargaan tahun ini,&amp;rdquo; ungkap Wehbe. Pengamat pemasaran Yuswohady  menilai, masuknya deretan anak-anak muda Indonesia dalam daftar Forbes  30 Under 30 menunjukkan bahwa kreativitas mereka diakui di level global.
Hal ini didukung berkembangnya teknologi serta adanya pasar yang  besar di dalam negeri. &amp;ldquo;Mereka (pemilik usa ha) adalah suplainya,  demand-nya adalah masyarakat kita yang besar se bagai pasarnya,&amp;rdquo; ujar  dia ke pa - da KORAN SINDO tadi malam. Yuswohady menambahkan, dilihat  dari produknya, apa yang dibuat para pelaku usaha startup di Indonesia  sebenarnya tidak ada unsur kebaruan.
Baca Juga : Kompetisi di Era Digital, Mumpung Masih Muda Jangan Leha-Leha
Hanya saja mereka pandai men ciptakan aplikasi dengan model bisnis  yang sudah ada di luar negeri untuk diaplikasikan di dalam negeri. &amp;ldquo;Yang  juga membuat pasar mereka besar adalah keberadaan media sosial. Ada  revolusi informasi yang membuka mata para wirausaha muda ini lebih  mudah dikenal,&amp;rdquo; ujarnya.
Sementara itu pengamat ekonomi Indonesia Institute for Development of  Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, revolusi  digital yang terjadi saat ini telah memberikan ruang bagi anak muda  kreatif untuk mengapitalisasi kemampuannya.
&amp;ldquo;Generasi milenial cenderung lebih cepat meraih kesuksesan di bidang  bisnis daripada generasi sebelumnya. Ini juga menunjukkan bahwa kualitas  sumber daya manusia Indonesia di bidang ini tidak kalah dengan negara  lain,&amp;rdquo; katanya.
 
Memanfaatkan Medsos
 
 
Berdasarkan fakta mereka yang masuk Forbes 30 Under 30 Asia,media  sosial telah menjadi penting yang menggerakkan perubahan. Para  entrepreneur digital tersebut mampu mengapitalkan platform untuk memba  ngun brand mereka dengan bantuan media sosial. Hal itu bisa dilihat dari  Alexandra Spencer, 27, pendiri brand pakaian Realisation Par.
Model dan narablog asal Australia itu mendirikan Realisation Par  bersama kawannya seorang desainer, Teale Talbot, pada 2015. &amp;ldquo;Kita tidak  merasa adalah e-commerce atau toko ritel yang merefleksikan waktu,&amp;rdquo; kata  Spencer. Awalnya dia mengaku menjual pakaian dan selama enam bulan  tidak laku.
Dan dengan menggunakan strategi online, semuanya berubah. Spencer  mampu menjual banyak produk pakaiannya. Mereka juga mempromosikannya  melalui media sosial. Banyak pembeli yang suka membeli baju di  Instagram daripada datang langsung ke toko. Tapi tak semua brand bisa  mudah diterima di media sosial seperti Realisation Par.
&amp;ldquo;Saya pikir kita menang karena otentik,&amp;rdquo; ungkapnya. Dari Indonesia,  Dian Pelangi merupakan desainer yang membuka jalur media sosial untuk  mempromosikan baju yang didesainnya. Dia mampu memanfaatkan Instagram un  tuk membangun bisnis dan memengaruhi tren desain di Indonesia.
Kemampuan Dian Pelangi itu menunjukkan bahwa anak muda yang  menguasai media sosial akan menguasai pasar. Di China, Liang Tao mem  bangun pasar dengan tiga juta pengikutnya di Sina Weibo dan We Chat, dua  platform media sosial ternama di Negeri Tirai Bambu itu.
Liang mampu menjual banyak tasnya melalui me dia sosial. Dia juga  memosisikan dirinya sebagai mesin penjualan. Dia bisa menjual 80  produk dalam hanya beberapa menit saja. Selain Dian Pelangi, anak muda  Indonesia yang muncul adalah Rich Brian. Dia lahir dari dunia internet  yang memunculkan banyak kesempatan bagi banyak orang untuk menjadi  selebritas.
Remaja berusia 18 tahun itu dikenal sebagai social media darling,  baik di Twitter maupun YouTube. Dia juga memiliki banyak penggemar. Rich  Brian mengawali karier di dunia komedian. Tapi dia justru beralih  menjadi seorang rapper.
Dia merilis single Dat $tick pada Februari 2016. Videonya telah  ditonton lebih dari 87 juta klik di YouTube. Prestasinya dilirik musisi  Amerika dan dia pun berkolaborasi dengan Diplo dan Pharrell dalam  beberapa tur internasional. Pada awal 2018, dia merilis album berjudul  &amp;ldquo;Amen&amp;rdquo;.
Selanjutnya ada nama Fransiska Hadiwidjana. Dalam bidang bisnis,  namanya memang masih baru. Dia merupakan entrepreneur pendiri dan CEO  Prelo. Prelo merupakan aplikasi marketplace e-commerce yang fokus untuk  pemberdayaan komunitas dan menggunakan teknologi.
Ada juga nama Muhamad Risyad Ganis dan Yohanes Sugihtononugroho yang  mendirikan Crowde. Itu merupakan sebuah platform penggalangan dana  investasi bagi para petani di daerah. Dengan platform ini para petani  mendapatkan akses pendanaan alternatif di luar perbankan dan rentenir.
Kemudian Iwan Kurniawan dan Reynold Wijaya. Mereka mendirikan  Modalku. Modalku adalah platform peer-to-peer (P2P) lending yang  beroperasi di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Platform ini menghubung kan pelaku UMKM yang layak kredit dengan pemberi pin jaman yang  mencari alternatif investasi melalui pasar digital. (Andika Hendra/ Yanto Kusdiantono) 
</content:encoded></item></channel></rss>
