<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jelang Ramadan Kredit Konsumsi Masih Tinggi, Ini Komentar Dirut BCA hingga BRI</title><description>Penyaluran kredit perbankan pada Februari 2018 tercatat sebesar Rp4.690,6 triliun atau tumbuh 8,2% (yoy) lebih tinggi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/02/320/1880849/jelang-ramadan-kredit-konsumsi-masih-tinggi-ini-komentar-dirut-bca-hingga-bri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/04/02/320/1880849/jelang-ramadan-kredit-konsumsi-masih-tinggi-ini-komentar-dirut-bca-hingga-bri"/><item><title>Jelang Ramadan Kredit Konsumsi Masih Tinggi, Ini Komentar Dirut BCA hingga BRI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/02/320/1880849/jelang-ramadan-kredit-konsumsi-masih-tinggi-ini-komentar-dirut-bca-hingga-bri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/04/02/320/1880849/jelang-ramadan-kredit-konsumsi-masih-tinggi-ini-komentar-dirut-bca-hingga-bri</guid><pubDate>Senin 02 April 2018 10:50 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/02/320/1880849/jelang-ramadan-kredit-konsumsi-masih-tinggi-ini-komentar-dirut-bca-hingga-bri-NX9uLTGOto.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Permintaan Kredit Masih Tinggi (Foto Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/02/320/1880849/jelang-ramadan-kredit-konsumsi-masih-tinggi-ini-komentar-dirut-bca-hingga-bri-NX9uLTGOto.jpg</image><title>Ilustrasi: Permintaan Kredit Masih Tinggi (Foto Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Penyaluran kredit perbankan pada Februari 2018 tercatat sebesar Rp4.690,6 triliun atau tumbuh 8,2% (yoy) lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 7,4% dari Rp4.661 triliun.

Pertumbuhan kredit tersebut didukung oleh peningkatan kredit pada golongan debitur korporasi dan perorangan yang masing-masing memiliki pangsa 41,4% dan 46,9% dari total kredit.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Agusman mengatakan, pertumbuhan kredit korporasi dan perorangan pada Februari 2018 masing-masing tercatat sebesar 7,3% (yoy) dan 9,4% (yoy) meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 6,4% (yoy) dan 9,1% (yoy).
&amp;nbsp;Baca Juga: Presiden Minta Perbankan Kucurkan Kredit untuk Perguruan Tinggi
Menurutnya, peningkatan pertumbuhan kredit perbankan tersebut terjadi pada kredit modal kerja (KMK) dan konsumsi (KK).

&amp;rdquo;KMK dan KK tumbuh meningkat masing-masing dari 7,2% (yoy) dan 10,4% (yoy) pada Januari 2018 menjadi 8,5% (yoy) dan 11,1% (yoy),&amp;rdquo; kata Agusman di Jakarta.

Dia mengatakan, pertumbuhan penyaluran kredit tersebut sejalan dengan penurunan indeks lending standard pada survei perbankan BI kuartal IV-2017, terutama pada aspek suku bunga yang lebih rendah, jangka waktu kredit yang panjang, serta biaya persetujuan kredit lebih murah.

Berdasarkan sektor ekonominya, perlambatan pertumbuhan KMK terjadi pada sektor industri pengolahan dan sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan masing-masing dari 3,1% (yoy) dan 7,5% (yoy) menjadi sebesar 6,8% (yoy) dan 7,9% (yoy).
&amp;nbsp;Baca Juga: BI: Kredit Perbankan Tumbuh 8% di Februari
Agusman mengungkapkan, peningkatan pertumbuhan sektor industri pengolahan terjadi pada golongan debitur korporasi nonfinansial untuk proyek yang berlokasi di Jawa Barat dan Sumatera Utara.

Sementara peningkatan pertumbuhan kredit sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan terutama untuk kredit yang disalurkan kepada korporasi pada proyek di Jawa Barat dan Banten.

&amp;rdquo;Kredit konsumsi tercatat tumbuh meningkat dari 10,4% (yoy) pada Januari 2018 menjadi 11,1% (yoy),&amp;rdquo; ungkap dia.

Menurut Agusman, peningkatan tersebut didorong oleh peningkatan kredit multiguna serta kepemilikan kendaraan bermotor (KKB) roda empat. Sedangkan pertumbuhan kredit investasi tumbuh stabil sebesar 4,6% pada Februari 2018.

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menambahkan, pertumbuhan kredit ke depan hingga Lebaran akan lebih didominasi oleh kredit konsumsi.

&amp;rdquo;Ini adalah pola musiman. Pada bulan Ramadan menjelang Lebaran konsumsi masyarakat umumnya meningkat signifikan,&amp;rdquo; kata Piter saat dihubungi, kemarin.

Dia mengatakan, kredit kendaraan bermotor biasanya akan meningkat.  Demikian juga pertumbuhan kredit konsumsi ini diharapkan akan bisa  memicu pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan kredit pada tahun ini diiringi  perbaikan harga komoditas akan membantu perbaikan kualitas kredit  perbankan.

&amp;rdquo;Kredit-kredit bermasalah di sektor pertambangan diharapkan akan kembali pulih karena membaiknya harga komoditas,&amp;rdquo; ujarnya.

Pengamat ekonomi Institute For Development of Economics and Finance  (Indef), Bhima Yudistira mengungkapkan, jika di lihat berdasarkan data  OJK, NPL trennya masih tinggi, yakni 2,88% per Februari 2018. hal ini  menunjukkan risiko penyaluran kreditnya tergolong tinggi.

Menurut Bhima, OJK perlu mempercepat proses restrukturisasi kredit  perbankan. Sebagian bank buku I dan 2 masih belum selesai menghapus  kredit macetnya sehingga ini berpengaruh pada kinerja kredit tahun ini.

&amp;rdquo;Sampai akhir tahun NPL ada di kisaran 2,7&amp;ndash;2,8%. Sedangkan untuk turunkan NPL butuh waktu yang lumayan lama,&amp;rdquo; kata dia.

Direktur BRI Haru Koesmahargyo menuturkan, pertumbuhan kredit BRI per  Februari 2018 sebesar 11%. Adapun hingga akhir tahun, BRI memproyeksi  sampai akhir tahun kredit bisa tumbuh 10&amp;ndash;12%.

Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja pun  memproyeksikan pertumbuhan kredit pada kuartal I-2018 masih sesuai  dengan perkiraan yaitu10%-15%. Sementara segmen yang mendorong  pertumbuhan, yakni kredit ritel dan korporasi.

Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, secara siklus  ekonomi memang pada kuartal I-2018 lebih rendah dibandingkan kuartal  IV-2017.

&amp;rdquo;Namun, jika dibandingkan kuartal I-2017 lalu, tahun ini lebih bagus,&amp;rdquo; kata Jahja.

Dia pun memperkirakan, sampai akhir tahun ini pertumbuhan kredit BCA  dapat naik sebesar 8%&amp;ndash;9%. Pertumbuhan kredit ini didorong oleh seluruh  segmen mulai korporasi, konsumer, KKB KPR, UMKM, serta komersial. (Kunthi Fahmar Sandy)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Penyaluran kredit perbankan pada Februari 2018 tercatat sebesar Rp4.690,6 triliun atau tumbuh 8,2% (yoy) lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 7,4% dari Rp4.661 triliun.

Pertumbuhan kredit tersebut didukung oleh peningkatan kredit pada golongan debitur korporasi dan perorangan yang masing-masing memiliki pangsa 41,4% dan 46,9% dari total kredit.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Agusman mengatakan, pertumbuhan kredit korporasi dan perorangan pada Februari 2018 masing-masing tercatat sebesar 7,3% (yoy) dan 9,4% (yoy) meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 6,4% (yoy) dan 9,1% (yoy).
&amp;nbsp;Baca Juga: Presiden Minta Perbankan Kucurkan Kredit untuk Perguruan Tinggi
Menurutnya, peningkatan pertumbuhan kredit perbankan tersebut terjadi pada kredit modal kerja (KMK) dan konsumsi (KK).

&amp;rdquo;KMK dan KK tumbuh meningkat masing-masing dari 7,2% (yoy) dan 10,4% (yoy) pada Januari 2018 menjadi 8,5% (yoy) dan 11,1% (yoy),&amp;rdquo; kata Agusman di Jakarta.

Dia mengatakan, pertumbuhan penyaluran kredit tersebut sejalan dengan penurunan indeks lending standard pada survei perbankan BI kuartal IV-2017, terutama pada aspek suku bunga yang lebih rendah, jangka waktu kredit yang panjang, serta biaya persetujuan kredit lebih murah.

Berdasarkan sektor ekonominya, perlambatan pertumbuhan KMK terjadi pada sektor industri pengolahan dan sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan masing-masing dari 3,1% (yoy) dan 7,5% (yoy) menjadi sebesar 6,8% (yoy) dan 7,9% (yoy).
&amp;nbsp;Baca Juga: BI: Kredit Perbankan Tumbuh 8% di Februari
Agusman mengungkapkan, peningkatan pertumbuhan sektor industri pengolahan terjadi pada golongan debitur korporasi nonfinansial untuk proyek yang berlokasi di Jawa Barat dan Sumatera Utara.

Sementara peningkatan pertumbuhan kredit sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan terutama untuk kredit yang disalurkan kepada korporasi pada proyek di Jawa Barat dan Banten.

&amp;rdquo;Kredit konsumsi tercatat tumbuh meningkat dari 10,4% (yoy) pada Januari 2018 menjadi 11,1% (yoy),&amp;rdquo; ungkap dia.

Menurut Agusman, peningkatan tersebut didorong oleh peningkatan kredit multiguna serta kepemilikan kendaraan bermotor (KKB) roda empat. Sedangkan pertumbuhan kredit investasi tumbuh stabil sebesar 4,6% pada Februari 2018.

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menambahkan, pertumbuhan kredit ke depan hingga Lebaran akan lebih didominasi oleh kredit konsumsi.

&amp;rdquo;Ini adalah pola musiman. Pada bulan Ramadan menjelang Lebaran konsumsi masyarakat umumnya meningkat signifikan,&amp;rdquo; kata Piter saat dihubungi, kemarin.

Dia mengatakan, kredit kendaraan bermotor biasanya akan meningkat.  Demikian juga pertumbuhan kredit konsumsi ini diharapkan akan bisa  memicu pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan kredit pada tahun ini diiringi  perbaikan harga komoditas akan membantu perbaikan kualitas kredit  perbankan.

&amp;rdquo;Kredit-kredit bermasalah di sektor pertambangan diharapkan akan kembali pulih karena membaiknya harga komoditas,&amp;rdquo; ujarnya.

Pengamat ekonomi Institute For Development of Economics and Finance  (Indef), Bhima Yudistira mengungkapkan, jika di lihat berdasarkan data  OJK, NPL trennya masih tinggi, yakni 2,88% per Februari 2018. hal ini  menunjukkan risiko penyaluran kreditnya tergolong tinggi.

Menurut Bhima, OJK perlu mempercepat proses restrukturisasi kredit  perbankan. Sebagian bank buku I dan 2 masih belum selesai menghapus  kredit macetnya sehingga ini berpengaruh pada kinerja kredit tahun ini.

&amp;rdquo;Sampai akhir tahun NPL ada di kisaran 2,7&amp;ndash;2,8%. Sedangkan untuk turunkan NPL butuh waktu yang lumayan lama,&amp;rdquo; kata dia.

Direktur BRI Haru Koesmahargyo menuturkan, pertumbuhan kredit BRI per  Februari 2018 sebesar 11%. Adapun hingga akhir tahun, BRI memproyeksi  sampai akhir tahun kredit bisa tumbuh 10&amp;ndash;12%.

Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja pun  memproyeksikan pertumbuhan kredit pada kuartal I-2018 masih sesuai  dengan perkiraan yaitu10%-15%. Sementara segmen yang mendorong  pertumbuhan, yakni kredit ritel dan korporasi.

Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, secara siklus  ekonomi memang pada kuartal I-2018 lebih rendah dibandingkan kuartal  IV-2017.

&amp;rdquo;Namun, jika dibandingkan kuartal I-2017 lalu, tahun ini lebih bagus,&amp;rdquo; kata Jahja.

Dia pun memperkirakan, sampai akhir tahun ini pertumbuhan kredit BCA  dapat naik sebesar 8%&amp;ndash;9%. Pertumbuhan kredit ini didorong oleh seluruh  segmen mulai korporasi, konsumer, KKB KPR, UMKM, serta komersial. (Kunthi Fahmar Sandy)</content:encoded></item></channel></rss>
