<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Geliat Ekspor Hasil Pertanian Jelang 4 Tahun Pemerintah Jokowi-JK</title><description>Kinerja ekspor berbagai komoditas strategis hasil pertanian  Indonesia terus meningkat menjelang 4 tahun Pemerintahan Presiden Jokowi-JK.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/04/320/1882180/geliat-ekspor-hasil-pertanian-jelang-4-tahun-pemerintah-jokowi-jk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/04/04/320/1882180/geliat-ekspor-hasil-pertanian-jelang-4-tahun-pemerintah-jokowi-jk"/><item><title>Geliat Ekspor Hasil Pertanian Jelang 4 Tahun Pemerintah Jokowi-JK</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/04/320/1882180/geliat-ekspor-hasil-pertanian-jelang-4-tahun-pemerintah-jokowi-jk</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/04/04/320/1882180/geliat-ekspor-hasil-pertanian-jelang-4-tahun-pemerintah-jokowi-jk</guid><pubDate>Rabu 04 April 2018 19:14 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/04/320/1882180/geliat-ekspor-hasil-pertanian-jelang-4-tahun-pemerintah-jokowi-jk-rGJIubF5Zn.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Kepala Bagian Humas Kementan Marihot M Panggabean (Foto: Kementan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/04/320/1882180/geliat-ekspor-hasil-pertanian-jelang-4-tahun-pemerintah-jokowi-jk-rGJIubF5Zn.jpeg</image><title>Kepala Bagian Humas Kementan Marihot M Panggabean (Foto: Kementan)</title></images><description>GELIAT kinerja ekspor berbagai jenis komoditas strategis hasil pertanian Indonesia terus meningkat selangkah demi selangkah secara positif menjelang 4 tahun Pemerintahan Presiden Jokowi-JK. Sebagai buah tangan dingin jajaran Pemerintahan Kabinet Kerja Presiden Jokowi- JK, terutama Kementerian Pertanian RI dan kerja sama dengan instansi terkait lainnya untuk mensejahterakan petani dan mengentaskan kemiskinan pada umumnya.
Di mana, semakin ke sini, semakin kerja keras selama lebih 3 tahun ini, semakin berbuah manis. Rentetan demi rentetan perjalanan ekspor komoditas pangan hasil petani yang pahlawan sebenarnya itu kian tampak dan semakin dirasakan para petani dan masyarakat pada Indonesia umumnya, tatkala Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kian gencar melepas ekspor. Semisal ekspor perdana Beras sebanyak 10 ton dari Merauke ke Papua Nugini, Senin (13/2/2017) ke Papua Nugini.
Baca Juga: Kementan dan BPK Konsultasi Persoalan Pangan
Bahwa jelas sudah, kemajuan pembangunan sektor pertanian di Merauke ini sesuai dengan nafas dari Nawacita Pemerintahan Presiden Jokowi-JK, yaitu membangun dari daerah pinggiran kemudian menuju ke tengah. Dan program ini menggairah para petani ke ladang.
Dalam pelepasan ekspor perdana sebanyak 1 truk Beras Premium tersebut, Amran berbangga karena ini merupakan sejarah baru sejak 72 tahun Indonesia merdeka. Selama ini beras untuk kebutuhan di Papua diambil dari provinsi lain. Biaya beras mahal lantaran biaya angkutan ditanggung masyarakat.
Produktivitas petani Merauke ini menunjukkan keberhasilan penggunaan teknologi pertanian. Biaya produksi padi turun 60 persen dari yang tadinya 3 juta rupiah per hektar ditekan menjadi 1,1 juta per hektar. Harga beras yang diekspor tersebut sangat efisien bagi Papua Nugini, karena separuh harga beras impor dari Filipina, Thailand dan Vietnam. Ekspor tersebut ditargetkan mencapai 10 ribu ton pada panen musim hujan 2017.
Baca Juga: Lahan Sawah di Jawa Paling Cepat Beralih ke Industri
Ekspor yang dilakukan dari Papua bukanlah satu-satunya, sebab hasil yang baik dari program lumbung pangan perbatasan juga dirasakan petani di Kabupaten Senggau, Kalimantan Barat. Beras premium sebanyak 25 ton berhasil diberangkatkan ke Malaysia pada Oktober 2017, sekaligus menepis keraguan sejumlah pihak yang mengatakan Pemerintah Indonesia akan kesulitan melakukan ekspor beras ke Malaysia lantaran harga Beras dalam negeri terlalu mahal.
Tampak Mentan Andi Amran Sulaiman, Gubernur Papua, Lukas Enembe, Bupati Merauke, Fredikus Gebze melepas ekspor perdana 10 Ton beras ke Papua Nugini di Merauke, Senin (13/2/2017).
Tak hanya wilayah perbatasan, keberhasilan Swasembada Beras juga menapaki jejaknya di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Beras organik sebanyak 771.981 ton mampu menyuplai kebutuhan berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, Kanada, Italia, Belgia, hingga Jerman. Januari 2018 lalu, 11 ton beras merah hasil budidaya petani organik di Bali, juga melakukan ekspor perdananya ke Amerika Serikat melalui Pelabuhan Laut Tanjung Perak, Surabaya.
Selain daerah tersebut, Kabupaten Nunukan, Kakbar tak mau ketinggalan. Daerah ini berhasil Ekspor Beras Organik dari Krayan, bersertifikat dari Kemenkum Ham ke Malaysia 11.900 ton per tahun ke negara jiran Malaysia.Sederet ekspor beras yang dilakukan Indonesia ini merupakan bukti  keseriusan Kementerian Pertanian untuk mencapai visi swasembada pangan,  dan meningkatkan kesejahteraan petani. Melalui berbagai program untuk  peningkatan produktivitas pertanian, modernisasi pertanian, dan skema  kesejahteraan petani terus didorong untuk mencapai hasil yang maksimal.
Jagung :
Sejarah telah menoreh tinta emas karena sejak dulu Indonesia dikenal  Impor dan ImporJjagung. Ironi memang lahan yang luas dan subur Indonesia  impor jagung yang mudah tumbuhnya. Sejarah juga mencatat bahwa terakhir  Indonesia Impor Jagung 3,6 juta ton (memilukan) dan kini bangsa  Indonesia bisa berbangga, khususnya petani karena kita ekspor jagung ke  Filipina. Bulan Februari 57.650 ton dari target 100.000 ton dari  Gorontalo dan Awal Maret Indonesia kembali ekspor sebanyak 6700 ton dari  target 60.000 ton Jagung dari Sulawesi Selatan tepatnya dari pelabuhan  soetta. Melalui ekspor ini diharapkan kesejahteraan petani meningkat  karena harga akan tetap terjaga (HPP Jagung Rp. 3150) dan di tingkat  petani bisa lebih tinggi lagi, jika harga jatuh akan dibeli Bulog sesuai  HPP.
Sebagai catatan, Januari &amp;ndash; Agustus 2017, tercatat volume ekspor ke  negara tetangga mencapai 1.782 ton. Disusul dari Pelabuhan Ekspor  Soetta, Makassar (Sulsel), ke Philipina 60.000, ton. Dari Sumbawa NTT  sebanyak 15.000 Ton. Tercatat tren terbesar ekspor Jagung Indonesia dari  daerah Gorontalo sebanyak 57000 ton, dan juga perdagangan antar pulau  antar Petani Jagung Gorontalo sebanyak 10.015 ton ke Banten dan  Surabaya. Dan sebelumnya pada tahun 2015, Gorontalo ekspor Jagung  250.000 ton ke Filipina.
Ekspor Bawang Merah :
Brebes, Jawa Tengah, 18 Agustus, 500 ton. Surabaya, Jawa Timur, 28  Agustus, 247,5 ton ke Singapura. Pos Lintas Batas Negara (PLBN)  Motamasin, Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), 12 Oktober, ke Timor Leste  30 ton dari target 200 ton. Cirebon, Jabar, per 29 Juli-11 Oktober 2017  mencapai 1.151 ton ke Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura.  Tanjung Perak Surabaya, Jatim, 1.731 ton ke Malaysia, Thailand,  Singapura, dan Vietnam. 30 Ton Bawang Merah Organik Atambua, Nusa  Tenggara Timur (NTT) memasuki pasar eksport ke Timor Leste, Kamis  (12/10/2017).Dari daerah Sulawesi Selatan yakni sebanyak 90 Ton Bawang Merah   Enrekang terbang ke Vietnam. Juga disusul ekspor 9 kontainer (247,5 ton)   dengan nilai mencapai USD 436.500 atau setara dengan Rp4,7 milyar dari   Surabaya ke Thailand dan Singapura. Sementara itu berdasarkan data  BPS,  Indonesia sejak Januari -Juli 2017 Indonesia telah mengekspor  Bawang  Merah ke beberapa negara sahabat. Volumenya mencapai 657,3 ton.   Sebelumnya, di tahun 2016 BOS menunjukkan total ekspor Bawang Merah   735,7 ton dan tidak ada impor (NOL). Negara tujuan ekspor Bawang Merah   Indonesia terbanyak ke Thailand, Vietnam, Taiwan, Malaysia, Singapura,   Timor Leste dan negara lainnya. Pada 2014 hanya 4.439 ton, tahun 2015   Januari-November 2015 sebesar 8.323 ton atau naik 93% dibandingkan   periode yang sama tahun 2014.
Ekspor Buah :
Selain beras, Indonesia juga mendorong ekspor komoditas lain termasuk   buah. Jawa Barat misalnya telah mengekspor manggis dengan kuantitas   yang cukup besar setiap tahunnya, yakni mencapai rata-rata 2.000 ton.   Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian mencatat sejak keran   ekspor Manggis dibuka pada 11 Desember 2017 silam, harganya meningkat   tajam beberapa kali lipat dari yang sebelumnya Rp.5.000-Rp.8.000 per   kilogram, kini sudah mencapai Rp.30.000 per kilogram. Menjadi insentif   dan menciptakan nilai tambah bagi petani di beberapa sentra manggis baik   di Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara Barat. Pasar manggis dari   Indonesia cukup besar termasuk di dalamnya Tiongkok, Thailand, Malaysia,   Vietnam, Uni Emirat Arab, Perancis, Belanda, Arab Saudi, Oman, Qatar,   dan Hong Kong.
Selain Manggis, Kementerian Pertanian juga tengah mendorong ekspor   buah nanas dan buah naga ke Tiongkok mengingat ada permintaan cukup   besar pada komoditas tersebut. Peluang ekspor semakin besar karena tidak   ada batasan kuota yang ditetapkan.
Kementerian Pertanian berharap permintaan Tiongkok tersebut akan   menambah segmentasi pasar ekspor sebesar 10 persen, khususnya pada   produk pertanian dan pangan bisa terpenuhi. Permintaan itu disampaikan   karena Tiongkok juga tengah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui   konsumsi pangan masyarakatnya. Dorongan ini juga dilakukan dengan   menginisiasi program in line inspection karantina, yakni kesatuan sistem   pengawasan dari hulu hingga hilir meliputi penilaian benih unggul,   teknik budi daya yang baik (Good Agricultural Practice) dan penanganan   pasca panen yang baik (Good Handling Practice) guna mencegah adanya   cemaran hama penyakit sejak dari kebun.
Untuk mendorong ekspor, Indonesia juga meningkatkan pertemuan dengan   negara negara besar/tetangga seperti pertemuan Indonesia-Australia   khusus kelompok kerja pertanian, pangan dan kehutanan (Working Group on   Agriculture, Food and Forestry Cooperation, WGAFFC) ke-21 tanggal 14-15   Februari 2018 yang lalu di Meulbourne. Juga melakukan pertukaran  e-Cert  RI-Australia Percepat Urusan Dokumen.
Peningkatan akses pasar buah segar Indonesia ke Australia antara lain   Mangga dan Buah Naga menjadi agenda pertemuan dan berhasil mencapai   kata sepakat. Untuk menjamin kualitas ekspor, Indonesia telah   memanfaatkan teknologi iradiasi untuk menjamin kesehatan mangga yang di   ekspor ke Australia dan Indonesia akan menerima benih kentang dari  South  Australia dan Victoria.Selain mangga dan manggis, Indonesia juga telah melakukan ekspor    perdana salak pondoh sebanyak 100 kg atau 0,1 ton ke Selandia Baru.    Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian telah melakukan    fasilitasi dan negosiasi dengan Ministry of Primary Industry (MPI) New    Zealand untuk mendapatkan akses pasar salak ke Selandia Baru.  Penyiapan   kebun registrasi sudah dilakukan untuk mendorong hal  tersebut, selain   juga rumah kemas (packing house) registrasi, prosedur  pelayanan   sertifikasi phyosanitary, serta audit lapangan oleh Tim  Ahli MPI   Selandia Baru, hingga akhirnya dikeluarkan Import Health  Standard (IHS):   Fresh Salacca for Human Consumption pada tanggal 9  Juni 2017 yang  lalu.
Di sektor perkebunan provinsi Sulawesi Utara juga telah mengekspor    komoditas pala ke Amerika Serikat (AS) sejak Mei 2016 dan permintaan    komoditas ini cukup tinggi dari negara Paman Sam. Produk turunan pala    yang diekspor ke AS yakni biji pala dan bunga pala. Dari data Dinas    Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Utara biji pala yang diekspor ke    AS sebanyak tujuh ton dan mampu menghasilkan devisa sebesar USD37.800.    Kemudian bunga pala yang diekspor ke AS sebanyak lima ton dengan    sumbangan devisa sebesar USD53.000.
Dalam hal ini pemerintah masih terus mendorong ekspor bahan-bahan    pangan dari wilayah perbatasan sebagai perwujudan visi membangun    Indonesia dari daerah terdepan dan terluar nusantara.
Sektor Peternakan :
Sektor peternakan tidak ketinggalan dari komoditas lain, ekspor    perdana Daging Sapi Wagyu produksi Indonesia ke Myanmar telah dilakukan    pada Rabu (7/2). Kementerian Pertanian berharap, kelangsungan ekspor    akan mampu membuka pasar internasional, khususnya komoditas pertanian.
Saat ini Indonesia telah mampu membuka pasar ke negara lain. Dan ini    bukan hal mudah mendapatkan persetujuan dari negara calon pengimpor.    Sebab, daging sapi hidup harus berasal dari peternakan yang telah    menerapkan prinsip-prinsip kesejahteraan hewan.Selain itu, peternakan tersebut harus mendapatkan jaminan keamanan     pangan berupa Sertifikat Veteriner yang diterbitkan Direktorat Jenderal     Peternakan dan Kesehatan Hewan, Direktorat Kesehatan Masyarakat     Veteriner.
&amp;ldquo;Kita berharap agar ekspor Daging Wagyu tidak hanya ke Myanmar saja,     tapi juga menembus negara lain. Menyusul keberhasilan Indonesia     mengekspor telur ayam tetas dan susu ke Myanmar serta daging ayam olahan     ke PNG&amp;rdquo;, ucap Ketut.
Saat ini pemerintah juga kembali membuka keran ekspor produk Ayam     Olahan Indonesia setelah vakum sejak 2003, menyusul merebaknya wabah Flu     Burung atau Avian Influenza di Tanah Air. Untuk tahap awal,  Indonesia    beberapa waktu lalu mengekspor produk ayam ke negara  tetangga, Papua    Nugini.
Ekspor perdana produk ayam ini merupakan tindak lanjut dari     kesepakatan Karantina Indonesia dan Papua Nugini, terkait dengan     protokol tindakan karantina pemasukan dan pengeluaran produk pangan dan     pertanian ke dua negara tersebut.
5.999,25 kilogram (kg) dalam 1.000 karton milik PT Charoen Pokphand     Indonesia, telah dikapalkan ke negara tujuan. Setelah Badan Karantina     Pertanian, selaku penjamin kesehatan dan keamanan produk hewan ini,     melakukan berbagai pemeriksaan fisik dan tindakan karantina lainnya,     sesuai persyaratan yang diminta negara tujuan.
Hal lain yang membanggakan juga adalah Kementan sejak 2016 mampu     mendorong ekspor telur ayam tetas ke Myanmar sebesar 450,128 ton. Selain     itu, ekspor sarang walet sebesar 19,39 ton dengan nilai USD7,5  miliar    telah masuk ke Tiongkok. Begitu pula ekspor ayam beku asal  Indonesia    telah mendapat persetujuan khususnya standar sanitary and   phytosanitary   (SPS) dari negara Jepang dan Korea Selatan.
Bahkan, telah mengekspor bawang merah hingga ke enam negara, di antaranya Timor Leste, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei.
Apa yang telah dicapai Kementerian Pertanian ini telah diapresiasi     oleh FAO yang disampaikan oleh Asisten Dirjen Food and Agriculture     Organization kepala FAO Regional Bangkok Kundhavi Kadiresan.
Pemerintahan Presiden Jokowi-JK sejak dan hingga memasuki tahun ke     empat pemerintahan Kabinet Kerja, Indonesia terus bergegas,     menyingsingkan lengan bajunya untuk meningkatkan kinerja sektor     pertanian, meningkatkan kesejahteraan jutaan petani, mengentaskan     kemiskinan, mendorong pertumbuhan nilai dan volume ekspor komoditas     unggulan nasional.
Bahwa Indonesia pada tahun 2045 diproyeksikan akan menjadi lumbung     pangan dunia. Semoga apa yang telah digagas oleh Andi Amran Sulaiman     dapat tercapai.
Kepala Bagian Humas Kementerian Pertanian
 
Marihot M Panggabean</description><content:encoded>GELIAT kinerja ekspor berbagai jenis komoditas strategis hasil pertanian Indonesia terus meningkat selangkah demi selangkah secara positif menjelang 4 tahun Pemerintahan Presiden Jokowi-JK. Sebagai buah tangan dingin jajaran Pemerintahan Kabinet Kerja Presiden Jokowi- JK, terutama Kementerian Pertanian RI dan kerja sama dengan instansi terkait lainnya untuk mensejahterakan petani dan mengentaskan kemiskinan pada umumnya.
Di mana, semakin ke sini, semakin kerja keras selama lebih 3 tahun ini, semakin berbuah manis. Rentetan demi rentetan perjalanan ekspor komoditas pangan hasil petani yang pahlawan sebenarnya itu kian tampak dan semakin dirasakan para petani dan masyarakat pada Indonesia umumnya, tatkala Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kian gencar melepas ekspor. Semisal ekspor perdana Beras sebanyak 10 ton dari Merauke ke Papua Nugini, Senin (13/2/2017) ke Papua Nugini.
Baca Juga: Kementan dan BPK Konsultasi Persoalan Pangan
Bahwa jelas sudah, kemajuan pembangunan sektor pertanian di Merauke ini sesuai dengan nafas dari Nawacita Pemerintahan Presiden Jokowi-JK, yaitu membangun dari daerah pinggiran kemudian menuju ke tengah. Dan program ini menggairah para petani ke ladang.
Dalam pelepasan ekspor perdana sebanyak 1 truk Beras Premium tersebut, Amran berbangga karena ini merupakan sejarah baru sejak 72 tahun Indonesia merdeka. Selama ini beras untuk kebutuhan di Papua diambil dari provinsi lain. Biaya beras mahal lantaran biaya angkutan ditanggung masyarakat.
Produktivitas petani Merauke ini menunjukkan keberhasilan penggunaan teknologi pertanian. Biaya produksi padi turun 60 persen dari yang tadinya 3 juta rupiah per hektar ditekan menjadi 1,1 juta per hektar. Harga beras yang diekspor tersebut sangat efisien bagi Papua Nugini, karena separuh harga beras impor dari Filipina, Thailand dan Vietnam. Ekspor tersebut ditargetkan mencapai 10 ribu ton pada panen musim hujan 2017.
Baca Juga: Lahan Sawah di Jawa Paling Cepat Beralih ke Industri
Ekspor yang dilakukan dari Papua bukanlah satu-satunya, sebab hasil yang baik dari program lumbung pangan perbatasan juga dirasakan petani di Kabupaten Senggau, Kalimantan Barat. Beras premium sebanyak 25 ton berhasil diberangkatkan ke Malaysia pada Oktober 2017, sekaligus menepis keraguan sejumlah pihak yang mengatakan Pemerintah Indonesia akan kesulitan melakukan ekspor beras ke Malaysia lantaran harga Beras dalam negeri terlalu mahal.
Tampak Mentan Andi Amran Sulaiman, Gubernur Papua, Lukas Enembe, Bupati Merauke, Fredikus Gebze melepas ekspor perdana 10 Ton beras ke Papua Nugini di Merauke, Senin (13/2/2017).
Tak hanya wilayah perbatasan, keberhasilan Swasembada Beras juga menapaki jejaknya di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Beras organik sebanyak 771.981 ton mampu menyuplai kebutuhan berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, Kanada, Italia, Belgia, hingga Jerman. Januari 2018 lalu, 11 ton beras merah hasil budidaya petani organik di Bali, juga melakukan ekspor perdananya ke Amerika Serikat melalui Pelabuhan Laut Tanjung Perak, Surabaya.
Selain daerah tersebut, Kabupaten Nunukan, Kakbar tak mau ketinggalan. Daerah ini berhasil Ekspor Beras Organik dari Krayan, bersertifikat dari Kemenkum Ham ke Malaysia 11.900 ton per tahun ke negara jiran Malaysia.Sederet ekspor beras yang dilakukan Indonesia ini merupakan bukti  keseriusan Kementerian Pertanian untuk mencapai visi swasembada pangan,  dan meningkatkan kesejahteraan petani. Melalui berbagai program untuk  peningkatan produktivitas pertanian, modernisasi pertanian, dan skema  kesejahteraan petani terus didorong untuk mencapai hasil yang maksimal.
Jagung :
Sejarah telah menoreh tinta emas karena sejak dulu Indonesia dikenal  Impor dan ImporJjagung. Ironi memang lahan yang luas dan subur Indonesia  impor jagung yang mudah tumbuhnya. Sejarah juga mencatat bahwa terakhir  Indonesia Impor Jagung 3,6 juta ton (memilukan) dan kini bangsa  Indonesia bisa berbangga, khususnya petani karena kita ekspor jagung ke  Filipina. Bulan Februari 57.650 ton dari target 100.000 ton dari  Gorontalo dan Awal Maret Indonesia kembali ekspor sebanyak 6700 ton dari  target 60.000 ton Jagung dari Sulawesi Selatan tepatnya dari pelabuhan  soetta. Melalui ekspor ini diharapkan kesejahteraan petani meningkat  karena harga akan tetap terjaga (HPP Jagung Rp. 3150) dan di tingkat  petani bisa lebih tinggi lagi, jika harga jatuh akan dibeli Bulog sesuai  HPP.
Sebagai catatan, Januari &amp;ndash; Agustus 2017, tercatat volume ekspor ke  negara tetangga mencapai 1.782 ton. Disusul dari Pelabuhan Ekspor  Soetta, Makassar (Sulsel), ke Philipina 60.000, ton. Dari Sumbawa NTT  sebanyak 15.000 Ton. Tercatat tren terbesar ekspor Jagung Indonesia dari  daerah Gorontalo sebanyak 57000 ton, dan juga perdagangan antar pulau  antar Petani Jagung Gorontalo sebanyak 10.015 ton ke Banten dan  Surabaya. Dan sebelumnya pada tahun 2015, Gorontalo ekspor Jagung  250.000 ton ke Filipina.
Ekspor Bawang Merah :
Brebes, Jawa Tengah, 18 Agustus, 500 ton. Surabaya, Jawa Timur, 28  Agustus, 247,5 ton ke Singapura. Pos Lintas Batas Negara (PLBN)  Motamasin, Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), 12 Oktober, ke Timor Leste  30 ton dari target 200 ton. Cirebon, Jabar, per 29 Juli-11 Oktober 2017  mencapai 1.151 ton ke Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura.  Tanjung Perak Surabaya, Jatim, 1.731 ton ke Malaysia, Thailand,  Singapura, dan Vietnam. 30 Ton Bawang Merah Organik Atambua, Nusa  Tenggara Timur (NTT) memasuki pasar eksport ke Timor Leste, Kamis  (12/10/2017).Dari daerah Sulawesi Selatan yakni sebanyak 90 Ton Bawang Merah   Enrekang terbang ke Vietnam. Juga disusul ekspor 9 kontainer (247,5 ton)   dengan nilai mencapai USD 436.500 atau setara dengan Rp4,7 milyar dari   Surabaya ke Thailand dan Singapura. Sementara itu berdasarkan data  BPS,  Indonesia sejak Januari -Juli 2017 Indonesia telah mengekspor  Bawang  Merah ke beberapa negara sahabat. Volumenya mencapai 657,3 ton.   Sebelumnya, di tahun 2016 BOS menunjukkan total ekspor Bawang Merah   735,7 ton dan tidak ada impor (NOL). Negara tujuan ekspor Bawang Merah   Indonesia terbanyak ke Thailand, Vietnam, Taiwan, Malaysia, Singapura,   Timor Leste dan negara lainnya. Pada 2014 hanya 4.439 ton, tahun 2015   Januari-November 2015 sebesar 8.323 ton atau naik 93% dibandingkan   periode yang sama tahun 2014.
Ekspor Buah :
Selain beras, Indonesia juga mendorong ekspor komoditas lain termasuk   buah. Jawa Barat misalnya telah mengekspor manggis dengan kuantitas   yang cukup besar setiap tahunnya, yakni mencapai rata-rata 2.000 ton.   Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian mencatat sejak keran   ekspor Manggis dibuka pada 11 Desember 2017 silam, harganya meningkat   tajam beberapa kali lipat dari yang sebelumnya Rp.5.000-Rp.8.000 per   kilogram, kini sudah mencapai Rp.30.000 per kilogram. Menjadi insentif   dan menciptakan nilai tambah bagi petani di beberapa sentra manggis baik   di Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara Barat. Pasar manggis dari   Indonesia cukup besar termasuk di dalamnya Tiongkok, Thailand, Malaysia,   Vietnam, Uni Emirat Arab, Perancis, Belanda, Arab Saudi, Oman, Qatar,   dan Hong Kong.
Selain Manggis, Kementerian Pertanian juga tengah mendorong ekspor   buah nanas dan buah naga ke Tiongkok mengingat ada permintaan cukup   besar pada komoditas tersebut. Peluang ekspor semakin besar karena tidak   ada batasan kuota yang ditetapkan.
Kementerian Pertanian berharap permintaan Tiongkok tersebut akan   menambah segmentasi pasar ekspor sebesar 10 persen, khususnya pada   produk pertanian dan pangan bisa terpenuhi. Permintaan itu disampaikan   karena Tiongkok juga tengah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui   konsumsi pangan masyarakatnya. Dorongan ini juga dilakukan dengan   menginisiasi program in line inspection karantina, yakni kesatuan sistem   pengawasan dari hulu hingga hilir meliputi penilaian benih unggul,   teknik budi daya yang baik (Good Agricultural Practice) dan penanganan   pasca panen yang baik (Good Handling Practice) guna mencegah adanya   cemaran hama penyakit sejak dari kebun.
Untuk mendorong ekspor, Indonesia juga meningkatkan pertemuan dengan   negara negara besar/tetangga seperti pertemuan Indonesia-Australia   khusus kelompok kerja pertanian, pangan dan kehutanan (Working Group on   Agriculture, Food and Forestry Cooperation, WGAFFC) ke-21 tanggal 14-15   Februari 2018 yang lalu di Meulbourne. Juga melakukan pertukaran  e-Cert  RI-Australia Percepat Urusan Dokumen.
Peningkatan akses pasar buah segar Indonesia ke Australia antara lain   Mangga dan Buah Naga menjadi agenda pertemuan dan berhasil mencapai   kata sepakat. Untuk menjamin kualitas ekspor, Indonesia telah   memanfaatkan teknologi iradiasi untuk menjamin kesehatan mangga yang di   ekspor ke Australia dan Indonesia akan menerima benih kentang dari  South  Australia dan Victoria.Selain mangga dan manggis, Indonesia juga telah melakukan ekspor    perdana salak pondoh sebanyak 100 kg atau 0,1 ton ke Selandia Baru.    Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian telah melakukan    fasilitasi dan negosiasi dengan Ministry of Primary Industry (MPI) New    Zealand untuk mendapatkan akses pasar salak ke Selandia Baru.  Penyiapan   kebun registrasi sudah dilakukan untuk mendorong hal  tersebut, selain   juga rumah kemas (packing house) registrasi, prosedur  pelayanan   sertifikasi phyosanitary, serta audit lapangan oleh Tim  Ahli MPI   Selandia Baru, hingga akhirnya dikeluarkan Import Health  Standard (IHS):   Fresh Salacca for Human Consumption pada tanggal 9  Juni 2017 yang  lalu.
Di sektor perkebunan provinsi Sulawesi Utara juga telah mengekspor    komoditas pala ke Amerika Serikat (AS) sejak Mei 2016 dan permintaan    komoditas ini cukup tinggi dari negara Paman Sam. Produk turunan pala    yang diekspor ke AS yakni biji pala dan bunga pala. Dari data Dinas    Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Utara biji pala yang diekspor ke    AS sebanyak tujuh ton dan mampu menghasilkan devisa sebesar USD37.800.    Kemudian bunga pala yang diekspor ke AS sebanyak lima ton dengan    sumbangan devisa sebesar USD53.000.
Dalam hal ini pemerintah masih terus mendorong ekspor bahan-bahan    pangan dari wilayah perbatasan sebagai perwujudan visi membangun    Indonesia dari daerah terdepan dan terluar nusantara.
Sektor Peternakan :
Sektor peternakan tidak ketinggalan dari komoditas lain, ekspor    perdana Daging Sapi Wagyu produksi Indonesia ke Myanmar telah dilakukan    pada Rabu (7/2). Kementerian Pertanian berharap, kelangsungan ekspor    akan mampu membuka pasar internasional, khususnya komoditas pertanian.
Saat ini Indonesia telah mampu membuka pasar ke negara lain. Dan ini    bukan hal mudah mendapatkan persetujuan dari negara calon pengimpor.    Sebab, daging sapi hidup harus berasal dari peternakan yang telah    menerapkan prinsip-prinsip kesejahteraan hewan.Selain itu, peternakan tersebut harus mendapatkan jaminan keamanan     pangan berupa Sertifikat Veteriner yang diterbitkan Direktorat Jenderal     Peternakan dan Kesehatan Hewan, Direktorat Kesehatan Masyarakat     Veteriner.
&amp;ldquo;Kita berharap agar ekspor Daging Wagyu tidak hanya ke Myanmar saja,     tapi juga menembus negara lain. Menyusul keberhasilan Indonesia     mengekspor telur ayam tetas dan susu ke Myanmar serta daging ayam olahan     ke PNG&amp;rdquo;, ucap Ketut.
Saat ini pemerintah juga kembali membuka keran ekspor produk Ayam     Olahan Indonesia setelah vakum sejak 2003, menyusul merebaknya wabah Flu     Burung atau Avian Influenza di Tanah Air. Untuk tahap awal,  Indonesia    beberapa waktu lalu mengekspor produk ayam ke negara  tetangga, Papua    Nugini.
Ekspor perdana produk ayam ini merupakan tindak lanjut dari     kesepakatan Karantina Indonesia dan Papua Nugini, terkait dengan     protokol tindakan karantina pemasukan dan pengeluaran produk pangan dan     pertanian ke dua negara tersebut.
5.999,25 kilogram (kg) dalam 1.000 karton milik PT Charoen Pokphand     Indonesia, telah dikapalkan ke negara tujuan. Setelah Badan Karantina     Pertanian, selaku penjamin kesehatan dan keamanan produk hewan ini,     melakukan berbagai pemeriksaan fisik dan tindakan karantina lainnya,     sesuai persyaratan yang diminta negara tujuan.
Hal lain yang membanggakan juga adalah Kementan sejak 2016 mampu     mendorong ekspor telur ayam tetas ke Myanmar sebesar 450,128 ton. Selain     itu, ekspor sarang walet sebesar 19,39 ton dengan nilai USD7,5  miliar    telah masuk ke Tiongkok. Begitu pula ekspor ayam beku asal  Indonesia    telah mendapat persetujuan khususnya standar sanitary and   phytosanitary   (SPS) dari negara Jepang dan Korea Selatan.
Bahkan, telah mengekspor bawang merah hingga ke enam negara, di antaranya Timor Leste, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei.
Apa yang telah dicapai Kementerian Pertanian ini telah diapresiasi     oleh FAO yang disampaikan oleh Asisten Dirjen Food and Agriculture     Organization kepala FAO Regional Bangkok Kundhavi Kadiresan.
Pemerintahan Presiden Jokowi-JK sejak dan hingga memasuki tahun ke     empat pemerintahan Kabinet Kerja, Indonesia terus bergegas,     menyingsingkan lengan bajunya untuk meningkatkan kinerja sektor     pertanian, meningkatkan kesejahteraan jutaan petani, mengentaskan     kemiskinan, mendorong pertumbuhan nilai dan volume ekspor komoditas     unggulan nasional.
Bahwa Indonesia pada tahun 2045 diproyeksikan akan menjadi lumbung     pangan dunia. Semoga apa yang telah digagas oleh Andi Amran Sulaiman     dapat tercapai.
Kepala Bagian Humas Kementerian Pertanian
 
Marihot M Panggabean</content:encoded></item></channel></rss>
