<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mal Kelas Atas Tidak Terpengaruh Adanya Belanja Online   </title><description>Mayoritas barang-barang yang dijual di toko online merupakan barang-barang khusus kelas menengah ke bawah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/04/470/1882129/mal-kelas-atas-tidak-terpengaruh-adanya-belanja-online</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/04/04/470/1882129/mal-kelas-atas-tidak-terpengaruh-adanya-belanja-online"/><item><title>Mal Kelas Atas Tidak Terpengaruh Adanya Belanja Online   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/04/470/1882129/mal-kelas-atas-tidak-terpengaruh-adanya-belanja-online</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/04/04/470/1882129/mal-kelas-atas-tidak-terpengaruh-adanya-belanja-online</guid><pubDate>Rabu 04 April 2018 17:30 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/04/470/1882129/mal-kelas-atas-tidak-terpengaruh-adanya-belanja-online-mDRtfpq3wi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Belanja Online. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/04/470/1882129/mal-kelas-atas-tidak-terpengaruh-adanya-belanja-online-mDRtfpq3wi.jpg</image><title>Ilustrasi Belanja Online. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Rentetan toko offline pada ritel modern satu persatu mulai menutup tokonya di sepanjang tahun 2017.  Banyak yang beranggapan jika tutupnya beberapa toko pada ritel disebabkan karena adanya shifting menuju online atau e-commerce.

Senior Associate Director of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan ada online shop tidak berpengaruh terhadap bisnis mal kelas atas. Pasalnya, mayoritas barang-barang yang dijual di toko online merupakan barang-barang khusus kelas menengah ke bawah.

Selain itu, stok barang yang tersedia di online shop juga reaktif terbatas. Hal tersebut justru berbanding terbalik dengan mal-mal kelas atas yang menyediakan barang-barang dengan berbagai pilihan yang tentunya tidak dijual di toko online.

&quot;Jadi kalau dilihat disini terutama yang online shopping ini kalau mal kelas atas enggak akan berpengaruh. Karena yang beli online itu kalangan menengah kebawah. Jadi kalau highend itu tidak ke online shopping,&quot; ujarnya di Jakarta, Rabu (4/4/2018).
Baca Juga:&amp;nbsp;BPS: Data&amp;nbsp;E-Commerce&amp;nbsp;Belum Lengkap

Selain itu lanjut Ferry, mal-mal kelas atas juga menyediakan beberapa fasilitas hiburan yang tidak dimiliki online shopping. Seperti, fasilitas food court, area bermain anak ataupun ruang berkumpul lainya, yang bisa memicu masyarakat memilih berbelanja di mal dibandingkan online.

&quot;Mal menawarkan experience dan harus menjadi berkumpulnya komunitas. Kaya lihat tren di office itu kan menarik komunitas,&quot; ucapnya.

Selain itu lanjut Ferry, mal-mal kelas atas juga selalu melakukan pergantian dinamis terhadap tenang-tenang yang ada. Sehingga masyarakat yang datang selalu punya pilihan baru dan tidak akan merasa bosan.

&quot;Kalau dilihat kondisi sekarang mal itu harus dinamis untuk bisa menghadapi persaingan dengan online shopping. Jadi pergantian tenant itu harus dilakukan pergantian secara berkala,&quot; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Rentetan toko offline pada ritel modern satu persatu mulai menutup tokonya di sepanjang tahun 2017.  Banyak yang beranggapan jika tutupnya beberapa toko pada ritel disebabkan karena adanya shifting menuju online atau e-commerce.

Senior Associate Director of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan ada online shop tidak berpengaruh terhadap bisnis mal kelas atas. Pasalnya, mayoritas barang-barang yang dijual di toko online merupakan barang-barang khusus kelas menengah ke bawah.

Selain itu, stok barang yang tersedia di online shop juga reaktif terbatas. Hal tersebut justru berbanding terbalik dengan mal-mal kelas atas yang menyediakan barang-barang dengan berbagai pilihan yang tentunya tidak dijual di toko online.

&quot;Jadi kalau dilihat disini terutama yang online shopping ini kalau mal kelas atas enggak akan berpengaruh. Karena yang beli online itu kalangan menengah kebawah. Jadi kalau highend itu tidak ke online shopping,&quot; ujarnya di Jakarta, Rabu (4/4/2018).
Baca Juga:&amp;nbsp;BPS: Data&amp;nbsp;E-Commerce&amp;nbsp;Belum Lengkap

Selain itu lanjut Ferry, mal-mal kelas atas juga menyediakan beberapa fasilitas hiburan yang tidak dimiliki online shopping. Seperti, fasilitas food court, area bermain anak ataupun ruang berkumpul lainya, yang bisa memicu masyarakat memilih berbelanja di mal dibandingkan online.

&quot;Mal menawarkan experience dan harus menjadi berkumpulnya komunitas. Kaya lihat tren di office itu kan menarik komunitas,&quot; ucapnya.

Selain itu lanjut Ferry, mal-mal kelas atas juga selalu melakukan pergantian dinamis terhadap tenang-tenang yang ada. Sehingga masyarakat yang datang selalu punya pilihan baru dan tidak akan merasa bosan.

&quot;Kalau dilihat kondisi sekarang mal itu harus dinamis untuk bisa menghadapi persaingan dengan online shopping. Jadi pergantian tenant itu harus dilakukan pergantian secara berkala,&quot; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
