<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Atasi Masalah Sampah Plastik, Jadikan Bahan Campuran Aspal</title><description>Salah satu solusi mengatasi sampah plastik adalah menjadikan bahan campuran aspal sebab  dapat membuat aspal jadi lebih awet.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/08/320/1883728/atasi-masalah-sampah-plastik-jadikan-bahan-campuran-aspal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/04/08/320/1883728/atasi-masalah-sampah-plastik-jadikan-bahan-campuran-aspal"/><item><title>Atasi Masalah Sampah Plastik, Jadikan Bahan Campuran Aspal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/08/320/1883728/atasi-masalah-sampah-plastik-jadikan-bahan-campuran-aspal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/04/08/320/1883728/atasi-masalah-sampah-plastik-jadikan-bahan-campuran-aspal</guid><pubDate>Minggu 08 April 2018 15:14 WIB</pubDate><dc:creator>Kurniasih Miftakhul Jannah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/08/320/1883728/atasi-masalah-sampah-plastik-jadikan-bahan-campuran-aspal-pKoVab7OW2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/08/320/1883728/atasi-masalah-sampah-plastik-jadikan-bahan-campuran-aspal-pKoVab7OW2.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Rencana pemerintah memberlakukan cukai plastik dalam waktu dekat dinilai sejumlah kalangan tidak akan menyelesaikan permasalahan sampah plastik. Alih-alih bisa mengurangi sampah plastik, cukai dinilai dapat meningkatkan biaya yang ditanggung pelaku usaha setelah sebelumnya pemerintah menaikkan tarif listrik dan gas untuk industri. Hal itu tentunya akan memperlemah daya saing produk nasional ditengah perlambatan ekonomi dan perang dagang global.Salah satu solusi jitu mengatasi sampah plastik, seperti yang dipaparkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR), pada seminar nasional bertajuk &quot;Inovasi Teknologi Polimer dan Energi&quot; pekan lalu. Balitbang Kementerian tersebut berhasil mengolah sampah plastik menjadi bahan campuran aspal, yang dapat membuat aspal jadi lebih awet.
Baca Juga: Pengusaha Plastik Cari Untung dari Menjamurnya E-CommerceMenurut peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Jalan dan Jembatan Kementerian PUPR Edwin Nirwan, untuk membantu mengurangi masalah sampah plastik ini, Kementrian PUPR telah melakukan penelitian terkait pemanfaatan limbah plastik untuk konstruksi sejak 2008 lalu. Kemudian atas inisiatif Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, penelitian ini terus dikembangkan dan diintensifkan sejak awal 2017.Menurut dia, penggunaan aspal campuran limbah plastik telah diuji coba pada beberapa ruas jalan nasional di Jakarta, Makassar, Bekasi, Denpasar dan Tol Tangerang-Merak. Berdasarkan hasil uji laboratorium oleh Balitbang Kementerian PUPR pada 2017, campuran aspal panas dengan tambahan limbah plastik lebih tahan terhadap deformasi dan retak dibandingkan dengan campuran aspal panas biasa.
Baca Juga: Perlemah Daya Saing, Kadin Tolak Pengenaan Cukai Plastik&quot;Penggunaan limbah plastik juga sama sekali tidak mengurangi kualitas jalan, bahkan justru bisa menambah kerekatan jalan. Saat dihampar sebagai aspal panas, ketika diukur suhunya yaitu 150-180 derajat celcius, yang artinya plastik tidak terdegradasi dan masih jauh dari batas degradasi sampah yaitu 250-280 derajat Celcius atau suhu dimana plastik mengeluarkan racun&quot; ujar dia, Minggu (8/4/2018).
Pada 2019, jumlah sampah plastik di Indonesia diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau 14% dari total sampah yang ada. Dengan estimasi plastik yang digunakan 2,5 ton-5 ton per kilometer (km) jalan, maka limbah plastik dapat menyumbang kebutuhan jalan sepanjang 190 ribu km. Jadi bisa dibayangkan apabila hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan di Indonesia yang memiliki jalan ribuan kilometerPada periode 2015-2019, pemerintah akan membangun 2.600 km jalan  nasional, 1.000 km jalan tol dan pemeliharaan jalan di semua wilayah,  dengan kebutuhan aspal mencapai 1,5 juta ton per tahun. Pemanfaatan  limbah plastik untuk aspal ini diharapkan dapat menjadi solusi yang  tepat terhadap permasalahan sampah di Indonesia.&quot;Pada Forum  Pertemuan Tahunan World Bank dan IMF tahun 2018 mendatang kita akan  tunjukan pada perwakilan negara yang hadir terkait dengan solusi masalah  limbah plastik ini,&quot; ungkap dia.Penelitian tersebut mendapat  dukungan dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin), sebagai solusi yang  lebih tepat ketimbang mengenakan cukai. Menurut Wakil Ketua Komite Tetap  Bidang Industri Hulu dan Petrokimia Kadin Indonesia Achmad Widjaja,  pemanfaatan plastik sebagai bahan campuran aspal ini merupakan solusi  yang tepat untuk mengatasi masalah sampah plastik yang ada di Indonesia.&quot;Plastik  bekas pakai bisa menjadi bahan campuran berbagai produk lainnya, mulai  dari bahan campuran aspal, material konstruksi, seperti paving, bata  untuk dinding, atap, dan lain sebagainya,&quot; jelas dia.
Baca Juga: Panca Budi Idaman Khawatir Cukai Plastik Ancam Daya Beli Masyarakat MiskinMenurut  Achmad, dari pada menerapkan kebijakan cukai untuk membatasi konsumsi  plastik, lebih baik &amp;lrm;pemerintah mencari cara untuk mengubah persepsi  plastik sebagai sampah, menjadi komoditas yang menguntungkan dan bisa  bermanfaat langsung ke&amp;nbsp; masyarakat. Salah satunya seperti menjadi bahan  campuran aspal.Apalagi, saat ini sudah ada sejumlah pelaku usaha  daur ulang plastik, yang dapat mengolah sampah plastik menjadi berbagai  produk yang bernilai jual tinggi. Tentunya hal itu membutuhkan campur  tangan pemerintah, agar masyarakat dapat memilah sampah plastik, serta  mengenakan sanksi berat kepada pelaku yang membuang sampah sembarangan.&quot;Seharusnya  pemerintah edukasi ke masyarakat, kenapa tidak disuruh daur ulang. Itu  akan menjadi industri. Kalau dengan cara mengenakan tarif cukai ke  plastik, itu hambatan bagi banyak industri. Kami tidak menginginkan  itu,&amp;rdquo; tandas Achmad. (yau)</description><content:encoded>JAKARTA - Rencana pemerintah memberlakukan cukai plastik dalam waktu dekat dinilai sejumlah kalangan tidak akan menyelesaikan permasalahan sampah plastik. Alih-alih bisa mengurangi sampah plastik, cukai dinilai dapat meningkatkan biaya yang ditanggung pelaku usaha setelah sebelumnya pemerintah menaikkan tarif listrik dan gas untuk industri. Hal itu tentunya akan memperlemah daya saing produk nasional ditengah perlambatan ekonomi dan perang dagang global.Salah satu solusi jitu mengatasi sampah plastik, seperti yang dipaparkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR), pada seminar nasional bertajuk &quot;Inovasi Teknologi Polimer dan Energi&quot; pekan lalu. Balitbang Kementerian tersebut berhasil mengolah sampah plastik menjadi bahan campuran aspal, yang dapat membuat aspal jadi lebih awet.
Baca Juga: Pengusaha Plastik Cari Untung dari Menjamurnya E-CommerceMenurut peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Jalan dan Jembatan Kementerian PUPR Edwin Nirwan, untuk membantu mengurangi masalah sampah plastik ini, Kementrian PUPR telah melakukan penelitian terkait pemanfaatan limbah plastik untuk konstruksi sejak 2008 lalu. Kemudian atas inisiatif Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, penelitian ini terus dikembangkan dan diintensifkan sejak awal 2017.Menurut dia, penggunaan aspal campuran limbah plastik telah diuji coba pada beberapa ruas jalan nasional di Jakarta, Makassar, Bekasi, Denpasar dan Tol Tangerang-Merak. Berdasarkan hasil uji laboratorium oleh Balitbang Kementerian PUPR pada 2017, campuran aspal panas dengan tambahan limbah plastik lebih tahan terhadap deformasi dan retak dibandingkan dengan campuran aspal panas biasa.
Baca Juga: Perlemah Daya Saing, Kadin Tolak Pengenaan Cukai Plastik&quot;Penggunaan limbah plastik juga sama sekali tidak mengurangi kualitas jalan, bahkan justru bisa menambah kerekatan jalan. Saat dihampar sebagai aspal panas, ketika diukur suhunya yaitu 150-180 derajat celcius, yang artinya plastik tidak terdegradasi dan masih jauh dari batas degradasi sampah yaitu 250-280 derajat Celcius atau suhu dimana plastik mengeluarkan racun&quot; ujar dia, Minggu (8/4/2018).
Pada 2019, jumlah sampah plastik di Indonesia diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau 14% dari total sampah yang ada. Dengan estimasi plastik yang digunakan 2,5 ton-5 ton per kilometer (km) jalan, maka limbah plastik dapat menyumbang kebutuhan jalan sepanjang 190 ribu km. Jadi bisa dibayangkan apabila hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan di Indonesia yang memiliki jalan ribuan kilometerPada periode 2015-2019, pemerintah akan membangun 2.600 km jalan  nasional, 1.000 km jalan tol dan pemeliharaan jalan di semua wilayah,  dengan kebutuhan aspal mencapai 1,5 juta ton per tahun. Pemanfaatan  limbah plastik untuk aspal ini diharapkan dapat menjadi solusi yang  tepat terhadap permasalahan sampah di Indonesia.&quot;Pada Forum  Pertemuan Tahunan World Bank dan IMF tahun 2018 mendatang kita akan  tunjukan pada perwakilan negara yang hadir terkait dengan solusi masalah  limbah plastik ini,&quot; ungkap dia.Penelitian tersebut mendapat  dukungan dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin), sebagai solusi yang  lebih tepat ketimbang mengenakan cukai. Menurut Wakil Ketua Komite Tetap  Bidang Industri Hulu dan Petrokimia Kadin Indonesia Achmad Widjaja,  pemanfaatan plastik sebagai bahan campuran aspal ini merupakan solusi  yang tepat untuk mengatasi masalah sampah plastik yang ada di Indonesia.&quot;Plastik  bekas pakai bisa menjadi bahan campuran berbagai produk lainnya, mulai  dari bahan campuran aspal, material konstruksi, seperti paving, bata  untuk dinding, atap, dan lain sebagainya,&quot; jelas dia.
Baca Juga: Panca Budi Idaman Khawatir Cukai Plastik Ancam Daya Beli Masyarakat MiskinMenurut  Achmad, dari pada menerapkan kebijakan cukai untuk membatasi konsumsi  plastik, lebih baik &amp;lrm;pemerintah mencari cara untuk mengubah persepsi  plastik sebagai sampah, menjadi komoditas yang menguntungkan dan bisa  bermanfaat langsung ke&amp;nbsp; masyarakat. Salah satunya seperti menjadi bahan  campuran aspal.Apalagi, saat ini sudah ada sejumlah pelaku usaha  daur ulang plastik, yang dapat mengolah sampah plastik menjadi berbagai  produk yang bernilai jual tinggi. Tentunya hal itu membutuhkan campur  tangan pemerintah, agar masyarakat dapat memilah sampah plastik, serta  mengenakan sanksi berat kepada pelaku yang membuang sampah sembarangan.&quot;Seharusnya  pemerintah edukasi ke masyarakat, kenapa tidak disuruh daur ulang. Itu  akan menjadi industri. Kalau dengan cara mengenakan tarif cukai ke  plastik, itu hambatan bagi banyak industri. Kami tidak menginginkan  itu,&amp;rdquo; tandas Achmad. (yau)</content:encoded></item></channel></rss>
