<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>ADB Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Stagnan 5,3% sampai 2019</title><description>Asian Development Bank (ADB) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stagnan pada 2018 dan 2019 sebesar 5,3%</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/11/320/1885193/adb-proyeksikan-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-stagnan-5-3-sampai-2019</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/04/11/320/1885193/adb-proyeksikan-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-stagnan-5-3-sampai-2019"/><item><title>ADB Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Stagnan 5,3% sampai 2019</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/11/320/1885193/adb-proyeksikan-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-stagnan-5-3-sampai-2019</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/04/11/320/1885193/adb-proyeksikan-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-stagnan-5-3-sampai-2019</guid><pubDate>Rabu 11 April 2018 15:45 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/11/320/1885193/adb-proyeksikan-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-stagnan-5-3-sampai-2019-DOSMtWJmdZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Yohana/Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/11/320/1885193/adb-proyeksikan-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-stagnan-5-3-sampai-2019-DOSMtWJmdZ.jpg</image><title>Foto: Yohana/Okezone</title></images><description>JAKARTA - Asian Development Bank (ADB) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stagnan pada 2018 dan 2019 sebesar 5,3%. Angka ini dinilai cukup baik untuk pertumbuhan ekonomi Tanah Air.&amp;nbsp;
Ekonom ADB Priasto Aji menyatakan, pertumbuhan ekonomi didorong karena&amp;nbsp; ketidakpastian global yakni perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS). &amp;nbsp;Selain itu, normalisasi dari Fed Fund Rate (FFR), suku bunga acuan AS, &amp;nbsp;memberikan pengaruh ekonomi dalam negeri.&amp;nbsp;
&quot;Capital outflow (aliran dana asing yang keluar) jadi risiko, kenaikan FFR masih akan mempengaruhi,&quot; ujarnya di Kantor ADB, Jakarta, Rabu (11/4/2018).
Kendati demikian, menurutnya, capital outflow tak hanya dipengaruhi oleh FFR, namun juga dampak dari keseluruhan ekonomi di kawasan Asia.
Baca Juga : ADB Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Asia Menurun di 2018
&quot;Indonesia tapi tak perlu khawatir, karena investasi kan sudah upgrade lewat beberapa lembaga rating. Setidaknya gejolak yang dialami Indonesia memang tak akan seberat negara lain,&quot; tukasnya.&amp;nbsp;
Di sisi lain, kondisi domestik dalam negeri turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Inflasi diprediksikan akan mengalami kenaikan, sebab secara umum inflasi global memang mengalami tren kenaikan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&quot;Inflasi juga diperkirakan akan naik. Karena secara umum global inflation memang diperkirakan naik,&quot; jelas dia.
Baca Juga : Pertumbuhan Ekonomi 7% di Orde Baru, Boediono: Kita Bisa Jadikan Pelajaran
Terlebih, kata dia, kebijakan pemerintah yang menjanjikan tidak akan menaikan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Selain itu, dengan adanya tahun politik membuat investor wait and see untuk menanamkan dananya. Kendati demikian, secara keseluruhan pertumbuhan investasi di 2018 dan 2019 dinilainya tetap baik dengan tumbuh 6%.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&quot;Investasi masih akan lebih baik lagi, tumbuh lebih baik tahun ini dan tahun depan juga, tumbuh di atas 6%,&quot; ucapnya.&amp;nbsp;
(feb)</description><content:encoded>JAKARTA - Asian Development Bank (ADB) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stagnan pada 2018 dan 2019 sebesar 5,3%. Angka ini dinilai cukup baik untuk pertumbuhan ekonomi Tanah Air.&amp;nbsp;
Ekonom ADB Priasto Aji menyatakan, pertumbuhan ekonomi didorong karena&amp;nbsp; ketidakpastian global yakni perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS). &amp;nbsp;Selain itu, normalisasi dari Fed Fund Rate (FFR), suku bunga acuan AS, &amp;nbsp;memberikan pengaruh ekonomi dalam negeri.&amp;nbsp;
&quot;Capital outflow (aliran dana asing yang keluar) jadi risiko, kenaikan FFR masih akan mempengaruhi,&quot; ujarnya di Kantor ADB, Jakarta, Rabu (11/4/2018).
Kendati demikian, menurutnya, capital outflow tak hanya dipengaruhi oleh FFR, namun juga dampak dari keseluruhan ekonomi di kawasan Asia.
Baca Juga : ADB Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Asia Menurun di 2018
&quot;Indonesia tapi tak perlu khawatir, karena investasi kan sudah upgrade lewat beberapa lembaga rating. Setidaknya gejolak yang dialami Indonesia memang tak akan seberat negara lain,&quot; tukasnya.&amp;nbsp;
Di sisi lain, kondisi domestik dalam negeri turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Inflasi diprediksikan akan mengalami kenaikan, sebab secara umum inflasi global memang mengalami tren kenaikan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&quot;Inflasi juga diperkirakan akan naik. Karena secara umum global inflation memang diperkirakan naik,&quot; jelas dia.
Baca Juga : Pertumbuhan Ekonomi 7% di Orde Baru, Boediono: Kita Bisa Jadikan Pelajaran
Terlebih, kata dia, kebijakan pemerintah yang menjanjikan tidak akan menaikan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Selain itu, dengan adanya tahun politik membuat investor wait and see untuk menanamkan dananya. Kendati demikian, secara keseluruhan pertumbuhan investasi di 2018 dan 2019 dinilainya tetap baik dengan tumbuh 6%.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&quot;Investasi masih akan lebih baik lagi, tumbuh lebih baik tahun ini dan tahun depan juga, tumbuh di atas 6%,&quot; ucapnya.&amp;nbsp;
(feb)</content:encoded></item></channel></rss>
