<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Facebook Terancam Rugi Rp27,51 Triliun</title><description>Masa depan Facebook sedang dipertaruhkan. Sekitar 3% atau USD2 miliar atau Rp27,51 triliun (kurs rupiah Rp13.750 per USD).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/13/320/1886108/facebook-terancam-rugi-rp27-51-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/04/13/320/1886108/facebook-terancam-rugi-rp27-51-triliun"/><item><title>Facebook Terancam Rugi Rp27,51 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/13/320/1886108/facebook-terancam-rugi-rp27-51-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/04/13/320/1886108/facebook-terancam-rugi-rp27-51-triliun</guid><pubDate>Jum'at 13 April 2018 10:42 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/13/320/1886108/facebook-terancam-rugi-rp27-51-triliun-uWrpLxzX0l.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/13/320/1886108/facebook-terancam-rugi-rp27-51-triliun-uWrpLxzX0l.jpg</image><title>Ilustrasi: Reuters</title></images><description>WASHINGTON &amp;ndash; Masa depan Facebook sedang dipertaruhkan. Sekitar 3% atau USD2 miliar atau Rp27,51 triliun (kurs rupiah Rp13.750 per USD) sekira pendapatan iklan tahunan Facebook terancam hilang.
Para pakar teknologi menyatakan skandal Facebook dan Cambridge Analytica bisa menjadi awal titik balik keruntuhan perusahaan jejaring sosial terbesar di dunia itu. Kepala Strategi GBH Insights, Daniel Ives yang mengamati perkembangan popularitas Facebook melalui GBH Tech Tracker menyatakan, reputasi jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg tersebut sedikit demi sedikit mulai terkikis.
Baca Juga: Pendiri WhatsApp Hapus Akun Facebook
Sentimen negatif publik terhadap perusahaan yang berkantor pusat di Menlo Parkitu kian hari kian meningkat, terutama publik Amerika Serikat (AS). &amp;rdquo;Sekitar 15% penggunanya memutuskan untuk menutup akun mereka,&amp;rdquo; kata Ives dikutip cnbc.com. Data itu mendorong GBH Insights meramalkan potensi kerugian yang akan ditelan Facebook dalam beberapa waktu ke depan.
Sejauh ini, menurut GBH Insights, kerugian akibat skandal pembobolan data masih terkendali. Selama menjalani sidang di hadapan Kongres AS di Capitol Hill, CEO Facebook Mark Zuckerberg menegaskan per usahaannya memetik keuntungan dari periklanan.
Model bisnis itu dijalankan sejak awal berdirinya Facebook. Sebelumnya Senator Orrin Hatch mempertanyakan model bisnis Facebook yang menjajakan layanan secara gratis. &amp;rdquo;Kami menghasilkan semua pendapatan kami dari penjualan lapak iklan kepada para vendor,&amp;rdquo; ungkap Zuckerberg.

(CEO Facebook Mark Zuckerberg. Foto: Koran Sindo)
Menurut dia, layanan gratis sengaja ditawarkan agar semua orang di dunia dapat terhubung dan bertemu. Hal itu sesuai dengan misi Facebook yang ingin membuat dunia menjadi lebih dekat secara bersama. Kepala Operasi (COO) Facebook Sheryl Sandberg pada pekan lalu mengatakan, pengguna bisa saja membayar sejumlah uang agar data mereka tidak digunakan para pengiklan.
Baca Juga: Skandal Data Facebook, Komisi Perdagangan AS Segera Investigasi
Menurut Ives, jika seperti itu, layanan berlangganan Facebook yang diartikan sebagai penguat an perlindungan data akan melukai konsep Facebook. Ives memprediksi industri media sosial akan berubah. Selain penerapan aturan lebih ketat, pebisnis media sosial juga akan dituntut bersikap transparan, terutama pembagian data ke pada pihak ketiga.
Hal itu akan menyebabkan konsekuensi besar. Bisnis media sosial akan menderita, kendati sejauh ini tidak dapat diestimasikan. Kemarin, Zuckerberg melalui hari keduanya di Capitol Hill. Testimoni selama hampir lima jam itu jauh lebih alot dibandingkan sehari sebelumnya.
&amp;lt;div&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8xMi8xLzExMTAzOC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Komite Komersial dan Energi bertanya tentang model bisnis  fundamental, cara pihak ketiga menggunakan data pengguna, dan jenis  regulasi yang mungkin pantas diterapkan di Facebook. &amp;rdquo;Apakah data kamu  sendiri ikut terpanen oleh pihak ketiga dalam skandal kali ini,&amp;rdquo; kata  Kongres Anna Eshho kepada Zuckerberg yang menjawabnya positif.
Namun, Zuckerberg tampak terkejut dan menjawab negatif ketika ditanya  apakah model bisnisnya akan diubah demi kepentingan perlindungan  privasi individu. Frank Pallone kemu dian bertanya, apakah Zuckerberg  berkomitmen mengubah semua settingan default pengguna untuk  meminimalisasikan pemanenan data.
&amp;rdquo;Bapak Kongres, ini merupakan sebuah isu rumit yang saya kira tidak  bisa dijelaskan dengan satu kata,&amp;rdquo; kata Zuckerberg. &amp;rdquo;Lagi, Anda  mengecewakan saya,&amp;rdquo; timpal Pallone. Anggota Parlemen AS meng - kritisi  Zuckerberg yang mengelak dari banyak pertanyaan.
&amp;lt;div&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8xMi8xLzExMTAzOC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Debbie Dingell bahkan mengatakan, sebagai CEO, Zuckerberg tidak  mengetahui beberapa fakta kunci. Zuckerberg disebutnya tidak mengetahui  kasus hukum Facebook, FTC, shadow profile, dan berapa banyak aplikasi  yang perlu diaudit.
&amp;rdquo;Anda tidak tahu berapa bayak perusahaan menjual data via Dr Kogan  selain Cambridge Analytica dan Enoia Techn ologies, meski pertanyaan itu  ditanyakan kemarin (10/4). Dan iya, kami semua memerhatikannya. Anda  bahkan tidak tahu semua jenis informasi yang dikoleksi Facebook dari  penggunanya,&amp;rdquo; kata Dingell.
Terkait upaya Facebook dalam mencegah intervensi kampanye di pemilu  berikutnya, Zuckerberg banyak mengulang apa yang dia sampaikan  sebelumnya. Dia mengatakan, Facebook akan mengeluarkan alat kecerdasan  buatan (artificial intelligent/ AI) untuk menangkap akun palsu yang  menyebarkan informasi palsu, tapi mungkin tidak akan sempurna.
(Muh Shamil)</description><content:encoded>WASHINGTON &amp;ndash; Masa depan Facebook sedang dipertaruhkan. Sekitar 3% atau USD2 miliar atau Rp27,51 triliun (kurs rupiah Rp13.750 per USD) sekira pendapatan iklan tahunan Facebook terancam hilang.
Para pakar teknologi menyatakan skandal Facebook dan Cambridge Analytica bisa menjadi awal titik balik keruntuhan perusahaan jejaring sosial terbesar di dunia itu. Kepala Strategi GBH Insights, Daniel Ives yang mengamati perkembangan popularitas Facebook melalui GBH Tech Tracker menyatakan, reputasi jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg tersebut sedikit demi sedikit mulai terkikis.
Baca Juga: Pendiri WhatsApp Hapus Akun Facebook
Sentimen negatif publik terhadap perusahaan yang berkantor pusat di Menlo Parkitu kian hari kian meningkat, terutama publik Amerika Serikat (AS). &amp;rdquo;Sekitar 15% penggunanya memutuskan untuk menutup akun mereka,&amp;rdquo; kata Ives dikutip cnbc.com. Data itu mendorong GBH Insights meramalkan potensi kerugian yang akan ditelan Facebook dalam beberapa waktu ke depan.
Sejauh ini, menurut GBH Insights, kerugian akibat skandal pembobolan data masih terkendali. Selama menjalani sidang di hadapan Kongres AS di Capitol Hill, CEO Facebook Mark Zuckerberg menegaskan per usahaannya memetik keuntungan dari periklanan.
Model bisnis itu dijalankan sejak awal berdirinya Facebook. Sebelumnya Senator Orrin Hatch mempertanyakan model bisnis Facebook yang menjajakan layanan secara gratis. &amp;rdquo;Kami menghasilkan semua pendapatan kami dari penjualan lapak iklan kepada para vendor,&amp;rdquo; ungkap Zuckerberg.

(CEO Facebook Mark Zuckerberg. Foto: Koran Sindo)
Menurut dia, layanan gratis sengaja ditawarkan agar semua orang di dunia dapat terhubung dan bertemu. Hal itu sesuai dengan misi Facebook yang ingin membuat dunia menjadi lebih dekat secara bersama. Kepala Operasi (COO) Facebook Sheryl Sandberg pada pekan lalu mengatakan, pengguna bisa saja membayar sejumlah uang agar data mereka tidak digunakan para pengiklan.
Baca Juga: Skandal Data Facebook, Komisi Perdagangan AS Segera Investigasi
Menurut Ives, jika seperti itu, layanan berlangganan Facebook yang diartikan sebagai penguat an perlindungan data akan melukai konsep Facebook. Ives memprediksi industri media sosial akan berubah. Selain penerapan aturan lebih ketat, pebisnis media sosial juga akan dituntut bersikap transparan, terutama pembagian data ke pada pihak ketiga.
Hal itu akan menyebabkan konsekuensi besar. Bisnis media sosial akan menderita, kendati sejauh ini tidak dapat diestimasikan. Kemarin, Zuckerberg melalui hari keduanya di Capitol Hill. Testimoni selama hampir lima jam itu jauh lebih alot dibandingkan sehari sebelumnya.
&amp;lt;div&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8xMi8xLzExMTAzOC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Komite Komersial dan Energi bertanya tentang model bisnis  fundamental, cara pihak ketiga menggunakan data pengguna, dan jenis  regulasi yang mungkin pantas diterapkan di Facebook. &amp;rdquo;Apakah data kamu  sendiri ikut terpanen oleh pihak ketiga dalam skandal kali ini,&amp;rdquo; kata  Kongres Anna Eshho kepada Zuckerberg yang menjawabnya positif.
Namun, Zuckerberg tampak terkejut dan menjawab negatif ketika ditanya  apakah model bisnisnya akan diubah demi kepentingan perlindungan  privasi individu. Frank Pallone kemu dian bertanya, apakah Zuckerberg  berkomitmen mengubah semua settingan default pengguna untuk  meminimalisasikan pemanenan data.
&amp;rdquo;Bapak Kongres, ini merupakan sebuah isu rumit yang saya kira tidak  bisa dijelaskan dengan satu kata,&amp;rdquo; kata Zuckerberg. &amp;rdquo;Lagi, Anda  mengecewakan saya,&amp;rdquo; timpal Pallone. Anggota Parlemen AS meng - kritisi  Zuckerberg yang mengelak dari banyak pertanyaan.
&amp;lt;div&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8xMi8xLzExMTAzOC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Debbie Dingell bahkan mengatakan, sebagai CEO, Zuckerberg tidak  mengetahui beberapa fakta kunci. Zuckerberg disebutnya tidak mengetahui  kasus hukum Facebook, FTC, shadow profile, dan berapa banyak aplikasi  yang perlu diaudit.
&amp;rdquo;Anda tidak tahu berapa bayak perusahaan menjual data via Dr Kogan  selain Cambridge Analytica dan Enoia Techn ologies, meski pertanyaan itu  ditanyakan kemarin (10/4). Dan iya, kami semua memerhatikannya. Anda  bahkan tidak tahu semua jenis informasi yang dikoleksi Facebook dari  penggunanya,&amp;rdquo; kata Dingell.
Terkait upaya Facebook dalam mencegah intervensi kampanye di pemilu  berikutnya, Zuckerberg banyak mengulang apa yang dia sampaikan  sebelumnya. Dia mengatakan, Facebook akan mengeluarkan alat kecerdasan  buatan (artificial intelligent/ AI) untuk menangkap akun palsu yang  menyebarkan informasi palsu, tapi mungkin tidak akan sempurna.
(Muh Shamil)</content:encoded></item></channel></rss>
