<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bongkar Kisah Orang Superkaya Asia Lewat Tulisan</title><description>Kevin menyajikan kisah satir tentang orang-orang superkaya di Asia, khususnya Singapura.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/16/320/1887124/bongkar-kisah-orang-superkaya-asia-lewat-tulisan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/04/16/320/1887124/bongkar-kisah-orang-superkaya-asia-lewat-tulisan"/><item><title>Bongkar Kisah Orang Superkaya Asia Lewat Tulisan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/16/320/1887124/bongkar-kisah-orang-superkaya-asia-lewat-tulisan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/04/16/320/1887124/bongkar-kisah-orang-superkaya-asia-lewat-tulisan</guid><pubDate>Senin 16 April 2018 11:15 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/16/320/1887124/bongkar-kisah-orang-superkaya-asia-lewat-tulisan-P7v1m6PRlt.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/16/320/1887124/bongkar-kisah-orang-superkaya-asia-lewat-tulisan-P7v1m6PRlt.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Lewat novel trilogi Crazy Rich Asians, Kevin menyajikan kisah satir tentang orang-orang superkaya di Asia, khususnya Singapura.

Novel serinya laris di pasaran, jadi bacaan orang Wall Street, dan kini tengah dibuatkan versi filmnya oleh Hollywood. Awalnya, pria berusia hampir 45 tahun ini menulis novel Crazy Rich Asians hanya sebagai hobi. Dia tidak pernah menyangka bahwa setelah dirilis, novel ini akan menjadi novel yang populer dan laris secara internasional.

Sejauh ini, Crazy Rich Asians yang dirilis pada 2013 telah dialihbahasakan ke dalam 12 bahasa di seluruh dunia. Adapun yang diinginkannya waktu itu hanyalah menulis tentang stereotip karakter Asia. Dia menuliskan kisah orang-orang superkaya di Asia. Mulai dari tempat-tempat mewah paling eksklusif yang menjadi hunian mereka, seperti penthouse mewah di Shanghai hingga berbagai pulau pribadi yang dimiliki.
&amp;nbsp;Baca Juga:&amp;nbsp; Fakta-Fakta Orang Terkaya Dunia, dari Warisan hingga Banyak Miliarder Baru
Kisah hidup kalangan jetset ini diceritakan mengalir begitu saja, termasuk berbagai polemik, faksi, hingga friksi di dalamnya. Oleh kritikus, novel ini pun digambarkan sebagai sebuah kisah epik nan satir, penuh olokolok, yang membawa cerita dari multigenerasi dan berpusat pada klan orang Singapura. Nah yang ditulis Kevin dianggap sebagai &quot;pembuka mata&quot; dunia luar, terutama orang Barat dan Eropa terhadap kehidupan di Asia.
&amp;nbsp;
Kevin mengatakan, dia mendapatkan informasi bahwa banyak orang di Wall Street sedang membaca buku-bukunya. Mereka seperti mengikuti &quot;kursus kilat&quot; dalam mempelajari lebih banyak tentang dunia orang China, Hong Kong, dan Singapura.
&amp;nbsp;Baca Juga: 7 Rahasia Sukses Mark Zuckerberg Si Pendiri Facebook
Bahkan, bukunya juga digunakan sebagai referensi mengajar di Yale Business School. Sekuel bukunya, yaitu China Rich Girlfriend (2015) juga menjadi buku terlaris. Begitu juga buku ketiganya, Rich People Problems , yang dirilis tahun lalu memulai debutnya di daftar bestseller New York Times . Saat novel Crazy Rich Asians meledak secara internasional, Kevin mengaku langsung diundang oleh orang yang sangat kaya dan glamor, lengkap dengan pengawalan keamanan yang superketat.

&quot;Saya telah melihat begitu banyak hal yang membuat ternganga. Beberapa dari mereka harus saya rahasiakan, tetapi saya dapat katakana bahwa saya pernah dibawa ke klub yang sangat eksklusif di Asia, yang hanya memiliki tujuh anggota,&quot; katanya, dikutip Executive Style.

&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8xMS8xLzExMDk5Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Kesuksesan novelnya memang langsung berpengaruh pada karier Kevin.  Awal April lalu, dia menjadi bagian Class of 2018 Honorees dari Robert  Chin Foundation yang menjadi lembaga bergengsi untuk pemberdayaan  komunitas yang beragam di dunia.

Dikutip Asian Fortune, Kevin termasuk dalam empat orang yang menjadi  inductee, semacam duta atau anggota kehormatan, baru di Asian Hall of  Fame yang akan digelar pada 5 Mei mendatang di Fairmont Olympic Hotel di  pusat kota Seattle, Amerika Serikat.

Sementara itu, The Hollywood Reporter juga memasukkan nama Kevin  sebagai salah satu dari lima penulis yang patut diamati (Five Writers to  Watch ) dalam daftar Penulis Paling Kuat di Hollywood pada 2014. Dalam  buku trilogi terakhirnya, Rich People Problems, Kevin menulis secara  maksimal dan total.

Dia mengungkapkan keanehan orang superkaya dan membuat pembacanya  ikut hanyut, terkadang dengan perasaan simpati, dan kadang-kadang dengan  gembira. Dalam bukunya, Kevin juga selalu menyebutkan merek atau nama  desainer kelas atas dalam mendeskripsikan karakter-karakter dalam  ceritanya. Mulai dari pakaian, perhiasan, seni, minuman anggur, hingga  furniturnya. Dia juga memiliki pengetahuan ensiklopedis tentang  karakteristik kalangan jetset dan mampu memunculkan karakter ini dengan  mumpuni di bukunya.

Lahir dari keluarga kaya

Kevin mengaku novel Crazy Rich Asians terinspirasi dari masa kecilnya  di Singapura. Bab pertama terinspirasi oleh sebuah puisi yang telah  ditulisnya bertahun-tahun sebelumnya yang berjudul Singapore Bible  Study. Dikutip TheMercury, dia sebenarnya tumbuh di dunia seperti yang  diuraikannya di novel. Dia adalah putra dari seorang taipan keuangan  Singapura. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di dalam latar yang  dia ceritakan di bukunya. Lahir dan dibesarkan di Singapura, Kevin  lantas bermigrasi ke Amerika Serikat pada usia 11 tahun.

Ayah Kevin adalah sosok yang tergila-gila dengan Negeri Paman Sam  (AS) dan memindahkan keluarganya ke pinggiran kota Houston untuk  beberapa waktu. Di sini Kevin kecil mengenyam pendidikan di sekolah umum  sebelum pindah ke New York untuk belajar seni. Setelah lulus, dia  mencari pekerjaan sebagai konsultan kreatif. Termasuk bekerja dengan  Martha Steward Living dan majalah daring Andy Warhol&amp;iacute;s Interview . Meski  hidup dalam lingkungan kaya, dia bersikeras bahwa dirinya tidak  termasuk dalam &quot;daftar orang kaya di Asia&quot; seperti yang digambarkan  dalam bukunya.

Dikutip Straits Times, Kevin juga menulis buku ini untuk menjadi  sarana penyembuhan akibat kematian ayahnya pada 2010 setelah pertarungan  panjang melawan kanker. Kevin sempat berhenti bekerja selama 18 bulan  dari pekerjaannya sebagai konsultan kreatif untuk merawat sang ayah.  Kevin memang diketahui memiliki perusahaan konsultasi kreatif yang  menghasilkan proyek-proyek visual untuk klien profil tinggi seperti New  York Times, TED.com , Elizabeth Taylor, dan Oprah Winfrey. (Susi  Susanti)


</description><content:encoded>JAKARTA - Lewat novel trilogi Crazy Rich Asians, Kevin menyajikan kisah satir tentang orang-orang superkaya di Asia, khususnya Singapura.

Novel serinya laris di pasaran, jadi bacaan orang Wall Street, dan kini tengah dibuatkan versi filmnya oleh Hollywood. Awalnya, pria berusia hampir 45 tahun ini menulis novel Crazy Rich Asians hanya sebagai hobi. Dia tidak pernah menyangka bahwa setelah dirilis, novel ini akan menjadi novel yang populer dan laris secara internasional.

Sejauh ini, Crazy Rich Asians yang dirilis pada 2013 telah dialihbahasakan ke dalam 12 bahasa di seluruh dunia. Adapun yang diinginkannya waktu itu hanyalah menulis tentang stereotip karakter Asia. Dia menuliskan kisah orang-orang superkaya di Asia. Mulai dari tempat-tempat mewah paling eksklusif yang menjadi hunian mereka, seperti penthouse mewah di Shanghai hingga berbagai pulau pribadi yang dimiliki.
&amp;nbsp;Baca Juga:&amp;nbsp; Fakta-Fakta Orang Terkaya Dunia, dari Warisan hingga Banyak Miliarder Baru
Kisah hidup kalangan jetset ini diceritakan mengalir begitu saja, termasuk berbagai polemik, faksi, hingga friksi di dalamnya. Oleh kritikus, novel ini pun digambarkan sebagai sebuah kisah epik nan satir, penuh olokolok, yang membawa cerita dari multigenerasi dan berpusat pada klan orang Singapura. Nah yang ditulis Kevin dianggap sebagai &quot;pembuka mata&quot; dunia luar, terutama orang Barat dan Eropa terhadap kehidupan di Asia.
&amp;nbsp;
Kevin mengatakan, dia mendapatkan informasi bahwa banyak orang di Wall Street sedang membaca buku-bukunya. Mereka seperti mengikuti &quot;kursus kilat&quot; dalam mempelajari lebih banyak tentang dunia orang China, Hong Kong, dan Singapura.
&amp;nbsp;Baca Juga: 7 Rahasia Sukses Mark Zuckerberg Si Pendiri Facebook
Bahkan, bukunya juga digunakan sebagai referensi mengajar di Yale Business School. Sekuel bukunya, yaitu China Rich Girlfriend (2015) juga menjadi buku terlaris. Begitu juga buku ketiganya, Rich People Problems , yang dirilis tahun lalu memulai debutnya di daftar bestseller New York Times . Saat novel Crazy Rich Asians meledak secara internasional, Kevin mengaku langsung diundang oleh orang yang sangat kaya dan glamor, lengkap dengan pengawalan keamanan yang superketat.

&quot;Saya telah melihat begitu banyak hal yang membuat ternganga. Beberapa dari mereka harus saya rahasiakan, tetapi saya dapat katakana bahwa saya pernah dibawa ke klub yang sangat eksklusif di Asia, yang hanya memiliki tujuh anggota,&quot; katanya, dikutip Executive Style.

&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8xMS8xLzExMDk5Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Kesuksesan novelnya memang langsung berpengaruh pada karier Kevin.  Awal April lalu, dia menjadi bagian Class of 2018 Honorees dari Robert  Chin Foundation yang menjadi lembaga bergengsi untuk pemberdayaan  komunitas yang beragam di dunia.

Dikutip Asian Fortune, Kevin termasuk dalam empat orang yang menjadi  inductee, semacam duta atau anggota kehormatan, baru di Asian Hall of  Fame yang akan digelar pada 5 Mei mendatang di Fairmont Olympic Hotel di  pusat kota Seattle, Amerika Serikat.

Sementara itu, The Hollywood Reporter juga memasukkan nama Kevin  sebagai salah satu dari lima penulis yang patut diamati (Five Writers to  Watch ) dalam daftar Penulis Paling Kuat di Hollywood pada 2014. Dalam  buku trilogi terakhirnya, Rich People Problems, Kevin menulis secara  maksimal dan total.

Dia mengungkapkan keanehan orang superkaya dan membuat pembacanya  ikut hanyut, terkadang dengan perasaan simpati, dan kadang-kadang dengan  gembira. Dalam bukunya, Kevin juga selalu menyebutkan merek atau nama  desainer kelas atas dalam mendeskripsikan karakter-karakter dalam  ceritanya. Mulai dari pakaian, perhiasan, seni, minuman anggur, hingga  furniturnya. Dia juga memiliki pengetahuan ensiklopedis tentang  karakteristik kalangan jetset dan mampu memunculkan karakter ini dengan  mumpuni di bukunya.

Lahir dari keluarga kaya

Kevin mengaku novel Crazy Rich Asians terinspirasi dari masa kecilnya  di Singapura. Bab pertama terinspirasi oleh sebuah puisi yang telah  ditulisnya bertahun-tahun sebelumnya yang berjudul Singapore Bible  Study. Dikutip TheMercury, dia sebenarnya tumbuh di dunia seperti yang  diuraikannya di novel. Dia adalah putra dari seorang taipan keuangan  Singapura. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di dalam latar yang  dia ceritakan di bukunya. Lahir dan dibesarkan di Singapura, Kevin  lantas bermigrasi ke Amerika Serikat pada usia 11 tahun.

Ayah Kevin adalah sosok yang tergila-gila dengan Negeri Paman Sam  (AS) dan memindahkan keluarganya ke pinggiran kota Houston untuk  beberapa waktu. Di sini Kevin kecil mengenyam pendidikan di sekolah umum  sebelum pindah ke New York untuk belajar seni. Setelah lulus, dia  mencari pekerjaan sebagai konsultan kreatif. Termasuk bekerja dengan  Martha Steward Living dan majalah daring Andy Warhol&amp;iacute;s Interview . Meski  hidup dalam lingkungan kaya, dia bersikeras bahwa dirinya tidak  termasuk dalam &quot;daftar orang kaya di Asia&quot; seperti yang digambarkan  dalam bukunya.

Dikutip Straits Times, Kevin juga menulis buku ini untuk menjadi  sarana penyembuhan akibat kematian ayahnya pada 2010 setelah pertarungan  panjang melawan kanker. Kevin sempat berhenti bekerja selama 18 bulan  dari pekerjaannya sebagai konsultan kreatif untuk merawat sang ayah.  Kevin memang diketahui memiliki perusahaan konsultasi kreatif yang  menghasilkan proyek-proyek visual untuk klien profil tinggi seperti New  York Times, TED.com , Elizabeth Taylor, dan Oprah Winfrey. (Susi  Susanti)


</content:encoded></item></channel></rss>
