<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Kuartal II Diprediksi Tumbuh 5%   </title><description>Ada sejumlah tantangan besar harus dihadapi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan 5,1-5,2%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/25/20/1891175/ekonomi-kuartal-ii-diprediksi-tumbuh-5</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/04/25/20/1891175/ekonomi-kuartal-ii-diprediksi-tumbuh-5"/><item><title>Ekonomi Kuartal II Diprediksi Tumbuh 5%   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/25/20/1891175/ekonomi-kuartal-ii-diprediksi-tumbuh-5</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/04/25/20/1891175/ekonomi-kuartal-ii-diprediksi-tumbuh-5</guid><pubDate>Rabu 25 April 2018 09:53 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/25/20/1891175/ekonomi-kuartal-ii-diprediksi-tumbuh-5-4Cxtk3i8j1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/25/20/1891175/ekonomi-kuartal-ii-diprediksi-tumbuh-5-4Cxtk3i8j1.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Center of Reform on Economics (CORE) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2018 masih berada di kisaran 5%.
Bahkan, jika tidak ada perbaikan kebijakan secara signifikan, pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun sulit mencapai 5,2%. Prediksi tersebut berada di bawah target pemerintah, yakni 5,4%. Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal mengatakan, ada sejumlah tantangan besar harus dihadapi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan 5,1-5,2%.
Salah satunya potensi pelemahan kinerja ekspor impor yang mengakibatkan melemahnya kontribusi net-ekspor terhadap per tumbuhan Produk Do mes tik Bruto (PDB) tahun ini. &amp;ldquo;Padahal net-ekspor ini berperan sangat besar dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi tetap 5% pada 2017, saat per tumbuhan konsumsi rumah tangga melemah hingga di bawah 5%,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta, kemarin.

Faisal mengatakan, konsumsi swasta pada kuartal I/ 2018 juga belum menunjukkan indikasi pemulihan. Hal ini terlihat dari komposisi pengeluaran rumah tangga karena proporsi pendapatan yang di belanjakan masih cenderung menurun. Sebaliknya proporsi untuk tabungan meningkat.
&amp;ldquo;Proporsi pendapatan rumah tangga untuk tabungan selama kuartal I tahun ini sebesar 21,6%, lebih tinggi dibanding tahun lalu sebesar 19%. Sementara proporsi pendapatan yang di belanjakan menurun dari 65,2% pada triwulan I/2017 menjadi 64,1% pada triwulan I/ 2018,&amp;rdquo; katanya.
Menurut dia, pemerintah harus menggenjot konsumsi khususnya konsumsi swasta. Se lain itu, penyaluran bantuan sosial (bansos) pun harus dilakukan bersamaan. &amp;ldquo;Pentingnya pemerintah untuk mendorong kebijakan yang dapat meningkatkan daya beli dan memberikan stimulus terhadap belanja masyarakat,&amp;rdquo; tuturnya.
Selama kuartal I/2018 realisasi belanja bansos memang tumbuh pesat  hingga 88% dibanding tahun lalu, berkebalikan dengan realisasi belanja  modal yang justru turun 18%. Meski pun pendapatan riil masyarakat  berpendapatan rendah cenderung meningkat sebagai akibat digalakkannya  program-program bansos, tapi kelompok menengah atas masih cenderung  menahan belanja mereka.
&amp;ldquo;Dalam tiga bulan pertama tahun ini belum terlihat optimisme dari  kalangan atas. Pemerintah harus juga memberikan sinyal positif untuk  membangun kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan prospeknya  ke depan.

Apalagi masyarakat menengah dan atas ini memberikan kontribusi 83%  terhadap total konsumsi rumah tangga,&amp;rdquo; kata Faisal. Menurut dia,  kebijakan perpajakan yang ditujukan masyarakat golongan menengah atas  menjadi sorotan penting mengingat target penerimaan pajak tahun ini  meningkat sangat signifikan.
Ekonom CORE Akhmad Akbar Susamto mengatakan, efektivitas belanja  pemerintah perlu ditingkatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.  Namun, pada kuartal I-2018 realisasi belanja pemerintah belum sesuai  harapan. Secara keseluruhan, belanja pemerintah pada kuartal I/2018  mengalami per tumbuhan 4,9%.
&amp;ldquo;Pemerintah seharusnya mempercepat realisasi belanja di awal tahun,  bukan menumpuk realisasi belanja pada bulan-bulan terakhir tahun  anggaran. Belanja di awal tahun akan memutar perekonomian dibandingkan  di belakang,&amp;rdquo; tuturnya. (Oktiani Endarwati)</description><content:encoded>JAKARTA - Center of Reform on Economics (CORE) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2018 masih berada di kisaran 5%.
Bahkan, jika tidak ada perbaikan kebijakan secara signifikan, pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun sulit mencapai 5,2%. Prediksi tersebut berada di bawah target pemerintah, yakni 5,4%. Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal mengatakan, ada sejumlah tantangan besar harus dihadapi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan 5,1-5,2%.
Salah satunya potensi pelemahan kinerja ekspor impor yang mengakibatkan melemahnya kontribusi net-ekspor terhadap per tumbuhan Produk Do mes tik Bruto (PDB) tahun ini. &amp;ldquo;Padahal net-ekspor ini berperan sangat besar dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi tetap 5% pada 2017, saat per tumbuhan konsumsi rumah tangga melemah hingga di bawah 5%,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta, kemarin.

Faisal mengatakan, konsumsi swasta pada kuartal I/ 2018 juga belum menunjukkan indikasi pemulihan. Hal ini terlihat dari komposisi pengeluaran rumah tangga karena proporsi pendapatan yang di belanjakan masih cenderung menurun. Sebaliknya proporsi untuk tabungan meningkat.
&amp;ldquo;Proporsi pendapatan rumah tangga untuk tabungan selama kuartal I tahun ini sebesar 21,6%, lebih tinggi dibanding tahun lalu sebesar 19%. Sementara proporsi pendapatan yang di belanjakan menurun dari 65,2% pada triwulan I/2017 menjadi 64,1% pada triwulan I/ 2018,&amp;rdquo; katanya.
Menurut dia, pemerintah harus menggenjot konsumsi khususnya konsumsi swasta. Se lain itu, penyaluran bantuan sosial (bansos) pun harus dilakukan bersamaan. &amp;ldquo;Pentingnya pemerintah untuk mendorong kebijakan yang dapat meningkatkan daya beli dan memberikan stimulus terhadap belanja masyarakat,&amp;rdquo; tuturnya.
Selama kuartal I/2018 realisasi belanja bansos memang tumbuh pesat  hingga 88% dibanding tahun lalu, berkebalikan dengan realisasi belanja  modal yang justru turun 18%. Meski pun pendapatan riil masyarakat  berpendapatan rendah cenderung meningkat sebagai akibat digalakkannya  program-program bansos, tapi kelompok menengah atas masih cenderung  menahan belanja mereka.
&amp;ldquo;Dalam tiga bulan pertama tahun ini belum terlihat optimisme dari  kalangan atas. Pemerintah harus juga memberikan sinyal positif untuk  membangun kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan prospeknya  ke depan.

Apalagi masyarakat menengah dan atas ini memberikan kontribusi 83%  terhadap total konsumsi rumah tangga,&amp;rdquo; kata Faisal. Menurut dia,  kebijakan perpajakan yang ditujukan masyarakat golongan menengah atas  menjadi sorotan penting mengingat target penerimaan pajak tahun ini  meningkat sangat signifikan.
Ekonom CORE Akhmad Akbar Susamto mengatakan, efektivitas belanja  pemerintah perlu ditingkatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.  Namun, pada kuartal I-2018 realisasi belanja pemerintah belum sesuai  harapan. Secara keseluruhan, belanja pemerintah pada kuartal I/2018  mengalami per tumbuhan 4,9%.
&amp;ldquo;Pemerintah seharusnya mempercepat realisasi belanja di awal tahun,  bukan menumpuk realisasi belanja pada bulan-bulan terakhir tahun  anggaran. Belanja di awal tahun akan memutar perekonomian dibandingkan  di belakang,&amp;rdquo; tuturnya. (Oktiani Endarwati)</content:encoded></item></channel></rss>
