<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Nyaris Tembus Rp14.000/USD, Sri Mulyani &quot;Kambinghitamkan&quot; Amerika</title><description>Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akhirnya buka suara terkait  pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/26/278/1891697/rupiah-nyaris-tembus-rp14-000-usd-sri-mulyani-kambinghitamkan-amerika</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/04/26/278/1891697/rupiah-nyaris-tembus-rp14-000-usd-sri-mulyani-kambinghitamkan-amerika"/><item><title>Rupiah Nyaris Tembus Rp14.000/USD, Sri Mulyani &quot;Kambinghitamkan&quot; Amerika</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/26/278/1891697/rupiah-nyaris-tembus-rp14-000-usd-sri-mulyani-kambinghitamkan-amerika</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/04/26/278/1891697/rupiah-nyaris-tembus-rp14-000-usd-sri-mulyani-kambinghitamkan-amerika</guid><pubDate>Kamis 26 April 2018 15:06 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/26/278/1891697/rupiah-nyaris-tembus-rp14-000-usd-sri-mulyani-kambinghitamkan-amerika-bYzAJqkGWx.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Giri/Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/26/278/1891697/rupiah-nyaris-tembus-rp14-000-usd-sri-mulyani-kambinghitamkan-amerika-bYzAJqkGWx.jpeg</image><title>Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Giri/Okezone</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akhirnya buka suara terkait pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi belakangan ini. Seperti diketahui dalam beberapa hari yang lalu, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS hampir menyentuh angka Rp14.000 per USD.&amp;nbsp;
Baca Juga: Rupiah Ambruk, Ekonom: Jangan Sandera Hasil Ekspor di Luar Negeri
Menurut Sri Mulyani, penyebab melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dikarenakan faktor-faktor eksternal khususnya dari Amerika. Menurutnya, saat ini ekonomi&amp;nbsp; Amerika Serikat&amp;nbsp; mengalami perbaikan yang bisa terlihat dari rendahnya inflasi serta adanya perbaikan dari sisi ketenagakerjaan.&amp;nbsp;
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2018/04/11/49018/249437_medium.jpg&quot; alt=&quot;Menkeu Sri Mulyani dan Gubernur BI Agus Martowardojo Duduk Bareng Komisi XI DPR&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&quot;Kemarin dari spring meeting kita mendengar dari berbagai negara mengenai update dari perekonomian terutama dari Amerika Serikat. Gubernur Bank sentral yang&amp;nbsp; baru memang menyampaikan data-data dari perekonomian Amerika menunjukkan perbaikan dari sisi employment maupun inflasi menunjukkan suatu recovery. Dan tentu dengan adanya perubahan di kebijakan fiskal mereka terutama dengan kebijakan pajak, mereka pasti akan membuat policy untuk mengejar,&quot; ujarnya saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (26/4/2018).
Baca Juga: Rupiah Melemah, Pengamat: Hasil Ekspor Jangan Diparkir di Singapura
Apalagi lanjut Sri Mulyani, dengan terpilihnya Gubernur Bank Sentral Amerika yang baru ada beberapa kebijakan yang membuat nilai tukar dolar AS mengalami kenaikan. Salah satunya adalah rencana The Fed (Bank Sentral Amerika) untuk menaikkan suku bunganya.
&quot;Dalam jangka pendek memang sudah dikonfirmasi bahwa the Fed akan meningkatkan suku bunganya meski akan dilakukan secara hati-hati,&quot; jelasnya.&amp;nbsp;
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2016/12/29/31544/190822_medium.jpg&quot; alt=&quot;Jelang Akhir Tahun Rupiah Kembali Melemah&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Belum lagi, lanjut Ani, ada beberapa kebijakan dari Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan pajak. Maka sangat wajar jika nilai mata uang dolar terus mengalami kenaikan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&quot;Dengan adanya outlook dari kebijakan moneter dan fiskal Amerika Serikat di mana penurunan pajak dan tambahan belanja akan meningkatkan defisit maka kita sudah bisa prediksi akan terjadi kenaikan dari US treasury bahkan yang termasuk jangka waktunya panjang,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8yNS80LzExMTU1Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sri Mulyani Minta Masyarakat Tetap Tenang
Walau demikian, Sri Mulyani meminta kepada seluruh masyarakat  Indonesia tidak perlu panik. Menurutnya, pelemahan mata uang Rupiah  terhadap dolar AS bukan hanya tidak hanya terjadi pada Indonesia.&amp;nbsp;
Baca Juga: Nyaris Rp14.000, Rupiah Melemah ke Level Rp13.933 per USD
Menurutnya, negara-negara lain pun mengalami pelemahan nilai tukar  mata uangnya terhadap dolar AS. Bahkan negara maju sekalipun terkena  dampak penguatan nilai tukar dolar.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&quot;Karena Amerika Serikat (AS) adalah negera terbesar jadi akan  mempengaruhi seluruh dunia.&amp;nbsp;Kita memperhatikan berdasarkan pergerakan  mata uang yang lain dan juga juga terhadap dolar itu sendiri. Masyarakat  perlu terus diberikan informasi, sehingga mereka menjadi lebih tenang,&quot;  ujarnya.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2018/03/14/48204/245729_medium.jpg&quot; alt=&quot;Rupiah Tak Berisiko Melemah ke Level Rp15.000 per Dolar AS&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Wanita yang biasa disapa Ani menyebut, nilai tukar Rupiah terhadap  dolar masih relatif rendah jika dibandingkan nilai tukar mata uang  negara lain baik negara maju maupun berkembang. Menurutnya,  dinegara-negara maju, nilai mata uangnya terhadap dolar justru mengalami  depresiasi sebesar 2%.&amp;nbsp;
&quot;Kalau kita lihat pergerakan dalam dua hari terakhir dimana waktu  terjadi penguatan dolar itu terasa di seluruh dunia beberapa mata uang  negara maju bahkan bisa terdepresiasi di atas 2%,&quot; jelasnya.&amp;nbsp;
Baca juga: Rupiah Mendekati Rp14.000/USD, Apindo: Kita Kurang Antisipasi
Menurut Ani, India bahkan mengalami depresiasi mata uangnya jauh  lebih dalam dari Indonesia. Namun negeri Bollywood justru menyikapinya  dengan positif dan akhirnya bisa mendongkrak nilai ekspor.
&quot;Mata uang di sekitar kita bahkan juga depresisasinya di atas. India  melakukan depresiasi lebih dalam karena mereka ingin memacu ekspornya.  Jadi dalam hal ini masyarakat diharapkan tenang karena memang terjadi  pergerakan namun kita juga perlu mengambil manfaat,&quot; jelasnya.&amp;nbsp;
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8yNS80LzExMTU1NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akhirnya buka suara terkait pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi belakangan ini. Seperti diketahui dalam beberapa hari yang lalu, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS hampir menyentuh angka Rp14.000 per USD.&amp;nbsp;
Baca Juga: Rupiah Ambruk, Ekonom: Jangan Sandera Hasil Ekspor di Luar Negeri
Menurut Sri Mulyani, penyebab melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dikarenakan faktor-faktor eksternal khususnya dari Amerika. Menurutnya, saat ini ekonomi&amp;nbsp; Amerika Serikat&amp;nbsp; mengalami perbaikan yang bisa terlihat dari rendahnya inflasi serta adanya perbaikan dari sisi ketenagakerjaan.&amp;nbsp;
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2018/04/11/49018/249437_medium.jpg&quot; alt=&quot;Menkeu Sri Mulyani dan Gubernur BI Agus Martowardojo Duduk Bareng Komisi XI DPR&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&quot;Kemarin dari spring meeting kita mendengar dari berbagai negara mengenai update dari perekonomian terutama dari Amerika Serikat. Gubernur Bank sentral yang&amp;nbsp; baru memang menyampaikan data-data dari perekonomian Amerika menunjukkan perbaikan dari sisi employment maupun inflasi menunjukkan suatu recovery. Dan tentu dengan adanya perubahan di kebijakan fiskal mereka terutama dengan kebijakan pajak, mereka pasti akan membuat policy untuk mengejar,&quot; ujarnya saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (26/4/2018).
Baca Juga: Rupiah Melemah, Pengamat: Hasil Ekspor Jangan Diparkir di Singapura
Apalagi lanjut Sri Mulyani, dengan terpilihnya Gubernur Bank Sentral Amerika yang baru ada beberapa kebijakan yang membuat nilai tukar dolar AS mengalami kenaikan. Salah satunya adalah rencana The Fed (Bank Sentral Amerika) untuk menaikkan suku bunganya.
&quot;Dalam jangka pendek memang sudah dikonfirmasi bahwa the Fed akan meningkatkan suku bunganya meski akan dilakukan secara hati-hati,&quot; jelasnya.&amp;nbsp;
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2016/12/29/31544/190822_medium.jpg&quot; alt=&quot;Jelang Akhir Tahun Rupiah Kembali Melemah&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Belum lagi, lanjut Ani, ada beberapa kebijakan dari Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan pajak. Maka sangat wajar jika nilai mata uang dolar terus mengalami kenaikan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&quot;Dengan adanya outlook dari kebijakan moneter dan fiskal Amerika Serikat di mana penurunan pajak dan tambahan belanja akan meningkatkan defisit maka kita sudah bisa prediksi akan terjadi kenaikan dari US treasury bahkan yang termasuk jangka waktunya panjang,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8yNS80LzExMTU1Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sri Mulyani Minta Masyarakat Tetap Tenang
Walau demikian, Sri Mulyani meminta kepada seluruh masyarakat  Indonesia tidak perlu panik. Menurutnya, pelemahan mata uang Rupiah  terhadap dolar AS bukan hanya tidak hanya terjadi pada Indonesia.&amp;nbsp;
Baca Juga: Nyaris Rp14.000, Rupiah Melemah ke Level Rp13.933 per USD
Menurutnya, negara-negara lain pun mengalami pelemahan nilai tukar  mata uangnya terhadap dolar AS. Bahkan negara maju sekalipun terkena  dampak penguatan nilai tukar dolar.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&quot;Karena Amerika Serikat (AS) adalah negera terbesar jadi akan  mempengaruhi seluruh dunia.&amp;nbsp;Kita memperhatikan berdasarkan pergerakan  mata uang yang lain dan juga juga terhadap dolar itu sendiri. Masyarakat  perlu terus diberikan informasi, sehingga mereka menjadi lebih tenang,&quot;  ujarnya.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2018/03/14/48204/245729_medium.jpg&quot; alt=&quot;Rupiah Tak Berisiko Melemah ke Level Rp15.000 per Dolar AS&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Wanita yang biasa disapa Ani menyebut, nilai tukar Rupiah terhadap  dolar masih relatif rendah jika dibandingkan nilai tukar mata uang  negara lain baik negara maju maupun berkembang. Menurutnya,  dinegara-negara maju, nilai mata uangnya terhadap dolar justru mengalami  depresiasi sebesar 2%.&amp;nbsp;
&quot;Kalau kita lihat pergerakan dalam dua hari terakhir dimana waktu  terjadi penguatan dolar itu terasa di seluruh dunia beberapa mata uang  negara maju bahkan bisa terdepresiasi di atas 2%,&quot; jelasnya.&amp;nbsp;
Baca juga: Rupiah Mendekati Rp14.000/USD, Apindo: Kita Kurang Antisipasi
Menurut Ani, India bahkan mengalami depresiasi mata uangnya jauh  lebih dalam dari Indonesia. Namun negeri Bollywood justru menyikapinya  dengan positif dan akhirnya bisa mendongkrak nilai ekspor.
&quot;Mata uang di sekitar kita bahkan juga depresisasinya di atas. India  melakukan depresiasi lebih dalam karena mereka ingin memacu ekspornya.  Jadi dalam hal ini masyarakat diharapkan tenang karena memang terjadi  pergerakan namun kita juga perlu mengambil manfaat,&quot; jelasnya.&amp;nbsp;
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8yNS80LzExMTU1NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
