<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Nyaris Rp14.000/USD, Ini Komentar Sri Mulyani hingga Gubernur BI </title><description>Pelemahan Rupiah mendekati Rp14.000 per USD membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani hingga Gubernur Bank Indonesia berkomentar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/28/278/1892442/rupiah-nyaris-rp14-000-usd-ini-komentar-sri-mulyani-hingga-gubernur-bi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/04/28/278/1892442/rupiah-nyaris-rp14-000-usd-ini-komentar-sri-mulyani-hingga-gubernur-bi"/><item><title>Rupiah Nyaris Rp14.000/USD, Ini Komentar Sri Mulyani hingga Gubernur BI </title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/04/28/278/1892442/rupiah-nyaris-rp14-000-usd-ini-komentar-sri-mulyani-hingga-gubernur-bi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/04/28/278/1892442/rupiah-nyaris-rp14-000-usd-ini-komentar-sri-mulyani-hingga-gubernur-bi</guid><pubDate>Sabtu 28 April 2018 17:39 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/28/278/1892442/rupiah-nyaris-rp14-000-usd-ini-komentar-sri-mulyani-hingga-gubernur-bi-LI2FtUbHnn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/28/278/1892442/rupiah-nyaris-rp14-000-usd-ini-komentar-sri-mulyani-hingga-gubernur-bi-LI2FtUbHnn.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Pergerakkan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tren depresiasi. Pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat 20 April 2018, Rupiah terpukul ke level Rp13.893 per USD. Pelemahan ini pun terus berlanjut, Rupiah bergerak mendekati Rp14.000. Rupiah pernah berada di level Rp13.970 per USD pada Selasa 24 April 2018. Pada penutupan perdagangan Jumat, 28 April 2018, Rupiah berada di level Rp13.879 per USD.Kondisi ini pun menjadi pembicaraan hangat baik oleh pengamat, investor, hingga tentunya pemerintahan.
Baca Juga: Gubernur BI : Fluktuasi Rupiah Tak Berpengaruh Besar pada KorporasiMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hingga Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardiojo angkat bicara tentang pelemahan ini. Berikut pernyataan beberapa pejabat seperti yang dirangkum Okezone, Jumat (28/4/2018).
1. Sri Mulyani: Rupiah melemah karena ASSri Mulyani mengatakan, penyebab pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dikarenakan faktor-faktor eksternal khususnya dari Amerika. Menurutnya, saat ini ekonomi&amp;nbsp; Amerika Serikat&amp;nbsp; mengalami perbaikan yang bisa terlihat dari rendahnya inflasi serta adanya perbaikan dari sisi ketenagakerjaan. &amp;nbsp;Apalagi dengan terpilihnya Gubernur Bank Sentral Amerika yang baru ada beberapa kebijakan yang membuat nilai tukar dolar AS mengalami kenaikan. Salah satunya adalah rencana The Fed (Bank Sentral Amerika) untuk menaikkan suku bunganya. Belum lagi, lanjut wanita yang disapa Ani, ada beberapa kebijakan dari Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan pajak. Maka sangat wajar jika nilai mata uang dolar terus mengalami kenaikan. &amp;nbsp;Walau demikian, dia meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia tidak perlu panik. Menurutnya, pelemahan mata uang Rupiah terhadap dolar AS bukan hanya tidak hanya terjadi pada Indonesia. &quot;Karena Amerika Serikat (AS) adalah negera terbesar jadi akan mempengaruhi seluruh dunia. Kita memperhatikan berdasarkan pergerakan mata uang yang lain dan juga juga terhadap dolar itu sendiri. Masyarakat perlu terus diberikan informasi, sehingga mereka menjadi lebih tenang,&quot; ujarnya saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis 26 April 2018.


2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution: Prediksi Rupiah Tak Akan Kembali ke Rp13.500 per USDSenada dengan Sri Mulyani, Menko Darmin menilai pelemahan didorong kondisi AS. Disisi lain, pelemahan juga muncul akibat perang dagang AS-China yang saat ini masih terus berlanjut.Dengan keadaan ini maka dia menilai, tekanan akan berhenti saat masalah global juga kembali membaik. Tapi membaiknya Rupiah setelah tekanan mungkin tidak bisa ke kondisi semula di kisaran Rp13.500 per USD.&quot;Kalau pasar sedang bergejolak, itu selalu akan ada waktunya untuk (Rebound) mungkin tidak kembali ke Rp13.500 per USD atau Rp13.400 per USD,&quot; katanya di Hotel Four Season, Jakarta, Selasa 24 April 2018. (yau)3. Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio: Kita Tak Akan Krisis Seperti Tahun 1998Bersamaan  dengan Rupiah tertekan hampi menyentuh Rp14.000, Indeks Harga Saham  Gabungan (IHSG) memerah bahkan meninggalkan level psikologis 6.000. Tekanan-tekanan  tersebut membuat bayangan tentang krisis 10 tahunan kembali bangkit.  Akan tetapi, Tito Sulistio menegaskan, krisis tersebut tidak akan  terulang.&quot;Apakah kayak jadi 1998. No I belive no. Kita tidak  akan jadi kayak 1998,&quot; tegasnya di Gedung BEI, Jakarta, Kamis 26 April  2018.&amp;nbsp; &amp;nbsp;
Tito menjelaskan, jika ditilik dari kondisi pasar modal  saat ini jauh berbeda dengan kondisi saat krisis 1998 dan 2008 terjadi.  Tercermin dari kinerja keuangan emiten BEI yang menunjukkan performa  sehat dibandingkan masa krisis di mana sebanyak 74% emiten mencatatkan  profit di tahun 2017 serta mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar  20%. Selain mencatatkan kenaikan pendapatan dan laba, perusahaan  juga masih membayar dividen kepada pemegang saham. Bahkan, dividen  yield naik 3% yang menjadi dividen yield tertinggi selama tiga tahun  terakhir.Kesehatan emiten tersebut juga mencerminkan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia.&quot;Jadi kita masih confidence, karena produk kita masih bagus,&quot;kata dia.
4. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo: Bank Sentral siap naikkan suku bunga acuan Pelemahan  Rupiah, ternyata membuat BI siap mengambil langkah penyesuaian suku  bunga acuan atau BI Seven Days Reverse Repo Rate (7-Days Repo Rate).  Setelah sejak awal tahun terus menahan suku bunga acuan di level 4,25%.&amp;nbsp;  &amp;nbsp;Agus menyatakan, bila depresiasi itu terus berlanjut hingga  berpotensi menghambat pencapaian sasaran inflasi dan menganggu  stabilitas sistem keuangan, maka BI tidak menutup adanya ruang bagi  penyesuaian suku bunga acuan. &amp;nbsp;&quot;Kebijakan penyesuaian BI 7-Days  Repo Rate tentunya akan dilakukan secara berhati-hati, terukur, dan  bersifat data dependence, mengacu pada perkembangan data terkini maupun  perkiraan ke depan,&quot; ujar Agus dalam konferensi pers di Gedung BI,  Jakarta, Kamis (26/4/2018).Dia menjelaskan, Rupiah memang terus  tertekan, hingga&amp;nbsp; Kamis 26 April 2018 terdepresiasi -0,88% (month to  date/mtd). Menurutnya, depresiasi Rupiah masih jauh lebih rendah  dibandingkan pelemahan mata uang di negara lainnya. Thailand (THB)  melemah -1,12%, Malaysia (MYR) -1,24%, Singapore (SGD) -1,17%,&amp;nbsp; Korea  Selatan (KRW) -1,38%, dan India (INR) -2,4%.Selain siap  melakukan penyesuaian suku bunga acuan dan melakukan intervensi pasar,  kata Agus, BI akan senantiasa memastikan tersedianya likuiditas dalam  jumlah yang memadai baik valas maupun Rupiah. BI juga akan terus  memantau perkembangan perekonomian global dan dampaknya terhadap  perekonomian domestik. Serta mempersiapkan second line of defense  bersama dengan institusi eksternal terkait.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8yNy80LzExMTYzNC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
(yau)</description><content:encoded>JAKARTA - Pergerakkan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tren depresiasi. Pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat 20 April 2018, Rupiah terpukul ke level Rp13.893 per USD. Pelemahan ini pun terus berlanjut, Rupiah bergerak mendekati Rp14.000. Rupiah pernah berada di level Rp13.970 per USD pada Selasa 24 April 2018. Pada penutupan perdagangan Jumat, 28 April 2018, Rupiah berada di level Rp13.879 per USD.Kondisi ini pun menjadi pembicaraan hangat baik oleh pengamat, investor, hingga tentunya pemerintahan.
Baca Juga: Gubernur BI : Fluktuasi Rupiah Tak Berpengaruh Besar pada KorporasiMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hingga Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardiojo angkat bicara tentang pelemahan ini. Berikut pernyataan beberapa pejabat seperti yang dirangkum Okezone, Jumat (28/4/2018).
1. Sri Mulyani: Rupiah melemah karena ASSri Mulyani mengatakan, penyebab pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dikarenakan faktor-faktor eksternal khususnya dari Amerika. Menurutnya, saat ini ekonomi&amp;nbsp; Amerika Serikat&amp;nbsp; mengalami perbaikan yang bisa terlihat dari rendahnya inflasi serta adanya perbaikan dari sisi ketenagakerjaan. &amp;nbsp;Apalagi dengan terpilihnya Gubernur Bank Sentral Amerika yang baru ada beberapa kebijakan yang membuat nilai tukar dolar AS mengalami kenaikan. Salah satunya adalah rencana The Fed (Bank Sentral Amerika) untuk menaikkan suku bunganya. Belum lagi, lanjut wanita yang disapa Ani, ada beberapa kebijakan dari Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan pajak. Maka sangat wajar jika nilai mata uang dolar terus mengalami kenaikan. &amp;nbsp;Walau demikian, dia meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia tidak perlu panik. Menurutnya, pelemahan mata uang Rupiah terhadap dolar AS bukan hanya tidak hanya terjadi pada Indonesia. &quot;Karena Amerika Serikat (AS) adalah negera terbesar jadi akan mempengaruhi seluruh dunia. Kita memperhatikan berdasarkan pergerakan mata uang yang lain dan juga juga terhadap dolar itu sendiri. Masyarakat perlu terus diberikan informasi, sehingga mereka menjadi lebih tenang,&quot; ujarnya saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis 26 April 2018.


2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution: Prediksi Rupiah Tak Akan Kembali ke Rp13.500 per USDSenada dengan Sri Mulyani, Menko Darmin menilai pelemahan didorong kondisi AS. Disisi lain, pelemahan juga muncul akibat perang dagang AS-China yang saat ini masih terus berlanjut.Dengan keadaan ini maka dia menilai, tekanan akan berhenti saat masalah global juga kembali membaik. Tapi membaiknya Rupiah setelah tekanan mungkin tidak bisa ke kondisi semula di kisaran Rp13.500 per USD.&quot;Kalau pasar sedang bergejolak, itu selalu akan ada waktunya untuk (Rebound) mungkin tidak kembali ke Rp13.500 per USD atau Rp13.400 per USD,&quot; katanya di Hotel Four Season, Jakarta, Selasa 24 April 2018. (yau)3. Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio: Kita Tak Akan Krisis Seperti Tahun 1998Bersamaan  dengan Rupiah tertekan hampi menyentuh Rp14.000, Indeks Harga Saham  Gabungan (IHSG) memerah bahkan meninggalkan level psikologis 6.000. Tekanan-tekanan  tersebut membuat bayangan tentang krisis 10 tahunan kembali bangkit.  Akan tetapi, Tito Sulistio menegaskan, krisis tersebut tidak akan  terulang.&quot;Apakah kayak jadi 1998. No I belive no. Kita tidak  akan jadi kayak 1998,&quot; tegasnya di Gedung BEI, Jakarta, Kamis 26 April  2018.&amp;nbsp; &amp;nbsp;
Tito menjelaskan, jika ditilik dari kondisi pasar modal  saat ini jauh berbeda dengan kondisi saat krisis 1998 dan 2008 terjadi.  Tercermin dari kinerja keuangan emiten BEI yang menunjukkan performa  sehat dibandingkan masa krisis di mana sebanyak 74% emiten mencatatkan  profit di tahun 2017 serta mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar  20%. Selain mencatatkan kenaikan pendapatan dan laba, perusahaan  juga masih membayar dividen kepada pemegang saham. Bahkan, dividen  yield naik 3% yang menjadi dividen yield tertinggi selama tiga tahun  terakhir.Kesehatan emiten tersebut juga mencerminkan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia.&quot;Jadi kita masih confidence, karena produk kita masih bagus,&quot;kata dia.
4. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo: Bank Sentral siap naikkan suku bunga acuan Pelemahan  Rupiah, ternyata membuat BI siap mengambil langkah penyesuaian suku  bunga acuan atau BI Seven Days Reverse Repo Rate (7-Days Repo Rate).  Setelah sejak awal tahun terus menahan suku bunga acuan di level 4,25%.&amp;nbsp;  &amp;nbsp;Agus menyatakan, bila depresiasi itu terus berlanjut hingga  berpotensi menghambat pencapaian sasaran inflasi dan menganggu  stabilitas sistem keuangan, maka BI tidak menutup adanya ruang bagi  penyesuaian suku bunga acuan. &amp;nbsp;&quot;Kebijakan penyesuaian BI 7-Days  Repo Rate tentunya akan dilakukan secara berhati-hati, terukur, dan  bersifat data dependence, mengacu pada perkembangan data terkini maupun  perkiraan ke depan,&quot; ujar Agus dalam konferensi pers di Gedung BI,  Jakarta, Kamis (26/4/2018).Dia menjelaskan, Rupiah memang terus  tertekan, hingga&amp;nbsp; Kamis 26 April 2018 terdepresiasi -0,88% (month to  date/mtd). Menurutnya, depresiasi Rupiah masih jauh lebih rendah  dibandingkan pelemahan mata uang di negara lainnya. Thailand (THB)  melemah -1,12%, Malaysia (MYR) -1,24%, Singapore (SGD) -1,17%,&amp;nbsp; Korea  Selatan (KRW) -1,38%, dan India (INR) -2,4%.Selain siap  melakukan penyesuaian suku bunga acuan dan melakukan intervensi pasar,  kata Agus, BI akan senantiasa memastikan tersedianya likuiditas dalam  jumlah yang memadai baik valas maupun Rupiah. BI juga akan terus  memantau perkembangan perekonomian global dan dampaknya terhadap  perekonomian domestik. Serta mempersiapkan second line of defense  bersama dengan institusi eksternal terkait.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8yNy80LzExMTYzNC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
(yau)</content:encoded></item></channel></rss>
