<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Era Milenial Akan Berlalu, Kini Saatnya Perusahaan Sasar Gen Z</title><description>Perusahaan harus mulai menargetkan Gen Z sebagai fokus utama untuk bisa mencapai pertumbuhan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/05/08/320/1895914/era-milenial-akan-berlalu-kini-saatnya-perusahaan-sasar-gen-z</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/05/08/320/1895914/era-milenial-akan-berlalu-kini-saatnya-perusahaan-sasar-gen-z"/><item><title>Era Milenial Akan Berlalu, Kini Saatnya Perusahaan Sasar Gen Z</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/05/08/320/1895914/era-milenial-akan-berlalu-kini-saatnya-perusahaan-sasar-gen-z</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/05/08/320/1895914/era-milenial-akan-berlalu-kini-saatnya-perusahaan-sasar-gen-z</guid><pubDate>Selasa 08 Mei 2018 17:30 WIB</pubDate><dc:creator>Widi Agustian</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/05/08/320/1895914/era-milenial-akan-berlalu-kini-saatnya-perusahaan-sasar-gen-z-iUr2qjeGua.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/05/08/320/1895914/era-milenial-akan-berlalu-kini-saatnya-perusahaan-sasar-gen-z-iUr2qjeGua.jpg</image><title>(Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Saat ini, perusahaan tradisional lebih memfokuskan diri pada generasi millenials, untuk ke depannya, mereka harus menargetkan Gen Z sebagai fokus utama untuk bisa mencapai pertumbuhan.

Berdasarkan riset bertajuk &amp;ldquo;Memahami Tren Konsumen Masa Kini&amp;ldquo; yang dilakukan perusahaan riset PT Neurosensum Technology International (Neurosensum), Gen Z yang ada saat ini akan menjadi pengganti generasi millennium di masa depan.

&amp;ldquo;Salah satu temuan penting dari riset ini adalah munculnya pola konsumsi yang berbeda pada Gen Z (yaitu mereka yang lahir setelah 1996),&amp;rdquo; kata Managing Director Neurosensum Rajiv Lamba dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/5/2018).

Konsumen Gen Z, kata dia, mengalami pertumbuhan yang pesat, baik dari sisi jumlah dan daya beli yang mereka miliki. Sayangnya, banyak perusahaan tradisional saat ini telah ditinggalkan oleh Gen Z karena pesan yang disampaikan sudah ketinggalan jaman dan penawaran yang diberikan tidak lagi relevan bagi Gen Z.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/12/21/45702/235983_medium.jpg&quot; alt=&quot;Aneka Promo Ditawarkan Pusat Perbelanjaan di Yogyakarta Jelang Natal dan Tahun Baru&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurutnya, Gen Z cenderung mengalokasikan pengeluarannya untuk mendapatkan pengalaman makan di luar, internet dan data seluler, kesehatan dan kebugaran, serta rekreasi.

&amp;rdquo;Riset yang dilakukan menunjukkan bahwa konsumen semakin cerdas dalam menentukan pilihan. Mereka menjadi semakin sadar akan kesehatan, dan mereka menginginkan pengalaman yang lebih dari merek dan produk yang mereka gunakan,&amp;rdquo; beber dia.

Sehingga, kata dia, penting bagi perusahaan untuk beralih dari komunikasi satu arah menjadi komunikasi dua arah yang lebih menarik bagi konsumen.

&amp;ldquo;Kemampuan perusahaan untuk merangkul Generasi Z adalah kunci masa depan,&amp;rdquo; kata dia.
&amp;nbsp;
Selain itu, riset ini juga mengungkapkan beberapa hal. Pertama bangkitnya ekonomi berbasis pengalaman. Konsumen di Indonesia tidak lagi merasa puas dengan sekedar produk saja. Mereka kini telah menjadi pembeli cerdas, yang mencari pengalaman melebihi produk dan jasa yang mereka gunakan.

Hal ini membuat mereka mengalihkan pengeluaran dari kategori fast moving consumer good (FMCG) tradisional seperti makanan dan minuman ke berbagai kategori dan produk yang menyediakan aneka pengalaman seperti rekreasi dan liburan, gadget atau produk elektronik dan data seluler.

Hal ini ditunjukkan dengan penurunan prosentase pengeluaran di kategori makanan dan minuman sebesar 2 poin dari 33% menjadi 31% dalam 2 tahun terakhir ini. Konsumen di semua kelompok usia dan tingkat pendapatan menurunkan jumlah pengeluaran mereka dalam katagori FMCG, penurunan lebih menonjol terlihat diantara Gen Z.
Kedua, meningkatnya kebutuhan untuk rekreasi.  Konsumen merasakan  bahwa tingkat stress dalam kehidupan mereka sehari-hari semakin  meningkat; dan sebagai dampaknya, muncul kebutuhan untuk &amp;lsquo;melarikan  diri&amp;rsquo; dari kondisi stress yang dialami yaitu dengan adanya peningkatan  konsumsi untuk kebutuhan rekreasi yang tercermin dalam perubahan pola  belanja konsumen.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/07/19/40100/217380_medium.jpg&quot; alt=&quot;Tren Belanja Daring Aktivitas Perdagangan Glodok Sepi&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Angka pengeluaran konsumen di kategori rekreasi telah mengalami  peningkatan sebesar 40% (1,4 kali lipat) dalam 2 tahun terakhir.  Peningkatan ini khususnya didorong/dipicu oleh kelompok generasi Z. Dari  40% kenaikan di kategori rekreasi, untuk kebutuhan travelling baik  dalam dan luar negeri menunjukan peningkatan sebesar 30% (1,3 kali  lipat) dalam 2 tahun terakhir ini

Potensi sektor wisata akan sangat menjanjikan karena jumlah konsumen  yang merencanakan untuk melakukan perjalanan liburan diperkirakan akan  meningkat 3 kali lipat dalam 2 tahun ke depan.

Kebutuhan akan rekreasi juga berdampak pada pengeluaran konsumen  untuk menyaksikan konser dan film yang meningkat sebesar 40% (1,4 kali  lipat) dalam 2 tahun terakhir.

Ketiga, kenaikan konsumsi produk elektronik dan data seluler.  Pengeluaran di kategori telefon seluler naik sebesar 21% (1,2 kali  lipat) dalam 2 tahun terakhir, sedangkan untuk pengeluaran produk di  kategori gadget dan elektronik telah meningkat sebesar 50% (1,5 kali  lipat) dalam 2 tahun terakhir.
&amp;nbsp;
Berkembangnya keinginan untuk mendapatkan pengalaman baru dan adanya  kebutuhan untuk berbagi melalui sosial media telah memicu pertumbuhan  penggunaan data internet. Rata-rata konsumen menghabiskan lebih dari 5  jam di media sosial. Pangsa pasar untuk kategori data seluler dan  broadband naik hampir 2 kali lipat dalam 2 tahun terakhir.


Keempat, tantangan ganda yang dihadapi perusahaan FMCG.  Di satu  sisi, konsumen menurunkan jumlah konsumsi kategori FMCG atau berpindah  ke merek FMCG lain yang lebih terjangkau (downgrading) karena adanya  pergeseran dari perilaku konsumen ke ekonomi berbasis pengalaman serta  adanya peningkatan dalam perencanaan pembelian produk elektronik dan  perjalanan liburan/wisata.

Di sisi lainnya, perusahaan FMCG juga menghadapi tantangan dengan  kemunculan berbagai merek lokal yang mengambil pangsa pasar dari  merek-merek lama yang sudah mapan di pasaran. Riset ini menunjukkan  bahwa konsumen bersedia untuk membeli merek baru ketika ada penawaran  unik atau pengalaman berbeda yang saat ini tidak atau belum bisa  diberikan oleh merek-merek terkemuka.

Kelima, bangkitnya kesadaran konsumen akan kesehatan dan kebugaran.  Konsumen meningkatkan pengeluarannya untuk melakukan spa, pijat dan  refleksiologi sebesar 40% (1,4 kali lipat) dalam 2 tahun terakhir ini.  Hal ini didorong oleh kelompok/generasi milenial dan kelompok konsumen  kelas atas, diantara kedua kelompok ini, kebutuhan untuk spa, pijat, dan  refleksiologi sendiri meningkat hampir 2 kali lipat dalam dua tahun  terakhir.

Meningkatnya kesadaran untuk kesehatan dan kebugaran, khususnya  didorong oleh kelompok kelas atas dan Gen Z. Di kedua kelompok ini,  pengeluaran untuk kesehatan dan kebugaran telah meningkat lebih dari dua  kali lipat dalam 2 tahun terakhir.

</description><content:encoded>JAKARTA - Saat ini, perusahaan tradisional lebih memfokuskan diri pada generasi millenials, untuk ke depannya, mereka harus menargetkan Gen Z sebagai fokus utama untuk bisa mencapai pertumbuhan.

Berdasarkan riset bertajuk &amp;ldquo;Memahami Tren Konsumen Masa Kini&amp;ldquo; yang dilakukan perusahaan riset PT Neurosensum Technology International (Neurosensum), Gen Z yang ada saat ini akan menjadi pengganti generasi millennium di masa depan.

&amp;ldquo;Salah satu temuan penting dari riset ini adalah munculnya pola konsumsi yang berbeda pada Gen Z (yaitu mereka yang lahir setelah 1996),&amp;rdquo; kata Managing Director Neurosensum Rajiv Lamba dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/5/2018).

Konsumen Gen Z, kata dia, mengalami pertumbuhan yang pesat, baik dari sisi jumlah dan daya beli yang mereka miliki. Sayangnya, banyak perusahaan tradisional saat ini telah ditinggalkan oleh Gen Z karena pesan yang disampaikan sudah ketinggalan jaman dan penawaran yang diberikan tidak lagi relevan bagi Gen Z.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/12/21/45702/235983_medium.jpg&quot; alt=&quot;Aneka Promo Ditawarkan Pusat Perbelanjaan di Yogyakarta Jelang Natal dan Tahun Baru&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurutnya, Gen Z cenderung mengalokasikan pengeluarannya untuk mendapatkan pengalaman makan di luar, internet dan data seluler, kesehatan dan kebugaran, serta rekreasi.

&amp;rdquo;Riset yang dilakukan menunjukkan bahwa konsumen semakin cerdas dalam menentukan pilihan. Mereka menjadi semakin sadar akan kesehatan, dan mereka menginginkan pengalaman yang lebih dari merek dan produk yang mereka gunakan,&amp;rdquo; beber dia.

Sehingga, kata dia, penting bagi perusahaan untuk beralih dari komunikasi satu arah menjadi komunikasi dua arah yang lebih menarik bagi konsumen.

&amp;ldquo;Kemampuan perusahaan untuk merangkul Generasi Z adalah kunci masa depan,&amp;rdquo; kata dia.
&amp;nbsp;
Selain itu, riset ini juga mengungkapkan beberapa hal. Pertama bangkitnya ekonomi berbasis pengalaman. Konsumen di Indonesia tidak lagi merasa puas dengan sekedar produk saja. Mereka kini telah menjadi pembeli cerdas, yang mencari pengalaman melebihi produk dan jasa yang mereka gunakan.

Hal ini membuat mereka mengalihkan pengeluaran dari kategori fast moving consumer good (FMCG) tradisional seperti makanan dan minuman ke berbagai kategori dan produk yang menyediakan aneka pengalaman seperti rekreasi dan liburan, gadget atau produk elektronik dan data seluler.

Hal ini ditunjukkan dengan penurunan prosentase pengeluaran di kategori makanan dan minuman sebesar 2 poin dari 33% menjadi 31% dalam 2 tahun terakhir ini. Konsumen di semua kelompok usia dan tingkat pendapatan menurunkan jumlah pengeluaran mereka dalam katagori FMCG, penurunan lebih menonjol terlihat diantara Gen Z.
Kedua, meningkatnya kebutuhan untuk rekreasi.  Konsumen merasakan  bahwa tingkat stress dalam kehidupan mereka sehari-hari semakin  meningkat; dan sebagai dampaknya, muncul kebutuhan untuk &amp;lsquo;melarikan  diri&amp;rsquo; dari kondisi stress yang dialami yaitu dengan adanya peningkatan  konsumsi untuk kebutuhan rekreasi yang tercermin dalam perubahan pola  belanja konsumen.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/07/19/40100/217380_medium.jpg&quot; alt=&quot;Tren Belanja Daring Aktivitas Perdagangan Glodok Sepi&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Angka pengeluaran konsumen di kategori rekreasi telah mengalami  peningkatan sebesar 40% (1,4 kali lipat) dalam 2 tahun terakhir.  Peningkatan ini khususnya didorong/dipicu oleh kelompok generasi Z. Dari  40% kenaikan di kategori rekreasi, untuk kebutuhan travelling baik  dalam dan luar negeri menunjukan peningkatan sebesar 30% (1,3 kali  lipat) dalam 2 tahun terakhir ini

Potensi sektor wisata akan sangat menjanjikan karena jumlah konsumen  yang merencanakan untuk melakukan perjalanan liburan diperkirakan akan  meningkat 3 kali lipat dalam 2 tahun ke depan.

Kebutuhan akan rekreasi juga berdampak pada pengeluaran konsumen  untuk menyaksikan konser dan film yang meningkat sebesar 40% (1,4 kali  lipat) dalam 2 tahun terakhir.

Ketiga, kenaikan konsumsi produk elektronik dan data seluler.  Pengeluaran di kategori telefon seluler naik sebesar 21% (1,2 kali  lipat) dalam 2 tahun terakhir, sedangkan untuk pengeluaran produk di  kategori gadget dan elektronik telah meningkat sebesar 50% (1,5 kali  lipat) dalam 2 tahun terakhir.
&amp;nbsp;
Berkembangnya keinginan untuk mendapatkan pengalaman baru dan adanya  kebutuhan untuk berbagi melalui sosial media telah memicu pertumbuhan  penggunaan data internet. Rata-rata konsumen menghabiskan lebih dari 5  jam di media sosial. Pangsa pasar untuk kategori data seluler dan  broadband naik hampir 2 kali lipat dalam 2 tahun terakhir.


Keempat, tantangan ganda yang dihadapi perusahaan FMCG.  Di satu  sisi, konsumen menurunkan jumlah konsumsi kategori FMCG atau berpindah  ke merek FMCG lain yang lebih terjangkau (downgrading) karena adanya  pergeseran dari perilaku konsumen ke ekonomi berbasis pengalaman serta  adanya peningkatan dalam perencanaan pembelian produk elektronik dan  perjalanan liburan/wisata.

Di sisi lainnya, perusahaan FMCG juga menghadapi tantangan dengan  kemunculan berbagai merek lokal yang mengambil pangsa pasar dari  merek-merek lama yang sudah mapan di pasaran. Riset ini menunjukkan  bahwa konsumen bersedia untuk membeli merek baru ketika ada penawaran  unik atau pengalaman berbeda yang saat ini tidak atau belum bisa  diberikan oleh merek-merek terkemuka.

Kelima, bangkitnya kesadaran konsumen akan kesehatan dan kebugaran.  Konsumen meningkatkan pengeluarannya untuk melakukan spa, pijat dan  refleksiologi sebesar 40% (1,4 kali lipat) dalam 2 tahun terakhir ini.  Hal ini didorong oleh kelompok/generasi milenial dan kelompok konsumen  kelas atas, diantara kedua kelompok ini, kebutuhan untuk spa, pijat, dan  refleksiologi sendiri meningkat hampir 2 kali lipat dalam dua tahun  terakhir.

Meningkatnya kesadaran untuk kesehatan dan kebugaran, khususnya  didorong oleh kelompok kelas atas dan Gen Z. Di kedua kelompok ini,  pengeluaran untuk kesehatan dan kebugaran telah meningkat lebih dari dua  kali lipat dalam 2 tahun terakhir.

</content:encoded></item></channel></rss>
