<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tenaga Kerja Asing Ilegal Digaji hingga Rp40 Juta, Apa Pekerjaannya?</title><description>Puluhan pekerja asing ilegal yang bekerja di tambang emas rakyat di  Kabupaten Nabire menerima gaji fantastis hingga mencapai Rp40 juta.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/06/26/320/1914099/tenaga-kerja-asing-ilegal-digaji-hingga-rp40-juta-apa-pekerjaannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/06/26/320/1914099/tenaga-kerja-asing-ilegal-digaji-hingga-rp40-juta-apa-pekerjaannya"/><item><title>Tenaga Kerja Asing Ilegal Digaji hingga Rp40 Juta, Apa Pekerjaannya?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/06/26/320/1914099/tenaga-kerja-asing-ilegal-digaji-hingga-rp40-juta-apa-pekerjaannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/06/26/320/1914099/tenaga-kerja-asing-ilegal-digaji-hingga-rp40-juta-apa-pekerjaannya</guid><pubDate>Selasa 26 Juni 2018 11:58 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/06/26/320/1914099/tenaga-kerja-asing-ilegal-digaji-hingga-rp40-juta-apa-pekerjaannya-D8qBEUYn0n.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/06/26/320/1914099/tenaga-kerja-asing-ilegal-digaji-hingga-rp40-juta-apa-pekerjaannya-D8qBEUYn0n.jpg</image><title>Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock</title></images><description>TIMIKA - Jajaran Kantor Imigrasi Kelas II Tembagapura, Timika, Papua menyebut, puluhan pekerja asing ilegal yang bekerja di tambang emas rakyat di Kabupaten Nabire menerima gaji fantastis hingga mencapai Rp40 juta per bulan.
&quot;Dari investigasi yang kami lakukan, mereka semua digaji rata-rata 7.000-8.000 Yuan (mata uang Tiongkok) atau sekitar Rp14 juta-Rp15 juta per bulan. Bahkan ada yang sampai Rp40 juta. Itu keterangan mereka,&quot; kata Kepala Kantor Imigrasi Tembagapura, Timika, Jesaja Samuel Enock di Timika, Senin (25/6/2018).
Samuel Enock langsung memimpin sendiri operasi penertiban orang asing di empat lokasi tambang emas rakyat di Kabupaten Nabire pada 10 Juni lalu. Bersama empat orang stafnya, Samuel mendatangi lokasi tambang emas rakyat di Kampung Bifasik, Kampung Lagari dan sepanjang aliran Sungai Musaigo, Distrik Makime, Kabupaten Nabire.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2017/07/26/40343/218047_medium.jpg&quot; alt=&quot;Melihat dari Atas Proyek Tambang Emas&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Empat lokasi tambang emas rakyat itu dieksploitasi oleh sebuah perusahaan bernama Pacific Maning Jaya yang berkedudukan di Nabire. Kini pemilik perusahaan tersebut berinisial BE menjadi target utama pihak Imigrasi Tembagapura, Timika untuk diajukan ke kursi pesakitan lantaran mempekerjakan puluhan pekerja asing tanpa dokumen resmi alias menyalahi izin tinggal.
&quot;Dari 21 orang warga negara asing yang sudah kami periksa di Kantor Imigrasi Tembagapura, Timika, ada yang menggunakan bebas Visa kunjungan wisata, ada yang menggunakan Visa kunjungan. Rata-rata mereka beralamat di Jakarta. Ini sudah pelanggaran karena keberadaan mereka tidak sesuai dengan tempat tinggalnya,&quot; jelas Samuel.
Menurut dia, perusahaan Pacific Mining Jaya di Nabire tidak pernah melapor ke Kantor Imigrasi Tembagapura terkait keberadaan puluhan pekerja asing asal Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan tersebut.

&quot;Terdapat indikasi kuat bahwa keberadaan mereka di sana untuk bekerja sebab di situ merupakan lokasi tambang. Orang-orang asing itu datang ke sana bukan untuk sekedar jalan-jalan, tapi mereka memang melakukan aktivitas di lokasi tambang,&quot; jelas Samuel.
Sebanyak 21 pekerja asing yang sudah ada di Timika dan sebagian lagi yaitu sebanyak 16 orang asing yang berada di Nabire, seluruhnya nanti akan diajukan ke pengadilan dengan sangkaan melakukan tindak pidana keimigrasian sebagaimana diatur dalam Pasal 122 huruf a UU Nomor 6 Tahun 2011, dimana ancaman hukumannya yaitu selama lima tahun penjara dan denda sebesar Rp100 juta.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8yNC8xLzExMTUzMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&quot;Nanti semuanya akan menjalani proses pidana, tidak ada yang kami  deportasi. Dari catatan Paspor mereka, ada yang sudah berulang kali  keluar masuk Indonesia. Ada yang pernah bekerja di Sulawesi, ada yang  pernah bekerja di Maluku Utara. Kami melihat ada suatu kesengajaan dari  pihak-pihak tertentu untuk mendatangkan orang asing ke tempat-tempat  tersebut,&quot; kata Samuel.
Dari keterangan awal para pekerja asing tersebut, mereka telah  bekerja di lokasi tambang emas rakyat di Kabupaten Nabire dalam jangka  waktu bervariasi mulai dari tiga bulan hingga enam bulan. Adapun  pekerjaan yang mereka geluti di lokasi tambang emas rakyat di Nabire  bermacam-macam mulai dari supir dum truk, operator ekscavator, operator  peralatan pemurnian emas, bahkan ada yang bekerja sebagai tukang masak.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/05/03/49571/252269_medium.jpg&quot; alt=&quot;Geruduk Kantor DPR Makassar, Mahasiswa Tolak Dominasi Tenaga Kerja Asing&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&quot;Mereka semua melakukan pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan oleh  orang-orang lokal. Berarti mereka bukan tenaga ahli yang memang sangat  diperlukan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Mengapa perusahaan  tidak mau mempekerjakan tenaga kerja lokal, tapi harus didatangkan dari  luar negeri,&quot; tanya Samuel.
Lebih irinis lagi, demikian Samuel, masyarakat lokal yang nota bene  merupakan pemilik hak ulayat atas lokasi tambang emas rakyat di Nabire  tersebut sama sekali tidak diizinkan untuk melihat proses produksi  apalagi mengetahui hasil produksi emas yang diolah di lokasi lahan  mereka sendiri.
&quot;Semua pekerjaan mereka yang ambil alih. Masyarakat lokal hanya dapat  tugas untuk mengambil bahan bakar di Nabire. Penghasilan yang  masyarakat terima sangat jomplang dibanding orang asing yang bekerja di  lokasi tambang itu,&quot; tutur Samuel.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/05/03/49571/252271_medium.jpg&quot; alt=&quot;Geruduk Kantor DPR Makassar, Mahasiswa Tolak Dominasi Tenaga Kerja Asing&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Kehadiran petugas Kantor Imigrasi Tembagapura, Timika di lokasi  tambang emas rakyat di Nabire beberapa waktu lalu mendapat dukungan  penuh dari masyarakat setempat.
&quot;Masyarakat sangat mendukung kehadiran kami untuk melakukan penegakan  hukum terhadap orang asing yang bekerja di lokasi tambang-tambang itu  karena sekaligus memberikan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat  adat yang seharusnya mendapat porsi yang adil dari pihak perusahaan,&quot;  kata Samuel.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8yNi8xLzExMTU3NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</description><content:encoded>TIMIKA - Jajaran Kantor Imigrasi Kelas II Tembagapura, Timika, Papua menyebut, puluhan pekerja asing ilegal yang bekerja di tambang emas rakyat di Kabupaten Nabire menerima gaji fantastis hingga mencapai Rp40 juta per bulan.
&quot;Dari investigasi yang kami lakukan, mereka semua digaji rata-rata 7.000-8.000 Yuan (mata uang Tiongkok) atau sekitar Rp14 juta-Rp15 juta per bulan. Bahkan ada yang sampai Rp40 juta. Itu keterangan mereka,&quot; kata Kepala Kantor Imigrasi Tembagapura, Timika, Jesaja Samuel Enock di Timika, Senin (25/6/2018).
Samuel Enock langsung memimpin sendiri operasi penertiban orang asing di empat lokasi tambang emas rakyat di Kabupaten Nabire pada 10 Juni lalu. Bersama empat orang stafnya, Samuel mendatangi lokasi tambang emas rakyat di Kampung Bifasik, Kampung Lagari dan sepanjang aliran Sungai Musaigo, Distrik Makime, Kabupaten Nabire.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2017/07/26/40343/218047_medium.jpg&quot; alt=&quot;Melihat dari Atas Proyek Tambang Emas&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Empat lokasi tambang emas rakyat itu dieksploitasi oleh sebuah perusahaan bernama Pacific Maning Jaya yang berkedudukan di Nabire. Kini pemilik perusahaan tersebut berinisial BE menjadi target utama pihak Imigrasi Tembagapura, Timika untuk diajukan ke kursi pesakitan lantaran mempekerjakan puluhan pekerja asing tanpa dokumen resmi alias menyalahi izin tinggal.
&quot;Dari 21 orang warga negara asing yang sudah kami periksa di Kantor Imigrasi Tembagapura, Timika, ada yang menggunakan bebas Visa kunjungan wisata, ada yang menggunakan Visa kunjungan. Rata-rata mereka beralamat di Jakarta. Ini sudah pelanggaran karena keberadaan mereka tidak sesuai dengan tempat tinggalnya,&quot; jelas Samuel.
Menurut dia, perusahaan Pacific Mining Jaya di Nabire tidak pernah melapor ke Kantor Imigrasi Tembagapura terkait keberadaan puluhan pekerja asing asal Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan tersebut.

&quot;Terdapat indikasi kuat bahwa keberadaan mereka di sana untuk bekerja sebab di situ merupakan lokasi tambang. Orang-orang asing itu datang ke sana bukan untuk sekedar jalan-jalan, tapi mereka memang melakukan aktivitas di lokasi tambang,&quot; jelas Samuel.
Sebanyak 21 pekerja asing yang sudah ada di Timika dan sebagian lagi yaitu sebanyak 16 orang asing yang berada di Nabire, seluruhnya nanti akan diajukan ke pengadilan dengan sangkaan melakukan tindak pidana keimigrasian sebagaimana diatur dalam Pasal 122 huruf a UU Nomor 6 Tahun 2011, dimana ancaman hukumannya yaitu selama lima tahun penjara dan denda sebesar Rp100 juta.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8yNC8xLzExMTUzMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&quot;Nanti semuanya akan menjalani proses pidana, tidak ada yang kami  deportasi. Dari catatan Paspor mereka, ada yang sudah berulang kali  keluar masuk Indonesia. Ada yang pernah bekerja di Sulawesi, ada yang  pernah bekerja di Maluku Utara. Kami melihat ada suatu kesengajaan dari  pihak-pihak tertentu untuk mendatangkan orang asing ke tempat-tempat  tersebut,&quot; kata Samuel.
Dari keterangan awal para pekerja asing tersebut, mereka telah  bekerja di lokasi tambang emas rakyat di Kabupaten Nabire dalam jangka  waktu bervariasi mulai dari tiga bulan hingga enam bulan. Adapun  pekerjaan yang mereka geluti di lokasi tambang emas rakyat di Nabire  bermacam-macam mulai dari supir dum truk, operator ekscavator, operator  peralatan pemurnian emas, bahkan ada yang bekerja sebagai tukang masak.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/05/03/49571/252269_medium.jpg&quot; alt=&quot;Geruduk Kantor DPR Makassar, Mahasiswa Tolak Dominasi Tenaga Kerja Asing&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&quot;Mereka semua melakukan pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan oleh  orang-orang lokal. Berarti mereka bukan tenaga ahli yang memang sangat  diperlukan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Mengapa perusahaan  tidak mau mempekerjakan tenaga kerja lokal, tapi harus didatangkan dari  luar negeri,&quot; tanya Samuel.
Lebih irinis lagi, demikian Samuel, masyarakat lokal yang nota bene  merupakan pemilik hak ulayat atas lokasi tambang emas rakyat di Nabire  tersebut sama sekali tidak diizinkan untuk melihat proses produksi  apalagi mengetahui hasil produksi emas yang diolah di lokasi lahan  mereka sendiri.
&quot;Semua pekerjaan mereka yang ambil alih. Masyarakat lokal hanya dapat  tugas untuk mengambil bahan bakar di Nabire. Penghasilan yang  masyarakat terima sangat jomplang dibanding orang asing yang bekerja di  lokasi tambang itu,&quot; tutur Samuel.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/05/03/49571/252271_medium.jpg&quot; alt=&quot;Geruduk Kantor DPR Makassar, Mahasiswa Tolak Dominasi Tenaga Kerja Asing&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Kehadiran petugas Kantor Imigrasi Tembagapura, Timika di lokasi  tambang emas rakyat di Nabire beberapa waktu lalu mendapat dukungan  penuh dari masyarakat setempat.
&quot;Masyarakat sangat mendukung kehadiran kami untuk melakukan penegakan  hukum terhadap orang asing yang bekerja di lokasi tambang-tambang itu  karena sekaligus memberikan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat  adat yang seharusnya mendapat porsi yang adil dari pihak perusahaan,&quot;  kata Samuel.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8yNi8xLzExMTU3NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
