<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Ibarat Pemadam yang Telat Meredam Kebakaran Rupiah</title><description>Anjloknya mata uang Garuda karena lambatnya respons Bank Indonesia (BI) dan pemerintah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/04/278/1917428/bi-ibarat-pemadam-yang-telat-meredam-kebakaran-rupiah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/07/04/278/1917428/bi-ibarat-pemadam-yang-telat-meredam-kebakaran-rupiah"/><item><title>BI Ibarat Pemadam yang Telat Meredam Kebakaran Rupiah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/04/278/1917428/bi-ibarat-pemadam-yang-telat-meredam-kebakaran-rupiah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/07/04/278/1917428/bi-ibarat-pemadam-yang-telat-meredam-kebakaran-rupiah</guid><pubDate>Rabu 04 Juli 2018 06:53 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/07/03/278/1917428/bi-ibarat-pemadam-yang-telat-meredam-kebakaran-rupiah-n4udIEz3Ql.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/07/03/278/1917428/bi-ibarat-pemadam-yang-telat-meredam-kebakaran-rupiah-n4udIEz3Ql.jpg</image><title>Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan 50 basis points (bps) 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-Day RR Rate) menjadi 5,25%. Keputusan ini dinilai telat karena Rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Pengamat Ekonomi Bhima Yudhistira, terus anjloknya mata uang Garuda karena lambatnya respons Bank Indonesia (BI) dan pemerintah. Padahal seharusnya, BI utamanya sudah bisa memprediksi dinamika tersebut.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/07/02/51341/259877_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
&quot;Saya ibaratkan pemerintah dan BI,  pemadam kebakaran yang datang setelah rumahnya habis terbakar,&quot; tuturnya saat dihubungi Okezone.
Menurutnya, jika tidak ada respons yang cepat dan tepat dari BI dan pemerintah, mata uang Garuda bakal lebih terpuruk. &quot;Kalau kondisi terus begini akhir Juli sangat mungkin rupiah tembus Rp14.700-Rp14.800 per USD,&quot; ujarnya.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/07/02/51341/259876_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Untuk itu, solusinya jangan selalu naikan bunga acuan terus karena memukul sektor riil. Solusinya harus struktural yaitu perbaikan indikator ekonomi seperti daya beli, ekspor dan transaksi berjalan.
&quot;Sekarang saatnya pemerintah yang lebih pro aktif kendalikan rupiah bukan lewat bunga acuan BI,&quot; ujarnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8zMC80LzExMTcxMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan 50 basis points (bps) 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-Day RR Rate) menjadi 5,25%. Keputusan ini dinilai telat karena Rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Pengamat Ekonomi Bhima Yudhistira, terus anjloknya mata uang Garuda karena lambatnya respons Bank Indonesia (BI) dan pemerintah. Padahal seharusnya, BI utamanya sudah bisa memprediksi dinamika tersebut.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/07/02/51341/259877_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
&quot;Saya ibaratkan pemerintah dan BI,  pemadam kebakaran yang datang setelah rumahnya habis terbakar,&quot; tuturnya saat dihubungi Okezone.
Menurutnya, jika tidak ada respons yang cepat dan tepat dari BI dan pemerintah, mata uang Garuda bakal lebih terpuruk. &quot;Kalau kondisi terus begini akhir Juli sangat mungkin rupiah tembus Rp14.700-Rp14.800 per USD,&quot; ujarnya.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/07/02/51341/259876_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Untuk itu, solusinya jangan selalu naikan bunga acuan terus karena memukul sektor riil. Solusinya harus struktural yaitu perbaikan indikator ekonomi seperti daya beli, ekspor dan transaksi berjalan.
&quot;Sekarang saatnya pemerintah yang lebih pro aktif kendalikan rupiah bukan lewat bunga acuan BI,&quot; ujarnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8zMC80LzExMTcxMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
