<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Konsumsi Daging, Telur hingga Susu Orang RI Kalah Jauh dari Malaysia</title><description>Konsumsi protein hewani yang meliputi daging, susu, telur dan ikan di Indonesia hanya sekitar 8% saja.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/04/320/1917805/konsumsi-daging-telur-hingga-susu-orang-ri-kalah-jauh-dari-malaysia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/07/04/320/1917805/konsumsi-daging-telur-hingga-susu-orang-ri-kalah-jauh-dari-malaysia"/><item><title>Konsumsi Daging, Telur hingga Susu Orang RI Kalah Jauh dari Malaysia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/04/320/1917805/konsumsi-daging-telur-hingga-susu-orang-ri-kalah-jauh-dari-malaysia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/07/04/320/1917805/konsumsi-daging-telur-hingga-susu-orang-ri-kalah-jauh-dari-malaysia</guid><pubDate>Rabu 04 Juli 2018 15:56 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/07/04/320/1917805/konsumsi-daging-telur-hingga-susu-orang-ri-kalah-jauh-dari-malaysia-Q8CwdmrwqS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/07/04/320/1917805/konsumsi-daging-telur-hingga-susu-orang-ri-kalah-jauh-dari-malaysia-Q8CwdmrwqS.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Okezone</title></images><description>JAKARTA - Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Musdalifah menyebut jika kinerja peternakan Indonesia sudah sedikit mengalami kemajuan. Namun hal tersebut tidaklah cukup, sebab penyediaan hewan ternak masih kalah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia hingga Thailand.

Padahal, peternakan memegang peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bagaimana tidak, sektor peternakan merupakan salah satu sub sektor yang menjadi motor pembangunan khususnya di wilayah pedesaan.

&quot;Penyediaan protein hewani Indonesia salah satu yang dipandang tertinggal dibandingkan negara ASEAN (Asia Tenggara) lainya,&quot; ujarnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (4/7/2018).
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/01/27/46802/240121_medium.jpg&quot; alt=&quot;Kementerian Perdagangan Bakal Atur Harga Referensi Batas Atas-Bawah Ayam dan Telur&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Dari sisi konsumsi pun lanjut Musdalifah, sektor peternakan Indonesia masih kalah dibandingkan negara tetangga. Konsumsi protein hewani yang meliputi daging, susu, telur dan ikan di Indonesia hanya sekitar 8% saja.

Sementara negara Thailand dan Filipina sudah mencapai masing-masing adalah 20% dan 21%. Bahkan di negara Malaysia, konsumsi protein hewaninya sudah mencapai 28%.

&quot;Konsumsi kita di ASEAN konsumsinya hanya 8%.  Dibandingkan Malaysia yang sudah mencapai 28%, Thailand 20%, Filipina 21%,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/01/28/46829/240202_medium.jpg&quot; alt=&quot;Intip Peternak Memerah Susu Sapi dengan Mesin di Kampung Kancah Bandung Barat&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Khusus untuk susu lanjut Musdalifah, sangat wajar jika angka konsumsi masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Sebab, sejak kecil, masyarakat Indonesia tidak terbiasa untuk meminum susu.

Biasanya masyarakat Indonesia hanya meminum susu pada saat usia bawah lima tahun (balita). Itupun susu yang berasal dari ibunya alias Air Susu Ibu (ASI), setelah itu jarang sekali masyarakat Indonesia yang meminum susu sebagai rutinitas.

&quot;Untuk susu kita masih sangat tertinggal karena budaya kita belum minum susu. Kalo budaya minum susu itu dari asi. Kita harus banyak sekali komunikasi komunikasi seperti ini,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/03/02/47851/244237_medium.jpg&quot; alt=&quot;Ketika Peternak Dicium Sapi pada Tradisi Ngguyang Sapi di Embung Bunder Klaten&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Sementara untuk daging maupun telur, banyak sekali pemikiran masyarakat yang enggan memakannya. Padahal, orang tersebut memiliki ayam ataupun sapi sendiri yang tentunya hasilnya bisa dimakan untuk sendiri.

&quot;Susu telur daging dan ikan ini yang harus kita komunikasikan. Kemenko mengembangkan program penyertaan ekonomi Indonesia harapannya kita bisa masuk untuk usaha susu, daging, telur, ikan,&quot; jelasnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Musdalifah menyebut jika kinerja peternakan Indonesia sudah sedikit mengalami kemajuan. Namun hal tersebut tidaklah cukup, sebab penyediaan hewan ternak masih kalah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia hingga Thailand.

Padahal, peternakan memegang peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bagaimana tidak, sektor peternakan merupakan salah satu sub sektor yang menjadi motor pembangunan khususnya di wilayah pedesaan.

&quot;Penyediaan protein hewani Indonesia salah satu yang dipandang tertinggal dibandingkan negara ASEAN (Asia Tenggara) lainya,&quot; ujarnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (4/7/2018).
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/01/27/46802/240121_medium.jpg&quot; alt=&quot;Kementerian Perdagangan Bakal Atur Harga Referensi Batas Atas-Bawah Ayam dan Telur&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Dari sisi konsumsi pun lanjut Musdalifah, sektor peternakan Indonesia masih kalah dibandingkan negara tetangga. Konsumsi protein hewani yang meliputi daging, susu, telur dan ikan di Indonesia hanya sekitar 8% saja.

Sementara negara Thailand dan Filipina sudah mencapai masing-masing adalah 20% dan 21%. Bahkan di negara Malaysia, konsumsi protein hewaninya sudah mencapai 28%.

&quot;Konsumsi kita di ASEAN konsumsinya hanya 8%.  Dibandingkan Malaysia yang sudah mencapai 28%, Thailand 20%, Filipina 21%,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/01/28/46829/240202_medium.jpg&quot; alt=&quot;Intip Peternak Memerah Susu Sapi dengan Mesin di Kampung Kancah Bandung Barat&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Khusus untuk susu lanjut Musdalifah, sangat wajar jika angka konsumsi masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Sebab, sejak kecil, masyarakat Indonesia tidak terbiasa untuk meminum susu.

Biasanya masyarakat Indonesia hanya meminum susu pada saat usia bawah lima tahun (balita). Itupun susu yang berasal dari ibunya alias Air Susu Ibu (ASI), setelah itu jarang sekali masyarakat Indonesia yang meminum susu sebagai rutinitas.

&quot;Untuk susu kita masih sangat tertinggal karena budaya kita belum minum susu. Kalo budaya minum susu itu dari asi. Kita harus banyak sekali komunikasi komunikasi seperti ini,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/03/02/47851/244237_medium.jpg&quot; alt=&quot;Ketika Peternak Dicium Sapi pada Tradisi Ngguyang Sapi di Embung Bunder Klaten&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Sementara untuk daging maupun telur, banyak sekali pemikiran masyarakat yang enggan memakannya. Padahal, orang tersebut memiliki ayam ataupun sapi sendiri yang tentunya hasilnya bisa dimakan untuk sendiri.

&quot;Susu telur daging dan ikan ini yang harus kita komunikasikan. Kemenko mengembangkan program penyertaan ekonomi Indonesia harapannya kita bisa masuk untuk usaha susu, daging, telur, ikan,&quot; jelasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
