<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Rupiah Rp14.400, Pengusaha Pilih Kurangi Keuntungan Daripada Menaikkan Harga</title><description>Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat pengusaha memilih menekan margin keuntungan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/12/320/1921606/rupiah-rp14-400-pengusaha-pilih-kurangi-keuntungan-daripada-menaikkan-harga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/07/12/320/1921606/rupiah-rp14-400-pengusaha-pilih-kurangi-keuntungan-daripada-menaikkan-harga"/><item><title>   Rupiah Rp14.400, Pengusaha Pilih Kurangi Keuntungan Daripada Menaikkan Harga</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/12/320/1921606/rupiah-rp14-400-pengusaha-pilih-kurangi-keuntungan-daripada-menaikkan-harga</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/07/12/320/1921606/rupiah-rp14-400-pengusaha-pilih-kurangi-keuntungan-daripada-menaikkan-harga</guid><pubDate>Kamis 12 Juli 2018 19:41 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/07/12/320/1921606/rupiah-rp14-400-pengusaha-pilih-kurangi-keuntungan-daripada-menaikkan-harga-a2KBd7XQsT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/07/12/320/1921606/rupiah-rp14-400-pengusaha-pilih-kurangi-keuntungan-daripada-menaikkan-harga-a2KBd7XQsT.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description> 
JAKARTA - Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat pengusaha memilih menekan margin keuntungan untuk tetap bertahan.

Hal tersebut berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) untuk kuartal II 2018 yang dilakukan Bank Indonesia.

Direktur Eksekutif Departemen Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati menyatakan, pengusaha yang mengandalkan bahan baku impor harus berhadapan dengan pelemahan Rupiah.

&quot;Sektor yang impornya tinggi, itu adalah sektor yang akan lebih khawatir bila Rupiah terlalu lemah, sehingga biaya produksi lebih tinggi. Industri yang ketergantungannya tinggi terhadap impor, itu yang terus berhati-hati dengan perkembangan nilai tukar,&quot; ujarnya di Gedung BI, Jakarta, Kamis (12/7/2018).
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/07/02/51341/259876_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Dia menyebutkan kondisi menekan margin keuntungan harus dialami seperti industri kimia farmasi, tekstil, makan dan minuman.

&quot;Saat ini mereka enggak mengubah harga. Mereka masih bisa menekan margin keuntungan untuk tetap bisa survive (bertahan),&quot; katanya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/07/02/51341/259877_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Kendati demikian, tak semua industri dirugikan dengan pelamahan rupiah, industri komoditas seperti pertambangan dan perkebunan justru diuntungkan. Hal ini mengingat industri tersebut berbasiskan eskpor. &quot;Yang tidak begitu bergantung adalah yang komoditas,&quot; imbuhnya.

Untuk diketahui, rupiah terus tertekan oleh penguata dolar AS sejak awal tahun 2018. Berdasarkan kurs tengah BI hari ini, Kamis (12/7/2018), Rupiah kini berada di level Rp14.435 per USD.</description><content:encoded> 
JAKARTA - Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat pengusaha memilih menekan margin keuntungan untuk tetap bertahan.

Hal tersebut berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) untuk kuartal II 2018 yang dilakukan Bank Indonesia.

Direktur Eksekutif Departemen Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati menyatakan, pengusaha yang mengandalkan bahan baku impor harus berhadapan dengan pelemahan Rupiah.

&quot;Sektor yang impornya tinggi, itu adalah sektor yang akan lebih khawatir bila Rupiah terlalu lemah, sehingga biaya produksi lebih tinggi. Industri yang ketergantungannya tinggi terhadap impor, itu yang terus berhati-hati dengan perkembangan nilai tukar,&quot; ujarnya di Gedung BI, Jakarta, Kamis (12/7/2018).
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/07/02/51341/259876_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Dia menyebutkan kondisi menekan margin keuntungan harus dialami seperti industri kimia farmasi, tekstil, makan dan minuman.

&quot;Saat ini mereka enggak mengubah harga. Mereka masih bisa menekan margin keuntungan untuk tetap bisa survive (bertahan),&quot; katanya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/07/02/51341/259877_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Kendati demikian, tak semua industri dirugikan dengan pelamahan rupiah, industri komoditas seperti pertambangan dan perkebunan justru diuntungkan. Hal ini mengingat industri tersebut berbasiskan eskpor. &quot;Yang tidak begitu bergantung adalah yang komoditas,&quot; imbuhnya.

Untuk diketahui, rupiah terus tertekan oleh penguata dolar AS sejak awal tahun 2018. Berdasarkan kurs tengah BI hari ini, Kamis (12/7/2018), Rupiah kini berada di level Rp14.435 per USD.</content:encoded></item></channel></rss>
