<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Amerika Kaji Ulang Status Indonesia dalam Program Perdagangan GSP</title><description>Perwakilan Perdagangan Amerika akan mengumumkan hasil evaluasi untuk memperbarui atau tidak program GSP</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/19/320/1924374/amerika-kaji-ulang-status-indonesia-dalam-program-perdagangan-gsp</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/07/19/320/1924374/amerika-kaji-ulang-status-indonesia-dalam-program-perdagangan-gsp"/><item><title>Amerika Kaji Ulang Status Indonesia dalam Program Perdagangan GSP</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/19/320/1924374/amerika-kaji-ulang-status-indonesia-dalam-program-perdagangan-gsp</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/07/19/320/1924374/amerika-kaji-ulang-status-indonesia-dalam-program-perdagangan-gsp</guid><pubDate>Kamis 19 Juli 2018 10:00 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/07/19/320/1924374/amerika-kaji-ulang-status-indonesia-dalam-program-perdagangan-gsp-ltmxuDC715.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/07/19/320/1924374/amerika-kaji-ulang-status-indonesia-dalam-program-perdagangan-gsp-ltmxuDC715.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Okezone</title></images><description>JAKARTA - Pada musim gugur (September-November) tahun ini USTR (Perwakilan Perdagangan Amerika) akan mengumumkan hasil evaluasi untuk memperbarui atau tidak program GSP singkatan dari Generalized System of Preference bagi Indonesia dan dua negara lain.

GSP adalah program pemerintah Amerika untuk mendorong pembangunan ekonomi negara-negara berkembang yang terdaftar, termasuk Indonesia dengan membebaskan bea masuk ribuan produk mereka ke Amerika. Namun, pada bulan April lalu. USTR membuat pengumuman untuk mengevaluasi program GSP bagi Indonesia, India dan Kazakhstan. Mengapa USTR melakukan evaluasi baru ini dan apa dampaknya bagi Indonesia seandainya program GSP bagi Indonesia dicabut?

Dalam pengumumannya yang dikeluarkan akhir April 2018 dikatakan USTR (United States Trade Representative) atau Wakil Perdagangan Amerika Serikat akan mengevaluasi hak Indonesia atas program GSP Amerika itu.

Evaluasi itu dilakukan karena adanya keprihatinan bahwa Indonesia tidak memenuhi beberapa kriteria program GSP tersebut. Dikatakan Indonesia telah menerapkan berbagai kendala investasi dan perdagangan yang menimbulkan efek negatif serius pada perdagangan Amerika.

&quot;Presiden Trump berkomitmen untuk menjamin bahwa negara-negara yang memperoleh manfaat program GSP memegang teguh janji mereka dengan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan Kongres,&quot; kata Deputi Wakil USTR Jeffrey Gerrish.

&quot;Kami berharap India, Indonesia dan Kazakhstan akan bekerja-sama dengan kami untuk membahas keprihatinan yang mengharuskan kami melakukan evaluasi baru ini.&quot;
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/03/20/48328/246214_medium.jpg&quot; alt=&quot;Defisit Neraca Perdagangan&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurut Presiden Kamar Dagang Amerika-Indonesia, Wayne Forrest, bagi Indonesia, program GSP hanya berdampak pada produk pabriknya, tetapi tidak untuk komoditasnya. Ini berarti tanpa programGSP bea-masuk produk pabrik Indonesia ke Amerika bisa naik.

Wayne Forrest mengatakan karena sampai saat ini analisis USTR secara rinci tentang hasil evaluasi atas program GSP Indonesia itu belum diumumkan, jadi dia belum dapat secara spesifik menyebut produk apa saja yang terkena dampaknya.

&quot;Yang penting untuk dipahami adalah program GSP ini tidak berdampak pada komoditas alamiah seperti rempah-rempah, kopi, teh dan lain sebagainya tapi kemungkinan akan berdampak antara lain pada produk pabrik seperti perabot dan kertas, yang dijual Indonesia di Amerika, dan mungkin merupakan pasar terbesar bagi Indonesia untuk produk-produk semacam itu. Jadi tanpa program GSP produk-produk itu akan menjadi mahal karena bea-masuk untuk garmen dan sebagainya, bisa naik 10% bergantung pada kategorinya, tetapi hal itu tidak akan menutup pasar Amerika, hanya nanti harganya di pasar Amerika akan lebih mahal,&quot; jelas Forrest.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNy8xNi80LzExNDQ1MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Pada tahun 2017, Indonesia berada di peringkat 4 dari 20 negara  berkembang yang memperoleh manfaat program GSP. Ekspor Indonesia ke  Amerika yang memperoleh manfaat GSP bernilai 20 milyar dollar. Jika GSP  dicabut apa pengaruhnya pada Indonesia? Forrest mengatakan harus diingat  proses evaluasi ini akan memakan waktu jadi saat ini belum bisa  diketahui bagaimana dampaknya nanti.

&quot;Saya yakin proses evaluasi ini akan di follow up dengan berbagai  konsultasi sebelum kebijakan nyata akan diberlakukan. Pemerintah  Indonesia kemungkinan akan mengutus team ke Amerika, dan salah satu tim  akan tiba bulan ini di Amerika untuk bertemu dengan pejabat-pejabat  Amerika, jadi kita lihat bagaimana hasilnya nanti. Maksud saya, kan cara  pendekatan pemerintahan Trump mungkin akan berbeda dari pemerintahan  sebelumnya,&quot; ujar Forrest.

Pada tahun 2017, sekitar USD2 milyar ekspor Indonesia ke Amerika  memperoleh pengecualian bea masuk. Wayne menambahkan, &quot;harus diingat ini  bukan pertama kali Indonesia menghadapi evaluasi program GSP itu, dan  setelah serangkaian negosiasi dengan Amerika, program GSP itu tidak jadi  dicabut.&quot;

&quot;Pada tahun 1980an, Amerika pernah mengevaluasi program GSP bagi  Indonesia, seperti kondisi kerja buruh, hak buruh, berbagai tantangan  terkait HAKI, atau Hak atas Kekayaan Intelektual, dan semua isu itu  dirundingkan antara Amerika dan Indonesia. Indonesia membuat berbagai  kompromi disana-sini dan berhasil mempertahankan jasa GSP ketika itu,&quot;  katanya.

Program GSP Amerika ini dimulai sejak tahun l976 dan merupakan  program yang merupakan program yang terbesar dan tertua di Amerika.  Menurut laporan beberapa perusahaan Amerika telah mengajukan pengaduan  mereka bahwa Indonesia tidak memenuhi kriteria GSP dan meminta agar  Indonesia dikeluarkan dari daftar program GSP. Kongres Amerika bulan  Maret 2017 memutuskan untuk memperbarui program GSP itu hingga tahun  2020.

USTR yang melakukan evaluasi GSP itu adalah bagian dari kantor  presiden Amerika. Jadi berbeda dengan Departmen Perdagangan yang  dipimpin oleh seorang menteri kabinet.Departemen Perdagangan Amerika  sekitar setahun lalu mengumumkan telah mengevaluasi 16 negara yang  mempunyai surplus perdagangan dengan Amerika Serikat, termasuk  Indonesia. Menurut Wayne Forrest delegasi menteri Perdagangan Indonesia  akan berkunjung ke Amerika bulan ini dan akan mengadakan pertemuan  dengan Departemen Perdagangan Amerika. Tapi ia tidak bisa memastikan  apakah Menteri Perdagangan Indonesia akan bertemu dengan USTR.</description><content:encoded>JAKARTA - Pada musim gugur (September-November) tahun ini USTR (Perwakilan Perdagangan Amerika) akan mengumumkan hasil evaluasi untuk memperbarui atau tidak program GSP singkatan dari Generalized System of Preference bagi Indonesia dan dua negara lain.

GSP adalah program pemerintah Amerika untuk mendorong pembangunan ekonomi negara-negara berkembang yang terdaftar, termasuk Indonesia dengan membebaskan bea masuk ribuan produk mereka ke Amerika. Namun, pada bulan April lalu. USTR membuat pengumuman untuk mengevaluasi program GSP bagi Indonesia, India dan Kazakhstan. Mengapa USTR melakukan evaluasi baru ini dan apa dampaknya bagi Indonesia seandainya program GSP bagi Indonesia dicabut?

Dalam pengumumannya yang dikeluarkan akhir April 2018 dikatakan USTR (United States Trade Representative) atau Wakil Perdagangan Amerika Serikat akan mengevaluasi hak Indonesia atas program GSP Amerika itu.

Evaluasi itu dilakukan karena adanya keprihatinan bahwa Indonesia tidak memenuhi beberapa kriteria program GSP tersebut. Dikatakan Indonesia telah menerapkan berbagai kendala investasi dan perdagangan yang menimbulkan efek negatif serius pada perdagangan Amerika.

&quot;Presiden Trump berkomitmen untuk menjamin bahwa negara-negara yang memperoleh manfaat program GSP memegang teguh janji mereka dengan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan Kongres,&quot; kata Deputi Wakil USTR Jeffrey Gerrish.

&quot;Kami berharap India, Indonesia dan Kazakhstan akan bekerja-sama dengan kami untuk membahas keprihatinan yang mengharuskan kami melakukan evaluasi baru ini.&quot;
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/03/20/48328/246214_medium.jpg&quot; alt=&quot;Defisit Neraca Perdagangan&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurut Presiden Kamar Dagang Amerika-Indonesia, Wayne Forrest, bagi Indonesia, program GSP hanya berdampak pada produk pabriknya, tetapi tidak untuk komoditasnya. Ini berarti tanpa programGSP bea-masuk produk pabrik Indonesia ke Amerika bisa naik.

Wayne Forrest mengatakan karena sampai saat ini analisis USTR secara rinci tentang hasil evaluasi atas program GSP Indonesia itu belum diumumkan, jadi dia belum dapat secara spesifik menyebut produk apa saja yang terkena dampaknya.

&quot;Yang penting untuk dipahami adalah program GSP ini tidak berdampak pada komoditas alamiah seperti rempah-rempah, kopi, teh dan lain sebagainya tapi kemungkinan akan berdampak antara lain pada produk pabrik seperti perabot dan kertas, yang dijual Indonesia di Amerika, dan mungkin merupakan pasar terbesar bagi Indonesia untuk produk-produk semacam itu. Jadi tanpa program GSP produk-produk itu akan menjadi mahal karena bea-masuk untuk garmen dan sebagainya, bisa naik 10% bergantung pada kategorinya, tetapi hal itu tidak akan menutup pasar Amerika, hanya nanti harganya di pasar Amerika akan lebih mahal,&quot; jelas Forrest.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNy8xNi80LzExNDQ1MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Pada tahun 2017, Indonesia berada di peringkat 4 dari 20 negara  berkembang yang memperoleh manfaat program GSP. Ekspor Indonesia ke  Amerika yang memperoleh manfaat GSP bernilai 20 milyar dollar. Jika GSP  dicabut apa pengaruhnya pada Indonesia? Forrest mengatakan harus diingat  proses evaluasi ini akan memakan waktu jadi saat ini belum bisa  diketahui bagaimana dampaknya nanti.

&quot;Saya yakin proses evaluasi ini akan di follow up dengan berbagai  konsultasi sebelum kebijakan nyata akan diberlakukan. Pemerintah  Indonesia kemungkinan akan mengutus team ke Amerika, dan salah satu tim  akan tiba bulan ini di Amerika untuk bertemu dengan pejabat-pejabat  Amerika, jadi kita lihat bagaimana hasilnya nanti. Maksud saya, kan cara  pendekatan pemerintahan Trump mungkin akan berbeda dari pemerintahan  sebelumnya,&quot; ujar Forrest.

Pada tahun 2017, sekitar USD2 milyar ekspor Indonesia ke Amerika  memperoleh pengecualian bea masuk. Wayne menambahkan, &quot;harus diingat ini  bukan pertama kali Indonesia menghadapi evaluasi program GSP itu, dan  setelah serangkaian negosiasi dengan Amerika, program GSP itu tidak jadi  dicabut.&quot;

&quot;Pada tahun 1980an, Amerika pernah mengevaluasi program GSP bagi  Indonesia, seperti kondisi kerja buruh, hak buruh, berbagai tantangan  terkait HAKI, atau Hak atas Kekayaan Intelektual, dan semua isu itu  dirundingkan antara Amerika dan Indonesia. Indonesia membuat berbagai  kompromi disana-sini dan berhasil mempertahankan jasa GSP ketika itu,&quot;  katanya.

Program GSP Amerika ini dimulai sejak tahun l976 dan merupakan  program yang merupakan program yang terbesar dan tertua di Amerika.  Menurut laporan beberapa perusahaan Amerika telah mengajukan pengaduan  mereka bahwa Indonesia tidak memenuhi kriteria GSP dan meminta agar  Indonesia dikeluarkan dari daftar program GSP. Kongres Amerika bulan  Maret 2017 memutuskan untuk memperbarui program GSP itu hingga tahun  2020.

USTR yang melakukan evaluasi GSP itu adalah bagian dari kantor  presiden Amerika. Jadi berbeda dengan Departmen Perdagangan yang  dipimpin oleh seorang menteri kabinet.Departemen Perdagangan Amerika  sekitar setahun lalu mengumumkan telah mengevaluasi 16 negara yang  mempunyai surplus perdagangan dengan Amerika Serikat, termasuk  Indonesia. Menurut Wayne Forrest delegasi menteri Perdagangan Indonesia  akan berkunjung ke Amerika bulan ini dan akan mengadakan pertemuan  dengan Departemen Perdagangan Amerika. Tapi ia tidak bisa memastikan  apakah Menteri Perdagangan Indonesia akan bertemu dengan USTR.</content:encoded></item></channel></rss>
