<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Titik Terang di Balik Gugurnya Bisnis Ritel Indonesia</title><description>Masa-masa emas bisnis ritel di Indonesia sudah mulai redup ditandai  banyaknya ritel-ritel raksasa yang gulung tikar dan menutup gerainya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/23/320/1926035/titik-terang-di-balik-gugurnya-bisnis-ritel-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/07/23/320/1926035/titik-terang-di-balik-gugurnya-bisnis-ritel-indonesia"/><item><title>Titik Terang di Balik Gugurnya Bisnis Ritel Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/23/320/1926035/titik-terang-di-balik-gugurnya-bisnis-ritel-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/07/23/320/1926035/titik-terang-di-balik-gugurnya-bisnis-ritel-indonesia</guid><pubDate>Senin 23 Juli 2018 13:11 WIB</pubDate><dc:creator>Kurniasih Miftakhul Jannah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/07/23/320/1926035/titik-terang-di-balik-gugurnya-bisnis-ritel-indonesia-kceBHlhVnN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mini Market (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/07/23/320/1926035/titik-terang-di-balik-gugurnya-bisnis-ritel-indonesia-kceBHlhVnN.jpg</image><title>Mini Market (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Masa-masa emas bisnis ritel di Indonesia sudah mulai redup ditandai banyaknya ritel-ritel raksasa yang gulung tikar dan menutup gerainya. Hal yang sama lebih dahulu mendera pebisnis ritel di Amerika akibat maraknya bisnis belanja online. Tantangan tersebut tentunya merupakan hal serius yang harus segera diantisipasi oleh semua pelaku bisnis ritel. Penyesuaian terhadap perkembangan pun harus dipikirkan dengan matang, bukan hanya sekedar dengan mengubah bisnis model.
Oleh karena itu dibutuhkan strategi baru untuk mengembangkan bisnis ritel sesuai dengan perkembangan zaman yang serba digital saat ini yakni melibatkan faktor luar dalam mengambil keputusan bisnis seperti strategi omni-channel marketing dimana terdapat interkoneksi aktivitas bisnis secara online dan offline.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/05/26/50300/255437_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pusat Perbelanjaan Mulai Gelar Diskon Ramadan&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Bukan hanya menjalankan bisnis secara online dan offline saja, melainkan dibutuhkan omni-channel marketing karena konsumen cenderung mengkombinasikan aktivitas di toko online dan offline sebelum melakukan pembelian. Kadang mereka review produk secara online, lalu ke toko offline untuk membeli. Sehingga kegiatan marketing antara online dan offline yang terintegrasi sangat dibutuhkan,&amp;rdquo; papar Dekan School of Business &amp;amp; Economics Universitas Prasetiya Mulya Prof. Agus W. Soehadi  dalam talkshow Branding Update yang digagas oleh S1 Branding Prasetiya Mulya dan bekerja sama dengan Indonesia Branding Association (IBA) ini.
Berdasarkan riset Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO) diungkapkan bahwa pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia pertahun 2016 mengalami penurunan menjadi 9% dibanding tahun 2014 mencapai angka dua digit di 14 hingga 15%.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/05/26/50300/255438_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pusat Perbelanjaan Mulai Gelar Diskon Ramadan&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Dalam kesempatan sama Product Leadership Director Nielsen Indonesia Krisetiadi Purwanto menjelaskan, menurut hasil riset The Nielsen Company Indonesia, penetrasi internet yang luar biasa membuat daya beli masyarakat Indonesia kian mengalami transisi dari yang mengutamakan belanja produk menjadi mendahulukan belanja pengalaman.
&amp;ldquo;Dari hasil riset terhadap 1.500 responden rumah tangga di Indonesia, konsumen masa kini lebih cenderung menghabiskan dana untuk rekreasi dan gaya hidup ketimbang untuk konsumsi fast moving consumer goods (FMCG),&amp;rdquo; ungkap Krisetiadi Purwanto.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNi8xNC85LzExMzI4OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Semakin jelas bahwa saat ini tengah terjadi transisi daya beli  masyarakat karena konsumen yang semakin cerdas. Kegiatan berbelanja kini  bukan semata hanya sebatas pada proses membeli kebutuhan, tetapi  konsumen menuntut adanya pengalaman yang &amp;lsquo;lebih&amp;rsquo; ketika mereka  berbelanja.
Konsumen saat ini melihat social currency yang akan didapat ketika  melakukan pembelian terhadap suatu brand. Peritel harus mengedepankan  pengalaman dan interaksi dalam setiap touch point dengan konsumennya,&amp;rdquo;  kata Chief Marketing Enabler startup Anterin Jessica Carla.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/05/26/50300/255439_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pusat Perbelanjaan Mulai Gelar Diskon Ramadan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Senada dengan Jesica Carla, Direktur Jakarta Aquarium Hans Manansang  memaparkan perlunya pendekatan personal kepada konsumen, yang  selanjutnya ia sebut sebagai EPIC Point. &amp;ldquo;Ritel harus menawarkan  engagement, personalisation, interaction, dan convenience atau EPIC  point ke sisi pengunjungnya,&amp;rdquo; jelas Hans Manansang.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/05/26/50300/255440_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pusat Perbelanjaan Mulai Gelar Diskon Ramadan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Meski banyak toko ritel yang tutup, masih terlalu dini untuk  mengatakan jika industri ini di ambang kematian. Sebagai upaya untuk  meningkatkan kembali performa dari bisnis ritel di Indonesia, Ketua Umum  Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO), Roy N. Mande menegaskan  bahwa industri tidak mati asalkan pebisnis mau menyesuaikan bisnis  modelnya guna menyiasati industri ritel yang sedang under perform.
&amp;ldquo;Mal konvensional cenderung sepi pengunjung, sementara new retail  seperti mall berbasis lifestyle yang memberikan experience kuliner,  hiburan, dan rekreasi semakin ramai dipadati pengunjung. Penyesuaian ini  yang harus dilakukan,&amp;rdquo; jelas Roy N Mande.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNS8yMy82Ni8xMTI1MzgvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Masa-masa emas bisnis ritel di Indonesia sudah mulai redup ditandai banyaknya ritel-ritel raksasa yang gulung tikar dan menutup gerainya. Hal yang sama lebih dahulu mendera pebisnis ritel di Amerika akibat maraknya bisnis belanja online. Tantangan tersebut tentunya merupakan hal serius yang harus segera diantisipasi oleh semua pelaku bisnis ritel. Penyesuaian terhadap perkembangan pun harus dipikirkan dengan matang, bukan hanya sekedar dengan mengubah bisnis model.
Oleh karena itu dibutuhkan strategi baru untuk mengembangkan bisnis ritel sesuai dengan perkembangan zaman yang serba digital saat ini yakni melibatkan faktor luar dalam mengambil keputusan bisnis seperti strategi omni-channel marketing dimana terdapat interkoneksi aktivitas bisnis secara online dan offline.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/05/26/50300/255437_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pusat Perbelanjaan Mulai Gelar Diskon Ramadan&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Bukan hanya menjalankan bisnis secara online dan offline saja, melainkan dibutuhkan omni-channel marketing karena konsumen cenderung mengkombinasikan aktivitas di toko online dan offline sebelum melakukan pembelian. Kadang mereka review produk secara online, lalu ke toko offline untuk membeli. Sehingga kegiatan marketing antara online dan offline yang terintegrasi sangat dibutuhkan,&amp;rdquo; papar Dekan School of Business &amp;amp; Economics Universitas Prasetiya Mulya Prof. Agus W. Soehadi  dalam talkshow Branding Update yang digagas oleh S1 Branding Prasetiya Mulya dan bekerja sama dengan Indonesia Branding Association (IBA) ini.
Berdasarkan riset Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO) diungkapkan bahwa pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia pertahun 2016 mengalami penurunan menjadi 9% dibanding tahun 2014 mencapai angka dua digit di 14 hingga 15%.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/05/26/50300/255438_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pusat Perbelanjaan Mulai Gelar Diskon Ramadan&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Dalam kesempatan sama Product Leadership Director Nielsen Indonesia Krisetiadi Purwanto menjelaskan, menurut hasil riset The Nielsen Company Indonesia, penetrasi internet yang luar biasa membuat daya beli masyarakat Indonesia kian mengalami transisi dari yang mengutamakan belanja produk menjadi mendahulukan belanja pengalaman.
&amp;ldquo;Dari hasil riset terhadap 1.500 responden rumah tangga di Indonesia, konsumen masa kini lebih cenderung menghabiskan dana untuk rekreasi dan gaya hidup ketimbang untuk konsumsi fast moving consumer goods (FMCG),&amp;rdquo; ungkap Krisetiadi Purwanto.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNi8xNC85LzExMzI4OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Semakin jelas bahwa saat ini tengah terjadi transisi daya beli  masyarakat karena konsumen yang semakin cerdas. Kegiatan berbelanja kini  bukan semata hanya sebatas pada proses membeli kebutuhan, tetapi  konsumen menuntut adanya pengalaman yang &amp;lsquo;lebih&amp;rsquo; ketika mereka  berbelanja.
Konsumen saat ini melihat social currency yang akan didapat ketika  melakukan pembelian terhadap suatu brand. Peritel harus mengedepankan  pengalaman dan interaksi dalam setiap touch point dengan konsumennya,&amp;rdquo;  kata Chief Marketing Enabler startup Anterin Jessica Carla.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/05/26/50300/255439_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pusat Perbelanjaan Mulai Gelar Diskon Ramadan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Senada dengan Jesica Carla, Direktur Jakarta Aquarium Hans Manansang  memaparkan perlunya pendekatan personal kepada konsumen, yang  selanjutnya ia sebut sebagai EPIC Point. &amp;ldquo;Ritel harus menawarkan  engagement, personalisation, interaction, dan convenience atau EPIC  point ke sisi pengunjungnya,&amp;rdquo; jelas Hans Manansang.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/05/26/50300/255440_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pusat Perbelanjaan Mulai Gelar Diskon Ramadan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Meski banyak toko ritel yang tutup, masih terlalu dini untuk  mengatakan jika industri ini di ambang kematian. Sebagai upaya untuk  meningkatkan kembali performa dari bisnis ritel di Indonesia, Ketua Umum  Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO), Roy N. Mande menegaskan  bahwa industri tidak mati asalkan pebisnis mau menyesuaikan bisnis  modelnya guna menyiasati industri ritel yang sedang under perform.
&amp;ldquo;Mal konvensional cenderung sepi pengunjung, sementara new retail  seperti mall berbasis lifestyle yang memberikan experience kuliner,  hiburan, dan rekreasi semakin ramai dipadati pengunjung. Penyesuaian ini  yang harus dilakukan,&amp;rdquo; jelas Roy N Mande.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNS8yMy82Ni8xMTI1MzgvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
