<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Negara dengan 'Tambang' Mata Uang Virtual Terbesar</title><description>Satu Bitcoin, misalnya, kini bernilai lebih dari USD7000 (Rp100 juta); padahal pada2016 hanya bernilai ratusan dolar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/23/320/1926231/negara-dengan-tambang-mata-uang-virtual-terbesar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/07/23/320/1926231/negara-dengan-tambang-mata-uang-virtual-terbesar"/><item><title>Negara dengan 'Tambang' Mata Uang Virtual Terbesar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/23/320/1926231/negara-dengan-tambang-mata-uang-virtual-terbesar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/07/23/320/1926231/negara-dengan-tambang-mata-uang-virtual-terbesar</guid><pubDate>Senin 23 Juli 2018 18:17 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/07/23/320/1926231/negara-dengan-tambang-mata-uang-virtual-terbesar-C3PNtGnznw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bitcoin. Ilustrasi: Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/07/23/320/1926231/negara-dengan-tambang-mata-uang-virtual-terbesar-C3PNtGnznw.jpg</image><title>Bitcoin. Ilustrasi: Shutterstock</title></images><description>ADA ratusan jenis mata uang virtual, dan nilai beberapa di antaranya melonjak dalam tiga tahun terakhir. Satu Bitcoin, misalnya, kini bernilai lebih dari USD7000 (Rp100 juta); padahal pada2016 hanya bernilai ratusan dolar. Ini membuat bisnis menciptakan uang virtual baru berpotensi sangat menguntungkan.
Membuat unit mata uang virtual baru melibatkan daya komputasi dalam skala industri untuk menyelesaikan algoritme kompleks. Proses ini disebut &quot;menambang&quot;, dan seharusnya memastikan bahwa membuat unit baru mata uang virtual tidak mudah dan dengan itu membatasi suplainya.

Namun dalam beberapa tahun belakangan, beberapa perusahaan telah mendirikan &quot;tambang&quot; mata uang virtual skala besar. Perusahaan-perusahaan itu menumpuk ratusan komputer di bawah satu atap untuk menghasilkan uang baru dengan lebih cepat. Fasilitas seperti ini, yang disebut &quot;pusat data&quot;, menyedot listrik dalam jumlah sangat besar.
Baru-baru ini, tambang-tambang mata uang virtual bermunculan di satu negara yang tidak diduga: Islandia. Di tengah-tengah puluhan gudang di lahan yang tampaknya kosong, sebuah gubuk yang tidak tampak istimewa menaungi salah satu tambang mata uang virtual.

Berdiri di bangunan bekas bengkel mobil di markas militer AS di dekat Reykjavik, Arni Jensen dari Borealis Data Center menjelaskan bagaimana bangunan tersebut disulap menjadi tambang mata uang virtual, lengkap dengan rak-rak komputer dan kabel yang simpang siur.
&quot;Inilah yang disebut alat pemroses grafis,&quot; kata Jensen. &quot;Kami mengambil kartu di dalam komputer Anda yang membuat layar menyala, dan kami menumpuk sejumlah kartu itu &amp;ndash; 10 atau 15 &amp;ndash; di dalam sebuah rangka.&quot;

Tambahnya, &quot;Mereka memungkinkan kami melakukan proses paralel, melakukan algoritme yang kami jalankan secara paralel.&quot;
Kenapa Islandia? Komputer cepat panas dan perlu dijaga supaya tetap dingin, upaya yang membutuhkan biaya tak sedikit. Untungnya, Islandia bisa mengatasi masalah ini.
Jensen berkata bahwa ia tak perlu memasang unit pendingin karena Islandia memiliki iklim dingin alami yang mengatur suhu internal tambang dari luar. Berarti tak perlu keluar ongkos untuk mendinginkan komputer-komputer itu.Sekadar proses menjalankan komputer juga membutuhkan banyak energi.  Untungnya lagi, Islandia punya suplai energi yang hampir tak terbatas di  bawah tanahnya.
Negara kecil itu memiliki sejumlah pembangkit listrik tenaga panas  bumi yang memanfaatkan uap dari air super-panas alami untuk menjalankan  turbin dan menghasilkan energi dalam jumlah besar dengan biaya murah.
&quot;Pada akhir tahun ini, pusat data di Islandia akan menggunakan lebih  banyak listrik dari semua rumah di Islandia,&quot; kata Johann Sigurbergsson  dari perusahaan energi geotermal HS Orka.

Image caption Pabrik Bitcoin 'Genesis Farming' yang terletak di dekat  kota Reykjavik ini merupakan contoh bisnis mata uang virtual yang marak  di Islandia.
Ini berarti bahwa, sejauh ini, tambang mata uang digital tidak  menimbulkan banyak masalah bagi Islandia, negara yang mendapatkan 100%  pasokan energinya dari sumber terbarukan.
Tapi di Plattsburgh, New York, ceritanya lain. Keberadaan tambang  menciptakan begitu banyak tekanan finansial pada kota sehingga  walikotanya mengumumkan pelarangan sementara untuk tambang mata uang  virtual.

&quot;Saat ini, mereka telah menggunakan 15 sampai 25% listrik di kota  kami setiap hari. Dan tidak hanya menyedot energi yang besar, tapi juga  terdapat sejumlah konsekuensi tidak diinginkan yang tidak pernah  diatasi,&quot; kata walikota Plattsburgh Colin Read, yang menambahkan bahwa  komputer juga menghasilkan banyak panas dan polusi suara.
Bagi Plattsburgh, kerugiannya lebih besar daripada keuntungannya.  Karena tambang mata uang virtual pada dasarnya berjalan secara otomatis,  ia hanya perlu sedikit pegawai. Juga, karena sifat bisnis mata uang  virtual yang tak abadi, perusahaan cenderung menyewa fasilitas daripada  membeli aset, jadi kota tidak mendapat untung dari pajak properti.
&quot;Saya suka mata uang virtual,&quot; kata Read, tapi Plattsburgh harus  menemukan cara mengatasi masalah terkait penambangan mata uang virtual  yang tengah dihadapinya sebelum menghentikan pelarangan dan kembali  menyambut para penambang di kota itu.</description><content:encoded>ADA ratusan jenis mata uang virtual, dan nilai beberapa di antaranya melonjak dalam tiga tahun terakhir. Satu Bitcoin, misalnya, kini bernilai lebih dari USD7000 (Rp100 juta); padahal pada2016 hanya bernilai ratusan dolar. Ini membuat bisnis menciptakan uang virtual baru berpotensi sangat menguntungkan.
Membuat unit mata uang virtual baru melibatkan daya komputasi dalam skala industri untuk menyelesaikan algoritme kompleks. Proses ini disebut &quot;menambang&quot;, dan seharusnya memastikan bahwa membuat unit baru mata uang virtual tidak mudah dan dengan itu membatasi suplainya.

Namun dalam beberapa tahun belakangan, beberapa perusahaan telah mendirikan &quot;tambang&quot; mata uang virtual skala besar. Perusahaan-perusahaan itu menumpuk ratusan komputer di bawah satu atap untuk menghasilkan uang baru dengan lebih cepat. Fasilitas seperti ini, yang disebut &quot;pusat data&quot;, menyedot listrik dalam jumlah sangat besar.
Baru-baru ini, tambang-tambang mata uang virtual bermunculan di satu negara yang tidak diduga: Islandia. Di tengah-tengah puluhan gudang di lahan yang tampaknya kosong, sebuah gubuk yang tidak tampak istimewa menaungi salah satu tambang mata uang virtual.

Berdiri di bangunan bekas bengkel mobil di markas militer AS di dekat Reykjavik, Arni Jensen dari Borealis Data Center menjelaskan bagaimana bangunan tersebut disulap menjadi tambang mata uang virtual, lengkap dengan rak-rak komputer dan kabel yang simpang siur.
&quot;Inilah yang disebut alat pemroses grafis,&quot; kata Jensen. &quot;Kami mengambil kartu di dalam komputer Anda yang membuat layar menyala, dan kami menumpuk sejumlah kartu itu &amp;ndash; 10 atau 15 &amp;ndash; di dalam sebuah rangka.&quot;

Tambahnya, &quot;Mereka memungkinkan kami melakukan proses paralel, melakukan algoritme yang kami jalankan secara paralel.&quot;
Kenapa Islandia? Komputer cepat panas dan perlu dijaga supaya tetap dingin, upaya yang membutuhkan biaya tak sedikit. Untungnya, Islandia bisa mengatasi masalah ini.
Jensen berkata bahwa ia tak perlu memasang unit pendingin karena Islandia memiliki iklim dingin alami yang mengatur suhu internal tambang dari luar. Berarti tak perlu keluar ongkos untuk mendinginkan komputer-komputer itu.Sekadar proses menjalankan komputer juga membutuhkan banyak energi.  Untungnya lagi, Islandia punya suplai energi yang hampir tak terbatas di  bawah tanahnya.
Negara kecil itu memiliki sejumlah pembangkit listrik tenaga panas  bumi yang memanfaatkan uap dari air super-panas alami untuk menjalankan  turbin dan menghasilkan energi dalam jumlah besar dengan biaya murah.
&quot;Pada akhir tahun ini, pusat data di Islandia akan menggunakan lebih  banyak listrik dari semua rumah di Islandia,&quot; kata Johann Sigurbergsson  dari perusahaan energi geotermal HS Orka.

Image caption Pabrik Bitcoin 'Genesis Farming' yang terletak di dekat  kota Reykjavik ini merupakan contoh bisnis mata uang virtual yang marak  di Islandia.
Ini berarti bahwa, sejauh ini, tambang mata uang digital tidak  menimbulkan banyak masalah bagi Islandia, negara yang mendapatkan 100%  pasokan energinya dari sumber terbarukan.
Tapi di Plattsburgh, New York, ceritanya lain. Keberadaan tambang  menciptakan begitu banyak tekanan finansial pada kota sehingga  walikotanya mengumumkan pelarangan sementara untuk tambang mata uang  virtual.

&quot;Saat ini, mereka telah menggunakan 15 sampai 25% listrik di kota  kami setiap hari. Dan tidak hanya menyedot energi yang besar, tapi juga  terdapat sejumlah konsekuensi tidak diinginkan yang tidak pernah  diatasi,&quot; kata walikota Plattsburgh Colin Read, yang menambahkan bahwa  komputer juga menghasilkan banyak panas dan polusi suara.
Bagi Plattsburgh, kerugiannya lebih besar daripada keuntungannya.  Karena tambang mata uang virtual pada dasarnya berjalan secara otomatis,  ia hanya perlu sedikit pegawai. Juga, karena sifat bisnis mata uang  virtual yang tak abadi, perusahaan cenderung menyewa fasilitas daripada  membeli aset, jadi kota tidak mendapat untung dari pajak properti.
&quot;Saya suka mata uang virtual,&quot; kata Read, tapi Plattsburgh harus  menemukan cara mengatasi masalah terkait penambangan mata uang virtual  yang tengah dihadapinya sebelum menghentikan pelarangan dan kembali  menyambut para penambang di kota itu.</content:encoded></item></channel></rss>
