<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Naik 40%, Intiland Bukukan Penjualan Rp1,3 Triliun</title><description>Intiland Development Tbk (DILD) meraih pendapatan penjualan (marketing sales) semester I tahun 2018 sebesar Rp1,3 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/24/470/1926524/naik-40-intiland-bukukan-penjualan-rp1-3-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/07/24/470/1926524/naik-40-intiland-bukukan-penjualan-rp1-3-triliun"/><item><title>Naik 40%, Intiland Bukukan Penjualan Rp1,3 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/07/24/470/1926524/naik-40-intiland-bukukan-penjualan-rp1-3-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/07/24/470/1926524/naik-40-intiland-bukukan-penjualan-rp1-3-triliun</guid><pubDate>Selasa 24 Juli 2018 12:39 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Harian Neraca</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/07/24/470/1926524/naik-40-intiland-bukukan-penjualan-rp1-3-triliun-gQuZL1T8mh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/07/24/470/1926524/naik-40-intiland-bukukan-penjualan-rp1-3-triliun-gQuZL1T8mh.jpg</image><title>Ilustrasi: Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Perusahaan pengembang properti PT Intiland Development Tbk (DILD) meraih pendapatan penjualan (marketing sales) semester I tahun 2018 sebesar Rp1,3 triliun. Perseroan berhasil meningkatkan perolehan marketing sales sebesar 40% dibandingkan pencapaian semester I tahun lalu yang mencapai Rp919 miliar.
Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menjelaskan, peningkatan marketing sales terutama masih ditopang oleh penjualan dari proyek baru seperti pengembangan terpadu Fifty Seven Promenade dan dari penjualan unit-unit properti hunian. &amp;ldquo;Kondisi pasar properti secara umum masih cukup berat dan menantang. Namun, sepanjang triwulan kedua tahun ini kami masih membukukan penjualan cukup baik pada produk hunian, seperti perumahan dan apartemen,&amp;rdquo; kata Archied.

Berdasarkan hasil perolehan marketing sales di semester I tahun ini, empat proyek hunian tercatat memberikan kontribusi cukup signifikan. Keempat proyek tersebut yakni kawasan perumahan Serenia Hills dan apartemen 1Park Avenue di Jakarta Selatan, apartemen Fifty Seven Promenade di Jakarta Pusat, serta kawasan perumahan Graha Natura di Surabaya. Keempat proyek hunian ini memberikan kontribusi sebesar Rp1,1 triliun atau 87% dari keseluruhan. &amp;ldquo;Sepanjang triwulan kedua tahun ini, hasil penjualan terbaik lebih banyak ditopang dari proyek-proyek pengembangan perumahan,&amp;rdquo; ungkap Archied.

Archied menjelaskan bahwa ditinjau dari segmentasinya, pengembangan mixed-use and high rise berhasil mencatatkan marketing sales sebesar Rp969 miliar atau 75% dari keseluruhan. Perolehan ini melonjak 325% dibandingkan perolehan semester I tahun 2017 mencapai Rp228 miliar. Kontributor paling besar di segmen ini berasal dari penjualan apartemen Fifty Seven Promenade yang mencapai Rp783 miliar. Kontribusi berikutnya berasal dari penjualan di segmen pengembangan kawasan perumahan.Memiliki tujuh pengembangan kawasan perumahan, segmen ini memberikan  kontribusi marketing sales kepada perseroan sebesar Rp270 miliar atau  21% dari keseluruhan. Pengembangan kawasan perumahan Serenia Hills  tercatat sebagai kontributor marketing sales terbesar di segmen ini.  Kawasan perumahan yang berlokasi di Lebak Bulus Jakarta Selatan ini  memberikan kontribusi Rp140 miliar dari keseluruhan. Sementara, segmen  pengembangan kawasan industri tercatat membubuhkan nilai marketing sales  sebesar Rp45 miliar.
Ditinjau berdasarkan lokasi pengembangannya, penjualan dari  proyek-proyek Jakarta memberikan kontribusi marketing sales sebesar  Rp1,08 triliun atau 60% dari keseluruhan. Sisanya sebesar Rp199 miliar  berasal dari penjualan unit properti di proyekproyek perseroan di  kawasan Surabaya.

Selain kontribusi marketing sales, perseroan  membukukan pendapatan berkelanjutan (recurring income) di semester  pertama tahun ini sebesar Rp276,1 miliar.
Archied mengakui bahwa secara umum pasar properti belum bergerak  secara normal. Selain kondisinya masih cenderung melemah, pasar properti  juga menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya tren meningkatnya  suku bunga. Perseroan memberikan apresiasi terhadap kebijakan Bank  Indonesia dalam melonggarkan aturan mengenai rasio nilai kredit terhadap  aset (loan to value / LTV) sektor perumahan. Relaksasi ketentuan ini  dapat memberikan angin segar dan dampak positif bagi para pelaku  industri properti karena memberikan fleksibilitas bagi konsumen untuk  menetapkan uang muka kredit.</description><content:encoded>JAKARTA - Perusahaan pengembang properti PT Intiland Development Tbk (DILD) meraih pendapatan penjualan (marketing sales) semester I tahun 2018 sebesar Rp1,3 triliun. Perseroan berhasil meningkatkan perolehan marketing sales sebesar 40% dibandingkan pencapaian semester I tahun lalu yang mencapai Rp919 miliar.
Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menjelaskan, peningkatan marketing sales terutama masih ditopang oleh penjualan dari proyek baru seperti pengembangan terpadu Fifty Seven Promenade dan dari penjualan unit-unit properti hunian. &amp;ldquo;Kondisi pasar properti secara umum masih cukup berat dan menantang. Namun, sepanjang triwulan kedua tahun ini kami masih membukukan penjualan cukup baik pada produk hunian, seperti perumahan dan apartemen,&amp;rdquo; kata Archied.

Berdasarkan hasil perolehan marketing sales di semester I tahun ini, empat proyek hunian tercatat memberikan kontribusi cukup signifikan. Keempat proyek tersebut yakni kawasan perumahan Serenia Hills dan apartemen 1Park Avenue di Jakarta Selatan, apartemen Fifty Seven Promenade di Jakarta Pusat, serta kawasan perumahan Graha Natura di Surabaya. Keempat proyek hunian ini memberikan kontribusi sebesar Rp1,1 triliun atau 87% dari keseluruhan. &amp;ldquo;Sepanjang triwulan kedua tahun ini, hasil penjualan terbaik lebih banyak ditopang dari proyek-proyek pengembangan perumahan,&amp;rdquo; ungkap Archied.

Archied menjelaskan bahwa ditinjau dari segmentasinya, pengembangan mixed-use and high rise berhasil mencatatkan marketing sales sebesar Rp969 miliar atau 75% dari keseluruhan. Perolehan ini melonjak 325% dibandingkan perolehan semester I tahun 2017 mencapai Rp228 miliar. Kontributor paling besar di segmen ini berasal dari penjualan apartemen Fifty Seven Promenade yang mencapai Rp783 miliar. Kontribusi berikutnya berasal dari penjualan di segmen pengembangan kawasan perumahan.Memiliki tujuh pengembangan kawasan perumahan, segmen ini memberikan  kontribusi marketing sales kepada perseroan sebesar Rp270 miliar atau  21% dari keseluruhan. Pengembangan kawasan perumahan Serenia Hills  tercatat sebagai kontributor marketing sales terbesar di segmen ini.  Kawasan perumahan yang berlokasi di Lebak Bulus Jakarta Selatan ini  memberikan kontribusi Rp140 miliar dari keseluruhan. Sementara, segmen  pengembangan kawasan industri tercatat membubuhkan nilai marketing sales  sebesar Rp45 miliar.
Ditinjau berdasarkan lokasi pengembangannya, penjualan dari  proyek-proyek Jakarta memberikan kontribusi marketing sales sebesar  Rp1,08 triliun atau 60% dari keseluruhan. Sisanya sebesar Rp199 miliar  berasal dari penjualan unit properti di proyekproyek perseroan di  kawasan Surabaya.

Selain kontribusi marketing sales, perseroan  membukukan pendapatan berkelanjutan (recurring income) di semester  pertama tahun ini sebesar Rp276,1 miliar.
Archied mengakui bahwa secara umum pasar properti belum bergerak  secara normal. Selain kondisinya masih cenderung melemah, pasar properti  juga menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya tren meningkatnya  suku bunga. Perseroan memberikan apresiasi terhadap kebijakan Bank  Indonesia dalam melonggarkan aturan mengenai rasio nilai kredit terhadap  aset (loan to value / LTV) sektor perumahan. Relaksasi ketentuan ini  dapat memberikan angin segar dan dampak positif bagi para pelaku  industri properti karena memberikan fleksibilitas bagi konsumen untuk  menetapkan uang muka kredit.</content:encoded></item></channel></rss>
