<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Akan Direaktivasi, Begini Sepenggal Cerita Jalur KA Jogja-Magelang</title><description>Rencana reaktivasi jalur kereta api Jogja-Magelang kembali mencuat</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/08/08/320/1933519/akan-direaktivasi-begini-sepenggal-cerita-jalur-ka-jogja-magelang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/08/08/320/1933519/akan-direaktivasi-begini-sepenggal-cerita-jalur-ka-jogja-magelang"/><item><title>Akan Direaktivasi, Begini Sepenggal Cerita Jalur KA Jogja-Magelang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/08/08/320/1933519/akan-direaktivasi-begini-sepenggal-cerita-jalur-ka-jogja-magelang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/08/08/320/1933519/akan-direaktivasi-begini-sepenggal-cerita-jalur-ka-jogja-magelang</guid><pubDate>Rabu 08 Agustus 2018 14:08 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Harian Jogja</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/08/08/320/1933519/akan-direaktivasi-begini-sepenggal-cerita-jalur-ka-jogja-magelang-AvQJ2zbMT7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kereta Uap Jogja-Magelang (Foto: Harian Jogja)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/08/08/320/1933519/akan-direaktivasi-begini-sepenggal-cerita-jalur-ka-jogja-magelang-AvQJ2zbMT7.jpg</image><title>Kereta Uap Jogja-Magelang (Foto: Harian Jogja)</title></images><description>YOGYAKARTA - Rencana reaktivasi jalur kereta api Jogja-Magelang kembali mencuat dengan dipasangnya tiang patok di Secang, Magelang. Bekas-bekas jalur lama itu sebetulnya sudah sulit ditangkap mata. Namun kenangan masih tersimpan lekat di benak orang-orang yang pernah menggunakannya.
Melansir Harian Jogja, pagi itu, Sri Nurtanti waswas. Dia khawatir kecewa jika eyangnya tiba-tiba membatalkan janji yang pernah diucap beberapa hari sebelumnya.
Rasa cemas itu langsung sirna berubah bungah tatkala Secoprawiro, mendiang eyangnya, ternyata pantang mengingkari janji kepada cucunya. Berangkatlah eyang dan cucu berduaan, berjalan kaki menyusuri tepian Selokan Mataram dari Dusun Nglarang, Tlogoadi, Mlati, Sleman, menuju Stasiun Kutu di Sinduadi, Mlati, Sleman.
Perjalanan cukup panjang sekitar 4,6 kilometer (Km), memakan waktu lebih dari satu jam. Kaki kecil Nurtanti tidak bisa melangkah secepat orang dewasa. Mungkin jika Secoprawiro berjalan sendirian, hanya butuh 45 menit untuk sampai ke Stasiun Kutu.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/06/21/51027/258562_medium.jpg&quot; alt=&quot;Kemenhub Uji Coba Rute Kereta Bandara dari Stasiun Bekasi&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Setelah cukup jerih melangkahkan kaki, tibalah keduanya di Stasiun Kutu. Nurtanti masih menunggu beberapa puluh menit dengan gelisah. Celingak-celinguk menanti kereta datang. Akhirnya waktu yang dinanti-nanti datang. Lokomotif kekar berwarna hitam melaju pelan dari arah selatan memasuki peron stasiun.
Peluitnya menyalak nyaring. Embusan udara panas yang keluar dari pipa buang pun tak kalah keras. Suara mesin uap itu mendahului kecepatan lajunya, yang untuk ukuran kereta saat ini, teramat lamban.
Asap hitam bergulung-gulung yang keluar dari cerobong di bagian hidung loko, mengepul ke angkasa. Uap berwarna putihnya menyentak dengan cepat dari pipa buang diikuti bunyi, &amp;ldquo;Jesss...!&amp;rdquo;
&amp;ldquo;Jess...! Jesss...! kuuu..kuukkk..!&amp;rdquo; Nurtanti menirukan suara embusan uap dan peluit uap kereta Lempuyangan-Secang.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/06/12/50789/257605_medium.jpg&quot; alt=&quot;725 Peserta Mudik Bareng PDIP Naik Kereta Api dari Stasiun Pasar Senen&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Wanita yang kini sudah berusia 66 tahun itu mencoba mengingat-ingat pengalamannya lebih dari 55 tahun lalu, ketika dia masih kanak-kanak, saat kali pertama melihat mesin penarik gerbong dari jarak sebegitu dekat. Dia tak ingat persis tahun dan usianya.
&amp;ldquo;Masih SD. Yang jelas jauh sebelum Gestapu [Gerakan Tiga Puluh September 1965],&amp;rdquo; ujar nenek dengan enam cucu itu, Minggu (5/8/2018).
Lokomotif mesin uap itu melintas di hadapannya bak banteng hitam pejal nan kokoh dan berhenti dengan mantap bersamaan suara decit gesekan roda besi bertemu rel. Nurtanti mencoba menghitung roda-roda besi di lokomotif. Ada sepuluh. Enam berukuran besar saling terkait tongkat besi, diapit empat roda berukuran lebih kecil.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNy8xNy8xOS8xMTQ1MDYvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
(feb)Laman heritage.kai.id menuliskan lokomotif uap berkode C 24 itu  adalah mesin peninggalan perusahaan kereta api swasta  Nederlandsch-Indische Spoorweg maatschappij (NIS). Didatangkan 15 unit  dari pabrik kereta api Werkspoor Belanda antara 1909 dan 1912, lokomotif  ini menggunakan sistem superheater, yakni pembakaran dengan mengalirkan  uap bertekanan tinggi dari kubah menuju ke silinder penggerak.
Kendati bobotnya mencapai 42,5 ton, loko ini mampu menghasilkan 575  daya kuda dan dapat melaju hingga kecepatan maksimum 60 km per jam.  Kekuatannya itulah yang membuatnya dipilih melayani rute  Lempuyangan-Jogja-Magelang-Secang-Temanggung-Parakan. Rute-rute itu  relatif menanjak dan melewati kontur kaki gunung di seputaran jalurnya.
Kini bekas lokomotif ini masih tersisa satu unit berkode C2407 dan disimpan di Museum Kereta Api Indonesia, Ambarawa.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/06/05/50525/256375_medium.jpg&quot; alt=&quot;PT KAI Operasikan 20 Kereta Tambahan buat Arus Mudik Lebaran 2018&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Mesin berwarna hitam legam yang bikin Nurtanti kagum itu sebetulnya  berseliweran saban hari di Stasiun Kutu, menurunkan penumpang dan  mengangkutnya ke arah Magelang atau sebaliknya. Namun Nurtanti selama  itu hanya pernah melihat benda tersebut dari jarak jauh. Pun bau asap  hasil pembakaran minyak residu yang menjadi bahan bakarnya tidak pernah  dia ciumi.
Perjalanan Nurtanti dan eyangnya kali itu bukan hendak melintas kota.  Dia hanya ingin mencecap pengalaman naik kereta. Tujuan akhirnya ke  Stasiun Medari untuk menyambangi kerabatnya di sana.
Stasiun itu berjarak sekitar 11 kilometer dari Stasiun Kutu, melewati  empat pemberhentian yakni Stasiun Beran dan Stasiun Sleman, dan di  antaranya diselingi dua halte yakni Mlati dan Pangukan. Di masing-masing  pemberhentian, kereta biasa berhenti 5-15 menit. Paling lama berhenti  di Stasiun Sleman karena di tempat itu lokomotif harus mengisi air untuk  kompresi mesin uap.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/06/05/50525/256374_medium.jpg&quot; alt=&quot;PT KAI Operasikan 20 Kereta Tambahan buat Arus Mudik Lebaran 2018&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&amp;ldquo;Sebenarnya perjalanan itu ngalang [menempuh rute lebih jauh]. Demi  naik kereta saja,&amp;rdquo; kata Nurtanti yang kini tinggal di Kwagon, Sidorejo,  Godean, Sleman, bersama suaminya itu.
Jarak dari rumah tinggal Nurtanti di Dusun Nglarang ke tempat  tujuannya di Medari sebetulnya memang hanya 8,2 km. Jika mau ditempuh  berjalan kaki, Nurtanti dan eyangnya hanya butuh waktu satu jam 45  menit. Dengan sepeda kayuh tentu lebih cepat. Saat ini, jika ditempuh  dengan sepeda motor jarak tersebut bisa dilibas kurang lebih 20 menit.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNy8yNC8xLzExNDc4MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
(feb)Rasa penasaran naik kereta, membuat Nurtanti rela berjalan kaki ke   stasiun sekitar satu jam, lalu naik kereta hampir satu jam pula.   &amp;ldquo;Pulangnya pun naik kereta lagi, jalan kaki lagi dari stasiun ke rumah,&amp;rdquo;   kenang Nurtanti.
Namun semua kelelahannya itu terbayar. Ia bisa merasakan duduk di   gerbong berkursi kayu, menikmati pemandangan jalan dari sudut berbeda.   Apalagi ketika ada sejumlah anak-anak kecil di pinggir rel yang   berlari-lari dan berloncatan kegirangan melambai-lambaikan tangan begitu   melihat kereta lewat. Semua kenangan itu begitu lekat di ingatannya.
Suryanto, suami Nurtanti, juga punya kenangan naik kereta api   Jogja-Magelang yang mirip dengan kisah istrinya. Sewaktu masih kecil   pula, ia diajak eyangnya naik kereta yang sama. Pagi hari ia sudah   diajak eyangnya dari Godean naik bus ke Stasiun Tugu. Tujuannya lumayan   jauh, ke Pati, Jawa Tengah.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/05/31/50417/255925_medium.jpg&quot; alt=&quot;Perawatan dan Perbaikan Kereta Api untuk Angkutan Lebaran&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Jangan dibayangkan perjalanan itu ditempuh hitungan empat sampai lima   jam seperti naik kendaraan pribadi seperti saat ini. &amp;ldquo;Perjalanannya   makan waktu 11 jam,&amp;rdquo; ungkap pria yang mengisi waktu pensiunnya menjadi   notaris itu.
Yang paling dia ingat dalam perjalanan kali itu adalah banyaknya   pedagang asongan di setiap halte dan stasiun. Jajanan yang hampir selalu   ditemui di stasiun adalah pisang godhog dan kacang rebus. Jajanan itu   pula yang menemani perjalanan Suryanto selama belasan jam bersama   eyangnya menuju Pati.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/05/26/50283/255379_medium.jpg&quot; alt=&quot;Berikan Rasa Aman dan Nyaman, Perawatan Bantalan Rel Kereta Rutin Dilakukan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Kenangan naik kereta Jogja-Magelang memang masih tersimpan lekat di   memori orang-orang yang pernah menggunakan moda angkutan massal yang   cukup populer pada masanya itu. Namun jalur kereta yang menyimpan banyak   kenangan tersebut telah mati bersamaan dengan ambrolnya jembatan  kereta  di Krasak akibat terjangan lahar hujan pada 1974.
Bangunan stasiun yang jadi titik pemberangkatan dan turun, kini sudah   tidak tampak lagi bekasnya. Pun lintasan relnya, hanya secuil masih   tersisa. Sebagian besar tertutup tanah atau tertimbun aspal jalan   nasional.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNy8xNi8xLzExNDQ4NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
(feb)</description><content:encoded>YOGYAKARTA - Rencana reaktivasi jalur kereta api Jogja-Magelang kembali mencuat dengan dipasangnya tiang patok di Secang, Magelang. Bekas-bekas jalur lama itu sebetulnya sudah sulit ditangkap mata. Namun kenangan masih tersimpan lekat di benak orang-orang yang pernah menggunakannya.
Melansir Harian Jogja, pagi itu, Sri Nurtanti waswas. Dia khawatir kecewa jika eyangnya tiba-tiba membatalkan janji yang pernah diucap beberapa hari sebelumnya.
Rasa cemas itu langsung sirna berubah bungah tatkala Secoprawiro, mendiang eyangnya, ternyata pantang mengingkari janji kepada cucunya. Berangkatlah eyang dan cucu berduaan, berjalan kaki menyusuri tepian Selokan Mataram dari Dusun Nglarang, Tlogoadi, Mlati, Sleman, menuju Stasiun Kutu di Sinduadi, Mlati, Sleman.
Perjalanan cukup panjang sekitar 4,6 kilometer (Km), memakan waktu lebih dari satu jam. Kaki kecil Nurtanti tidak bisa melangkah secepat orang dewasa. Mungkin jika Secoprawiro berjalan sendirian, hanya butuh 45 menit untuk sampai ke Stasiun Kutu.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/06/21/51027/258562_medium.jpg&quot; alt=&quot;Kemenhub Uji Coba Rute Kereta Bandara dari Stasiun Bekasi&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Setelah cukup jerih melangkahkan kaki, tibalah keduanya di Stasiun Kutu. Nurtanti masih menunggu beberapa puluh menit dengan gelisah. Celingak-celinguk menanti kereta datang. Akhirnya waktu yang dinanti-nanti datang. Lokomotif kekar berwarna hitam melaju pelan dari arah selatan memasuki peron stasiun.
Peluitnya menyalak nyaring. Embusan udara panas yang keluar dari pipa buang pun tak kalah keras. Suara mesin uap itu mendahului kecepatan lajunya, yang untuk ukuran kereta saat ini, teramat lamban.
Asap hitam bergulung-gulung yang keluar dari cerobong di bagian hidung loko, mengepul ke angkasa. Uap berwarna putihnya menyentak dengan cepat dari pipa buang diikuti bunyi, &amp;ldquo;Jesss...!&amp;rdquo;
&amp;ldquo;Jess...! Jesss...! kuuu..kuukkk..!&amp;rdquo; Nurtanti menirukan suara embusan uap dan peluit uap kereta Lempuyangan-Secang.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/06/12/50789/257605_medium.jpg&quot; alt=&quot;725 Peserta Mudik Bareng PDIP Naik Kereta Api dari Stasiun Pasar Senen&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Wanita yang kini sudah berusia 66 tahun itu mencoba mengingat-ingat pengalamannya lebih dari 55 tahun lalu, ketika dia masih kanak-kanak, saat kali pertama melihat mesin penarik gerbong dari jarak sebegitu dekat. Dia tak ingat persis tahun dan usianya.
&amp;ldquo;Masih SD. Yang jelas jauh sebelum Gestapu [Gerakan Tiga Puluh September 1965],&amp;rdquo; ujar nenek dengan enam cucu itu, Minggu (5/8/2018).
Lokomotif mesin uap itu melintas di hadapannya bak banteng hitam pejal nan kokoh dan berhenti dengan mantap bersamaan suara decit gesekan roda besi bertemu rel. Nurtanti mencoba menghitung roda-roda besi di lokomotif. Ada sepuluh. Enam berukuran besar saling terkait tongkat besi, diapit empat roda berukuran lebih kecil.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNy8xNy8xOS8xMTQ1MDYvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
(feb)Laman heritage.kai.id menuliskan lokomotif uap berkode C 24 itu  adalah mesin peninggalan perusahaan kereta api swasta  Nederlandsch-Indische Spoorweg maatschappij (NIS). Didatangkan 15 unit  dari pabrik kereta api Werkspoor Belanda antara 1909 dan 1912, lokomotif  ini menggunakan sistem superheater, yakni pembakaran dengan mengalirkan  uap bertekanan tinggi dari kubah menuju ke silinder penggerak.
Kendati bobotnya mencapai 42,5 ton, loko ini mampu menghasilkan 575  daya kuda dan dapat melaju hingga kecepatan maksimum 60 km per jam.  Kekuatannya itulah yang membuatnya dipilih melayani rute  Lempuyangan-Jogja-Magelang-Secang-Temanggung-Parakan. Rute-rute itu  relatif menanjak dan melewati kontur kaki gunung di seputaran jalurnya.
Kini bekas lokomotif ini masih tersisa satu unit berkode C2407 dan disimpan di Museum Kereta Api Indonesia, Ambarawa.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/06/05/50525/256375_medium.jpg&quot; alt=&quot;PT KAI Operasikan 20 Kereta Tambahan buat Arus Mudik Lebaran 2018&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Mesin berwarna hitam legam yang bikin Nurtanti kagum itu sebetulnya  berseliweran saban hari di Stasiun Kutu, menurunkan penumpang dan  mengangkutnya ke arah Magelang atau sebaliknya. Namun Nurtanti selama  itu hanya pernah melihat benda tersebut dari jarak jauh. Pun bau asap  hasil pembakaran minyak residu yang menjadi bahan bakarnya tidak pernah  dia ciumi.
Perjalanan Nurtanti dan eyangnya kali itu bukan hendak melintas kota.  Dia hanya ingin mencecap pengalaman naik kereta. Tujuan akhirnya ke  Stasiun Medari untuk menyambangi kerabatnya di sana.
Stasiun itu berjarak sekitar 11 kilometer dari Stasiun Kutu, melewati  empat pemberhentian yakni Stasiun Beran dan Stasiun Sleman, dan di  antaranya diselingi dua halte yakni Mlati dan Pangukan. Di masing-masing  pemberhentian, kereta biasa berhenti 5-15 menit. Paling lama berhenti  di Stasiun Sleman karena di tempat itu lokomotif harus mengisi air untuk  kompresi mesin uap.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/06/05/50525/256374_medium.jpg&quot; alt=&quot;PT KAI Operasikan 20 Kereta Tambahan buat Arus Mudik Lebaran 2018&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&amp;ldquo;Sebenarnya perjalanan itu ngalang [menempuh rute lebih jauh]. Demi  naik kereta saja,&amp;rdquo; kata Nurtanti yang kini tinggal di Kwagon, Sidorejo,  Godean, Sleman, bersama suaminya itu.
Jarak dari rumah tinggal Nurtanti di Dusun Nglarang ke tempat  tujuannya di Medari sebetulnya memang hanya 8,2 km. Jika mau ditempuh  berjalan kaki, Nurtanti dan eyangnya hanya butuh waktu satu jam 45  menit. Dengan sepeda kayuh tentu lebih cepat. Saat ini, jika ditempuh  dengan sepeda motor jarak tersebut bisa dilibas kurang lebih 20 menit.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNy8yNC8xLzExNDc4MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
(feb)Rasa penasaran naik kereta, membuat Nurtanti rela berjalan kaki ke   stasiun sekitar satu jam, lalu naik kereta hampir satu jam pula.   &amp;ldquo;Pulangnya pun naik kereta lagi, jalan kaki lagi dari stasiun ke rumah,&amp;rdquo;   kenang Nurtanti.
Namun semua kelelahannya itu terbayar. Ia bisa merasakan duduk di   gerbong berkursi kayu, menikmati pemandangan jalan dari sudut berbeda.   Apalagi ketika ada sejumlah anak-anak kecil di pinggir rel yang   berlari-lari dan berloncatan kegirangan melambai-lambaikan tangan begitu   melihat kereta lewat. Semua kenangan itu begitu lekat di ingatannya.
Suryanto, suami Nurtanti, juga punya kenangan naik kereta api   Jogja-Magelang yang mirip dengan kisah istrinya. Sewaktu masih kecil   pula, ia diajak eyangnya naik kereta yang sama. Pagi hari ia sudah   diajak eyangnya dari Godean naik bus ke Stasiun Tugu. Tujuannya lumayan   jauh, ke Pati, Jawa Tengah.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/05/31/50417/255925_medium.jpg&quot; alt=&quot;Perawatan dan Perbaikan Kereta Api untuk Angkutan Lebaran&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Jangan dibayangkan perjalanan itu ditempuh hitungan empat sampai lima   jam seperti naik kendaraan pribadi seperti saat ini. &amp;ldquo;Perjalanannya   makan waktu 11 jam,&amp;rdquo; ungkap pria yang mengisi waktu pensiunnya menjadi   notaris itu.
Yang paling dia ingat dalam perjalanan kali itu adalah banyaknya   pedagang asongan di setiap halte dan stasiun. Jajanan yang hampir selalu   ditemui di stasiun adalah pisang godhog dan kacang rebus. Jajanan itu   pula yang menemani perjalanan Suryanto selama belasan jam bersama   eyangnya menuju Pati.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/05/26/50283/255379_medium.jpg&quot; alt=&quot;Berikan Rasa Aman dan Nyaman, Perawatan Bantalan Rel Kereta Rutin Dilakukan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Kenangan naik kereta Jogja-Magelang memang masih tersimpan lekat di   memori orang-orang yang pernah menggunakan moda angkutan massal yang   cukup populer pada masanya itu. Namun jalur kereta yang menyimpan banyak   kenangan tersebut telah mati bersamaan dengan ambrolnya jembatan  kereta  di Krasak akibat terjangan lahar hujan pada 1974.
Bangunan stasiun yang jadi titik pemberangkatan dan turun, kini sudah   tidak tampak lagi bekasnya. Pun lintasan relnya, hanya secuil masih   tersisa. Sebagian besar tertutup tanah atau tertimbun aspal jalan   nasional.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNy8xNi8xLzExNDQ4NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
(feb)</content:encoded></item></channel></rss>
