<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Bisa Jaga Rupiah?   </title><description>Kenaikan suku bunga acuan atau 7-Day Reverse Repo Rate oleh Bank Indonesia (BI) dinilai bisa menjadi pilihan pertama.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/08/15/20/1936712/kenaikan-suku-bunga-acuan-bi-bisa-jaga-rupiah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/08/15/20/1936712/kenaikan-suku-bunga-acuan-bi-bisa-jaga-rupiah"/><item><title>Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Bisa Jaga Rupiah?   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/08/15/20/1936712/kenaikan-suku-bunga-acuan-bi-bisa-jaga-rupiah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/08/15/20/1936712/kenaikan-suku-bunga-acuan-bi-bisa-jaga-rupiah</guid><pubDate>Rabu 15 Agustus 2018 09:57 WIB</pubDate><dc:creator>Rafida Ulfa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/08/15/20/1936712/kenaikan-suku-bunga-acuan-bi-bisa-jaga-rupiah-uJnYxKgz0E.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/08/15/20/1936712/kenaikan-suku-bunga-acuan-bi-bisa-jaga-rupiah-uJnYxKgz0E.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Okezone</title></images><description>JAKARTA - Kenaikan suku bunga acuan atau 7-Day Reverse Repo Rate oleh Bank Indonesia (BI) dinilai bisa menjadi pilihan pertama dan paling memungkinkan untuk menjaga nilai tukar Rupiah agar tidak melemah lebih dalam dari nilai fundamentalnya.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menyatakan, BI perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur, Rabu (15/8/2018), sebagai langkah antisipatif menghadapi tekanan eksternal yang akan lebih kuat lagi menjelang kenaikan suku bunga The Federal Reserve AS pada September 2018.

&amp;rdquo;Bisa menjadi pertimbangan untuk antisipasi tekanan eksternal. The Fed juga akan naikkan bunga 0,25%,&amp;rdquo; ujar dia.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/07/19/51851/261803_medium.jpg&quot; alt=&quot;BI Putuskan Pertahankan Suku Bunga Acuan Sebesar 5,25 Persen&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Saat ini bunga Federal Reserve, Bank Sentral AS, sebesar 1,75&amp;ndash;2%. Menurut dia, dampak dari gejolak sistem keuangan di Turki juga menjadi perhatian Indonesia.

Nilai hubungan ekonomi antara Indonesia dan Turki yang antara lain dicerminkan dari kerja sama perdagangan tidak begitu besar. Oleh karena itu, lanjut dia, dampak negatif gejolak perekonomian Turki tidak akan langsung signifikan terhadap perekonomian domestik.

Namun, pasar keuangan global saat ini sudah sedemikian terhubung. Tekanan sistem keuangan di Turki bisa berdampak pada pelemahan mata uang negara-negara yang masih memiliki ketergantungan terhadap modal asing seperti halnya Indonesia.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/06/29/51268/259540_medium.jpg&quot; alt=&quot;Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan  50 Basis Poin Menjadi 5,25 Persen&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Sederhananya, lanjut Jahja, ketika terjadi gejolak perekonomian di sebuah negara, maka investor akan bereaksi dan menyelamatkan investasinya ke instrumen-instrumen yang paling minim risiko.

Aset berdenominasi rupiah belum dianggap sebagai aset yang paling minim risiko. Oleh karena itu, pasar keuangan Indonesia dengan kepemilikan asing yang masih cukup besar akan sangat mudah terpengaruh ketika investor global mulai panik.

Ekonom PT Bank Permata Tbk Joshua Pardede juga menilai, BI perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah, seperti surat berharga negara (SBN). BI, menurut dia, berkesempatan menaikkan kembali suku bunga acuan pada semester II/2018 sebesar 25 basis poin dari posisi sekarang di 5,25%. (Hatim Varabi/ Ant)


</description><content:encoded>JAKARTA - Kenaikan suku bunga acuan atau 7-Day Reverse Repo Rate oleh Bank Indonesia (BI) dinilai bisa menjadi pilihan pertama dan paling memungkinkan untuk menjaga nilai tukar Rupiah agar tidak melemah lebih dalam dari nilai fundamentalnya.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menyatakan, BI perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur, Rabu (15/8/2018), sebagai langkah antisipatif menghadapi tekanan eksternal yang akan lebih kuat lagi menjelang kenaikan suku bunga The Federal Reserve AS pada September 2018.

&amp;rdquo;Bisa menjadi pertimbangan untuk antisipasi tekanan eksternal. The Fed juga akan naikkan bunga 0,25%,&amp;rdquo; ujar dia.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/07/19/51851/261803_medium.jpg&quot; alt=&quot;BI Putuskan Pertahankan Suku Bunga Acuan Sebesar 5,25 Persen&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Saat ini bunga Federal Reserve, Bank Sentral AS, sebesar 1,75&amp;ndash;2%. Menurut dia, dampak dari gejolak sistem keuangan di Turki juga menjadi perhatian Indonesia.

Nilai hubungan ekonomi antara Indonesia dan Turki yang antara lain dicerminkan dari kerja sama perdagangan tidak begitu besar. Oleh karena itu, lanjut dia, dampak negatif gejolak perekonomian Turki tidak akan langsung signifikan terhadap perekonomian domestik.

Namun, pasar keuangan global saat ini sudah sedemikian terhubung. Tekanan sistem keuangan di Turki bisa berdampak pada pelemahan mata uang negara-negara yang masih memiliki ketergantungan terhadap modal asing seperti halnya Indonesia.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/06/29/51268/259540_medium.jpg&quot; alt=&quot;Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan  50 Basis Poin Menjadi 5,25 Persen&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Sederhananya, lanjut Jahja, ketika terjadi gejolak perekonomian di sebuah negara, maka investor akan bereaksi dan menyelamatkan investasinya ke instrumen-instrumen yang paling minim risiko.

Aset berdenominasi rupiah belum dianggap sebagai aset yang paling minim risiko. Oleh karena itu, pasar keuangan Indonesia dengan kepemilikan asing yang masih cukup besar akan sangat mudah terpengaruh ketika investor global mulai panik.

Ekonom PT Bank Permata Tbk Joshua Pardede juga menilai, BI perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah, seperti surat berharga negara (SBN). BI, menurut dia, berkesempatan menaikkan kembali suku bunga acuan pada semester II/2018 sebesar 25 basis poin dari posisi sekarang di 5,25%. (Hatim Varabi/ Ant)


</content:encoded></item></channel></rss>
