<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kaya Minyak tapi Melarat, RI Harus Belajar dari Krisis Venezuela   </title><description>Venezuela mengalami kelumpuhan ekonomi semenjak pemerintah memberlakukan mata uang baru bolivar yang berdaulat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/08/24/20/1940699/kaya-minyak-tapi-melarat-ri-harus-belajar-dari-krisis-venezuela</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/08/24/20/1940699/kaya-minyak-tapi-melarat-ri-harus-belajar-dari-krisis-venezuela"/><item><title>Kaya Minyak tapi Melarat, RI Harus Belajar dari Krisis Venezuela   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/08/24/20/1940699/kaya-minyak-tapi-melarat-ri-harus-belajar-dari-krisis-venezuela</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/08/24/20/1940699/kaya-minyak-tapi-melarat-ri-harus-belajar-dari-krisis-venezuela</guid><pubDate>Jum'at 24 Agustus 2018 09:36 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/08/24/20/1940699/kaya-minyak-tapi-melarat-ri-harus-belajar-dari-krisis-venezuela-4vRV0sQmET.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Koran Sindo</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/08/24/20/1940699/kaya-minyak-tapi-melarat-ri-harus-belajar-dari-krisis-venezuela-4vRV0sQmET.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Koran Sindo</title></images><description>CARACAS  &amp;ndash; Venezuela mengalami kelumpuhan ekonomi semenjak pemerintah memberlakukan mata uang baru bolivar yang berdaulat.

Ribuan bisnis dan industri memilih tutup untuk beradaptasi dengan mata uang baru. Uang baru tersebut di keluarkan Pemerintah Venezuela menyusul inflasi yang sangat tinggi atau hiperinflasi yang terjadi sejak beberapa waktu lalu.

Pada Juli lalu inflasi di negara itu bahkan mencapai 82.766%, naik dari bulan sebelumnya yang sebesar 46.000%  sehingga membuat nilai uang bolivar anjlok parah. Bahkan pada akhir Juli lalu Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan inflasi di Venezuela bisa mencapai 1.000.000% hingga akhir tahun ini.

Anjloknya nilai uang di negara yang berpenduduk 31 juta jiwa itu membuat para pekerja memilih tidak beraktivitas karena kebingungan dengan yang terjadi. Kondisi ini menjadi pembelajaran bagi banyak pemerintahan di dunia.
&amp;nbsp;
Penanganan krisis ekonomi yang terlalu lambat dan kebijakan yang salah dengan menghadirkan mata uang baru justru menjadi blunder dan permasalahan justru semakin bertambah parah. Redenominasi yang dilakukan negara produsen minyak itu dianggap tidak bisa mengatasi akar permasalahan negara, yakni inflasi yang luar biasa tinggi alias hiperinflasi.

Kebijakan uang kertas baru itu diresmikan Presiden Nicolas Maduro pada Senin 20 Agustus 2018 untuk mengganti nama mata uang bolivar lama dan merevaluasi nilainya. Maduro mengklaim kebijakan tersebut bertujuan mengatasi inflasi yang terus melonjak dan mengatasi krisis ekonomi.

Akan tetapi kebijakan itu justru menjadikan krisis menjadi lebih parah. Mata uang baru ini memotong nilai mata uang lama yang disebut bolivar perkasa dengan lima angka nol atau per ratus ribu; 1 juta bolivar lama dihargai dengan 10 bolivar baru.

Dengan begitu secangkir kopi di Ibu Kota Caracas yang bulan lalu harus dibeli seharga 2,5 juta dengan mata uang lama, sekarang harganya dengan mata uang baru yang disebut bolivar berdaulat adalah 25 bolivar.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2017/06/27/39127/215168_medium.jpg&quot; alt=&quot;Aksi Blokade Jalan dengan Bakar Ban Masih Berlangsung di Caracas Venezuela&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Sebagaimana dilansir Reuters, bank sentral Venezuela melaporkan nilai valuta asing 68 bolivar pereuro dan 60 boliviar untuk dolar.

Banyak warga di Caracas mengatakan ada pembatasan untuk menarik mata uang baru itu dari anjungan tunai mandiri (ATM) maksimum 10 bolivar berdaulat yang setara dengan 1 juta bolivar perkasa. Kota-kota di seluruh Venezuela hampir dilanda kekacauan karena orang-orang berusa ha mendapatkan uang kertas baru itu.

Pasar gelap Venezuela yang menggunakan dolar bahkan dibekukan akibat pergantian mata uang karena terjadi kebingungan dan ketidakpastian ekonomi. Pemerintah mengumumkan berbagai kebijakan ekonomi baru untuk menyertai mata uang baru seperti menaikkan upah minimum sebesar 34 kali dari tingkat sebelumnya mulai 1 September, menaikkan pajak pertambahan nilai, dan memotong subsidi bahan bakar (BBM) yang selama ini sangat tinggi.
&amp;nbsp;
Maduro juga mengungkapkan pemerintah ingin memulihkan perekonomian negaranya. &amp;ldquo;Saya memiliki formula, percayalah kepada saya,&amp;rdquo; ujarnya seperti dikutip BBC. Dia menambahkan, mata uang bolivar berdaulat akan di kaitkan dengan petro, mata uang virtual yang ditautkan dengan cadangan minyak Venezuela.

Menurut Maduro, pemerintah juga akan mengaitkan gaji dan harga produk makanan dengan petro. &amp;ldquo;Kita akan menjadikan petro sebagai referensi dalam pertumbuhan ekonomi kita secara ke seluruhan,&amp;rdquo; tambahnya. Ekonomi Venezuela memang tergantung dengan ekspor minyak yang membuat negara itu sangat kaya.

Mereka mengklaim memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Ekspor minyak mencapai 90% dari ekspor negara tersebut. Ketika harga minyak merosot pada 2014, pendapatan Venezuela mengalami penurunan tajam. Di sisi lain sejumlah proyek pembangunan dilakukan secara jor-joran dibarengi aneka tunjangan bagi masyarakatnya.
Amerika Serikat (AS) yang banyak berhubungan secara ekonomi dengan  Venezuela mengumumkan larangan kepada warganya untuk terlibat dalam  perdagangan dengan petro dan situs cryptocurrency, ICOindex.com, karena  dianggap ilegal.

&amp;ldquo;Menautkan bolivar ke petro adalah menautkan pada sesuatu yang  nihil,&amp;rdquo; kata ekonom Luis Vicente Leon. Maduro menggantikan pemerintahan  Hugo Chavez pada 2013 dengan memberlakukan kontrol ketat mata uang  pemerintah terhadap dolar AS.
Krisis ekonomi di Venezuela memaksa banyak warga memilih mengungsi ke  negara lain. Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),  sebanyak 1,5 juta warga Venezuela telah mengungsi sejak 2014.

Krisis Bertambah Buruk

Kebijakan Maduro, menurut para ekonom, justru akan memperparah  kondisi krisis ekonomi negara tersebut. Luis Vicente Leon, Presiden  Datanalisis berbasis di Caracas, mengungkapkan langkah penyelamatan  Venezuela akan menyebabkan permasalahan bagi bisnis domestik.

&amp;ldquo;Transisi untuk menerapkan elemen konkret seperti meningkatkan gaji  dan mengubah kebijakan pembayaran pajak perusahaan justru akan  menciptakan bencana aliran uang tunai,&amp;rdquo; ujar Leon seperti dilansir CNBC.  Adapun profesor ekonomi terapan dari Universitas Johns Hopkins Steve  Hanke mengungkapkan, kebijakan devaluasi mata uang tak memiliki arti  penting.

Menurutnya, mengaitkan mata uang bolivar dengan petro adalah  penipuan. &amp;ldquo;Itu hanya mengubah penampilan, tetapi faktanya tidak ada yang  berubah. Apa yang terjadi pada bolivar adalah operasi plastik,&amp;rdquo; kata  Hanke.

Sebagaimana dilansir The Conversation, pakar politik ekonomi  Universitas California, Benjamin J Cohen, mengaku tidak pernah melihat  devaluasi sebesar yang di lakukan Venezuela. &amp;ldquo;Venezuela mengakui bahwa  uangnya telah menjadi virtual,&amp;rdquo; ujarnya.

Cohen mengungkapkan Venezuela bukan negara pertama yang tidak mampu  mengatasi inflamasi dengan redenominasi. Banyak negara lain juga  mengalami kegagalan. Misalnya Brasil juga melakukan redenominasi. Hal  serupa juga dilakukan Argentina dan Zimbabwe.

&amp;ldquo;Redenominasi tidak akan mengatasi inflamasi,&amp;rdquo; ujar Cohen.

Krisis ekonomi yang terjadi di Venezuela menyebabkan banyak toko  tutup di Caracas. Jutaan masyarakat di negara itu seolah kompak  melakukan demonstrasi mulai kemarin. Andres Velasquez, seorang tokoh  oposisi, memperkirakan, sekitar 60% penduduk Venezuela akan ikut mogok  nasional.

&amp;ldquo;Semua dari kita telah mengalami kehilangan. Kita telah hancur berdebu-debu,&amp;rdquo; kata Velasquez.

Dia mengungkapkan, jika oposisi tidak melawan rezim, rakyat akan  memiliki pemerintahan ini selamanya. Oposisi juga mengkritik Maduro agar  segera mengatasi hiperinflasi.

Situasi jalanan di Venezuela pada Selasa (22/8) hingga kemarin juga  relatif sepi. Beberapa orasi terdengar dari para pengunjuk rasa yang  menyuarakan ketidakpuasan ke pada pemerintah. &amp;ldquo;Jangan pergi bekerja.  Kamu berhak untuk protes karena itu menyangkut ke hidupanmu, masa  depanmu, dan negaramu. Memberontaklah!&amp;rdquo; demikian ajakan Partai Keinginan  Populer.
Namun di bagian lain sekelompok kecil pendukung pemerintah menggelar   demonstrasi mendukung kebijakan Maduro. &amp;ldquo;Saya berharap pemerintah   memaksa industri untuk menerapkan kebijakan tersebut. Kita menentukan   bisnis yang tidak setuju agar ditutup saja,&amp;rdquo; kata Julio Contreras, 70,   pengawai di pemerintahan Kota Caracas.

Fedecamaras, kelompok bisnis terbesar di Venezuela, menyalahkan paket   kebijakan Maduro yang dinilai tidak koheren. Mereka menyatakan  kenaikan  gaji buruh justru akan membuat bisnis semakin sulit  beroperasi.

Banyak toko di Quinta Crespo juga masih tutup. Beberapa pegawai   memilih tidak bekerja karena mereka tidak ada layanan transportasi   publik. &amp;ldquo;Para karyawan saya tidak datang. Penyuplai juga tidak memasok   barang karena tidak ada kepastian harga,&amp;rdquo; kata Jesus Rojas, 36, yang   menjual buah-buah di pasar.

Dari dalam negeri, Direktur Eksekutif Refor Miners Institute Komaidi   Notonegoro menilai, krisis yang terjadi di Venezuela memang tak bisa   dihindarkan. Pasalnya negara itu sangat bergantung pada ekspor   minyaknya. Menurut dia, ketika harga minyak jatuh, hal itu membuat   Venezuela menderita.

Apalagi sejak 2014 lalu harga minyak bertahan lama di bawah USD50 per   barel, jauh di bawah nilai keekonomiannya. Akibatnya pendapatan negara   tersebut harus turun hingga 40%. Di saat pendapatannya turun,  Venezuela  kesulitan membayar utang-utang sejak tahun sebelumnya.

&amp;ldquo;Intinya kalau sangat tergantung dengan satu sumber, tidak ada jalan   keluar. Adapun sektor-sektor lain di sana tidak tumbuh,&amp;rdquo; ujar Komaidi   tadi malam. Dia mengatakan, negara tidak bisa dikelola hanya dengan   mengandalkan penerimaan dari satu sumber.

Pada dasarnya minyak merupakan komoditas yang harganya tidak bisa   dikontrol oleh negara mana pun baik itu Arab Saudi sebagai produsen   terbesar maupun Venezuela sebagai negara yang kaya minyak.

&amp;ldquo;Jadi ini negara dengan sumber daya alam minyak melimpah justru   menjadi kutukan. Di satu sisi ingin menasionalisasi perusahaan asing,   tapi tidak dikelola dengan baik. Praktik-praktik bisnisnya juga   dijalankan tidak baik,&amp;rdquo; tandasnya.

Dia meyakinkan, apa yang diderita Venezuela tidak akan terjadi di   Indonesia. Pasalnya Indonesia tidak hanya bergantung dengan sumber daya   minyak saja, tapi juga ditopang sektor lain. (Andika Hendra/Nanang Wijayanto)
</description><content:encoded>CARACAS  &amp;ndash; Venezuela mengalami kelumpuhan ekonomi semenjak pemerintah memberlakukan mata uang baru bolivar yang berdaulat.

Ribuan bisnis dan industri memilih tutup untuk beradaptasi dengan mata uang baru. Uang baru tersebut di keluarkan Pemerintah Venezuela menyusul inflasi yang sangat tinggi atau hiperinflasi yang terjadi sejak beberapa waktu lalu.

Pada Juli lalu inflasi di negara itu bahkan mencapai 82.766%, naik dari bulan sebelumnya yang sebesar 46.000%  sehingga membuat nilai uang bolivar anjlok parah. Bahkan pada akhir Juli lalu Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan inflasi di Venezuela bisa mencapai 1.000.000% hingga akhir tahun ini.

Anjloknya nilai uang di negara yang berpenduduk 31 juta jiwa itu membuat para pekerja memilih tidak beraktivitas karena kebingungan dengan yang terjadi. Kondisi ini menjadi pembelajaran bagi banyak pemerintahan di dunia.
&amp;nbsp;
Penanganan krisis ekonomi yang terlalu lambat dan kebijakan yang salah dengan menghadirkan mata uang baru justru menjadi blunder dan permasalahan justru semakin bertambah parah. Redenominasi yang dilakukan negara produsen minyak itu dianggap tidak bisa mengatasi akar permasalahan negara, yakni inflasi yang luar biasa tinggi alias hiperinflasi.

Kebijakan uang kertas baru itu diresmikan Presiden Nicolas Maduro pada Senin 20 Agustus 2018 untuk mengganti nama mata uang bolivar lama dan merevaluasi nilainya. Maduro mengklaim kebijakan tersebut bertujuan mengatasi inflasi yang terus melonjak dan mengatasi krisis ekonomi.

Akan tetapi kebijakan itu justru menjadikan krisis menjadi lebih parah. Mata uang baru ini memotong nilai mata uang lama yang disebut bolivar perkasa dengan lima angka nol atau per ratus ribu; 1 juta bolivar lama dihargai dengan 10 bolivar baru.

Dengan begitu secangkir kopi di Ibu Kota Caracas yang bulan lalu harus dibeli seharga 2,5 juta dengan mata uang lama, sekarang harganya dengan mata uang baru yang disebut bolivar berdaulat adalah 25 bolivar.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2017/06/27/39127/215168_medium.jpg&quot; alt=&quot;Aksi Blokade Jalan dengan Bakar Ban Masih Berlangsung di Caracas Venezuela&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Sebagaimana dilansir Reuters, bank sentral Venezuela melaporkan nilai valuta asing 68 bolivar pereuro dan 60 boliviar untuk dolar.

Banyak warga di Caracas mengatakan ada pembatasan untuk menarik mata uang baru itu dari anjungan tunai mandiri (ATM) maksimum 10 bolivar berdaulat yang setara dengan 1 juta bolivar perkasa. Kota-kota di seluruh Venezuela hampir dilanda kekacauan karena orang-orang berusa ha mendapatkan uang kertas baru itu.

Pasar gelap Venezuela yang menggunakan dolar bahkan dibekukan akibat pergantian mata uang karena terjadi kebingungan dan ketidakpastian ekonomi. Pemerintah mengumumkan berbagai kebijakan ekonomi baru untuk menyertai mata uang baru seperti menaikkan upah minimum sebesar 34 kali dari tingkat sebelumnya mulai 1 September, menaikkan pajak pertambahan nilai, dan memotong subsidi bahan bakar (BBM) yang selama ini sangat tinggi.
&amp;nbsp;
Maduro juga mengungkapkan pemerintah ingin memulihkan perekonomian negaranya. &amp;ldquo;Saya memiliki formula, percayalah kepada saya,&amp;rdquo; ujarnya seperti dikutip BBC. Dia menambahkan, mata uang bolivar berdaulat akan di kaitkan dengan petro, mata uang virtual yang ditautkan dengan cadangan minyak Venezuela.

Menurut Maduro, pemerintah juga akan mengaitkan gaji dan harga produk makanan dengan petro. &amp;ldquo;Kita akan menjadikan petro sebagai referensi dalam pertumbuhan ekonomi kita secara ke seluruhan,&amp;rdquo; tambahnya. Ekonomi Venezuela memang tergantung dengan ekspor minyak yang membuat negara itu sangat kaya.

Mereka mengklaim memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Ekspor minyak mencapai 90% dari ekspor negara tersebut. Ketika harga minyak merosot pada 2014, pendapatan Venezuela mengalami penurunan tajam. Di sisi lain sejumlah proyek pembangunan dilakukan secara jor-joran dibarengi aneka tunjangan bagi masyarakatnya.
Amerika Serikat (AS) yang banyak berhubungan secara ekonomi dengan  Venezuela mengumumkan larangan kepada warganya untuk terlibat dalam  perdagangan dengan petro dan situs cryptocurrency, ICOindex.com, karena  dianggap ilegal.

&amp;ldquo;Menautkan bolivar ke petro adalah menautkan pada sesuatu yang  nihil,&amp;rdquo; kata ekonom Luis Vicente Leon. Maduro menggantikan pemerintahan  Hugo Chavez pada 2013 dengan memberlakukan kontrol ketat mata uang  pemerintah terhadap dolar AS.
Krisis ekonomi di Venezuela memaksa banyak warga memilih mengungsi ke  negara lain. Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),  sebanyak 1,5 juta warga Venezuela telah mengungsi sejak 2014.

Krisis Bertambah Buruk

Kebijakan Maduro, menurut para ekonom, justru akan memperparah  kondisi krisis ekonomi negara tersebut. Luis Vicente Leon, Presiden  Datanalisis berbasis di Caracas, mengungkapkan langkah penyelamatan  Venezuela akan menyebabkan permasalahan bagi bisnis domestik.

&amp;ldquo;Transisi untuk menerapkan elemen konkret seperti meningkatkan gaji  dan mengubah kebijakan pembayaran pajak perusahaan justru akan  menciptakan bencana aliran uang tunai,&amp;rdquo; ujar Leon seperti dilansir CNBC.  Adapun profesor ekonomi terapan dari Universitas Johns Hopkins Steve  Hanke mengungkapkan, kebijakan devaluasi mata uang tak memiliki arti  penting.

Menurutnya, mengaitkan mata uang bolivar dengan petro adalah  penipuan. &amp;ldquo;Itu hanya mengubah penampilan, tetapi faktanya tidak ada yang  berubah. Apa yang terjadi pada bolivar adalah operasi plastik,&amp;rdquo; kata  Hanke.

Sebagaimana dilansir The Conversation, pakar politik ekonomi  Universitas California, Benjamin J Cohen, mengaku tidak pernah melihat  devaluasi sebesar yang di lakukan Venezuela. &amp;ldquo;Venezuela mengakui bahwa  uangnya telah menjadi virtual,&amp;rdquo; ujarnya.

Cohen mengungkapkan Venezuela bukan negara pertama yang tidak mampu  mengatasi inflamasi dengan redenominasi. Banyak negara lain juga  mengalami kegagalan. Misalnya Brasil juga melakukan redenominasi. Hal  serupa juga dilakukan Argentina dan Zimbabwe.

&amp;ldquo;Redenominasi tidak akan mengatasi inflamasi,&amp;rdquo; ujar Cohen.

Krisis ekonomi yang terjadi di Venezuela menyebabkan banyak toko  tutup di Caracas. Jutaan masyarakat di negara itu seolah kompak  melakukan demonstrasi mulai kemarin. Andres Velasquez, seorang tokoh  oposisi, memperkirakan, sekitar 60% penduduk Venezuela akan ikut mogok  nasional.

&amp;ldquo;Semua dari kita telah mengalami kehilangan. Kita telah hancur berdebu-debu,&amp;rdquo; kata Velasquez.

Dia mengungkapkan, jika oposisi tidak melawan rezim, rakyat akan  memiliki pemerintahan ini selamanya. Oposisi juga mengkritik Maduro agar  segera mengatasi hiperinflasi.

Situasi jalanan di Venezuela pada Selasa (22/8) hingga kemarin juga  relatif sepi. Beberapa orasi terdengar dari para pengunjuk rasa yang  menyuarakan ketidakpuasan ke pada pemerintah. &amp;ldquo;Jangan pergi bekerja.  Kamu berhak untuk protes karena itu menyangkut ke hidupanmu, masa  depanmu, dan negaramu. Memberontaklah!&amp;rdquo; demikian ajakan Partai Keinginan  Populer.
Namun di bagian lain sekelompok kecil pendukung pemerintah menggelar   demonstrasi mendukung kebijakan Maduro. &amp;ldquo;Saya berharap pemerintah   memaksa industri untuk menerapkan kebijakan tersebut. Kita menentukan   bisnis yang tidak setuju agar ditutup saja,&amp;rdquo; kata Julio Contreras, 70,   pengawai di pemerintahan Kota Caracas.

Fedecamaras, kelompok bisnis terbesar di Venezuela, menyalahkan paket   kebijakan Maduro yang dinilai tidak koheren. Mereka menyatakan  kenaikan  gaji buruh justru akan membuat bisnis semakin sulit  beroperasi.

Banyak toko di Quinta Crespo juga masih tutup. Beberapa pegawai   memilih tidak bekerja karena mereka tidak ada layanan transportasi   publik. &amp;ldquo;Para karyawan saya tidak datang. Penyuplai juga tidak memasok   barang karena tidak ada kepastian harga,&amp;rdquo; kata Jesus Rojas, 36, yang   menjual buah-buah di pasar.

Dari dalam negeri, Direktur Eksekutif Refor Miners Institute Komaidi   Notonegoro menilai, krisis yang terjadi di Venezuela memang tak bisa   dihindarkan. Pasalnya negara itu sangat bergantung pada ekspor   minyaknya. Menurut dia, ketika harga minyak jatuh, hal itu membuat   Venezuela menderita.

Apalagi sejak 2014 lalu harga minyak bertahan lama di bawah USD50 per   barel, jauh di bawah nilai keekonomiannya. Akibatnya pendapatan negara   tersebut harus turun hingga 40%. Di saat pendapatannya turun,  Venezuela  kesulitan membayar utang-utang sejak tahun sebelumnya.

&amp;ldquo;Intinya kalau sangat tergantung dengan satu sumber, tidak ada jalan   keluar. Adapun sektor-sektor lain di sana tidak tumbuh,&amp;rdquo; ujar Komaidi   tadi malam. Dia mengatakan, negara tidak bisa dikelola hanya dengan   mengandalkan penerimaan dari satu sumber.

Pada dasarnya minyak merupakan komoditas yang harganya tidak bisa   dikontrol oleh negara mana pun baik itu Arab Saudi sebagai produsen   terbesar maupun Venezuela sebagai negara yang kaya minyak.

&amp;ldquo;Jadi ini negara dengan sumber daya alam minyak melimpah justru   menjadi kutukan. Di satu sisi ingin menasionalisasi perusahaan asing,   tapi tidak dikelola dengan baik. Praktik-praktik bisnisnya juga   dijalankan tidak baik,&amp;rdquo; tandasnya.

Dia meyakinkan, apa yang diderita Venezuela tidak akan terjadi di   Indonesia. Pasalnya Indonesia tidak hanya bergantung dengan sumber daya   minyak saja, tapi juga ditopang sektor lain. (Andika Hendra/Nanang Wijayanto)
</content:encoded></item></channel></rss>
