<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Subsidi Elpiji 3 Kg Bisa Jebol, Ini Bahayanya</title><description>Penyaluran elpiji kemasan 3 kg tahun ini diperkirakan melebihi kuota yang ditetapkan sebesar 6,4 juta metrik ton (MT)</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/08/30/320/1943450/subsidi-elpiji-3-kg-bisa-jebol-ini-bahayanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/08/30/320/1943450/subsidi-elpiji-3-kg-bisa-jebol-ini-bahayanya"/><item><title>Subsidi Elpiji 3 Kg Bisa Jebol, Ini Bahayanya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/08/30/320/1943450/subsidi-elpiji-3-kg-bisa-jebol-ini-bahayanya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/08/30/320/1943450/subsidi-elpiji-3-kg-bisa-jebol-ini-bahayanya</guid><pubDate>Kamis 30 Agustus 2018 10:26 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/08/30/320/1943450/subsidi-elpiji-3-kg-bisa-jebol-ini-bahayanya-C9vwjzFCaN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Koran Sindo</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/08/30/320/1943450/subsidi-elpiji-3-kg-bisa-jebol-ini-bahayanya-C9vwjzFCaN.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Koran Sindo</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Penyaluran elpiji kemasan 3 kg tahun ini diperkirakan melebihi kuota yang ditetapkan sebesar 6,4 juta metrik ton (MT). Hal ini terjadi karena distribusi elpiji tidak tepat sasaran sehingga berpotensi menambah beban subsidi.

Pada rapat dengar pendapat bersama DPR, Selasa 28 Agustus 2018, Pertamina menyatakan bahwa penyaluran elpiji bersubsidi 3 kg sepanjang Januari-Juni 2018 telah mencapai 3,37 juta MT. Karena itu pada akhir tahun ini penyaluran elpiji 3 kg atau elpiji melon itu diprediksi mencapai 6,6 juta MT.

&amp;ldquo;Ini karena subsidi tidak tepat sasaran. Banyak industri rumahan masih menggunakan elpiji subsidi 3 kg,&amp;rdquo; ujar Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas&amp;rsquo;ud Khamid di Jakarta.
&amp;nbsp;
Menurut dia, selain alasan tersebut, jebolnya kuota elpiji 3 kg juga disebabkan meningkatnya konsumsi akibat migrasi minyak tanah ke elpiji. Untuk mengantisipasi hal ini, Pertamina telah mengeluarkan kemasan elpiji nonsubsidi 3 kg dengan jumlah 15-20% dari kuota elpiji subsidi.

Diketahui, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 disebutkan alokasi subsidi energi mencapai Rp94,53 triliun. Jumlah tersebut terdiri atas subsidi bahan bakar mi nyak (BBM) dan elpiji 3 kg sebesar Rp46,87 triliun. Ada pun sisanya untuk subsidi listrik Rp47,66 triliun.

Sementara itu jumlah subsidi energi tahun depan pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019 ditetapkan sebesar Rp56,5 triliun atau naik 65% bila di bandingkan dengan tahun ini.

Alokasi subsidi energi tersebut di antaranya untuk subsidi BBM sebesar Rp100,1 triliun yang diperuntukkan bagi penyaluran subsidi solar Rp2.000/liter dengan volume 14,5 juta kiloliter (KL).

Subsidi itu juga untuk menutupi minyak tanah dan elpiji dengan total volume masing-masing 610.000 KL dan 6,9 juta MT. Selain itu Rp56,6 triliun sisanya adalah untuk subsidi pada sektor kelistrikan.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2017/12/08/45371/234722_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pasokan Gas Elpiji Seluruh Indonesia Dipastikan Aman&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Anggota Komisi VII DPR Ari Yunita meminta pemerintah menjaga kuota elpiji bersubsidi kemasan 3 kg supaya tepat sasaran. Dia meyakini, jika pemerintah berhasil menjaga subsidi elpiji 3 kg, tidak akan terjadi kelangkaan.


&amp;ldquo;Kami melihat masih banyak kelangkaan elpiji, khususnya di Kaltara (Kalimantan Utara). Kelangkaan terjadi karena penyaluran elpiji tidak tepat sasaran,&amp;rdquo; tandas dia.

Dia juga mendesak pemerintah segera menerapkan distribusi tertutup supaya dapat menekan bocornya subsidi akibat distribusi tidak tepat sasaran. &amp;ldquo;Di samping itu perlunya cepat tanggap dari Pertamina maupun pemerintah jika terjadi kelangkaan elpiji di suatu daerah,&amp;rdquo; sebut dia.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wOC8yNy8xLzExNTg0My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Razia di Daerah

Dalam upaya penyaluran elpiji yang tepat sasaran, Pertamina bersama  pemerintah di sejumlah daerah menggelar razia terhadap pelaku usaha  industri makanan yang mengguna kan elpiji 3 kg.

Langkah tersebut dilakukan agar para pelaku usaha tidak menggunakan  elpiji tabung 3 kg karena peruntukannya hanya bagi kalangan tidak mampu.  Di Wonosobo, Jawa Tengah, tim monitoring elpiji 3 kg menemukan 108  tabung gas 3 kg yang digunakan oleh industri makanan skala menengah di  11 lokasi usaha.

Dari 108 tabung tersebut, 81 tabung di antaranya berhasil ditarik tim  monitoring dan ditukarkan dengan 41 tabung 5,5 kg nonsubsidi. Razia  serupa juga dilakukan di Banyumas, Jawa Tengah.

Di daerah ini tim inspeksi gabungan yang terdiri atas Pemkab  Banyumas, kepolisian, Pertamina, dan Hiswana Migas mendatangi rumah  makan/UMKM dan memeriksa gas elpiji yang digunakan untuk memasak. Dalam  razia tersebut, tim gabungan menemukan sejumlah rumah makan dan usaha  UMKM yang masih menggunakan gas elpiji subsidi 3 kg.

Pengamat Energi dari Reforminer Institut Komaidi Notonegoro  mengatakan, jebolnya kuota elpiji 3 kg tahun ini tidak bisa dihindari.  Dengan kondisi seperti itu, menurut dia, mau tidak mau pemerintah harus  menganggarkan tambahan subsidi untuk elpiji 3 kg.

Menurut Komaidi, persoalan subsidi elpiji 3 kg terletak pada  mekanisme distribusi yang seharusnya menggunakan sistem distribusi  tertutup, bukan dengan sistem terbuka seperti yang terjadi sekarang.

&amp;ldquo;Dengan sistem terbuka, jebolnya bisa ke mana-mana. Artinya banyak  elpiji 3 kg yang masih tidak tepat sasaran. Dengan sistem distribusi  yang ada sekarang masih susah membedakan mana yang tepat sasaran,&amp;rdquo;  ujarnya.

Selain itu, menurut dia, penggunaan elpiji 3 kg setiap tahunnya  semakin bertambah sebagai dampak dari pengurangan penggunaan minyak  tanah di masyarakat.

&amp;ldquo;Jadi asumsi kuotanya juga pasti akan meleset setiap tahun. Sementara  kita juga masih dalam posisi impor untuk bahan baku elpiji ini,&amp;rdquo;  ungkapnya.

Dia memprediksi pemerintah bakal menambah kuota elpiji dari APBN.  Alasannya karena di tahun politik akan sulit menaikkan harga elpiji 3  kg.

&amp;ldquo;Pemerintah pasti akan menambah kuota subsidi baik dari sisi kuota  maupun anggaran subsidinya. Sebab rasa-rasanya susah menaikkan  harga-harga yang dikendalikan pemerintah di tahun politik seperti ini,&amp;rdquo;  ucapnya.

Dia menambahkan, distribusi elpiji 3 kg bersubsidi akan berjalan  lancar jika diatur dengan sungguh-sungguh dan dilakukan dengan  pengawasan. Namun masalahnya dibutuhkan infrastrtuktur dasar yang  memakan waktu tidak cepat. &amp;ldquo;Ya penyalurannya harus jelas. Sama halnya  menyalurkan bantuan langsung non tunai dan sebagainya. Tapi ini butuh  infrastruktur dan sinergi semua pihak,&amp;rdquo; sebutnya.
BBM Penugasan

Di sisi lain per 27 Agustus 2018 lalu Badan Pengatur Hilir Minyak dan   Gas Bumi (BPH Migas) mencatat, kuota bahan bakar minyak (BBM)  penugasan  jenis premium telah tersalur sebanyak 44,29% atau 5,23 juta  KL dari  total kuota tahun ini sebanyak 11,8 juta KL.

Kepala BPH Migas Fanshrullah Asa meyakini, berdasarkan jumlah kuota   premium yang belum tersalurkan, kuota bensin premium kondisinya aman   tahun ini.

&amp;ldquo;Kami yakin premium aman untuk tahun ini. Masih ada sekitar 6,5 juta   KL yang belum tersalurkan,&amp;rdquo; sebut dia. Bahkan, menurut dia, tahun ini   konsumsi premium diprediksi tidak tersalur sepenuhnya.

Hal itu berdasarkan perhitungan BPH Migas dalam tiga tahun terakhir   yang selalu tidak pernah mencapai 100%. Berdasarkan data BPH Migas pada   2015, kuota bensin premium tersalur hanya 89,6% dari kuota yang   ditetapkan sebesar 13,6 juta KL.

Sementara pada 2016 bensin premium tersalurkan 81,6% dari total kuota   sebanyak 10,6 juta KL. Adapun pada 2017 tersalur sebesar 7 juta KL  dari  keseluruhan kuota sebesar 12,5 juta KL.

Dia mengatakan, kuota premium tahun ini meningkat karena kebijakan   perluasan BBM penugasan. &amp;ldquo;BBM penugasan jenis premium tak hanya   disalurkan di wilayah timur, tapi juga seluruh Indonesia sehingga   terjadi peningkatan volume kuota premium,&amp;rdquo; ujar dia.

Dia menambahkan, mengenai BBM tertentu seperti solar dan minyak tanah   saat ini dalam kondisi aman. BBM jenis solar dan kerosin sampai  Agustus  2018 tersalur sebanyak 10 juta KL dari total keseluruhan  sebanyak 15,23  juta KL dengan perincian, untuk solar tersalur 14,6 juta  KL dan kerosin  610.000 KL. Pada Agustus 2018 konsumsi BBM jenis solar  tersalur sebesar  66,63% atau sebanyak 9,7 juta KL. Adapun untuk minyak  tanah tersalur  56,84% atau sebanyak 347.000 KL.

&amp;ldquo;Kami yakin solar juga aman, bahkan potensi peghematannya mencapai 1 juta KL,&amp;rdquo; tandasnya. (Nanang Wijayanto/ Ichsan Amin)
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Penyaluran elpiji kemasan 3 kg tahun ini diperkirakan melebihi kuota yang ditetapkan sebesar 6,4 juta metrik ton (MT). Hal ini terjadi karena distribusi elpiji tidak tepat sasaran sehingga berpotensi menambah beban subsidi.

Pada rapat dengar pendapat bersama DPR, Selasa 28 Agustus 2018, Pertamina menyatakan bahwa penyaluran elpiji bersubsidi 3 kg sepanjang Januari-Juni 2018 telah mencapai 3,37 juta MT. Karena itu pada akhir tahun ini penyaluran elpiji 3 kg atau elpiji melon itu diprediksi mencapai 6,6 juta MT.

&amp;ldquo;Ini karena subsidi tidak tepat sasaran. Banyak industri rumahan masih menggunakan elpiji subsidi 3 kg,&amp;rdquo; ujar Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas&amp;rsquo;ud Khamid di Jakarta.
&amp;nbsp;
Menurut dia, selain alasan tersebut, jebolnya kuota elpiji 3 kg juga disebabkan meningkatnya konsumsi akibat migrasi minyak tanah ke elpiji. Untuk mengantisipasi hal ini, Pertamina telah mengeluarkan kemasan elpiji nonsubsidi 3 kg dengan jumlah 15-20% dari kuota elpiji subsidi.

Diketahui, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 disebutkan alokasi subsidi energi mencapai Rp94,53 triliun. Jumlah tersebut terdiri atas subsidi bahan bakar mi nyak (BBM) dan elpiji 3 kg sebesar Rp46,87 triliun. Ada pun sisanya untuk subsidi listrik Rp47,66 triliun.

Sementara itu jumlah subsidi energi tahun depan pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019 ditetapkan sebesar Rp56,5 triliun atau naik 65% bila di bandingkan dengan tahun ini.

Alokasi subsidi energi tersebut di antaranya untuk subsidi BBM sebesar Rp100,1 triliun yang diperuntukkan bagi penyaluran subsidi solar Rp2.000/liter dengan volume 14,5 juta kiloliter (KL).

Subsidi itu juga untuk menutupi minyak tanah dan elpiji dengan total volume masing-masing 610.000 KL dan 6,9 juta MT. Selain itu Rp56,6 triliun sisanya adalah untuk subsidi pada sektor kelistrikan.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2017/12/08/45371/234722_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pasokan Gas Elpiji Seluruh Indonesia Dipastikan Aman&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Anggota Komisi VII DPR Ari Yunita meminta pemerintah menjaga kuota elpiji bersubsidi kemasan 3 kg supaya tepat sasaran. Dia meyakini, jika pemerintah berhasil menjaga subsidi elpiji 3 kg, tidak akan terjadi kelangkaan.


&amp;ldquo;Kami melihat masih banyak kelangkaan elpiji, khususnya di Kaltara (Kalimantan Utara). Kelangkaan terjadi karena penyaluran elpiji tidak tepat sasaran,&amp;rdquo; tandas dia.

Dia juga mendesak pemerintah segera menerapkan distribusi tertutup supaya dapat menekan bocornya subsidi akibat distribusi tidak tepat sasaran. &amp;ldquo;Di samping itu perlunya cepat tanggap dari Pertamina maupun pemerintah jika terjadi kelangkaan elpiji di suatu daerah,&amp;rdquo; sebut dia.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wOC8yNy8xLzExNTg0My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Razia di Daerah

Dalam upaya penyaluran elpiji yang tepat sasaran, Pertamina bersama  pemerintah di sejumlah daerah menggelar razia terhadap pelaku usaha  industri makanan yang mengguna kan elpiji 3 kg.

Langkah tersebut dilakukan agar para pelaku usaha tidak menggunakan  elpiji tabung 3 kg karena peruntukannya hanya bagi kalangan tidak mampu.  Di Wonosobo, Jawa Tengah, tim monitoring elpiji 3 kg menemukan 108  tabung gas 3 kg yang digunakan oleh industri makanan skala menengah di  11 lokasi usaha.

Dari 108 tabung tersebut, 81 tabung di antaranya berhasil ditarik tim  monitoring dan ditukarkan dengan 41 tabung 5,5 kg nonsubsidi. Razia  serupa juga dilakukan di Banyumas, Jawa Tengah.

Di daerah ini tim inspeksi gabungan yang terdiri atas Pemkab  Banyumas, kepolisian, Pertamina, dan Hiswana Migas mendatangi rumah  makan/UMKM dan memeriksa gas elpiji yang digunakan untuk memasak. Dalam  razia tersebut, tim gabungan menemukan sejumlah rumah makan dan usaha  UMKM yang masih menggunakan gas elpiji subsidi 3 kg.

Pengamat Energi dari Reforminer Institut Komaidi Notonegoro  mengatakan, jebolnya kuota elpiji 3 kg tahun ini tidak bisa dihindari.  Dengan kondisi seperti itu, menurut dia, mau tidak mau pemerintah harus  menganggarkan tambahan subsidi untuk elpiji 3 kg.

Menurut Komaidi, persoalan subsidi elpiji 3 kg terletak pada  mekanisme distribusi yang seharusnya menggunakan sistem distribusi  tertutup, bukan dengan sistem terbuka seperti yang terjadi sekarang.

&amp;ldquo;Dengan sistem terbuka, jebolnya bisa ke mana-mana. Artinya banyak  elpiji 3 kg yang masih tidak tepat sasaran. Dengan sistem distribusi  yang ada sekarang masih susah membedakan mana yang tepat sasaran,&amp;rdquo;  ujarnya.

Selain itu, menurut dia, penggunaan elpiji 3 kg setiap tahunnya  semakin bertambah sebagai dampak dari pengurangan penggunaan minyak  tanah di masyarakat.

&amp;ldquo;Jadi asumsi kuotanya juga pasti akan meleset setiap tahun. Sementara  kita juga masih dalam posisi impor untuk bahan baku elpiji ini,&amp;rdquo;  ungkapnya.

Dia memprediksi pemerintah bakal menambah kuota elpiji dari APBN.  Alasannya karena di tahun politik akan sulit menaikkan harga elpiji 3  kg.

&amp;ldquo;Pemerintah pasti akan menambah kuota subsidi baik dari sisi kuota  maupun anggaran subsidinya. Sebab rasa-rasanya susah menaikkan  harga-harga yang dikendalikan pemerintah di tahun politik seperti ini,&amp;rdquo;  ucapnya.

Dia menambahkan, distribusi elpiji 3 kg bersubsidi akan berjalan  lancar jika diatur dengan sungguh-sungguh dan dilakukan dengan  pengawasan. Namun masalahnya dibutuhkan infrastrtuktur dasar yang  memakan waktu tidak cepat. &amp;ldquo;Ya penyalurannya harus jelas. Sama halnya  menyalurkan bantuan langsung non tunai dan sebagainya. Tapi ini butuh  infrastruktur dan sinergi semua pihak,&amp;rdquo; sebutnya.
BBM Penugasan

Di sisi lain per 27 Agustus 2018 lalu Badan Pengatur Hilir Minyak dan   Gas Bumi (BPH Migas) mencatat, kuota bahan bakar minyak (BBM)  penugasan  jenis premium telah tersalur sebanyak 44,29% atau 5,23 juta  KL dari  total kuota tahun ini sebanyak 11,8 juta KL.

Kepala BPH Migas Fanshrullah Asa meyakini, berdasarkan jumlah kuota   premium yang belum tersalurkan, kuota bensin premium kondisinya aman   tahun ini.

&amp;ldquo;Kami yakin premium aman untuk tahun ini. Masih ada sekitar 6,5 juta   KL yang belum tersalurkan,&amp;rdquo; sebut dia. Bahkan, menurut dia, tahun ini   konsumsi premium diprediksi tidak tersalur sepenuhnya.

Hal itu berdasarkan perhitungan BPH Migas dalam tiga tahun terakhir   yang selalu tidak pernah mencapai 100%. Berdasarkan data BPH Migas pada   2015, kuota bensin premium tersalur hanya 89,6% dari kuota yang   ditetapkan sebesar 13,6 juta KL.

Sementara pada 2016 bensin premium tersalurkan 81,6% dari total kuota   sebanyak 10,6 juta KL. Adapun pada 2017 tersalur sebesar 7 juta KL  dari  keseluruhan kuota sebesar 12,5 juta KL.

Dia mengatakan, kuota premium tahun ini meningkat karena kebijakan   perluasan BBM penugasan. &amp;ldquo;BBM penugasan jenis premium tak hanya   disalurkan di wilayah timur, tapi juga seluruh Indonesia sehingga   terjadi peningkatan volume kuota premium,&amp;rdquo; ujar dia.

Dia menambahkan, mengenai BBM tertentu seperti solar dan minyak tanah   saat ini dalam kondisi aman. BBM jenis solar dan kerosin sampai  Agustus  2018 tersalur sebanyak 10 juta KL dari total keseluruhan  sebanyak 15,23  juta KL dengan perincian, untuk solar tersalur 14,6 juta  KL dan kerosin  610.000 KL. Pada Agustus 2018 konsumsi BBM jenis solar  tersalur sebesar  66,63% atau sebanyak 9,7 juta KL. Adapun untuk minyak  tanah tersalur  56,84% atau sebanyak 347.000 KL.

&amp;ldquo;Kami yakin solar juga aman, bahkan potensi peghematannya mencapai 1 juta KL,&amp;rdquo; tandasnya. (Nanang Wijayanto/ Ichsan Amin)
</content:encoded></item></channel></rss>
