<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekspor Mebel RI Harus Bersaing dengan Produk Vietnam hingga China</title><description>Saat ini untuk memacu ekspor, Indonesia harus bersaing dengan produk Vietnam dan China.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/09/27/470/1956513/ekspor-mebel-ri-harus-bersaing-dengan-produk-vietnam-hingga-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/09/27/470/1956513/ekspor-mebel-ri-harus-bersaing-dengan-produk-vietnam-hingga-china"/><item><title>Ekspor Mebel RI Harus Bersaing dengan Produk Vietnam hingga China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/09/27/470/1956513/ekspor-mebel-ri-harus-bersaing-dengan-produk-vietnam-hingga-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/09/27/470/1956513/ekspor-mebel-ri-harus-bersaing-dengan-produk-vietnam-hingga-china</guid><pubDate>Kamis 27 September 2018 18:33 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/09/27/470/1956513/ekspor-mebel-ri-harus-bersaing-dengan-produk-vietnam-hingga-china-kOK1AxEF53.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/09/27/470/1956513/ekspor-mebel-ri-harus-bersaing-dengan-produk-vietnam-hingga-china-kOK1AxEF53.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Okezone</title></images><description>JAKARTA - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyatakan, saat ini untuk memacu ekspor, Indonesia harus bersaing dengan produk Vietnam dan China.

Sekretaris Jenderal HIMKI Abdul Sobur mengatakan, kendala utama dengan persaingan ini adalah lebih mahalnya harga jual produk Indonesia. Padahal untuk jenis dan tipe produk yang sama.

&amp;ldquo;Sekarang kami pasang strategi produk yang tidak mereka jual, artinya volume permintaan pasar jauh lebih kecil,&amp;rdquo; katanya di Jakarta, Kamis (27/9/2018).
&amp;nbsp;Baca Juga: Kalah Saing dengan Vietnam, Industri Mebel RI Cari Pasar Baru
Meski sejumlah masalah menghambat ekspor produk mebel Indonesia, Pihaknya menyatakan tetap berupaya target yang telah dicanangkan dapat terealisasi dengan menggerakan seluruh anggota asosiasi.
&amp;nbsp;
Menurutnya, meski ekspektasi tinggi, realitas ekspor jauh berada di bawah target. Asosiasi menargetkan ekspor produk mebel dan kerajinan senilai USD1,9 miliar atau tumbuh 9% pada tahun ini.

Namun dalam catatan asosiasi dengan mengumpulkan berbagai data, ekspor baru USD1,3 miliar. Sedangkan pada 2016 lalu realisasi ekspor baru USD1,65 miliar.

&amp;ldquo;Artinya dalam 3 bulan harus dikejar USD200 juta per bulan untuk mengejar target ini,&amp;rdquo; jelasnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Masih Banyak Regulasi yang Hambat Ekspor Mebel
Untuk itu, pengusaha mebel dan kerajinan meminta pemerintah menjamin ketersediaan baku agar target ekspor dapat tercapai. Saat ini Indonesia merupakan negara sumber bahan baku kerajinan ketiga terbesar di dunia. Negara yang mempunyai stok bahan baku mebel di atas Indonesia hanya Brazil dan Zaire. Akan tetapi capaian penjualan ekspor produk Indonesia kalah dibandingkan negara non pemasok bahan baku seperti China hingga Vietnam.

&amp;ldquo;Artinya harusnya kami bisa punya ekspor besar. Karena itu, kami minta pemerintah jamin ketersediaan bahan baku,&amp;rdquo; kata Sobur.

Sobur menyatakan kekhawatiran bahan baku terutama adanya permintaan Indonesia kembali membuka ekspor barang mentah seperti kayu log maupun rotan.

Sobur menyebutkan target ekspor diharapkan dapat dipacu dengan diselenggarakannya Indonesia Trade Expo. Meski begitu, ia tidak terlalu yakin ajang pameran multi produk itu dapat memacu target penjualan.

&amp;ldquo;Karena kami hanya jadi bagian kecil, digabung dengan produk lain. Jadi kurang begitu optimal. Seharusnya ada pameran besar terpisah,&amp;rdquo; katanya.

Di sisi lain, pameran International Furniture Manufacturing  Components Exhibition (IFMAC) dan pameran Woodworking Machinery  (WOODMAC) mempersiapkan industri untuk meciptakan hasil produksi dan  kinerja manufaktur yang lebih baik dengan menerapkan teknologi dan  solusi baru yang dihadirkan pada pameran tahun ini.

Sebagai pameran dagang terpenting di Indonesia untuk pengadaan  komponen manufaktur furnitur dan teknologi pertukangan, IFMAC dan WOOMAC  pada tahun 2018 ini akan menghadirkan teknologi-teknologi dengan  kualitas terbaik untuk industri furniture Indonesia yang sedang  berkembang' melalui produk-produk siap pakai, mesin, peralatan, dan  sistem yang akan lebih memperkuat industri furnitur Indonesia.

Tahun ini, pameran diikuti lebih dari 300 perusahaan dari 23 negara, area pameran meningkat 25% dibandingkan tahun lalu.

Menurut General Manager PT Wahana Kemalaniaga Makmur Sofianto Widjaja  selaku penyelenggara pameran, seiring dengan persaingan ketat yang  dihadapi oleh industri furnitur dan kerajinan kayu Indonesia,  peningkatan partisipasi perusahaan internasional dan pemain-pemain besar  dalam negeri memungkinkan pertukaran pengetahuan dan adopsi teknologi  yang lebih baik dan menguntungkan bagi bisnis furnitur yang sedang  berkembang di seluruh Indonesia.</description><content:encoded>JAKARTA - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyatakan, saat ini untuk memacu ekspor, Indonesia harus bersaing dengan produk Vietnam dan China.

Sekretaris Jenderal HIMKI Abdul Sobur mengatakan, kendala utama dengan persaingan ini adalah lebih mahalnya harga jual produk Indonesia. Padahal untuk jenis dan tipe produk yang sama.

&amp;ldquo;Sekarang kami pasang strategi produk yang tidak mereka jual, artinya volume permintaan pasar jauh lebih kecil,&amp;rdquo; katanya di Jakarta, Kamis (27/9/2018).
&amp;nbsp;Baca Juga: Kalah Saing dengan Vietnam, Industri Mebel RI Cari Pasar Baru
Meski sejumlah masalah menghambat ekspor produk mebel Indonesia, Pihaknya menyatakan tetap berupaya target yang telah dicanangkan dapat terealisasi dengan menggerakan seluruh anggota asosiasi.
&amp;nbsp;
Menurutnya, meski ekspektasi tinggi, realitas ekspor jauh berada di bawah target. Asosiasi menargetkan ekspor produk mebel dan kerajinan senilai USD1,9 miliar atau tumbuh 9% pada tahun ini.

Namun dalam catatan asosiasi dengan mengumpulkan berbagai data, ekspor baru USD1,3 miliar. Sedangkan pada 2016 lalu realisasi ekspor baru USD1,65 miliar.

&amp;ldquo;Artinya dalam 3 bulan harus dikejar USD200 juta per bulan untuk mengejar target ini,&amp;rdquo; jelasnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Masih Banyak Regulasi yang Hambat Ekspor Mebel
Untuk itu, pengusaha mebel dan kerajinan meminta pemerintah menjamin ketersediaan baku agar target ekspor dapat tercapai. Saat ini Indonesia merupakan negara sumber bahan baku kerajinan ketiga terbesar di dunia. Negara yang mempunyai stok bahan baku mebel di atas Indonesia hanya Brazil dan Zaire. Akan tetapi capaian penjualan ekspor produk Indonesia kalah dibandingkan negara non pemasok bahan baku seperti China hingga Vietnam.

&amp;ldquo;Artinya harusnya kami bisa punya ekspor besar. Karena itu, kami minta pemerintah jamin ketersediaan bahan baku,&amp;rdquo; kata Sobur.

Sobur menyatakan kekhawatiran bahan baku terutama adanya permintaan Indonesia kembali membuka ekspor barang mentah seperti kayu log maupun rotan.

Sobur menyebutkan target ekspor diharapkan dapat dipacu dengan diselenggarakannya Indonesia Trade Expo. Meski begitu, ia tidak terlalu yakin ajang pameran multi produk itu dapat memacu target penjualan.

&amp;ldquo;Karena kami hanya jadi bagian kecil, digabung dengan produk lain. Jadi kurang begitu optimal. Seharusnya ada pameran besar terpisah,&amp;rdquo; katanya.

Di sisi lain, pameran International Furniture Manufacturing  Components Exhibition (IFMAC) dan pameran Woodworking Machinery  (WOODMAC) mempersiapkan industri untuk meciptakan hasil produksi dan  kinerja manufaktur yang lebih baik dengan menerapkan teknologi dan  solusi baru yang dihadirkan pada pameran tahun ini.

Sebagai pameran dagang terpenting di Indonesia untuk pengadaan  komponen manufaktur furnitur dan teknologi pertukangan, IFMAC dan WOOMAC  pada tahun 2018 ini akan menghadirkan teknologi-teknologi dengan  kualitas terbaik untuk industri furniture Indonesia yang sedang  berkembang' melalui produk-produk siap pakai, mesin, peralatan, dan  sistem yang akan lebih memperkuat industri furnitur Indonesia.

Tahun ini, pameran diikuti lebih dari 300 perusahaan dari 23 negara, area pameran meningkat 25% dibandingkan tahun lalu.

Menurut General Manager PT Wahana Kemalaniaga Makmur Sofianto Widjaja  selaku penyelenggara pameran, seiring dengan persaingan ketat yang  dihadapi oleh industri furnitur dan kerajinan kayu Indonesia,  peningkatan partisipasi perusahaan internasional dan pemain-pemain besar  dalam negeri memungkinkan pertukaran pengetahuan dan adopsi teknologi  yang lebih baik dan menguntungkan bagi bisnis furnitur yang sedang  berkembang di seluruh Indonesia.</content:encoded></item></channel></rss>
