<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Miliarder Ini Bagikan 10% Keuntungan Perusahaan untuk Karyawan, Siapa Dia?</title><description>Hamdi Ulukaya merupakan seorang miliarder Amerika Serikat (AS) keturunan Kurdi, Turki,</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/02/320/1958509/miliarder-ini-bagikan-10-keuntungan-perusahaan-untuk-karyawan-siapa-dia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/10/02/320/1958509/miliarder-ini-bagikan-10-keuntungan-perusahaan-untuk-karyawan-siapa-dia"/><item><title>   Miliarder Ini Bagikan 10% Keuntungan Perusahaan untuk Karyawan, Siapa Dia?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/02/320/1958509/miliarder-ini-bagikan-10-keuntungan-perusahaan-untuk-karyawan-siapa-dia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/10/02/320/1958509/miliarder-ini-bagikan-10-keuntungan-perusahaan-untuk-karyawan-siapa-dia</guid><pubDate>Selasa 02 Oktober 2018 12:48 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/02/320/1958509/miliader-ini-bagikan-10-keuntungan-perusahaan-untuk-karyawan-siapa-dia-engOyoRSjv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/02/320/1958509/miliader-ini-bagikan-10-keuntungan-perusahaan-untuk-karyawan-siapa-dia-engOyoRSjv.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Hamdi Ulukaya merupakan seorang miliarder Amerika Serikat (AS) keturunan Kurdi, Turki, yang mampu membawa yoghurt Yunani menjadi tren di seluruh dunia.
Setelah sukses, kini dia tetap tidak tertarik agar perusahaannya tampil di publik dengan melakukan penawaran umum saham perdana atau IPO. Dia justru lebih memperhatikan urusan karyawannya dengan membagikan 10% keuntungan perusahaan kepada mereka.
Chobani memang telah lama dikenal sebagai perusahaan swasta yang hanya dimiliki Ulukaya. Ada kesan kalau Ulukaya memang khawatir dan takut dengan IPO. Dalam konferensi Coder Commercial di New York beberapa waktu lalu, Ulukaya membantah ketakutan ketika perusahaannya melaksanakan IPO.
&amp;nbsp;Baca Juga: Deretan Orang Terkaya Dunia yang Beli Media agar Tetap 'Hidup'
Namun, dia menegaskan tidak tertarik IPO karena dia tidak ingin menjual perusahaannya kepada konglomerat. Maklum, selama ini banyak konglomerat tertarik membeli perusahaan dengan brand yang sudah terkenal.
&amp;ldquo;Apa yang terjadi dengan brand kecil, padahal brand itu bagus. Ketika tumbuh, karena permasalahan struktur keuangan, 99% dari mereka kini dikuasai organisasi bisnis besar,&amp;rdquo; kata Ulukaya dilansir Recode.net . &amp;ldquo;Ketika mereka menjadi bagian dari konglomerasi, itu akhir dari janji mereka,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
Ketika ditanyakan apakah Ulukaya tertarik menjual perusahaannya kepada konglomerat? &amp;ldquo;Jelas, saya tidak ingin sejak awal saya berbisnis,&amp;rdquo; katanya tegas. Memang IPO memberikan kesempatan untuk ekspansi bisnis. &amp;ldquo;Tapi, ketika saya melihat Elon Musk, saya pikir hal itu tidak mungkin saya lakukan,&amp;rdquo; tuturnya.
Dengan kepemilikan tanpa campur tangan modal besar, Ulukaya justru perusahaannya tumbuh besar. Total pendapatan bersih mencapai USD1 miliar dengan nilai penjualan mencapai USD3 miliar hingga USD5 miliar pada 2017.
&amp;nbsp;Baca Juga: Mengenal Marc Benioff, dari Raja Software Jadi Pemilik Time
Hal menarik yang diakukan Ulukaya adalah membagikan 10% keuntungan perusahaan kepada pegawainya. Dia pun dikenal sebagai pengusaha yang selalu berbagi dengan banyak orang. Kenapa harus memberikan 10% keuntungan kepada karyawan?
&amp;ldquo;Lihatlah latar belakang saya dari kelas pekerja. Dulu, saya adalah buruh pabrik. Salah satu mimpi saya adalah mewujudkan semua orang di perusahaan ini adalah mitra,&amp;rdquo; ujar Ulukaya.
&amp;nbsp;
Dia mengungkapkan, semua karyawan memiliki andil dalam membangun perusahaan. Dia pun membuat kalkulasi ketika karyawannya bekerja USD9 per jam, maka mereka tidak bisa membeli rumah, makanan yang enak, dan liburan.
&amp;ldquo;Saya melihat dari kacamata perspektif lebih besar,&amp;rdquo; ujarnya. Semuanya itu di awali ketika dia mendirikan bisnis skala kecil menengah dengan membeli keju. Kemudian dia mengembangkan pabrik yogurt di New York. Beberapa tahun kemudian perusahaannya terus berkembang.
&amp;ldquo;Ayah saya datang ke sini (New York) dan mengatakan, &amp;lsquo;kamu harus membuat keju di sini. Tidak ada keju feta yang enak di sini&amp;rsquo;,&amp;rdquo; kata Ulukaya.Dia mengaku selama dua tahun mengawali bisnis keju dan harus berjuang  keras. Dia juga sering menangis. &amp;ldquo;Dulu, saya sering berpikir bagaimana  saya bisa membayar gaji pegawai? Bagaimana saya bisa membeli susu,&amp;rdquo;  tuturnya.
Bagaimana mengawali bisnis yogurt? Suatu hari, Ulukaya melihat sebuah  iklan tentang penjualan pabrik yogurt senilai USD700.000. Dia pun  berkonsultasi dengan seorang pengacara yang memberikan argumentasi  tentang penolakan pembelian pabrik itu karena akan berurusan dengan isu  lingkungan. Pengacara itu mengungkapkan bahwa pabrik yogurt tutup  menunjukkan bisnis tersebut memang tidak baik.
&amp;ldquo;Saya sempat tidak tidur. Saya kembali memanggil pengacara saya.  &amp;lsquo;Saya tidak tahu apa itu yogurt. Tapi, saya bisa merasakan saya  melakukan sesuatu dengan yogurt&amp;rsquo;,&amp;rdquo; ujar Ulukaya. &amp;ldquo;Hingga pada 17 Agustus  2005, saya membeli pabrik itu,&amp;rdquo; katanya.
Ulukaya memberikan keterangan kenapa pabriknya diberi nama Chobani  karena itu berarti penggembala. Dia menceritakan pada 2005, perusahaan  yogurtnya hanya memiliki pangsa pasar setengah persen. Bagaimana untuk  saat ini? &amp;ldquo;Lebih dari 50%,&amp;rdquo; ujarnya. (Andika Hendra)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Hamdi Ulukaya merupakan seorang miliarder Amerika Serikat (AS) keturunan Kurdi, Turki, yang mampu membawa yoghurt Yunani menjadi tren di seluruh dunia.
Setelah sukses, kini dia tetap tidak tertarik agar perusahaannya tampil di publik dengan melakukan penawaran umum saham perdana atau IPO. Dia justru lebih memperhatikan urusan karyawannya dengan membagikan 10% keuntungan perusahaan kepada mereka.
Chobani memang telah lama dikenal sebagai perusahaan swasta yang hanya dimiliki Ulukaya. Ada kesan kalau Ulukaya memang khawatir dan takut dengan IPO. Dalam konferensi Coder Commercial di New York beberapa waktu lalu, Ulukaya membantah ketakutan ketika perusahaannya melaksanakan IPO.
&amp;nbsp;Baca Juga: Deretan Orang Terkaya Dunia yang Beli Media agar Tetap 'Hidup'
Namun, dia menegaskan tidak tertarik IPO karena dia tidak ingin menjual perusahaannya kepada konglomerat. Maklum, selama ini banyak konglomerat tertarik membeli perusahaan dengan brand yang sudah terkenal.
&amp;ldquo;Apa yang terjadi dengan brand kecil, padahal brand itu bagus. Ketika tumbuh, karena permasalahan struktur keuangan, 99% dari mereka kini dikuasai organisasi bisnis besar,&amp;rdquo; kata Ulukaya dilansir Recode.net . &amp;ldquo;Ketika mereka menjadi bagian dari konglomerasi, itu akhir dari janji mereka,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
Ketika ditanyakan apakah Ulukaya tertarik menjual perusahaannya kepada konglomerat? &amp;ldquo;Jelas, saya tidak ingin sejak awal saya berbisnis,&amp;rdquo; katanya tegas. Memang IPO memberikan kesempatan untuk ekspansi bisnis. &amp;ldquo;Tapi, ketika saya melihat Elon Musk, saya pikir hal itu tidak mungkin saya lakukan,&amp;rdquo; tuturnya.
Dengan kepemilikan tanpa campur tangan modal besar, Ulukaya justru perusahaannya tumbuh besar. Total pendapatan bersih mencapai USD1 miliar dengan nilai penjualan mencapai USD3 miliar hingga USD5 miliar pada 2017.
&amp;nbsp;Baca Juga: Mengenal Marc Benioff, dari Raja Software Jadi Pemilik Time
Hal menarik yang diakukan Ulukaya adalah membagikan 10% keuntungan perusahaan kepada pegawainya. Dia pun dikenal sebagai pengusaha yang selalu berbagi dengan banyak orang. Kenapa harus memberikan 10% keuntungan kepada karyawan?
&amp;ldquo;Lihatlah latar belakang saya dari kelas pekerja. Dulu, saya adalah buruh pabrik. Salah satu mimpi saya adalah mewujudkan semua orang di perusahaan ini adalah mitra,&amp;rdquo; ujar Ulukaya.
&amp;nbsp;
Dia mengungkapkan, semua karyawan memiliki andil dalam membangun perusahaan. Dia pun membuat kalkulasi ketika karyawannya bekerja USD9 per jam, maka mereka tidak bisa membeli rumah, makanan yang enak, dan liburan.
&amp;ldquo;Saya melihat dari kacamata perspektif lebih besar,&amp;rdquo; ujarnya. Semuanya itu di awali ketika dia mendirikan bisnis skala kecil menengah dengan membeli keju. Kemudian dia mengembangkan pabrik yogurt di New York. Beberapa tahun kemudian perusahaannya terus berkembang.
&amp;ldquo;Ayah saya datang ke sini (New York) dan mengatakan, &amp;lsquo;kamu harus membuat keju di sini. Tidak ada keju feta yang enak di sini&amp;rsquo;,&amp;rdquo; kata Ulukaya.Dia mengaku selama dua tahun mengawali bisnis keju dan harus berjuang  keras. Dia juga sering menangis. &amp;ldquo;Dulu, saya sering berpikir bagaimana  saya bisa membayar gaji pegawai? Bagaimana saya bisa membeli susu,&amp;rdquo;  tuturnya.
Bagaimana mengawali bisnis yogurt? Suatu hari, Ulukaya melihat sebuah  iklan tentang penjualan pabrik yogurt senilai USD700.000. Dia pun  berkonsultasi dengan seorang pengacara yang memberikan argumentasi  tentang penolakan pembelian pabrik itu karena akan berurusan dengan isu  lingkungan. Pengacara itu mengungkapkan bahwa pabrik yogurt tutup  menunjukkan bisnis tersebut memang tidak baik.
&amp;ldquo;Saya sempat tidak tidur. Saya kembali memanggil pengacara saya.  &amp;lsquo;Saya tidak tahu apa itu yogurt. Tapi, saya bisa merasakan saya  melakukan sesuatu dengan yogurt&amp;rsquo;,&amp;rdquo; ujar Ulukaya. &amp;ldquo;Hingga pada 17 Agustus  2005, saya membeli pabrik itu,&amp;rdquo; katanya.
Ulukaya memberikan keterangan kenapa pabriknya diberi nama Chobani  karena itu berarti penggembala. Dia menceritakan pada 2005, perusahaan  yogurtnya hanya memiliki pangsa pasar setengah persen. Bagaimana untuk  saat ini? &amp;ldquo;Lebih dari 50%,&amp;rdquo; ujarnya. (Andika Hendra)</content:encoded></item></channel></rss>
