<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertemuan IMF-World Bank, Sri Mulyani Cs Cari Jalan Keluar Pembiayaan Infrastruktur Indonesia</title><description>Topik pembiayaan infrastruktur dipilih mengingat Indonesia, sebagai  negara berkembang, masih membutuhkan pembangunan infrastruktur.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/09/20/1961493/pertemuan-imf-world-bank-sri-mulyani-cs-cari-jalan-keluar-pembiayaan-infrastruktur-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/10/09/20/1961493/pertemuan-imf-world-bank-sri-mulyani-cs-cari-jalan-keluar-pembiayaan-infrastruktur-indonesia"/><item><title>Pertemuan IMF-World Bank, Sri Mulyani Cs Cari Jalan Keluar Pembiayaan Infrastruktur Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/09/20/1961493/pertemuan-imf-world-bank-sri-mulyani-cs-cari-jalan-keluar-pembiayaan-infrastruktur-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/10/09/20/1961493/pertemuan-imf-world-bank-sri-mulyani-cs-cari-jalan-keluar-pembiayaan-infrastruktur-indonesia</guid><pubDate>Selasa 09 Oktober 2018 11:49 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/09/20/1961493/pertemuan-imf-world-bank-sri-mulyani-cs-cari-jalan-keluar-pembiayaan-infrastruktur-indonesia-HtNnurs8hN.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia Investment Forum di Bali (Foto: Heru/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/09/20/1961493/pertemuan-imf-world-bank-sri-mulyani-cs-cari-jalan-keluar-pembiayaan-infrastruktur-indonesia-HtNnurs8hN.jpeg</image><title>Indonesia Investment Forum di Bali (Foto: Heru/Okezone)</title></images><description>NUSA DUA - Bank Indonesia, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan menyelenggarakan &amp;ldquo;Forum Investasi Indonesia 2018&amp;rdquo; yang mengangkat mengenai paradigma baru dalam pembiayaan infrastruktur. Kegiatan dilaksanakan pagi ini di Bali sebagai bagian dari rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-World Bank tahun 2018.
Baca Juga: Di Pertemuan IMF-World Bank, Sri Mulyani Pelajari Obligasi Bencana Alam
Topik pembiayaan infrastruktur dipilih mengingat Indonesia, sebagai negara berkembang, masih membutuhkan pembangunan infrastruktur. Salah satu kunci kesuksesan pembangunan tersebut adalah pembiayaan yang tak hanya bergantung kepada Pemerintah, melainkan didukung oleh pembiayaan swasta. Seperti dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (9/10/2018), kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah untuk mendukung peran swasta dalam pembangunan infrastruktur, baik dari sisi kebijakan yang akomodatif maupun berbagai inovasi instrumen keuangan untuk pembiayaan infrastruktur.

Salah satu bagian kegiatan adalah forum diskusi panel, yang membahas mengenai berbagai hasil asesmen dan rekomendasi terkait upaya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dari berbagai aspek, antara lain peningkatan credit rating proyek infrastruktur serta strategi untuk memperoleh pembiayaan yang lebih efisien. Forum juga membahas berbagai isu pembiayaan infrastruktur, termasuk perkembangan pembangunan infrastruktur sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) di Indonesia. Hadir dalam diskusi panel ini narasumber dari berbagai sumber yaitu lembaga multilateral, manajer investasi, lembaga pemeringkat global, Komite Percepatan Proyek Infrastruktur Prioritas (KPPIP) dan BUMN, dengan melibatkan lebih dari 200 investor potensial.
Baca Juga: DPR Tekankan Peran Perempuan dalam Pembangunan Ekonomi di Pertemuan IMF-World Bank
Dalam kasus Indonesia, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi pada level 5%-7%, RPJMN 2015-2019 menekankan pentingnya percepatan infrastruktur antara lain melalui pembangunan jalan tol, bandar udara, pelabuhan, dan penambahan kapasitas pembangkit listrik. Lebih lanjut, Pemerintah telah menetapkan PSN dengan kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan 223 proyek dan 3 program mencapai USD307 miliar. Dengan target pembangunan yang cukup tinggi tersebut, peran serta seluruh pihak sangat diperlukan. Diestimasikan 60% dari total pendanaan atau setara USD181 miliar berasal dari pendanaan pihak swasta dan 31% dari total pendanaan atau setara USD94 miliar berasal dari pendanaan BUMN.


Namun demikian, terdapat beberapa isu yang menjadi salah satu faktor  penghambat peningkatan keterlibatan sektor swasta, diantaranya  keterbatasan kapasitas sumber daya dalam penyelesaian proyek berskala  besar. Selama ini, BUMN dengan dukungan Kementerian BUMN berupaya untuk  meningkatkan kapasitas sumber daya dengan mencari sumber pendanaan dari  pasar keuangan melalui berbagai inovasi instrumen pembiayaan dan  membangun kemitraan dengan sektor swasta lainnya. Melalui kemitraan  strategis, BUMN diharapkan juga mendapatkan pembelajaran dari keahlian  sektor swasta untuk pembangunan infrastruktur dengan kualitas sesuai  dengan standar internasional.
Baca Juga: Hari Kedua Pertemuan IMF-World Bank, Ini Jadwal Agendanya
Usaha melibatkan pihak swasta dalam proyek infrastruktur telah mulai  membuahkan hasil. Pada 11 Oktober 2018, akan ditandatangani 21 proyek  infrastruktur pada 12 BUMN, dengan total nilai proyek sekitar USD13,6  miliar. Penandatanganan tersebut mencerminkan tingginya minat investor  domestik dan luar negeri untuk berinvestasi pada sektor infrastruktur di  Indonesia, serta mempertegas bahwa inovasi pembiayaan infrastruktur di  pasar keuangan Indonesia terus berkembang. Salah satunya adalah dengan  ditandatanganinya pernyataan efektif dari OJK terkait penerbitan Dana  Investasi Infrastruktur (DINFRA) oleh Mandiri Manajemen Investasi yang  akan terus didorong perkembangannya. Inovasi lainnya adalah fasilitas  hedging syariah yang mendampingi pemberian kredit syariah, yaitu hedging  syariah pertama yang dilakukan di pasar keuangan syariah domestik.

Sebagai rangkaian Forum Investasi, dilakukan pula peluncuran buku  &amp;ldquo;Strategi Nasional Pengembangan dan Pendalaman Pasar Keuangan  (SN-PPPK)&amp;rdquo;. Buku tersebut merupakan roadmap yang disusun oleh tiga  otoritas keuangan Indonesia yaitu Kementerian Keuangan, Bank Indonesia,  dan Otoritas Jasa Keuangan dalam Forum Koordinasi Pembiayaan Pembangunan  melalui Pasar Keuangan (FK-PPPK). Dalam roadmap yang disusun tersebut,  pengembangan pasar keuangan Indonesia akan dilandasi oleh 3 pilar yaitu,  (i) sumber pembiayaan ekonomi dan pengelolaan risiko, (ii) pengembangan  infrastruktur pasar, serta (iii) koordinasi kebijakan, harmonisasi  ketentuan, dan edukasi. Sementara tujuan akhir dari strategi  pengembangan dan pendalaman pasar keuangan yang tertuang dalam SN-PPPK  adalah untuk membentuk pasar keuangan yang dalam, likuid, efisien,  inklusif dan aman, yang dituangkan ke dalam berbagai program strategis  di berbagai segmen pasar yaitu pasar modal, pasar valuta asing, pasar  uang, dan pasar keuangan syariah, termasuk di dalamnya terkait dengan  dukungan terhadap pembiayaan infrastruktur.
Baca Juga: 4 Isu Utama yang Dibahas dalam Pertemuan IMF-World Bank
Dengan pelaksanaan diskusi panel, peluncuran buku, serta pertemuan  bilateral antara otoritas, investor dan BUMN, Forum Investasi Indonesia  2018 diharapkan mampu meningkatkan pemahaman bersama atas pembangunan  infrastruktur saat ini dan peluang investasi pada sektor infrastruktur  Indonesia ke depan.</description><content:encoded>NUSA DUA - Bank Indonesia, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan menyelenggarakan &amp;ldquo;Forum Investasi Indonesia 2018&amp;rdquo; yang mengangkat mengenai paradigma baru dalam pembiayaan infrastruktur. Kegiatan dilaksanakan pagi ini di Bali sebagai bagian dari rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-World Bank tahun 2018.
Baca Juga: Di Pertemuan IMF-World Bank, Sri Mulyani Pelajari Obligasi Bencana Alam
Topik pembiayaan infrastruktur dipilih mengingat Indonesia, sebagai negara berkembang, masih membutuhkan pembangunan infrastruktur. Salah satu kunci kesuksesan pembangunan tersebut adalah pembiayaan yang tak hanya bergantung kepada Pemerintah, melainkan didukung oleh pembiayaan swasta. Seperti dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (9/10/2018), kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah untuk mendukung peran swasta dalam pembangunan infrastruktur, baik dari sisi kebijakan yang akomodatif maupun berbagai inovasi instrumen keuangan untuk pembiayaan infrastruktur.

Salah satu bagian kegiatan adalah forum diskusi panel, yang membahas mengenai berbagai hasil asesmen dan rekomendasi terkait upaya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dari berbagai aspek, antara lain peningkatan credit rating proyek infrastruktur serta strategi untuk memperoleh pembiayaan yang lebih efisien. Forum juga membahas berbagai isu pembiayaan infrastruktur, termasuk perkembangan pembangunan infrastruktur sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) di Indonesia. Hadir dalam diskusi panel ini narasumber dari berbagai sumber yaitu lembaga multilateral, manajer investasi, lembaga pemeringkat global, Komite Percepatan Proyek Infrastruktur Prioritas (KPPIP) dan BUMN, dengan melibatkan lebih dari 200 investor potensial.
Baca Juga: DPR Tekankan Peran Perempuan dalam Pembangunan Ekonomi di Pertemuan IMF-World Bank
Dalam kasus Indonesia, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi pada level 5%-7%, RPJMN 2015-2019 menekankan pentingnya percepatan infrastruktur antara lain melalui pembangunan jalan tol, bandar udara, pelabuhan, dan penambahan kapasitas pembangkit listrik. Lebih lanjut, Pemerintah telah menetapkan PSN dengan kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan 223 proyek dan 3 program mencapai USD307 miliar. Dengan target pembangunan yang cukup tinggi tersebut, peran serta seluruh pihak sangat diperlukan. Diestimasikan 60% dari total pendanaan atau setara USD181 miliar berasal dari pendanaan pihak swasta dan 31% dari total pendanaan atau setara USD94 miliar berasal dari pendanaan BUMN.


Namun demikian, terdapat beberapa isu yang menjadi salah satu faktor  penghambat peningkatan keterlibatan sektor swasta, diantaranya  keterbatasan kapasitas sumber daya dalam penyelesaian proyek berskala  besar. Selama ini, BUMN dengan dukungan Kementerian BUMN berupaya untuk  meningkatkan kapasitas sumber daya dengan mencari sumber pendanaan dari  pasar keuangan melalui berbagai inovasi instrumen pembiayaan dan  membangun kemitraan dengan sektor swasta lainnya. Melalui kemitraan  strategis, BUMN diharapkan juga mendapatkan pembelajaran dari keahlian  sektor swasta untuk pembangunan infrastruktur dengan kualitas sesuai  dengan standar internasional.
Baca Juga: Hari Kedua Pertemuan IMF-World Bank, Ini Jadwal Agendanya
Usaha melibatkan pihak swasta dalam proyek infrastruktur telah mulai  membuahkan hasil. Pada 11 Oktober 2018, akan ditandatangani 21 proyek  infrastruktur pada 12 BUMN, dengan total nilai proyek sekitar USD13,6  miliar. Penandatanganan tersebut mencerminkan tingginya minat investor  domestik dan luar negeri untuk berinvestasi pada sektor infrastruktur di  Indonesia, serta mempertegas bahwa inovasi pembiayaan infrastruktur di  pasar keuangan Indonesia terus berkembang. Salah satunya adalah dengan  ditandatanganinya pernyataan efektif dari OJK terkait penerbitan Dana  Investasi Infrastruktur (DINFRA) oleh Mandiri Manajemen Investasi yang  akan terus didorong perkembangannya. Inovasi lainnya adalah fasilitas  hedging syariah yang mendampingi pemberian kredit syariah, yaitu hedging  syariah pertama yang dilakukan di pasar keuangan syariah domestik.

Sebagai rangkaian Forum Investasi, dilakukan pula peluncuran buku  &amp;ldquo;Strategi Nasional Pengembangan dan Pendalaman Pasar Keuangan  (SN-PPPK)&amp;rdquo;. Buku tersebut merupakan roadmap yang disusun oleh tiga  otoritas keuangan Indonesia yaitu Kementerian Keuangan, Bank Indonesia,  dan Otoritas Jasa Keuangan dalam Forum Koordinasi Pembiayaan Pembangunan  melalui Pasar Keuangan (FK-PPPK). Dalam roadmap yang disusun tersebut,  pengembangan pasar keuangan Indonesia akan dilandasi oleh 3 pilar yaitu,  (i) sumber pembiayaan ekonomi dan pengelolaan risiko, (ii) pengembangan  infrastruktur pasar, serta (iii) koordinasi kebijakan, harmonisasi  ketentuan, dan edukasi. Sementara tujuan akhir dari strategi  pengembangan dan pendalaman pasar keuangan yang tertuang dalam SN-PPPK  adalah untuk membentuk pasar keuangan yang dalam, likuid, efisien,  inklusif dan aman, yang dituangkan ke dalam berbagai program strategis  di berbagai segmen pasar yaitu pasar modal, pasar valuta asing, pasar  uang, dan pasar keuangan syariah, termasuk di dalamnya terkait dengan  dukungan terhadap pembiayaan infrastruktur.
Baca Juga: 4 Isu Utama yang Dibahas dalam Pertemuan IMF-World Bank
Dengan pelaksanaan diskusi panel, peluncuran buku, serta pertemuan  bilateral antara otoritas, investor dan BUMN, Forum Investasi Indonesia  2018 diharapkan mampu meningkatkan pemahaman bersama atas pembangunan  infrastruktur saat ini dan peluang investasi pada sektor infrastruktur  Indonesia ke depan.</content:encoded></item></channel></rss>
