<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sering Diguncang Gempa, Wapres JK Ajak Dunia Berbagi tentang Pembiayaan Bencana</title><description>&amp;ldquo;Momen ini menjadi momen yang tepat karena kita baru saja mengalami  bencana, dan mencari solusi yang tepat apabila terjadi bencana,&quot; kata JK</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/10/20/1962056/sering-diguncang-gempa-wapres-jk-ajak-dunia-berbagi-tentang-pembiayaan-bencana</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/10/10/20/1962056/sering-diguncang-gempa-wapres-jk-ajak-dunia-berbagi-tentang-pembiayaan-bencana"/><item><title>Sering Diguncang Gempa, Wapres JK Ajak Dunia Berbagi tentang Pembiayaan Bencana</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/10/20/1962056/sering-diguncang-gempa-wapres-jk-ajak-dunia-berbagi-tentang-pembiayaan-bencana</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/10/10/20/1962056/sering-diguncang-gempa-wapres-jk-ajak-dunia-berbagi-tentang-pembiayaan-bencana</guid><pubDate>Rabu 10 Oktober 2018 13:31 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/10/20/1962056/sering-diguncang-gempa-wapres-jk-ajak-dunia-berbagi-tentang-pembiayaan-bencana-jqigQTlaVz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wakil Presiden Jusuf Kalla (Foto: Heru/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/10/20/1962056/sering-diguncang-gempa-wapres-jk-ajak-dunia-berbagi-tentang-pembiayaan-bencana-jqigQTlaVz.jpg</image><title>Wakil Presiden Jusuf Kalla (Foto: Heru/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia belakangan ini sering dilanda bencana, seperti gempa yang terjadi baru-baru ini di Lombok, Palu dan Donggala.  Hal ini karena Indonesia memang menjadi salah satu negara yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa Indonesia termasuk 35 negara di dunia dengan risiko tinggi terjadinya korban jiwa akibat bencana.
Baca Juga: Sediakan Air Bersih, Tim Tanggap Bencana ESDM Bor 22 Sumur di Palu
Kerugian yang diderita atas bencana tidak sedikit. Sementara kemampuan pemerintah dalam menyediakan pendanaan untuk bencana dengan dampak yang ditimbulkannya, sangat terbatas. Karena itu, dalam Pertemuan Tahunan IMF-World Bank yang berlangsung di Bali kali ini, Indonesia mengajak para peserta yang hadir dari berbagai negara untuk saling berbagi dan menemukan solusi yang tepat, khususnya dalam hal pembiayaan dan asuransi risiko bencana.

&amp;ldquo;Momen ini menjadi momen yang tepat karena kita baru saja mengalami bencana, dan mencari solusi yang tepat apabila terjadi bencana. Bagaimana upaya kita mengatasi bencana dengan ketahanan fiskal yang terjaga, dan tidak hanya tergantung pada kerjasama internasional&amp;rdquo; ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menyampaikan keynote speech pada seminar yang bertemakan &amp;lsquo;Disaster Risk Finance and Insurance&amp;rsquo; di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua Bali, Rabu (10/10/2018).
Baca Juga: Menko Luhut Ajak Petinggi IMF 2018 Mengunjungi Palu dan Lombok
 
Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa penanganan bencana di Indonesia masih sangat tergantung pada APBN dan APBD, bahkan harus merelokasi anggaran. &amp;ldquo;Kita perlu mengidentifikasi semua risiko bencana alam dan memikirkan mekanisme fiskal serta instrumen keuangan terbaik untuk mendukung rehabilitasi yang paling efektif dan paling cepat. Sebuah strategi jangka Panjang untuk membangun ketahanan (resiliency) terhadap bencana alam, khususnya dari sisi fiskal,&amp;rdquo; kata Sri Mulyani.

Fokus terbesar ketika bencana terjadi adalah bagaimana membantu korban, melakukan recovery dan melakukan rekonstruksi. &amp;ldquo;Namun kita jarang sekali membahas soal transfer risiko, termasuk untuk pembiayaan. Pengelolaan bencana menjadi tidak tersinergikan dan terintegrasi,&amp;rdquo; kata Menteri Keuangan.
Karena itu, Sri Mulyani juga menyatakan Indonesia membuka diri untuk  menimba pengalaman dari negara-negara lain mengenai pembiayaan bencana.  &amp;ldquo;Kami ingin belajar dari Filipina yang sudah mengasuransikan  gedung-gedung pemerintahan daerah, belajar dari Maroko yang sudah  mengasuransikan UMKM dan rumah-rumah penduduk berpenghasilan rendah,&amp;rdquo;  ungkap Sri Mulyani.
Karena itu menurutnya, pada tahun anggaran 2019 mendatang, semua  gedung pemerintah akan diasuransikan, meski belum termasuk rumah-rumah  penduduk menengah dan bawah karena mekanisme asuransi untuk itu belum  tersedia.
Baca Juga: Gempa Donggala, Jusuf Kalla: Apa yang Dibutuhkan, Pemerintah Akan Siapkan
Sebagai gambaran besarnya kerugian dan pendanaan yang diakibatkan  oleh bencana, di antara tahun 2004-2013, Indonesia mengalami kerugian  sebesar Rp126,7 triliun.
Selama 12 tahun terakhir, pemerintah rata-rata menyediakan dana  cadangan untuk bencana sebesar Rp3,1 triliun. Sementara bencana alam  besar seperti gempa dan tsunami di Aceh tahun 2014 mencapai Rp51,4  triliun. Jurang pembiayaan tersebut menjadi salah satu sebab Indonesia  terpapar risiko fiskal akibat bencana alam.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/10/08/53545/270281_medium.jpg&quot; alt=&quot;Melihat Kembali Kondisi Palu dan Donggala yang Hancur Lebur Akibat Gempa &amp;amp; Tsunami&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Karena itu, pemerintah Indonesia sedang menyiapkan peta jalan  (roadmap) mengenai pembiayaan dan asuransi risiko bencana, baik untuk  jangka pendek maupun jangka panjang.
Selain ingin berbagi tentang pendanaan bencana seperti instrumen  asuransi yang bisa dengan segera dicairkan, pada sisi lain Indonesia  juga ingin melihat negara-negara lain dalam menangani pembiayaan  bencana. Berdasarkan pengalaman selama ini, pembiayaan bencana hanya  cenderung fokus pada tahap emergency, recovery dan rekonstruksi,  sehingga relatif tidak menyentuh pembiayaan dalam aspek transfer risiko.
Baca Juga: Bantuan Makanan Mulai Disalurkan ke Korban Gempa Palu &amp;amp; Donggala
Seminar yang merupakan usulan Indonesia ini juga dihadiri Presiden  Bank Dunia, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, serta dua menteri dari  Jepang dan Filipina. Meski merupakan usulan Indonesia, negara-negara  lain yang hadir pada Pertemuan Tahunan IMF-WBG di Bali kali ini juga  merasa perlu untuk ikut dan terlibat aktif dalam pembahasan karena semua  negara berpotensi menghadapi bencana.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia belakangan ini sering dilanda bencana, seperti gempa yang terjadi baru-baru ini di Lombok, Palu dan Donggala.  Hal ini karena Indonesia memang menjadi salah satu negara yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa Indonesia termasuk 35 negara di dunia dengan risiko tinggi terjadinya korban jiwa akibat bencana.
Baca Juga: Sediakan Air Bersih, Tim Tanggap Bencana ESDM Bor 22 Sumur di Palu
Kerugian yang diderita atas bencana tidak sedikit. Sementara kemampuan pemerintah dalam menyediakan pendanaan untuk bencana dengan dampak yang ditimbulkannya, sangat terbatas. Karena itu, dalam Pertemuan Tahunan IMF-World Bank yang berlangsung di Bali kali ini, Indonesia mengajak para peserta yang hadir dari berbagai negara untuk saling berbagi dan menemukan solusi yang tepat, khususnya dalam hal pembiayaan dan asuransi risiko bencana.

&amp;ldquo;Momen ini menjadi momen yang tepat karena kita baru saja mengalami bencana, dan mencari solusi yang tepat apabila terjadi bencana. Bagaimana upaya kita mengatasi bencana dengan ketahanan fiskal yang terjaga, dan tidak hanya tergantung pada kerjasama internasional&amp;rdquo; ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menyampaikan keynote speech pada seminar yang bertemakan &amp;lsquo;Disaster Risk Finance and Insurance&amp;rsquo; di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua Bali, Rabu (10/10/2018).
Baca Juga: Menko Luhut Ajak Petinggi IMF 2018 Mengunjungi Palu dan Lombok
 
Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa penanganan bencana di Indonesia masih sangat tergantung pada APBN dan APBD, bahkan harus merelokasi anggaran. &amp;ldquo;Kita perlu mengidentifikasi semua risiko bencana alam dan memikirkan mekanisme fiskal serta instrumen keuangan terbaik untuk mendukung rehabilitasi yang paling efektif dan paling cepat. Sebuah strategi jangka Panjang untuk membangun ketahanan (resiliency) terhadap bencana alam, khususnya dari sisi fiskal,&amp;rdquo; kata Sri Mulyani.

Fokus terbesar ketika bencana terjadi adalah bagaimana membantu korban, melakukan recovery dan melakukan rekonstruksi. &amp;ldquo;Namun kita jarang sekali membahas soal transfer risiko, termasuk untuk pembiayaan. Pengelolaan bencana menjadi tidak tersinergikan dan terintegrasi,&amp;rdquo; kata Menteri Keuangan.
Karena itu, Sri Mulyani juga menyatakan Indonesia membuka diri untuk  menimba pengalaman dari negara-negara lain mengenai pembiayaan bencana.  &amp;ldquo;Kami ingin belajar dari Filipina yang sudah mengasuransikan  gedung-gedung pemerintahan daerah, belajar dari Maroko yang sudah  mengasuransikan UMKM dan rumah-rumah penduduk berpenghasilan rendah,&amp;rdquo;  ungkap Sri Mulyani.
Karena itu menurutnya, pada tahun anggaran 2019 mendatang, semua  gedung pemerintah akan diasuransikan, meski belum termasuk rumah-rumah  penduduk menengah dan bawah karena mekanisme asuransi untuk itu belum  tersedia.
Baca Juga: Gempa Donggala, Jusuf Kalla: Apa yang Dibutuhkan, Pemerintah Akan Siapkan
Sebagai gambaran besarnya kerugian dan pendanaan yang diakibatkan  oleh bencana, di antara tahun 2004-2013, Indonesia mengalami kerugian  sebesar Rp126,7 triliun.
Selama 12 tahun terakhir, pemerintah rata-rata menyediakan dana  cadangan untuk bencana sebesar Rp3,1 triliun. Sementara bencana alam  besar seperti gempa dan tsunami di Aceh tahun 2014 mencapai Rp51,4  triliun. Jurang pembiayaan tersebut menjadi salah satu sebab Indonesia  terpapar risiko fiskal akibat bencana alam.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/10/08/53545/270281_medium.jpg&quot; alt=&quot;Melihat Kembali Kondisi Palu dan Donggala yang Hancur Lebur Akibat Gempa &amp;amp; Tsunami&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Karena itu, pemerintah Indonesia sedang menyiapkan peta jalan  (roadmap) mengenai pembiayaan dan asuransi risiko bencana, baik untuk  jangka pendek maupun jangka panjang.
Selain ingin berbagi tentang pendanaan bencana seperti instrumen  asuransi yang bisa dengan segera dicairkan, pada sisi lain Indonesia  juga ingin melihat negara-negara lain dalam menangani pembiayaan  bencana. Berdasarkan pengalaman selama ini, pembiayaan bencana hanya  cenderung fokus pada tahap emergency, recovery dan rekonstruksi,  sehingga relatif tidak menyentuh pembiayaan dalam aspek transfer risiko.
Baca Juga: Bantuan Makanan Mulai Disalurkan ke Korban Gempa Palu &amp;amp; Donggala
Seminar yang merupakan usulan Indonesia ini juga dihadiri Presiden  Bank Dunia, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, serta dua menteri dari  Jepang dan Filipina. Meski merupakan usulan Indonesia, negara-negara  lain yang hadir pada Pertemuan Tahunan IMF-WBG di Bali kali ini juga  merasa perlu untuk ikut dan terlibat aktif dalam pembahasan karena semua  negara berpotensi menghadapi bencana.</content:encoded></item></channel></rss>
