<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mencermati Rupiah yang Tembus Rp15.000 dan Efek Panas Ketatnya Likuiditas</title><description>Nilai tukar rupiah sempat menembus batas psikologis Rp15.000 per dolar AS.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/10/278/1962121/mencermati-rupiah-yang-tembus-rp15-000-dan-efek-panas-ketatnya-likuiditas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/10/10/278/1962121/mencermati-rupiah-yang-tembus-rp15-000-dan-efek-panas-ketatnya-likuiditas"/><item><title>Mencermati Rupiah yang Tembus Rp15.000 dan Efek Panas Ketatnya Likuiditas</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/10/278/1962121/mencermati-rupiah-yang-tembus-rp15-000-dan-efek-panas-ketatnya-likuiditas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/10/10/278/1962121/mencermati-rupiah-yang-tembus-rp15-000-dan-efek-panas-ketatnya-likuiditas</guid><pubDate>Rabu 10 Oktober 2018 15:12 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/10/278/1962121/mencermati-rupiah-yang-tembus-rp15-000-dan-efek-panas-ketatnya-likuiditas-YIvybLCPjk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/10/278/1962121/mencermati-rupiah-yang-tembus-rp15-000-dan-efek-panas-ketatnya-likuiditas-YIvybLCPjk.jpg</image><title>Ilustrasi: Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Nilai tukar rupiah sempat menembus batas psikologis Rp15.000 per dolar AS. Faktor eksternal, seperti efek Perang Dagang AS-China, naiknya harga minyak dan Geopolitik. Rupiah tertekan paling dalam kurun awal Januari 2018-Oktober 2018. Bank Indonesia sebelumnya sudah merespons dengan menaikkan suku bunga 7 DRR rate menjadi 5,75%. Sementara di pasaran pun likuiditas perbankan makin tidak merata dan cenderung ketat. Perang antar bank merebutkan likuiditas makin tajam, dan makin &amp;ldquo;brutal&amp;rdquo;.
Baca Juga: Rupiah Mulai Bangkit dari Tekanan Dolar AS, Pagi Ini Menguat ke Rp15.221
Kekeringan banyak melanda daerah-daerah karena kemarau yang menyengat. Kekeringan likuiditas mulai terasa di perbankan Indonesia. Likuiditas tidak merata antara satu bank dan bank yang lain. Perang suku bunga tinggi terjadi antarbank, yang diawali oleh bank-bank besar lalu merembet ke bank-bank kelas menengah kecil.
Efek domino bisa saja terjadi jika psikologi nasabah berubah menjadi ketakutan. Pengalaman krisis 1998, sekecil apa pun bank yang ditutup akan menyulut psikologis nasabah, menjadi rumor yang menyulut ke bank lain. Walau, saat ini, kondisi perbankan masih relatif kuat.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/09/04/52949/267080_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Melemah Jadi Rp14.940 per Dolar AS&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Saat ini, harus diakui, badai krisis mulai terasa. Memang, ekonomi Indonesia tidak buruk-buruk amat. Dengan pertumbuhan 5,27% (triwulan II), ekonomi kita dapat dikatakan masih cukup tangguh. Harus diakui pula ada pelemahan rupiah, tapi masih dinilai tidak seperti ketika krisis 1998.
Banyak analis yang menyebut Indonesia jauh dari krisis. Situasi 1998 berbeda dengan 2018. Saat itu pertumbuhan ekonomi minus 13%, 34%, cadangan devisa hanya USD23,61 dan sekarang USD118 miliar dan inflasi saat itu 78,2%.
Baca Juga: Rupiah Rp15.237/USD, Masih Belum Mampu Lawan Dolar
 
Situasi 1998 dengan 2008 memang beda. Tahun 1998 krisis dan 2008 tidak krisis. Namun, jika dibandingkan dengan indikator ekonomi 1997 atau 1996, seperti defisit transaksi berjalan dan defisit perdagangan agak-agak mirip. Juga,rating surat utang tahun 1997 dan 2018 sama-sama BBB-.
Pun dengan posisicurrent account defisit(CAD) Indonesia yang 3,04% dari PDB. Posisi ini masih tidak lebih baik daripada Thailand dan Malaysia. Jadi, meski jauh dari krisis, tentu tidak over confidence yang pada akhirnya akan melemahkan kuda-kuda kita jika tidak mempersiapkan diri. Faktor turbulensi global menjadi penentu.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8zMC80LzExMTcxMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Harus diakui, badai sudah tampak dengan ditandai krisis Venezuela,  Turki, Argentina, serta Pakistan. Cuaca dan angin kencang juga sudah  terasa dengan ditandai keringnya likuiditas dan arus dana asing yang  keluar mengikuti gerak suku bunga di Amerika Serikat (AS).
Lihat saja ketika terjadi gejolak seperti sekarang ini yang dipicu  oleh kenaikan suku bunga di AS, maka kondisi makin lebih runyam, karena  terjadi pelarian arus dana keluar hingga mencapai Rp54,1 triliun dari  pasar modal. Bandingkan dengan aliran modal masuk pada 2016 yang  mencapai Rp107 triliun dan pada 2017 yang Rp170,3 triliun. Kondisi ini  memberi sinyal bahwa telah terjadi kelangkaan likuiditas.
Baca Juga: Rupiah Terabas Level Rp15.248, Anjlok Terendah Sejak Krismon 1998
Bukan hanya badai, cuaca, dan angin. Saat ini juga sedang terjadi  petir yang ditandai dengan memanasnya suhu geopolitik dan perang dagang  (trade war) antara Tiongkok dan AS. Perang dagang antarkedua negara itu  memicu keguncangan pasar keuangan dunia sehingga berdampak pada kondisi  nilai tukar rupiah.
Kondisi ketatnya likuiditas ini diperkirakan masih akan terjadi  sampai dengan 2019 mendatang. Bukan karena ada Pemilu 2019, melainkan  lebih banyak karena faktor global&amp;mdash;karena ekspektasi kenaikan Fed Fund  Rate (FFR) dari The Federal Reserve (The Fed). Ekspektasi kenaikan suku  bungalah yang terus mendorong akan terjadinya perang suku bunga  bank-bank.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/09/04/52949/267078_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Melemah Jadi Rp14.940 per Dolar AS&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Bank-bank BUMN dengan gegap gembita menyalurkan kredit dan akhirnya  kelompok bank-bank BUMN ini mentok jika dilihat dari angkaloan to  deposit ratio(LDR) per Juli 2018 yang menembus 94,3%. Tanda-tanda  kelompok bank-bank lain mengalami ketatnya likuiditas juga terlihat.  Kelompok bank swasta nondevisa LDR-nya mencapai 94,4%. Bank swasta  devisa yang sebagian besar merupakan BUKU 3 dan 4 masih relatif baik  dengan LDR sebesar 90,3%. Sementara itu, kelompok BPDLDR-nya hanya  81,2%.
Mari menjaga suasana tetap kondusif, meski ada gegap gempita Pemilu  2019. Kepastian hukum hanya ada di &amp;ldquo;ketiak&amp;rdquo; para politisi. Tidak salah  memikirkan diri sendiri, terutama setelah kriminalisasi SKL-BDNI  terhadap Ketua BPPN, Safruddin A. Temenggung (vonis 13 tahun) dan  politisasi bailout Bank Century yang tak ada hentinya (terakhirAsia  Sentinel). Kasus keduanya menggambarkan bahwa ada penghargaan untuk  penyehatan bank.
Baca Juga: Dolar AS Masih Perkasa, Rupiah Terpuruk di Level Rp15.240
Kasus SKL-BDNI, kebijakan masa lalu dinilai dengan kacamata sekarang  dengan kepentingan politik kekuasaan. Lebih &amp;ldquo;ngeri&amp;rdquo; lagi,  keputusan-keputusan yang sudah ditetapkan oleh enam presiden, DPR-RI (UU  Propenas 1999), MPR, notaris, dan BPK bisa &amp;ldquo;dikudeta&amp;rdquo;. Contoh  kasatmata, audit BPK yang hasilnya beda-beda dengan objek yang sama  sering dipertontonkan ke publik, contohnya SKL-BDNI.
Untuk apa jadi pahlawan kesiangan jika akhirnya setelah 14 tahun  dibuka lagi. Hal yang sama juga bisa terjadi sekarang ini, siapa yang  bisa pastikan nanti 10 tahun kebijakan pemberian kredit bank-bank BUMN  ke infrastruktur yang membabi buta dan menimbulkan kemacetan, atau  kebijakan tax amnesty tidak dibuka lagi?
Siapa yang berani membuat keputusan jika kebijakan dikriminalisasi  dan dipolitisasi? Tidak bisa dibayangkan jika terjadi krisis dengan rasa  takut membuat kebijakan. Jagalah brankas masing-masing agar tidak  &amp;ldquo;digangsir&amp;rdquo; bank tetangga, demikian dilansir dari Harian Neraca, Rabu  (10/10/2018).</description><content:encoded>JAKARTA - Nilai tukar rupiah sempat menembus batas psikologis Rp15.000 per dolar AS. Faktor eksternal, seperti efek Perang Dagang AS-China, naiknya harga minyak dan Geopolitik. Rupiah tertekan paling dalam kurun awal Januari 2018-Oktober 2018. Bank Indonesia sebelumnya sudah merespons dengan menaikkan suku bunga 7 DRR rate menjadi 5,75%. Sementara di pasaran pun likuiditas perbankan makin tidak merata dan cenderung ketat. Perang antar bank merebutkan likuiditas makin tajam, dan makin &amp;ldquo;brutal&amp;rdquo;.
Baca Juga: Rupiah Mulai Bangkit dari Tekanan Dolar AS, Pagi Ini Menguat ke Rp15.221
Kekeringan banyak melanda daerah-daerah karena kemarau yang menyengat. Kekeringan likuiditas mulai terasa di perbankan Indonesia. Likuiditas tidak merata antara satu bank dan bank yang lain. Perang suku bunga tinggi terjadi antarbank, yang diawali oleh bank-bank besar lalu merembet ke bank-bank kelas menengah kecil.
Efek domino bisa saja terjadi jika psikologi nasabah berubah menjadi ketakutan. Pengalaman krisis 1998, sekecil apa pun bank yang ditutup akan menyulut psikologis nasabah, menjadi rumor yang menyulut ke bank lain. Walau, saat ini, kondisi perbankan masih relatif kuat.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/09/04/52949/267080_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Melemah Jadi Rp14.940 per Dolar AS&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Saat ini, harus diakui, badai krisis mulai terasa. Memang, ekonomi Indonesia tidak buruk-buruk amat. Dengan pertumbuhan 5,27% (triwulan II), ekonomi kita dapat dikatakan masih cukup tangguh. Harus diakui pula ada pelemahan rupiah, tapi masih dinilai tidak seperti ketika krisis 1998.
Banyak analis yang menyebut Indonesia jauh dari krisis. Situasi 1998 berbeda dengan 2018. Saat itu pertumbuhan ekonomi minus 13%, 34%, cadangan devisa hanya USD23,61 dan sekarang USD118 miliar dan inflasi saat itu 78,2%.
Baca Juga: Rupiah Rp15.237/USD, Masih Belum Mampu Lawan Dolar
 
Situasi 1998 dengan 2008 memang beda. Tahun 1998 krisis dan 2008 tidak krisis. Namun, jika dibandingkan dengan indikator ekonomi 1997 atau 1996, seperti defisit transaksi berjalan dan defisit perdagangan agak-agak mirip. Juga,rating surat utang tahun 1997 dan 2018 sama-sama BBB-.
Pun dengan posisicurrent account defisit(CAD) Indonesia yang 3,04% dari PDB. Posisi ini masih tidak lebih baik daripada Thailand dan Malaysia. Jadi, meski jauh dari krisis, tentu tidak over confidence yang pada akhirnya akan melemahkan kuda-kuda kita jika tidak mempersiapkan diri. Faktor turbulensi global menjadi penentu.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8zMC80LzExMTcxMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Harus diakui, badai sudah tampak dengan ditandai krisis Venezuela,  Turki, Argentina, serta Pakistan. Cuaca dan angin kencang juga sudah  terasa dengan ditandai keringnya likuiditas dan arus dana asing yang  keluar mengikuti gerak suku bunga di Amerika Serikat (AS).
Lihat saja ketika terjadi gejolak seperti sekarang ini yang dipicu  oleh kenaikan suku bunga di AS, maka kondisi makin lebih runyam, karena  terjadi pelarian arus dana keluar hingga mencapai Rp54,1 triliun dari  pasar modal. Bandingkan dengan aliran modal masuk pada 2016 yang  mencapai Rp107 triliun dan pada 2017 yang Rp170,3 triliun. Kondisi ini  memberi sinyal bahwa telah terjadi kelangkaan likuiditas.
Baca Juga: Rupiah Terabas Level Rp15.248, Anjlok Terendah Sejak Krismon 1998
Bukan hanya badai, cuaca, dan angin. Saat ini juga sedang terjadi  petir yang ditandai dengan memanasnya suhu geopolitik dan perang dagang  (trade war) antara Tiongkok dan AS. Perang dagang antarkedua negara itu  memicu keguncangan pasar keuangan dunia sehingga berdampak pada kondisi  nilai tukar rupiah.
Kondisi ketatnya likuiditas ini diperkirakan masih akan terjadi  sampai dengan 2019 mendatang. Bukan karena ada Pemilu 2019, melainkan  lebih banyak karena faktor global&amp;mdash;karena ekspektasi kenaikan Fed Fund  Rate (FFR) dari The Federal Reserve (The Fed). Ekspektasi kenaikan suku  bungalah yang terus mendorong akan terjadinya perang suku bunga  bank-bank.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/09/04/52949/267078_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Melemah Jadi Rp14.940 per Dolar AS&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Bank-bank BUMN dengan gegap gembita menyalurkan kredit dan akhirnya  kelompok bank-bank BUMN ini mentok jika dilihat dari angkaloan to  deposit ratio(LDR) per Juli 2018 yang menembus 94,3%. Tanda-tanda  kelompok bank-bank lain mengalami ketatnya likuiditas juga terlihat.  Kelompok bank swasta nondevisa LDR-nya mencapai 94,4%. Bank swasta  devisa yang sebagian besar merupakan BUKU 3 dan 4 masih relatif baik  dengan LDR sebesar 90,3%. Sementara itu, kelompok BPDLDR-nya hanya  81,2%.
Mari menjaga suasana tetap kondusif, meski ada gegap gempita Pemilu  2019. Kepastian hukum hanya ada di &amp;ldquo;ketiak&amp;rdquo; para politisi. Tidak salah  memikirkan diri sendiri, terutama setelah kriminalisasi SKL-BDNI  terhadap Ketua BPPN, Safruddin A. Temenggung (vonis 13 tahun) dan  politisasi bailout Bank Century yang tak ada hentinya (terakhirAsia  Sentinel). Kasus keduanya menggambarkan bahwa ada penghargaan untuk  penyehatan bank.
Baca Juga: Dolar AS Masih Perkasa, Rupiah Terpuruk di Level Rp15.240
Kasus SKL-BDNI, kebijakan masa lalu dinilai dengan kacamata sekarang  dengan kepentingan politik kekuasaan. Lebih &amp;ldquo;ngeri&amp;rdquo; lagi,  keputusan-keputusan yang sudah ditetapkan oleh enam presiden, DPR-RI (UU  Propenas 1999), MPR, notaris, dan BPK bisa &amp;ldquo;dikudeta&amp;rdquo;. Contoh  kasatmata, audit BPK yang hasilnya beda-beda dengan objek yang sama  sering dipertontonkan ke publik, contohnya SKL-BDNI.
Untuk apa jadi pahlawan kesiangan jika akhirnya setelah 14 tahun  dibuka lagi. Hal yang sama juga bisa terjadi sekarang ini, siapa yang  bisa pastikan nanti 10 tahun kebijakan pemberian kredit bank-bank BUMN  ke infrastruktur yang membabi buta dan menimbulkan kemacetan, atau  kebijakan tax amnesty tidak dibuka lagi?
Siapa yang berani membuat keputusan jika kebijakan dikriminalisasi  dan dipolitisasi? Tidak bisa dibayangkan jika terjadi krisis dengan rasa  takut membuat kebijakan. Jagalah brankas masing-masing agar tidak  &amp;ldquo;digangsir&amp;rdquo; bank tetangga, demikian dilansir dari Harian Neraca, Rabu  (10/10/2018).</content:encoded></item></channel></rss>
