<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cikarang Waterways, Jalur Khusus Angkutan Kontainer di Sungai dan Laut</title><description>Proyek infrastruktur berskala besar terus digalakkan untuk mengejar efisiensi logistik di Tanah Air.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/15/320/1964116/cikarang-waterways-jalur-khusus-angkutan-kontainer-di-sungai-dan-laut</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/10/15/320/1964116/cikarang-waterways-jalur-khusus-angkutan-kontainer-di-sungai-dan-laut"/><item><title>Cikarang Waterways, Jalur Khusus Angkutan Kontainer di Sungai dan Laut</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/15/320/1964116/cikarang-waterways-jalur-khusus-angkutan-kontainer-di-sungai-dan-laut</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/10/15/320/1964116/cikarang-waterways-jalur-khusus-angkutan-kontainer-di-sungai-dan-laut</guid><pubDate>Senin 15 Oktober 2018 11:21 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/15/320/1964116/cikarang-waterways-jalur-khusus-angkutan-kontainer-di-sungai-dan-laut-3x2LGJ0Mrq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Koran Sindo</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/15/320/1964116/cikarang-waterways-jalur-khusus-angkutan-kontainer-di-sungai-dan-laut-3x2LGJ0Mrq.jpg</image><title>Ilustrasi: Koran Sindo</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Proyek infrastruktur berskala besar terus digalakkan untuk mengejar efisiensi logistik di Tanah Air. Setelah sejumlah jalan tol dioperasikan, kini jalur perairan yang akan dioptimalkan untuk angkutan logistik.
Jika tidak ada aral melintang, PT Pelindo II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) akan menggarap jalur khusus untuk angkutan kontainer dengan memanfaatkan kanal sungai dan laut di wilayah Bekasi menuju Tanjung Priok, Jakarta Utara.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/01/06/46158/237574_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pelayanan Lamban karena SDM Kurang, Puluhan Truk Kontainer Antre di Tanjung Priok&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Proyek yang dinamakan Cikarang-Bekasi Laut Waterways (Inland Water ways) itu rencananya menelan investasi sekitar Rp3,4 triliun dan ditargetkan rampung pada 2021. Proyek tersebut digadang-gadang bisa mengurangi kepadatan arus lalu lintas di tol Jakarta-Cikampek dan sebaliknya yang kerap dikeluhkan pengguna karena sering macet.
Pembangunan Inland Waterways juga di harapkan bisa mengoptimalkan konektivitas area off-the-road Pelabuhan Tanjung Priok dengan area hinterland di timur Jakarta.
Baca Juga: Pelindo I Ditunjuk sebagai Operator Pelabuhan Internasional Kuala Tanjung
 
&amp;ldquo;Dengan Cikarang-Bekasi Laut Waterways, diharapkan angkutan kontainer dari Tanjung Priok akan di angkut melalui jalur sungai hingga ke area industri di Cikarang,&amp;rdquo; ujar Direktur Utama Pelindo II Elvyn G Masassya belum lama ini.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebelumnya juga mengatakan, dengan kanal ini diharapkan nantinya biaya logistik mampu dihemat hingga 20-25%. &amp;ldquo;Pembangunan proyek ini bertujuan optimalisasi jalur kanal sungai sebagai alternatif transportasi logistik yang menghubungkan area Tanjung Priok,&amp;rdquo; sebutnya.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/01/06/46158/237575_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pelayanan Lamban karena SDM Kurang, Puluhan Truk Kontainer Antre di Tanjung Priok&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Berdasarkan keterangan dari situs Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPID), pada tahap pertama sistem transportasi Inland Waterways akan memanfaatkan kanal eksisting yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), yaitu Cikarang-Bekasi Laut melewati Marunda, Jakarta Utara.
Adapun untuk tahap berikutnya, PT Pelindo II berencana menambahkan rute kanal dari Tanjung Priok menuju Cikampek dengan kanal akan menghubungkan arus logistik dari Tanjung Priok menuju kawasan industri Cibitung-Cikarang di Bekasi serta di Cikampek, Karawang.
Baca Juga: Layanan Pelabuhan Bakal Disetarakan dengan Fasilitas Bandara
Dengan hadirnya infrastruktur tersebut, alternatif pengangkutan logistik di daerah industri akan semakin beragam. Seperti diketahui, pada saat yang hampir bersamaan, pemerintah juga sedang mengembangkan Pelabuhan Patimbandi Subang, Jawa Barat, yang ditujukan untuk mengurangi kepadatan di Pelabuhan Tanjung Priok.Pelabuhan Patimban juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi  angkutan logistik karena lokasinya yang berdekatan dengan daerah  industri di Jawa Barat bagian utara. Hal itu diamini Direktur Teknik dan  Manajemen Risiko Pelindo II Dani Rusli Utama.
Menurutnya pembangunan Terminal dan Inland Waterways Cikarang-Bekasi  ini sebagai alternatif moda transportasi yang diharapkan bisa mengurangi  kepadatan arus logistik jalur darat dari kawasan industri Cikarang dan  Karawang menuju Pelabuhan Tanjung Priok atau sebaliknya.
Baca Juga: Pelabuhan Pantoloan Dioptimalkan Angkut Logistik untuk Korban Bencana Palu
 
&amp;ldquo;Untuk jangka waktu, pembangunan sekitar tiga tahun dan diperkirakan  rampung pada 2021 mendatang,&amp;rdquo; kata Dani. Saat ini, menurut Dani,  perseroan masih dalam tahap perampungan proses perizinan dan perencanaan  teknis. Selain itu terdapat pula pengajuan keikutsertaan pemerintah  dalam pembangunan infrastruktur tersebut.
Dia mengungkapkan, keuntungan pembangunan proyek Inland Waterways  adalah memberikan moda transportasi alternatif yang lebih efektif,  efisien, dan ramah lingkungan, yang menghubungkan Pelabuhan Tanjung  Priok dengan Kawasan Industri di timur Jakarta.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/01/06/46158/237576_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pelayanan Lamban karena SDM Kurang, Puluhan Truk Kontainer Antre di Tanjung Priok&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Raden Agus  Hartoyo Purnomo mengatakan, direktorat yang dipimpinnya saat ini tengah  menunggu dukungan regulasi atas rencana pembangunan proyek  Cikarang-Bekasi Laut.
Menurut dia, perizinan untuk proyek yang diperkirakan menelan biaya  sekitar Rp3,4 triliun tersebut tidak hanya melalui Kementerian  Perhubungan, tetapi juga stake holder terkait lainnya.
Baca Juga: Lepas dari Jasa Marga, Refly Harun Berlabuh ke Pelindo I
 
&amp;ldquo;Kalau kita pasti mendukung dari sisi perizinan. Cuma kan tahapan  perizinannya itu banyak yang harus dilalui dan melibatkan kementerian  teknis lainnya seperti Kementeian Lingkungan Hidup maupun Kementerian  Pekerjaan Umum. Kalau sudah perizinannya melewati berbagai tahapan dan  sampai di kami tentu kami akan uji dan mendukung secepatnya,&amp;rdquo; ujar dia.  Meski begitu dia menyebutkan bahwa proses studi kelayakan atau  feasibility study masih dipersiapkan PT Pelindo II.
Selain melibatkan kementerian teknis dalam hal perizinan, proyek ini  juga membutuhkan koordinasi pemerintah daerah. Sebab Cikarang-Bekasi  Laut memanfaatkan kanal kali yang menghubungkan Kota Bekasi dan Jakarta.
Pemerintah Jawa Barat melalui Gubernur Ridwan Kamil juga memberikan  perhatian pada proyek raksasa tersebut. Ridwan bahkan turut  &amp;ldquo;mempromosikan&amp;rdquo; proyek Inland Waterways itu melalui akun Instagram  pribadinya.Di akun tersebut dia menjelaskan bahwa proyek kanal lebar dari laut   yang masuk ke daratan itu diharapkan bisa menjadi solusi kemacetan di   jalur Cikampek- Jakarta. Selain itu pada sebuah diskusi di Gedung Sate   akhir September lalu, Ridwan Kamil juga menyatakan bahwa proyek jalur   air (waterway way ) Cikarang-Bekasi Laut (CBL) merupakan satu dari   sembilan proyek infrastruktur besar di Jawa Barat.
Kesembilan infrastruktur tersebut adalah reaktivasi empat jalur   kereta api, perpanjangan landasan pacu (runway) Bandara Internasional   Jawa Barat (BIJB), pembatas jurang (road barrier), dan bandara baru di   Sukabumi.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/01/06/46158/237577_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pelayanan Lamban karena SDM Kurang, Puluhan Truk Kontainer Antre di Tanjung Priok&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Selain itu jalur khusus angkutan tambang di Parung Panjang, jalur   kereta api ganda Bogor-Sukabumi, Terminal Parung, jalur air Cikarang-   Bekasi Laut (CBL), dan Pelabuhan Patimban.
Perlu Koordinasi Kuat
Pengamat kemaritiman dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)   Surabaya Raja Oloan Saut Gurning mengatakan, pembangunan proyek   Cikarang-Bekasi Laut membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Menurut dia, proyek tersebut juga membutuhkan koordinasi banyak   pihak, bukan hanya satu kementerian, tetapi banyak kementerian.   &amp;ldquo;Sehingga pemerintah harus menjadi pionirnya. Kalau hanya mengandalkan   BUMN (Badan Usaha Milik Negara) semata, itu tidak akan bisa,&amp;rdquo; ujar dia   kepada KORAN SINDO.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/03/20/48328/246214_medium.jpg&quot; alt=&quot;Defisit Neraca Perdagangan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurutnya, peran pemerintah pusat sangat diperlukan mengingat   pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat sudah merespons perlunya membangun   kanal logistik yang menghubungkan wilayah Jakarta dan Jawa Barat itu.
&amp;ldquo;Pemerintah pusat saya kira bisa memanfaatkan berbagai macam skema   untuk mengucurkan pendanaan. Misalnya siapa yang membebaskan lahannya,   tinggal berbagi tugas. Selanjutnya berbagi saham jika saja sudah   selesai,&amp;rdquo; ungkapnya.
Pada proyek seperti Cikarang-Bekasi Laut sebagaimana halnya proyek     pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat, Kertajati, pemerintah     berperan membangun sisi udara dan terminal. Adapun lahan disiapkan oleh     pemerintah daerah setempat.&amp;ldquo;Sedangkan untuk proyek Cikarang-Bekasi Laut saya kira ini bisa    melibatkan dua pemerintah daerah antara Pemerintah Jawa Barat dan    Pemerintah DKI Jakarta,&amp;rdquo; ucapnya. Dia menambahkan, terwujudnya proyek    Cikarang-Bekasi Laut bisa memberikan efisiensi yang besar distribusi    logistik dari Jakarta ke wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.
&amp;ldquo;Kalau proyek ini terwujud, akan banyak efisiensi logistik yang bisa    dicapai. Terutama angkutan truk tidak perlu lagi menuju ke arah Jawa    Barat dan sekitarnya, cukup point to point dari gudang ke dermaga CBL,&amp;rdquo;    sebutnya.
Pemerintah sendiri melalui Kementerian Perhubungan sangat mendukung    keberlangsungan proyek tersebut. Sebab terwujudnya kanal baru arus    barang dari darat ke sungai atau laut bisa diwujudkan mengingat jalur    darat untuk logistik saat ini sudah sangat padat.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/03/20/48328/246215_medium.jpg&quot; alt=&quot;Defisit Neraca Perdagangan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&amp;ldquo;Kita bahkan sudah terus melakukan sosialisasi kepada pengusaha bahwa    banyak alternatif transportasi yang bisa dimanfaatkan untuk mengirim    logistik selain lewat jalur darat. Ini akan kita dorong terus,&amp;rdquo;    ungkapnya.
Sementara itu Elvyn G Masassya menjelaskan, selain proyek kanal laut    Inland Waterways, perseroan juga tengah menggarap lima proyek utama   yang  bertujuan meningkatkan daya saing dan menekan biaya logistik   nasional  hingga 3,6%.
&amp;ldquo;Jadi kalau mau berdaya saing harus diperbaiki bisnis distribusinya    sampai ke hilir, ini strategi kita sebagai pengelola pelabuhan, dengan    harapan pada 2020 bisa menjadi world class port,&amp;rdquo; kata Elvyn kepada    KORAN SINDO di Jakarta belum lama ini.
Kelima proyek strategis tersebut adalah New Priok Development    (Kalibaru) dengan total investasi sebesar Rp14 triliun, Kijing Deep Sea    Port di Kota Pontianak dengan investasi Rp5,02 triliun, Pelabuhan   Sorong  dengan investasi Rp3,2 triliun, dan terakhir Pelabuhan Tanjung   Carat di  Sumatera Selatan. &amp;ldquo;Dari seluruh proyek strategis tersebut,   kami akan  menggunakan kas internal perusahaan, kami belum berencana   melakukan  obligasi lagi,&amp;rdquo; imbuhnya.
(Ichsan Amin/ Heru Febrianto/ Sindonews)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Proyek infrastruktur berskala besar terus digalakkan untuk mengejar efisiensi logistik di Tanah Air. Setelah sejumlah jalan tol dioperasikan, kini jalur perairan yang akan dioptimalkan untuk angkutan logistik.
Jika tidak ada aral melintang, PT Pelindo II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) akan menggarap jalur khusus untuk angkutan kontainer dengan memanfaatkan kanal sungai dan laut di wilayah Bekasi menuju Tanjung Priok, Jakarta Utara.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/01/06/46158/237574_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pelayanan Lamban karena SDM Kurang, Puluhan Truk Kontainer Antre di Tanjung Priok&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Proyek yang dinamakan Cikarang-Bekasi Laut Waterways (Inland Water ways) itu rencananya menelan investasi sekitar Rp3,4 triliun dan ditargetkan rampung pada 2021. Proyek tersebut digadang-gadang bisa mengurangi kepadatan arus lalu lintas di tol Jakarta-Cikampek dan sebaliknya yang kerap dikeluhkan pengguna karena sering macet.
Pembangunan Inland Waterways juga di harapkan bisa mengoptimalkan konektivitas area off-the-road Pelabuhan Tanjung Priok dengan area hinterland di timur Jakarta.
Baca Juga: Pelindo I Ditunjuk sebagai Operator Pelabuhan Internasional Kuala Tanjung
 
&amp;ldquo;Dengan Cikarang-Bekasi Laut Waterways, diharapkan angkutan kontainer dari Tanjung Priok akan di angkut melalui jalur sungai hingga ke area industri di Cikarang,&amp;rdquo; ujar Direktur Utama Pelindo II Elvyn G Masassya belum lama ini.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebelumnya juga mengatakan, dengan kanal ini diharapkan nantinya biaya logistik mampu dihemat hingga 20-25%. &amp;ldquo;Pembangunan proyek ini bertujuan optimalisasi jalur kanal sungai sebagai alternatif transportasi logistik yang menghubungkan area Tanjung Priok,&amp;rdquo; sebutnya.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/01/06/46158/237575_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pelayanan Lamban karena SDM Kurang, Puluhan Truk Kontainer Antre di Tanjung Priok&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Berdasarkan keterangan dari situs Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPID), pada tahap pertama sistem transportasi Inland Waterways akan memanfaatkan kanal eksisting yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), yaitu Cikarang-Bekasi Laut melewati Marunda, Jakarta Utara.
Adapun untuk tahap berikutnya, PT Pelindo II berencana menambahkan rute kanal dari Tanjung Priok menuju Cikampek dengan kanal akan menghubungkan arus logistik dari Tanjung Priok menuju kawasan industri Cibitung-Cikarang di Bekasi serta di Cikampek, Karawang.
Baca Juga: Layanan Pelabuhan Bakal Disetarakan dengan Fasilitas Bandara
Dengan hadirnya infrastruktur tersebut, alternatif pengangkutan logistik di daerah industri akan semakin beragam. Seperti diketahui, pada saat yang hampir bersamaan, pemerintah juga sedang mengembangkan Pelabuhan Patimbandi Subang, Jawa Barat, yang ditujukan untuk mengurangi kepadatan di Pelabuhan Tanjung Priok.Pelabuhan Patimban juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi  angkutan logistik karena lokasinya yang berdekatan dengan daerah  industri di Jawa Barat bagian utara. Hal itu diamini Direktur Teknik dan  Manajemen Risiko Pelindo II Dani Rusli Utama.
Menurutnya pembangunan Terminal dan Inland Waterways Cikarang-Bekasi  ini sebagai alternatif moda transportasi yang diharapkan bisa mengurangi  kepadatan arus logistik jalur darat dari kawasan industri Cikarang dan  Karawang menuju Pelabuhan Tanjung Priok atau sebaliknya.
Baca Juga: Pelabuhan Pantoloan Dioptimalkan Angkut Logistik untuk Korban Bencana Palu
 
&amp;ldquo;Untuk jangka waktu, pembangunan sekitar tiga tahun dan diperkirakan  rampung pada 2021 mendatang,&amp;rdquo; kata Dani. Saat ini, menurut Dani,  perseroan masih dalam tahap perampungan proses perizinan dan perencanaan  teknis. Selain itu terdapat pula pengajuan keikutsertaan pemerintah  dalam pembangunan infrastruktur tersebut.
Dia mengungkapkan, keuntungan pembangunan proyek Inland Waterways  adalah memberikan moda transportasi alternatif yang lebih efektif,  efisien, dan ramah lingkungan, yang menghubungkan Pelabuhan Tanjung  Priok dengan Kawasan Industri di timur Jakarta.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/01/06/46158/237576_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pelayanan Lamban karena SDM Kurang, Puluhan Truk Kontainer Antre di Tanjung Priok&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Raden Agus  Hartoyo Purnomo mengatakan, direktorat yang dipimpinnya saat ini tengah  menunggu dukungan regulasi atas rencana pembangunan proyek  Cikarang-Bekasi Laut.
Menurut dia, perizinan untuk proyek yang diperkirakan menelan biaya  sekitar Rp3,4 triliun tersebut tidak hanya melalui Kementerian  Perhubungan, tetapi juga stake holder terkait lainnya.
Baca Juga: Lepas dari Jasa Marga, Refly Harun Berlabuh ke Pelindo I
 
&amp;ldquo;Kalau kita pasti mendukung dari sisi perizinan. Cuma kan tahapan  perizinannya itu banyak yang harus dilalui dan melibatkan kementerian  teknis lainnya seperti Kementeian Lingkungan Hidup maupun Kementerian  Pekerjaan Umum. Kalau sudah perizinannya melewati berbagai tahapan dan  sampai di kami tentu kami akan uji dan mendukung secepatnya,&amp;rdquo; ujar dia.  Meski begitu dia menyebutkan bahwa proses studi kelayakan atau  feasibility study masih dipersiapkan PT Pelindo II.
Selain melibatkan kementerian teknis dalam hal perizinan, proyek ini  juga membutuhkan koordinasi pemerintah daerah. Sebab Cikarang-Bekasi  Laut memanfaatkan kanal kali yang menghubungkan Kota Bekasi dan Jakarta.
Pemerintah Jawa Barat melalui Gubernur Ridwan Kamil juga memberikan  perhatian pada proyek raksasa tersebut. Ridwan bahkan turut  &amp;ldquo;mempromosikan&amp;rdquo; proyek Inland Waterways itu melalui akun Instagram  pribadinya.Di akun tersebut dia menjelaskan bahwa proyek kanal lebar dari laut   yang masuk ke daratan itu diharapkan bisa menjadi solusi kemacetan di   jalur Cikampek- Jakarta. Selain itu pada sebuah diskusi di Gedung Sate   akhir September lalu, Ridwan Kamil juga menyatakan bahwa proyek jalur   air (waterway way ) Cikarang-Bekasi Laut (CBL) merupakan satu dari   sembilan proyek infrastruktur besar di Jawa Barat.
Kesembilan infrastruktur tersebut adalah reaktivasi empat jalur   kereta api, perpanjangan landasan pacu (runway) Bandara Internasional   Jawa Barat (BIJB), pembatas jurang (road barrier), dan bandara baru di   Sukabumi.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/01/06/46158/237577_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pelayanan Lamban karena SDM Kurang, Puluhan Truk Kontainer Antre di Tanjung Priok&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Selain itu jalur khusus angkutan tambang di Parung Panjang, jalur   kereta api ganda Bogor-Sukabumi, Terminal Parung, jalur air Cikarang-   Bekasi Laut (CBL), dan Pelabuhan Patimban.
Perlu Koordinasi Kuat
Pengamat kemaritiman dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)   Surabaya Raja Oloan Saut Gurning mengatakan, pembangunan proyek   Cikarang-Bekasi Laut membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Menurut dia, proyek tersebut juga membutuhkan koordinasi banyak   pihak, bukan hanya satu kementerian, tetapi banyak kementerian.   &amp;ldquo;Sehingga pemerintah harus menjadi pionirnya. Kalau hanya mengandalkan   BUMN (Badan Usaha Milik Negara) semata, itu tidak akan bisa,&amp;rdquo; ujar dia   kepada KORAN SINDO.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/03/20/48328/246214_medium.jpg&quot; alt=&quot;Defisit Neraca Perdagangan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurutnya, peran pemerintah pusat sangat diperlukan mengingat   pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat sudah merespons perlunya membangun   kanal logistik yang menghubungkan wilayah Jakarta dan Jawa Barat itu.
&amp;ldquo;Pemerintah pusat saya kira bisa memanfaatkan berbagai macam skema   untuk mengucurkan pendanaan. Misalnya siapa yang membebaskan lahannya,   tinggal berbagi tugas. Selanjutnya berbagi saham jika saja sudah   selesai,&amp;rdquo; ungkapnya.
Pada proyek seperti Cikarang-Bekasi Laut sebagaimana halnya proyek     pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat, Kertajati, pemerintah     berperan membangun sisi udara dan terminal. Adapun lahan disiapkan oleh     pemerintah daerah setempat.&amp;ldquo;Sedangkan untuk proyek Cikarang-Bekasi Laut saya kira ini bisa    melibatkan dua pemerintah daerah antara Pemerintah Jawa Barat dan    Pemerintah DKI Jakarta,&amp;rdquo; ucapnya. Dia menambahkan, terwujudnya proyek    Cikarang-Bekasi Laut bisa memberikan efisiensi yang besar distribusi    logistik dari Jakarta ke wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.
&amp;ldquo;Kalau proyek ini terwujud, akan banyak efisiensi logistik yang bisa    dicapai. Terutama angkutan truk tidak perlu lagi menuju ke arah Jawa    Barat dan sekitarnya, cukup point to point dari gudang ke dermaga CBL,&amp;rdquo;    sebutnya.
Pemerintah sendiri melalui Kementerian Perhubungan sangat mendukung    keberlangsungan proyek tersebut. Sebab terwujudnya kanal baru arus    barang dari darat ke sungai atau laut bisa diwujudkan mengingat jalur    darat untuk logistik saat ini sudah sangat padat.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/03/20/48328/246215_medium.jpg&quot; alt=&quot;Defisit Neraca Perdagangan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&amp;ldquo;Kita bahkan sudah terus melakukan sosialisasi kepada pengusaha bahwa    banyak alternatif transportasi yang bisa dimanfaatkan untuk mengirim    logistik selain lewat jalur darat. Ini akan kita dorong terus,&amp;rdquo;    ungkapnya.
Sementara itu Elvyn G Masassya menjelaskan, selain proyek kanal laut    Inland Waterways, perseroan juga tengah menggarap lima proyek utama   yang  bertujuan meningkatkan daya saing dan menekan biaya logistik   nasional  hingga 3,6%.
&amp;ldquo;Jadi kalau mau berdaya saing harus diperbaiki bisnis distribusinya    sampai ke hilir, ini strategi kita sebagai pengelola pelabuhan, dengan    harapan pada 2020 bisa menjadi world class port,&amp;rdquo; kata Elvyn kepada    KORAN SINDO di Jakarta belum lama ini.
Kelima proyek strategis tersebut adalah New Priok Development    (Kalibaru) dengan total investasi sebesar Rp14 triliun, Kijing Deep Sea    Port di Kota Pontianak dengan investasi Rp5,02 triliun, Pelabuhan   Sorong  dengan investasi Rp3,2 triliun, dan terakhir Pelabuhan Tanjung   Carat di  Sumatera Selatan. &amp;ldquo;Dari seluruh proyek strategis tersebut,   kami akan  menggunakan kas internal perusahaan, kami belum berencana   melakukan  obligasi lagi,&amp;rdquo; imbuhnya.
(Ichsan Amin/ Heru Febrianto/ Sindonews)</content:encoded></item></channel></rss>
