<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Imbas Perang Dagang, Pemasok Apple Pindahkan Operasi dari China ke Vietnam</title><description>China adalah pembuat produk Apple terbesar namun terancam karena adanya perang dagang antara AS dan China.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/18/320/1965537/imbas-perang-dagang-pemasok-apple-pindahkan-operasi-dari-china-ke-vietnam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/10/18/320/1965537/imbas-perang-dagang-pemasok-apple-pindahkan-operasi-dari-china-ke-vietnam"/><item><title>Imbas Perang Dagang, Pemasok Apple Pindahkan Operasi dari China ke Vietnam</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/18/320/1965537/imbas-perang-dagang-pemasok-apple-pindahkan-operasi-dari-china-ke-vietnam</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/10/18/320/1965537/imbas-perang-dagang-pemasok-apple-pindahkan-operasi-dari-china-ke-vietnam</guid><pubDate>Kamis 18 Oktober 2018 08:07 WIB</pubDate><dc:creator>ABC News</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/18/320/1965537/imbas-perang-dagang-pemasok-apple-pindahkan-operasi-dari-china-ke-vietnam-h1yIn0aDm5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Apple (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/18/320/1965537/imbas-perang-dagang-pemasok-apple-pindahkan-operasi-dari-china-ke-vietnam-h1yIn0aDm5.jpg</image><title>Apple (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - China adalah pembuat produk Apple terbesar namun terancam karena adanya perang dagang antara AS dan China. Perusahaan China yang merakit AirPods Apple akan memindahkan lokasi produksinya dari China ke Vietnam karena perang dagang antara China-AS meningkat menyusul keputusan AS menerapkan tarif lebih tinggi terhadap sekitar USD250 miliar barang-barang dari China.
Dampak perang dagang
Menurut laporan harian ekonomi Jepang Nikkei Asia Review, awal Oktober ini, GoerTek, sebuah perusahaan yang berbasis di provinsi Shandong (China) meminta kepada seluruh pemasoknya dalam membuat AirPod untuk mengapalkan seluruh komponen langsung ke Vietnam.
Baca Juga: Menko Darmin: Perang Dagang Tak Bisa Direm
 
ABC sudah mendapatkan laporan semi tahunan Goertek untuk tahun 2018 dimana presiden komisaris perusahaan tersebut Jiang Bin mengatakan keuntungan bersih perusahaannya turun 38,11 persen tahun ini turun sekitar $AUD 140 juta dibandingkan keuntungan tahun sebelumnya.
&quot;Karena faktor makro ekonomi - seperti fluktuasi pasar dunia dan juga perang dagang AS-China, operasi dan manajemen perusahaan menjadi lebih sulit.&quot; kata Jiang dalam laporan tersebut.
Ini terjadi meski Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa tarif untuk produk teknologi tinggi seperti AirPod tidak termasuk dalam kenaikan tarif yang diumumkan akhir September.

Hari Selasa, GoerTek juga mengumumkan rencana untuk menanamkan modal $AUD 200 juta untuk memproduksi drone dan headphone pintar di Nanning di China selatan, yang lebih dekat dengan lokasi perusahaan di Vietnam sehingga pengiriman barang antar kedua lokasi lebih mudah dilakukan.
GoerTek bukanlah satu-satunya perusahaan yang memindahkan operasinya karena perang dagang.
Awal bulan ini, pejabat Taiwan mengatakan bahwa hampir 30 perusahaan telah meninggalkan China dan beralih ke Taiwan, dengan alasan terkena dampak perang dagang.
Baca Juga: Mengupas Kesepakatan Perdagangan Baru AS-Kanada-Meksiko, Siapa Diuntungkan?
 
Pendiri lembaga pemikir Taiwan GoldenRock, Jason Wu mengatakan banyak perusahaan Taiwan ini meninggalkan China, bukan saja karena perang dagang, juga karena situasi politik China yang semakin tegang di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping.
&quot;Banyak pengusaha Taiwan terus memantau situasi.&quot; kata Wu kepada ABC.
&quot;Karena selain perang dagang, semakin ketatnya situasi politik dan ekonomi dan juga kesulitan keuangan yang ada di China menjadi masalah mengapa perusahaan Taiwan memikirkan untuk pindah ke tempat lain.&quot;
Jason Wu mengatakan Taiwan sudah memberi sumbangan besar bagi  industri manufaktur China selama satu generasi terakhir khususnya di  bidang elektronik dan manufaktur, karena China memberikan kondisi yang  bagus bagi kehadiran bisnis asal Taiwan.
Dari Made in China menjadi Made in South-East Asia
Perusahaan Jepang di China juga dilaporkan mengalami dampak atas meningkatnya perang dagang antara AS dan China.
Baca Juga: Bertemu Wapres Amerika, JK Bicara Peluang RI dalam Perang Dagang
 
Di kota Suzhou, di China Timur di mana terdapat banyak perusahaan  asing, sejumlah perusahaan Jepang telah menutup operasi secara permanen  sejak tahun lalu, menurut media resmi pemerintah China 21st Century  Business Herald.
Perusahaan manufaktur raksasa Jepang Omron, yang memproduksi layar  LED untuk berbagai produk elektronik, mengumumkan penutupan  perusahaannya di Suzhou tiga bulan setelah Samsung menutup pabriknya di  Shenzhen, kawasan yang sudah lama dikenal sebagai pusat teknologi dan  inovasi China.

Namun begitu, tampaknya para pemimpin China tidaklah terlalu  mengkhawatirkan hal seperti ini, karena industri manufaktur di sana  sekarang ini sedang melakukan upgrade dan mulai berpindah dari  manufaktur yang mengandalkan tenaga manusia, ke produk yang berteknologi  tinggi.
Industri elektronik China memiliki nilai sekitar $AUD 3,5 triliun di  tahun 2017, dan diperkirakan akan terus meningkat, karena China sekarang  sedang meluncurkan strategi Made in China 2025, yang akan menekankan  manufaktur digital untuk memberikan nilai lebih bagi China di tengah  perubahan ekonomi global.
Baca Juga: Perang Dagang dengan AS, Banyak Perusahaan 'Kabur' dari China
China mulai beralih juga dari industri manufaktur menggunakan tenaga manusia ke industri digital teknologi tinggi.
Dalam beberapa kasus kota-kota di pedalaman seperti Chongqing dan  Chengdu di provinsi Sichuan sudah mulai melakukan perakitan elektronik  yang menggunakan tenaga kerja sementara perusahaan lainnya memindahkan  produksi ke negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Kamboja dan  Malaysia, di mana ongkos tenaga kerja lebih murah.</description><content:encoded>JAKARTA - China adalah pembuat produk Apple terbesar namun terancam karena adanya perang dagang antara AS dan China. Perusahaan China yang merakit AirPods Apple akan memindahkan lokasi produksinya dari China ke Vietnam karena perang dagang antara China-AS meningkat menyusul keputusan AS menerapkan tarif lebih tinggi terhadap sekitar USD250 miliar barang-barang dari China.
Dampak perang dagang
Menurut laporan harian ekonomi Jepang Nikkei Asia Review, awal Oktober ini, GoerTek, sebuah perusahaan yang berbasis di provinsi Shandong (China) meminta kepada seluruh pemasoknya dalam membuat AirPod untuk mengapalkan seluruh komponen langsung ke Vietnam.
Baca Juga: Menko Darmin: Perang Dagang Tak Bisa Direm
 
ABC sudah mendapatkan laporan semi tahunan Goertek untuk tahun 2018 dimana presiden komisaris perusahaan tersebut Jiang Bin mengatakan keuntungan bersih perusahaannya turun 38,11 persen tahun ini turun sekitar $AUD 140 juta dibandingkan keuntungan tahun sebelumnya.
&quot;Karena faktor makro ekonomi - seperti fluktuasi pasar dunia dan juga perang dagang AS-China, operasi dan manajemen perusahaan menjadi lebih sulit.&quot; kata Jiang dalam laporan tersebut.
Ini terjadi meski Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa tarif untuk produk teknologi tinggi seperti AirPod tidak termasuk dalam kenaikan tarif yang diumumkan akhir September.

Hari Selasa, GoerTek juga mengumumkan rencana untuk menanamkan modal $AUD 200 juta untuk memproduksi drone dan headphone pintar di Nanning di China selatan, yang lebih dekat dengan lokasi perusahaan di Vietnam sehingga pengiriman barang antar kedua lokasi lebih mudah dilakukan.
GoerTek bukanlah satu-satunya perusahaan yang memindahkan operasinya karena perang dagang.
Awal bulan ini, pejabat Taiwan mengatakan bahwa hampir 30 perusahaan telah meninggalkan China dan beralih ke Taiwan, dengan alasan terkena dampak perang dagang.
Baca Juga: Mengupas Kesepakatan Perdagangan Baru AS-Kanada-Meksiko, Siapa Diuntungkan?
 
Pendiri lembaga pemikir Taiwan GoldenRock, Jason Wu mengatakan banyak perusahaan Taiwan ini meninggalkan China, bukan saja karena perang dagang, juga karena situasi politik China yang semakin tegang di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping.
&quot;Banyak pengusaha Taiwan terus memantau situasi.&quot; kata Wu kepada ABC.
&quot;Karena selain perang dagang, semakin ketatnya situasi politik dan ekonomi dan juga kesulitan keuangan yang ada di China menjadi masalah mengapa perusahaan Taiwan memikirkan untuk pindah ke tempat lain.&quot;
Jason Wu mengatakan Taiwan sudah memberi sumbangan besar bagi  industri manufaktur China selama satu generasi terakhir khususnya di  bidang elektronik dan manufaktur, karena China memberikan kondisi yang  bagus bagi kehadiran bisnis asal Taiwan.
Dari Made in China menjadi Made in South-East Asia
Perusahaan Jepang di China juga dilaporkan mengalami dampak atas meningkatnya perang dagang antara AS dan China.
Baca Juga: Bertemu Wapres Amerika, JK Bicara Peluang RI dalam Perang Dagang
 
Di kota Suzhou, di China Timur di mana terdapat banyak perusahaan  asing, sejumlah perusahaan Jepang telah menutup operasi secara permanen  sejak tahun lalu, menurut media resmi pemerintah China 21st Century  Business Herald.
Perusahaan manufaktur raksasa Jepang Omron, yang memproduksi layar  LED untuk berbagai produk elektronik, mengumumkan penutupan  perusahaannya di Suzhou tiga bulan setelah Samsung menutup pabriknya di  Shenzhen, kawasan yang sudah lama dikenal sebagai pusat teknologi dan  inovasi China.

Namun begitu, tampaknya para pemimpin China tidaklah terlalu  mengkhawatirkan hal seperti ini, karena industri manufaktur di sana  sekarang ini sedang melakukan upgrade dan mulai berpindah dari  manufaktur yang mengandalkan tenaga manusia, ke produk yang berteknologi  tinggi.
Industri elektronik China memiliki nilai sekitar $AUD 3,5 triliun di  tahun 2017, dan diperkirakan akan terus meningkat, karena China sekarang  sedang meluncurkan strategi Made in China 2025, yang akan menekankan  manufaktur digital untuk memberikan nilai lebih bagi China di tengah  perubahan ekonomi global.
Baca Juga: Perang Dagang dengan AS, Banyak Perusahaan 'Kabur' dari China
China mulai beralih juga dari industri manufaktur menggunakan tenaga manusia ke industri digital teknologi tinggi.
Dalam beberapa kasus kota-kota di pedalaman seperti Chongqing dan  Chengdu di provinsi Sichuan sudah mulai melakukan perakitan elektronik  yang menggunakan tenaga kerja sementara perusahaan lainnya memindahkan  produksi ke negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Kamboja dan  Malaysia, di mana ongkos tenaga kerja lebih murah.</content:encoded></item></channel></rss>
