<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>10 Negara Ekonomi Berdaya Saing Tinggi di Dunia, AS di Posisi Pertama</title><description>Terdapat 10 negara ekonomi berdaya saing tinggi dan 10 negara ekonomi dengan daya saing rendah di muka Bumi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/18/320/1965568/10-negara-ekonomi-berdaya-saing-tinggi-di-dunia-as-di-posisi-pertama</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/10/18/320/1965568/10-negara-ekonomi-berdaya-saing-tinggi-di-dunia-as-di-posisi-pertama"/><item><title>10 Negara Ekonomi Berdaya Saing Tinggi di Dunia, AS di Posisi Pertama</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/18/320/1965568/10-negara-ekonomi-berdaya-saing-tinggi-di-dunia-as-di-posisi-pertama</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/10/18/320/1965568/10-negara-ekonomi-berdaya-saing-tinggi-di-dunia-as-di-posisi-pertama</guid><pubDate>Kamis 18 Oktober 2018 10:12 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/18/320/1965568/10-negara-ekonomi-berdaya-saing-tinggi-di-dunia-as-di-posisi-pertama-0pFxESGcBY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/18/320/1965568/10-negara-ekonomi-berdaya-saing-tinggi-di-dunia-as-di-posisi-pertama-0pFxESGcBY.jpg</image><title>Ilustrasi: Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) pada hari ini merilis data indeks daya saing global, di mana terdapat 10 negara ekonomi berdaya saing tinggi dan 10 negara ekonomi dengan daya saing rendah di muka Bumi.
Forum yang bermarkas di Davos, Swiss, mendaulat Amerika Serikat sebagai negara dengan daya saing paling tinggi dari 140 negara. Ini merupakan pencapaian terbesar bagi Amerika. Pasalnya setelah absen dari posisi puncak selama satu dekade, baru kali ini di era Donald Trump, AS kembali menjadi kampiun.
Baca Juga: WEF 2018, Sri Mulyani: Asean Lihat Industri 4.0 sebagai Potensi Keuntungan
 
Singapura dan Jerman menempati peringkat kedua dan ketiga. Namun, para peneliti menemukan ekonomi Eropa saat ini kurang berdaya saing dibandingkan kawasan di Asia Timur dan Pasifik.
Mengutip dari CNBC, Rabu (17/10/2018), laporan WEF memetakan daya saing ekonomi global menggunakan 98 indikator termasuk keragaman tenaga kerja, kebebasan pers, hak tenaga kerja, dan kemudahan berbisnis. Hasilnya sistem keuangan AS dianggap paling kompetitif.

Amerika Serikat diberi skor daya saing 85,6 dari 100, dengan kekuatan utama pada dinamisme bisnis, pasar tenaga kerja dan sistem keuangan. Namun, laporan tersebut juga mencatat perekonomian AS terhalang oleh melemahnya struktur sosial, memburuknya keamanan, kurangnya adopsi TI, dan korupsi. AS juga dianggap tertinggal dalam soal kesehatan, terutama harapan hidup di AS tiga tahun di bawah rata-rata ekonomi maju.
Singapura, yang menempel dekat AS, memiliki daya saing tinggi berkat kebijakan yang terbuka sehingga jadi pendorong utama bagi keberhasilan ekonomi negaranya. Adapun Jerman di peringkat ketiga, mendapat nilai tinggi pada stabilitas makroekonomi, tetapi seperti halnya AS, Jerman terhambat oleh adopsi TI yang lambat.
Baca Juga: Presiden Jokowi Pimpin Delegasi Indonesia WEF 2018 di Hanoi
 
Inggris dinobatkan sebagai negara ekonomi paling kompetitif kedelapan. WEF memuji kualitas lembaga penelitian dan pekerja di Negeri Ratu Elizabeth II tetapi memberi negara itu skor lebih rendah untuk harapan dan keterampilan hidup.
China berada di peringkat 28, diikuti oleh Rusia di tempat ke-43. Adapun pasar negara-negara berkembang tidak masuk dalam 50 negara ekonomi berdaya saing alias paling kompetitif di dunia.

Menariknya, meski sekarang gencar soal Revolusi Industri 4.0, namun WEF memperingkatkan bahwa ekonomi global secara keseluruhan belum siap dalam menghadapi Industri 4.0. Mengenai kebangkitan teknologi digital, sebanyak 103 dari 140 negara memiliki indeks rendah untuk kemampuan inovasi di bidang digital.&quot;Memang merangkul Industri 4.0 menjadi faktor menentukan daya saing  sebuah negara. Tetapi dengan kesenjangan global baru antara negara maju  dengan negara berkembang, terutama soal pemahaman transformasi inovatif,  ini akan semakin membuat kesenjangan melebar. Hanya negara-negara yang  telah menyiapkan diri dengan Industri 4.0 yang akan dapat memperluas  peluang ekonomi bagi rakyat mereka,&quot; kata Klaus Schwab, pendiri dan  ketua eksekutif WEF.
Untuk itu, WEF mendesak pemerintahan di seluruh dunia, terutama  negara berkembang untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi dengan  kebijakan &amp;ldquo;terbuka&amp;rdquo; seperti hambatan tarif dan rendah dan kemudahan  mempekerjakan tenaga kerja asing. Juga investasi dalam sumber daya  manusia (human capital) melalui skema pelatihan dan insentif pajak yang  bertujuan mengatasi ketidaksetaraan.

Kepala Pusat WEF untuk Ekonomi dan Masyarakat Baru, Saadia Zahidi  mengatakan semua negara bisa menjadi lebih maju dan makmur jika mereka  berhasil mengejar inovasi. &quot;Revolusi Industri 4.0 dapat mensejajarkan  kedudukan semua negara. Tetapi teknologi bukanlah senjata utama, negara  harus berinvestasi pada sumber daya manusia dan institusi dalam  mewujudkan kemajuan teknologi,&quot; ujarnya.
10 negara dengan ekonomi paling kompetitif
Amerika Serikat
Singapura
Jerman
Swiss
Jepang
Belanda
Hong Kong
Inggris
Swedia
Denmark

10 negara dengan ekonomi paling tidak kompetitif
Chad
Yaman
Haiti
Angola
Burundi
Kongo
Sierra Leone
Mozambik
Liberia
Mauritania</description><content:encoded>JAKARTA - Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) pada hari ini merilis data indeks daya saing global, di mana terdapat 10 negara ekonomi berdaya saing tinggi dan 10 negara ekonomi dengan daya saing rendah di muka Bumi.
Forum yang bermarkas di Davos, Swiss, mendaulat Amerika Serikat sebagai negara dengan daya saing paling tinggi dari 140 negara. Ini merupakan pencapaian terbesar bagi Amerika. Pasalnya setelah absen dari posisi puncak selama satu dekade, baru kali ini di era Donald Trump, AS kembali menjadi kampiun.
Baca Juga: WEF 2018, Sri Mulyani: Asean Lihat Industri 4.0 sebagai Potensi Keuntungan
 
Singapura dan Jerman menempati peringkat kedua dan ketiga. Namun, para peneliti menemukan ekonomi Eropa saat ini kurang berdaya saing dibandingkan kawasan di Asia Timur dan Pasifik.
Mengutip dari CNBC, Rabu (17/10/2018), laporan WEF memetakan daya saing ekonomi global menggunakan 98 indikator termasuk keragaman tenaga kerja, kebebasan pers, hak tenaga kerja, dan kemudahan berbisnis. Hasilnya sistem keuangan AS dianggap paling kompetitif.

Amerika Serikat diberi skor daya saing 85,6 dari 100, dengan kekuatan utama pada dinamisme bisnis, pasar tenaga kerja dan sistem keuangan. Namun, laporan tersebut juga mencatat perekonomian AS terhalang oleh melemahnya struktur sosial, memburuknya keamanan, kurangnya adopsi TI, dan korupsi. AS juga dianggap tertinggal dalam soal kesehatan, terutama harapan hidup di AS tiga tahun di bawah rata-rata ekonomi maju.
Singapura, yang menempel dekat AS, memiliki daya saing tinggi berkat kebijakan yang terbuka sehingga jadi pendorong utama bagi keberhasilan ekonomi negaranya. Adapun Jerman di peringkat ketiga, mendapat nilai tinggi pada stabilitas makroekonomi, tetapi seperti halnya AS, Jerman terhambat oleh adopsi TI yang lambat.
Baca Juga: Presiden Jokowi Pimpin Delegasi Indonesia WEF 2018 di Hanoi
 
Inggris dinobatkan sebagai negara ekonomi paling kompetitif kedelapan. WEF memuji kualitas lembaga penelitian dan pekerja di Negeri Ratu Elizabeth II tetapi memberi negara itu skor lebih rendah untuk harapan dan keterampilan hidup.
China berada di peringkat 28, diikuti oleh Rusia di tempat ke-43. Adapun pasar negara-negara berkembang tidak masuk dalam 50 negara ekonomi berdaya saing alias paling kompetitif di dunia.

Menariknya, meski sekarang gencar soal Revolusi Industri 4.0, namun WEF memperingkatkan bahwa ekonomi global secara keseluruhan belum siap dalam menghadapi Industri 4.0. Mengenai kebangkitan teknologi digital, sebanyak 103 dari 140 negara memiliki indeks rendah untuk kemampuan inovasi di bidang digital.&quot;Memang merangkul Industri 4.0 menjadi faktor menentukan daya saing  sebuah negara. Tetapi dengan kesenjangan global baru antara negara maju  dengan negara berkembang, terutama soal pemahaman transformasi inovatif,  ini akan semakin membuat kesenjangan melebar. Hanya negara-negara yang  telah menyiapkan diri dengan Industri 4.0 yang akan dapat memperluas  peluang ekonomi bagi rakyat mereka,&quot; kata Klaus Schwab, pendiri dan  ketua eksekutif WEF.
Untuk itu, WEF mendesak pemerintahan di seluruh dunia, terutama  negara berkembang untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi dengan  kebijakan &amp;ldquo;terbuka&amp;rdquo; seperti hambatan tarif dan rendah dan kemudahan  mempekerjakan tenaga kerja asing. Juga investasi dalam sumber daya  manusia (human capital) melalui skema pelatihan dan insentif pajak yang  bertujuan mengatasi ketidaksetaraan.

Kepala Pusat WEF untuk Ekonomi dan Masyarakat Baru, Saadia Zahidi  mengatakan semua negara bisa menjadi lebih maju dan makmur jika mereka  berhasil mengejar inovasi. &quot;Revolusi Industri 4.0 dapat mensejajarkan  kedudukan semua negara. Tetapi teknologi bukanlah senjata utama, negara  harus berinvestasi pada sumber daya manusia dan institusi dalam  mewujudkan kemajuan teknologi,&quot; ujarnya.
10 negara dengan ekonomi paling kompetitif
Amerika Serikat
Singapura
Jerman
Swiss
Jepang
Belanda
Hong Kong
Inggris
Swedia
Denmark

10 negara dengan ekonomi paling tidak kompetitif
Chad
Yaman
Haiti
Angola
Burundi
Kongo
Sierra Leone
Mozambik
Liberia
Mauritania</content:encoded></item></channel></rss>
