<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bayar Jatah Saham Freeport, Inalum Beri Dana Talangan ke Pemda Papua</title><description>Inalum akan memberikan dana talangan kepada Pemda Papua untuk membayar jatah sebesar 10% saham PT Freeport Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/20/320/1966640/bayar-jatah-saham-freeport-inalum-beri-dana-talangan-ke-pemda-papua</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/10/20/320/1966640/bayar-jatah-saham-freeport-inalum-beri-dana-talangan-ke-pemda-papua"/><item><title>Bayar Jatah Saham Freeport, Inalum Beri Dana Talangan ke Pemda Papua</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/20/320/1966640/bayar-jatah-saham-freeport-inalum-beri-dana-talangan-ke-pemda-papua</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/10/20/320/1966640/bayar-jatah-saham-freeport-inalum-beri-dana-talangan-ke-pemda-papua</guid><pubDate>Sabtu 20 Oktober 2018 15:18 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/20/320/1966640/bayar-jatah-saham-freeport-inalum-beri-dana-talangan-ke-pemda-papua-pYnSCvviGE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tambang PT Freeport (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/20/320/1966640/bayar-jatah-saham-freeport-inalum-beri-dana-talangan-ke-pemda-papua-pYnSCvviGE.jpg</image><title>Tambang PT Freeport (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) akan memberikan dana talangan kepada Pemda Papua untuk membayar jatah sebesar 10% saham PT Freeport Indonesia.
Kebutuhan biaya untuk membayar participating interest (PI) tersebut diperkirakan mencapai USD900 juta atau Rp13,5 triliun dengan asumsi kurs sebesar Rp15.000 per dolar AS.
&amp;ldquo;Angka sebesar itu sebenarnya uang pemda, tapi kita talangi dulu untuk membayar akui sisi ini,&amp;rdquo; ujar Kepala Komunikasi Korporat dan Hubungan Pe merintah Inalum Rendi Witular di Jakarta, Jumat (19/10/2018).
Baca Juga: Isu Lingkungan Hambat Divestasi Freeport, Ini Langkah Pemerintah
 
Menurut dia, dana talangan itu berasal dari fasilitas pinjaman yang diambil oleh perseroan untuk membeli saham Freeport Indonesia. Nantinya, Pemda Papua akan membayar dana talangan dengan cara mencicil yang diambil dari pembayaran dividen.
Meski begitu, pihaknya memastikan jika cicilannya tidak akan membebani Pemda. Pasalnya, tidak seluruh dividen digunakan pemda untuk membayar cicilan kepada Inalum.
&amp;ldquo;Kami sedang memikirkan caranya agar alokasi dividen bisa lebih besar dari pelunasan. Jadi, kami pastikan cicilan tidak mem bebani pemda,&amp;rdquo; kata dia.
&amp;nbsp;
Terkait tenor, pihaknya tidak menyebutkan secara pasti. Meski begitu, perseroan ingin jangka waktu pinjaman bisa menjamin pemda tidak menjual kembali saham yang telah di milikinya di Freeport Indonesia. Pihaknya menargetkan pinjaman kepada pemda akan dikucurkan November 2018 sejalan dengan pembayaran transaksi saham Freeport Indonesia.
&amp;ldquo;Kami juga tidak mau kalau semua dividen untuk membayar cicilan,&amp;rdquo; tandas dia.
Rendy juga meyakini, terkait isu masalah lingkungan dapat segera diselesaikan sehingga tidak mengganggu jalannya pembayaran transaksi saham.
&amp;ldquo;Tinggal administrasi dan izinizin untuk bisa penuhi syarat dan pembayaran. Diharapkan tahun ini selesai,&amp;rdquo; ungkapnya.
Baca Juga: Divestasi Freeport Tidak Akan Diteruskan Kalau Masalah Lingkungan Tak Selesai
 
Inalum optimistis akan mendapatkan pinjaman dari bank asing pada November. Bank itu juga akan mengucurkan dana ke Inalum karena pembelian saham akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Selain itu, Freeport Indonesia merupakan perusahaan yang tidak memiliki utang, jadi bank akan percaya memberi pinjaman.
&amp;ldquo;Selama ini mereka tak ada utang dan trust nya bagus,&amp;rdquo; kata Rendi.
Dia menambahkan, perusahaan tidak memberikan jaminan dalam bentuk apa pun kepada institusi internasional penyedia dana. Inalum bisa memperolehnya karena berdasarkan evaluasi mereka terhadap bisnis Freeport Indonesia.
&amp;ldquo;Freeport Indonesia memiliki potensi bisnis yang bagus, tidak memiliki utang dan memiliki keuangan yang baik serta di nilai bisa menghidupi perusahaan sendiri. Menurut mereka, nilai pinjaman juga tidak terlalu besar, makanya mereka mau masuk,&amp;rdquo; kata dia.

Sejauh ini terdapat delapan bank asing yang sepakat untuk mendanai. Sumber pinjaman dari bank asing dipilih selain karena suku bunga yang lebih kompetitif, juga untuk menghindari AS keluar negeri.
Pasalnya, jika menggunakan perbankan dalam negeri, stok dolar AS yang ada di dalam negeri akan berkurang sehingga akan berujung pada pelemahan rupiah. Hal senada juga dikatakan oleh Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin.
Budi sebelumnya mengatakan, jatah pemda sebesar 10%, akan ditalangi terlebih dulu oleh Inalum. Menurut dia, Inalum siap memberikan pinjaman kepada pemda sesuai perhitungan yaitu sebesar USD900 juta.
&amp;ldquo;Kami akan memberikan pinjaman kepada Pemda Papua sebesar USD900 juta,&amp;rdquo; kata dia.Dia menjelaskan, pinjaman nantinya akan dibayar oleh pem da melalui  dividen. Artinya, saham tetap dipegang Inalum hingga pemda lunas sesuai  jangka waktu yang telah ditentukan.
Rencananya penyaluran pin jaman akan dilakukan tahun ini sesuai dengan target pembayaran transaksi saham.
&amp;ldquo;Saat ini sedang dibahas struktur pinjaman dan pendanaan,&amp;rdquo; kata dia.

Budi menjelaskan, dalam struktur transaksi divestasi saham, Inalum  melakukan pembelian 100% saham PT Indocopper Investama yang memiliki  saham 9,36% Freeport Indonesia.
Selanjutnya, Freeport Indonesia akan menerbitkan saham baru sebanyak  40% dari total saham atau setara dengan kepemilikan Rio Tinto. Pengamat  sumber daya alam (SDA) Ahmad Redi mengatakan, proses divestasi harus  segera diselesaikan di luar persoalan isu masalah lingkungan.
Terkait isu lingkungan, kata dia, seharusnya dibereskan terlebih dahulu oleh Freeport di luar negosiasi.
&amp;ldquo;Freeport harus melaksanakan itu. Hal ini bukan objek negosiasi, tapi  mestinya objek mandatori dari regulasi nasional kita,&amp;rdquo; tandas dia.
(Nanang Wijayanto)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) akan memberikan dana talangan kepada Pemda Papua untuk membayar jatah sebesar 10% saham PT Freeport Indonesia.
Kebutuhan biaya untuk membayar participating interest (PI) tersebut diperkirakan mencapai USD900 juta atau Rp13,5 triliun dengan asumsi kurs sebesar Rp15.000 per dolar AS.
&amp;ldquo;Angka sebesar itu sebenarnya uang pemda, tapi kita talangi dulu untuk membayar akui sisi ini,&amp;rdquo; ujar Kepala Komunikasi Korporat dan Hubungan Pe merintah Inalum Rendi Witular di Jakarta, Jumat (19/10/2018).
Baca Juga: Isu Lingkungan Hambat Divestasi Freeport, Ini Langkah Pemerintah
 
Menurut dia, dana talangan itu berasal dari fasilitas pinjaman yang diambil oleh perseroan untuk membeli saham Freeport Indonesia. Nantinya, Pemda Papua akan membayar dana talangan dengan cara mencicil yang diambil dari pembayaran dividen.
Meski begitu, pihaknya memastikan jika cicilannya tidak akan membebani Pemda. Pasalnya, tidak seluruh dividen digunakan pemda untuk membayar cicilan kepada Inalum.
&amp;ldquo;Kami sedang memikirkan caranya agar alokasi dividen bisa lebih besar dari pelunasan. Jadi, kami pastikan cicilan tidak mem bebani pemda,&amp;rdquo; kata dia.
&amp;nbsp;
Terkait tenor, pihaknya tidak menyebutkan secara pasti. Meski begitu, perseroan ingin jangka waktu pinjaman bisa menjamin pemda tidak menjual kembali saham yang telah di milikinya di Freeport Indonesia. Pihaknya menargetkan pinjaman kepada pemda akan dikucurkan November 2018 sejalan dengan pembayaran transaksi saham Freeport Indonesia.
&amp;ldquo;Kami juga tidak mau kalau semua dividen untuk membayar cicilan,&amp;rdquo; tandas dia.
Rendy juga meyakini, terkait isu masalah lingkungan dapat segera diselesaikan sehingga tidak mengganggu jalannya pembayaran transaksi saham.
&amp;ldquo;Tinggal administrasi dan izinizin untuk bisa penuhi syarat dan pembayaran. Diharapkan tahun ini selesai,&amp;rdquo; ungkapnya.
Baca Juga: Divestasi Freeport Tidak Akan Diteruskan Kalau Masalah Lingkungan Tak Selesai
 
Inalum optimistis akan mendapatkan pinjaman dari bank asing pada November. Bank itu juga akan mengucurkan dana ke Inalum karena pembelian saham akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Selain itu, Freeport Indonesia merupakan perusahaan yang tidak memiliki utang, jadi bank akan percaya memberi pinjaman.
&amp;ldquo;Selama ini mereka tak ada utang dan trust nya bagus,&amp;rdquo; kata Rendi.
Dia menambahkan, perusahaan tidak memberikan jaminan dalam bentuk apa pun kepada institusi internasional penyedia dana. Inalum bisa memperolehnya karena berdasarkan evaluasi mereka terhadap bisnis Freeport Indonesia.
&amp;ldquo;Freeport Indonesia memiliki potensi bisnis yang bagus, tidak memiliki utang dan memiliki keuangan yang baik serta di nilai bisa menghidupi perusahaan sendiri. Menurut mereka, nilai pinjaman juga tidak terlalu besar, makanya mereka mau masuk,&amp;rdquo; kata dia.

Sejauh ini terdapat delapan bank asing yang sepakat untuk mendanai. Sumber pinjaman dari bank asing dipilih selain karena suku bunga yang lebih kompetitif, juga untuk menghindari AS keluar negeri.
Pasalnya, jika menggunakan perbankan dalam negeri, stok dolar AS yang ada di dalam negeri akan berkurang sehingga akan berujung pada pelemahan rupiah. Hal senada juga dikatakan oleh Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin.
Budi sebelumnya mengatakan, jatah pemda sebesar 10%, akan ditalangi terlebih dulu oleh Inalum. Menurut dia, Inalum siap memberikan pinjaman kepada pemda sesuai perhitungan yaitu sebesar USD900 juta.
&amp;ldquo;Kami akan memberikan pinjaman kepada Pemda Papua sebesar USD900 juta,&amp;rdquo; kata dia.Dia menjelaskan, pinjaman nantinya akan dibayar oleh pem da melalui  dividen. Artinya, saham tetap dipegang Inalum hingga pemda lunas sesuai  jangka waktu yang telah ditentukan.
Rencananya penyaluran pin jaman akan dilakukan tahun ini sesuai dengan target pembayaran transaksi saham.
&amp;ldquo;Saat ini sedang dibahas struktur pinjaman dan pendanaan,&amp;rdquo; kata dia.

Budi menjelaskan, dalam struktur transaksi divestasi saham, Inalum  melakukan pembelian 100% saham PT Indocopper Investama yang memiliki  saham 9,36% Freeport Indonesia.
Selanjutnya, Freeport Indonesia akan menerbitkan saham baru sebanyak  40% dari total saham atau setara dengan kepemilikan Rio Tinto. Pengamat  sumber daya alam (SDA) Ahmad Redi mengatakan, proses divestasi harus  segera diselesaikan di luar persoalan isu masalah lingkungan.
Terkait isu lingkungan, kata dia, seharusnya dibereskan terlebih dahulu oleh Freeport di luar negosiasi.
&amp;ldquo;Freeport harus melaksanakan itu. Hal ini bukan objek negosiasi, tapi  mestinya objek mandatori dari regulasi nasional kita,&amp;rdquo; tandas dia.
(Nanang Wijayanto)</content:encoded></item></channel></rss>
