<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menperin: Cloud Computing Jadi Backbone Infrastruktur Revolusi Industri 4.0   </title><description>Mendukung revolusi industry 4.0. Karena itu, teknologi cloud computing mesti mulai memperhatikan cyber security</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/24/320/1968524/menperin-cloud-computing-jadi-backbone-infrastruktur-revolusi-industri-4-0</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/10/24/320/1968524/menperin-cloud-computing-jadi-backbone-infrastruktur-revolusi-industri-4-0"/><item><title>Menperin: Cloud Computing Jadi Backbone Infrastruktur Revolusi Industri 4.0   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/24/320/1968524/menperin-cloud-computing-jadi-backbone-infrastruktur-revolusi-industri-4-0</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/10/24/320/1968524/menperin-cloud-computing-jadi-backbone-infrastruktur-revolusi-industri-4-0</guid><pubDate>Rabu 24 Oktober 2018 20:14 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/24/320/1968524/menperin-cloud-computing-jadi-backbone-infrastruktur-revolusi-industri-4-0-Xpxq3OyZD2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/24/320/1968524/menperin-cloud-computing-jadi-backbone-infrastruktur-revolusi-industri-4-0-Xpxq3OyZD2.jpg</image><title>Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Koran Sindo)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menilai teknologi cloud computing telah menjadi infrastruktur utama (backbone infrastructure) dalam mendukung revolusi industry 4.0. Karena itu, teknologi&amp;nbsp;cloud computing&amp;nbsp;mesti mulai memperhatikan&amp;nbsp;cyber security.
&amp;ldquo;Aksesibilitas dari data itu menjadi hal yang krusial. Karena itu, kami mengharapkan&amp;nbsp;cloud computing&amp;nbsp;yang menjadi infrastruktur utama dari revolusi industry 4.0 mulai memperhatikan&amp;nbsp;cyber security&amp;nbsp;agar industri tidak ragu-ragu untuk memulai melakukan perubahan dengan mengadopsi teknologi baru,&amp;rdquo; ujar Menperin Airlangga Hartarto saat menjadi keynote speech dalam seminar bertema &amp;ldquo;Menyiapkan Industri Indonesia di Era Industri 4.0,&amp;rdquo; di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (24/10/2018).
Baca Juga: Nasib Petani di Tengah Pusaran Revolusi Industri 4.0
Menurut Menperin, revolusi industry 4.0 merupakan era di mana terjadi konektivitas secara nyata antara manusia, mesin, dan data. Meskipun tidak disadari, era ini mulai memasuki lini kehidupan masyarakat melalui teknologi-teknologi baru seperti cloud computing yang sehari-hari kita gunakan. Fenomena ini memberikan peluang untuk merevitalisasi sector manufaktur Indonesia.
&amp;ldquo;Kehadiran revolusi industry 4.0 semakin lama semakin terlihat, dan perubahannya sudah terlihat, ini bisa disebut disrupsi atau transformasi digital. Bagi industry yang sudah 3.0, ini merupakan langkah lanjutan. Bagi yang lain ini merupakan lompatan. Karena revolusi industry 4.0 memungkinkan terjadinya loncatan, di mana tidak dimungkinkan terjadi di revolusi industry 2 ataupun 3,&amp;rdquo; ujarnya.
Baca Juga: Produksi Padi Terancam Turun 39,3% selama Musim Kemarau
Dalam era revolusi industry 4.0, lanjut Menperin, salah satu yang diandalkan adalah big data dan artificial intelligence. Bagi Indonesia dan negara maju, big data menjadi sesuatu yang berharga. &amp;ldquo;Jadi bagi Indonesia yang telah diberkahi oleh sumber daya alam, misalnya di bawah tanah punya minyak, mineral, emas. Di atas tanah punya perkebunan kelapa sawit, nah sekarang kita lihat ke atas lagi ada juga&amp;nbsp;cloud. Itu&amp;nbsp;another&amp;nbsp;emas lagi, makanya kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan,&amp;rdquo; paparnya.
Pemerintah, kata Menperin, juga mendorong pengembangan&amp;nbsp;data centersebagai&amp;nbsp;backbone&amp;nbsp;dari cloud computing di Indonesia. Ke depan dalam revolusi industry 4.0, tanpa data, revolusi ini tidak bisa berjalan. Tanpa data yang kuat, efisiensi tidak akan berjalan, sehingga tentunya ini menjadi bagian yang perlu didorong.
(Feb)Ketua Dewan Teknologi Informasi Komunikasi Nasional (Wantiknas),  Ilham Habibie, juga senada dengan Menperin. Dia menjelaskan negeri ini  harus mengambil peluang atau kesempatan dalam revolusi industri 4.0 yang  ditopang oleh digilitalisasi teknologi atau tranformasi digital. Dalam  era tersebut, data menjadi sesuatu yang sangat berharga. &amp;ldquo;Data is the  new oil,&amp;rdquo; ujarnya.
Untuk meraih peluang tersebut, lanjut dia, dibutuhkan infrastruktur  pendukung seperti cloud, data center, internet of things (iot),  artificial intelligence, quantum computing. Digitalisasi atau  tranformasi digital akan terjadi di seluruh sector yang akan berdampak  pada perubahan proses, penggunaan asset, dan tenaga kerja. &amp;ldquo;Kita harus  open minded dalam mengantisipasi revolusi industry 4.0 agar era itu  dapat dimanfaatkan untuk menciptakan jutaan lapangan kerja dan menjadi  lompatan besar bagi ekonomi Indonesia,&amp;rdquo; paparnya.
Sementara itu, Arief Rakhmatsyah, VP Product Management, Cloud, &amp;amp;  UC Telkomtelstra, menyoroti tentang kedaulatan data dalam era revolusi  industri 4.0. Arief menyebutkan bahwa dalam Peraturan Pemerintah No 82  Tahun 2012 pasal 17 ayat 2 disebutkan penyelenggara sistem elektronik  untuk pelayanan publik wajib menempatkan pusat data dan pusat pemulihan  bencana di wilayah Indonesia untuk kepentingan penegakan hukum,  perlindungan, dan penegakan kedaulatan negara terhadap data warga  negaranya. &amp;ldquo;Namun, aturan tersebut sedang direvisi,&amp;rdquo; ujarnya.
Terkait kedaulatan data, lanjut Arief, paling berdaulat itu jika  lokasi data center-nya di wilayah sendiri, kemudian dioperasikan  sendiri, dan di-maintance oleh pihak sendiri. &amp;ldquo;Atau paling tidak,  provider yang menyediakan jasa tersebut masih provider lokal, seperti  Telkomtelstra misalnya,&amp;rdquo; paparnya.
Menurut Arief, cloud computing merupakan teknologi terbaru untuk  memindahkan eksternal resource ke service provider. &amp;ldquo;Cloud itu seperti  server. Provider sudah menyediakan semua fasilitas yang dibutuhkan untuk  mengelola cloud. Karena itu, cloud bisa lebih efisien, efektif, dan  sesuai dengan kebutuhan,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menilai teknologi cloud computing telah menjadi infrastruktur utama (backbone infrastructure) dalam mendukung revolusi industry 4.0. Karena itu, teknologi&amp;nbsp;cloud computing&amp;nbsp;mesti mulai memperhatikan&amp;nbsp;cyber security.
&amp;ldquo;Aksesibilitas dari data itu menjadi hal yang krusial. Karena itu, kami mengharapkan&amp;nbsp;cloud computing&amp;nbsp;yang menjadi infrastruktur utama dari revolusi industry 4.0 mulai memperhatikan&amp;nbsp;cyber security&amp;nbsp;agar industri tidak ragu-ragu untuk memulai melakukan perubahan dengan mengadopsi teknologi baru,&amp;rdquo; ujar Menperin Airlangga Hartarto saat menjadi keynote speech dalam seminar bertema &amp;ldquo;Menyiapkan Industri Indonesia di Era Industri 4.0,&amp;rdquo; di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (24/10/2018).
Baca Juga: Nasib Petani di Tengah Pusaran Revolusi Industri 4.0
Menurut Menperin, revolusi industry 4.0 merupakan era di mana terjadi konektivitas secara nyata antara manusia, mesin, dan data. Meskipun tidak disadari, era ini mulai memasuki lini kehidupan masyarakat melalui teknologi-teknologi baru seperti cloud computing yang sehari-hari kita gunakan. Fenomena ini memberikan peluang untuk merevitalisasi sector manufaktur Indonesia.
&amp;ldquo;Kehadiran revolusi industry 4.0 semakin lama semakin terlihat, dan perubahannya sudah terlihat, ini bisa disebut disrupsi atau transformasi digital. Bagi industry yang sudah 3.0, ini merupakan langkah lanjutan. Bagi yang lain ini merupakan lompatan. Karena revolusi industry 4.0 memungkinkan terjadinya loncatan, di mana tidak dimungkinkan terjadi di revolusi industry 2 ataupun 3,&amp;rdquo; ujarnya.
Baca Juga: Produksi Padi Terancam Turun 39,3% selama Musim Kemarau
Dalam era revolusi industry 4.0, lanjut Menperin, salah satu yang diandalkan adalah big data dan artificial intelligence. Bagi Indonesia dan negara maju, big data menjadi sesuatu yang berharga. &amp;ldquo;Jadi bagi Indonesia yang telah diberkahi oleh sumber daya alam, misalnya di bawah tanah punya minyak, mineral, emas. Di atas tanah punya perkebunan kelapa sawit, nah sekarang kita lihat ke atas lagi ada juga&amp;nbsp;cloud. Itu&amp;nbsp;another&amp;nbsp;emas lagi, makanya kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan,&amp;rdquo; paparnya.
Pemerintah, kata Menperin, juga mendorong pengembangan&amp;nbsp;data centersebagai&amp;nbsp;backbone&amp;nbsp;dari cloud computing di Indonesia. Ke depan dalam revolusi industry 4.0, tanpa data, revolusi ini tidak bisa berjalan. Tanpa data yang kuat, efisiensi tidak akan berjalan, sehingga tentunya ini menjadi bagian yang perlu didorong.
(Feb)Ketua Dewan Teknologi Informasi Komunikasi Nasional (Wantiknas),  Ilham Habibie, juga senada dengan Menperin. Dia menjelaskan negeri ini  harus mengambil peluang atau kesempatan dalam revolusi industri 4.0 yang  ditopang oleh digilitalisasi teknologi atau tranformasi digital. Dalam  era tersebut, data menjadi sesuatu yang sangat berharga. &amp;ldquo;Data is the  new oil,&amp;rdquo; ujarnya.
Untuk meraih peluang tersebut, lanjut dia, dibutuhkan infrastruktur  pendukung seperti cloud, data center, internet of things (iot),  artificial intelligence, quantum computing. Digitalisasi atau  tranformasi digital akan terjadi di seluruh sector yang akan berdampak  pada perubahan proses, penggunaan asset, dan tenaga kerja. &amp;ldquo;Kita harus  open minded dalam mengantisipasi revolusi industry 4.0 agar era itu  dapat dimanfaatkan untuk menciptakan jutaan lapangan kerja dan menjadi  lompatan besar bagi ekonomi Indonesia,&amp;rdquo; paparnya.
Sementara itu, Arief Rakhmatsyah, VP Product Management, Cloud, &amp;amp;  UC Telkomtelstra, menyoroti tentang kedaulatan data dalam era revolusi  industri 4.0. Arief menyebutkan bahwa dalam Peraturan Pemerintah No 82  Tahun 2012 pasal 17 ayat 2 disebutkan penyelenggara sistem elektronik  untuk pelayanan publik wajib menempatkan pusat data dan pusat pemulihan  bencana di wilayah Indonesia untuk kepentingan penegakan hukum,  perlindungan, dan penegakan kedaulatan negara terhadap data warga  negaranya. &amp;ldquo;Namun, aturan tersebut sedang direvisi,&amp;rdquo; ujarnya.
Terkait kedaulatan data, lanjut Arief, paling berdaulat itu jika  lokasi data center-nya di wilayah sendiri, kemudian dioperasikan  sendiri, dan di-maintance oleh pihak sendiri. &amp;ldquo;Atau paling tidak,  provider yang menyediakan jasa tersebut masih provider lokal, seperti  Telkomtelstra misalnya,&amp;rdquo; paparnya.
Menurut Arief, cloud computing merupakan teknologi terbaru untuk  memindahkan eksternal resource ke service provider. &amp;ldquo;Cloud itu seperti  server. Provider sudah menyediakan semua fasilitas yang dibutuhkan untuk  mengelola cloud. Karena itu, cloud bisa lebih efisien, efektif, dan  sesuai dengan kebutuhan,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
